Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Kota Seribu Sekte
Kota Wanhua terlihat jelas dari atas bukit saat Wei Mou Sha berdiri sebelum menuruni lereng.
Ia berhenti sejenak di puncak lalu menatap ke bawah.
Pak Tua He pernah mengatakan kota ini besar. Pernyataan itu benar, namun tidak memadai. Seperti menyebut Ordo Kekosongan sekadar tempat yang tidak nyaman. Secara teknis tepat, tapi gagal menangkap skalanya.
Kota Wanhua bukan hanya besar. Kota ini berlapis.
Dari posisinya, Wei Mou Sha dapat melihat setidaknya empat tingkatan pemukiman, tersusun seperti tangga raksasa. Bagian terbawah dipenuhi bangunan padat dan jalan sempit, riuhnya sudah terdengar bahkan dari kejauhan.
Bagian tengah lebih tertata, dengan deretan atap tinggi dan gerbang berukir.
Di atasnya lagi, suasana menjadi lebih lenggang, bangunan besar berdiri terpisah, masing-masing dikelilingi tembok sendiri.
Dan di puncak tertinggi, di balik kota, menjulang sebuah menara dengan cahaya qi yang tetap berpendar bahkan di siang hari.
Sekte-sekte besar, kemungkinan besar.
Langit di atas kota dipenuhi lalu lintas kultivator, beberapa melayang di atas pedang, yang lain mengandalkan qi. Sebagian melintas begitu cepat hingga hanya terlihat sebagai garis cahaya.
Wei Mou Sha mengamati semuanya selama beberapa detik.
Lalu ia menuruni bukit dan memasuki kota.
Gerbang utama dijaga dua orang berseragam coklat, lambang timbangan tersemat di dada, mereka itu adalah penjaga kota.
Di sisi kiri dan kanan gerbang, terpasang papan panjang berisi peraturan masuk, ditulis dengan huruf besar.
Wei Mou Sha membacanya sambil berjalan.
Dilarang menggunakan teknik kultivasi di area pasar utama. Dilarang membawa senjata terhunus di jalan umum. Pertengkaran antar kultivator harus diselesaikan di Arena Penyelesaian. Pelanggaran akan ditangani oleh Dewan Penjaga Kota Wanhua.
"Hei. Berhenti."
Tiba tiba seorang penjaga mengangkat tangannya.
Wei Mou Sha berhenti.
Tatapan penjaga itu menelusuri dirinya dari atas ke bawah.
"Dari mana? Berasal dari sekte mana?"
"Tidak ada."
"Kultivator bebas?"
"Ya."
"Apa tujuan mu?"
"Mencari informasi."
Penjaga itu tampak tidak puas, tapi tidak memiliki alasan untuk menahannya. Kultivator bebas bukan sesuatu yang ilegal, hanya tidak umum. Ia memberi isyarat untuk lewat, dengan ekspresi seseorang yang sudah menyimpan wajah itu dalam ingatan.
Wei Mou Sha melangkah masuk.
Dalam lima langkah pertama, ia langsung menyadari perbedaannya. Kota Pinghe dan Kota Wanhua sangat jauh berbeda.
Di kiri, seorang pedagang berteriak menawarkan pil qi dengan harga yang jelas terlalu tinggi.
Di kanan, dua murid sekte berdebat, nada mereka tegas, tapi belum cukup panas untuk berubah jadi konflik.
Di depan, jalan utama dipenuhi orang yang bergerak ke segala arah.
Wei Mou Sha berdiri di tengah arus itu, membiarkan semuanya masuk dalam pikirannya.
Ia kembali melangkah menuju sebuah kedai teh di sudut jalan. Dari luar, tempat itu tampak cukup ramai untuk menyimpan banyak informasi, namun cukup biasa untuk tidak menarik perhatian.
Tempat paling efisien untuk memahami sebuah kota adalah di mana orang-orangnya merasa santai, dan berbicara tanpa banyak penyaringan.
Kedai itu bernama Paviliun Tiga Angin. Papan namanya sudah memudar, tapi bagian dalamnya bersih dan ramai oleh berbagai kalangan, para pedagang, kultivator junior, hingga beberapa orang tua yang tampak seperti pelanggan tetap.
Wei Mou Sha memilih meja di sudut. Punggungnya menghadap ke dinding dan pandangannya menguasai seluruh ruangan.
Ia memesan teh.
Lalu mendengarkan semuanya.
Dalam satu jam, gambaran kota itu mulai terbentuk.
Kota Wanhua, secara tak resmi berada di bawah kendali tiga sekte besar, Sekte Pedang Langit Utara, Aula Api Sejati, dan Sekte Bunga Abadi.
Pedang Langit Utara menguasai perdagangan senjata dan artefak. Aula Api Sejati dikenal paling militan, aktif merekrut kultivator kuat. Sementara Sekte Bunga Abadi lebih tertutup, namun dihormati karena penguasaan mereka atas kultivasi jiwa.
Di bawah mereka, ada belasan sekte kecil dan ratusan kultivator bebas yang hidup seperti pedagang keliling, mengambil misi, berburu bahan langka, sesekali menjadi penjaga bayaran.
Setiap tiga bulan, Arena Penyelesaian mengadakan turnamen terbuka, bahkan untuk kultivator bebas. Hadiahnya beragam, dari artefak, pil kultivasi, dan yang paling diburu: akses ke Perpustakaan Awan di puncak bukit, tempat tersimpannya catatan teknik kultivasi dari berbagai era.
Dua minggu lagi, pertemuan besar akan digelar antara perwakilan tiga sekte utama. Secara resmi, mereka akan menetapkan batas wilayah perburuan bahan kultivasi.
Namun dari bisikan yang beredar di kedai ini, urusannya jauh lebih rumit.
Wei Mou Sha menyerap semuanya sambil menyesap tehnya perlahan.
Di dadanya, denyut qi masih terasa, lebih kuat dari sebelumnya dan cukup jelas untuk menunjukkan arah.
Tiba tiba seorang pria duduk di meja sebelah tanpa diundang.
Wei Mou Sha tidak langsung menoleh. Ia sudah mendengar langkah itu tiga detik sebelumnya, dan memutuskan itu bukan ancaman. Kultivator muda di tingkat Pembangunan Fondasi awal. Cara berjalannya menunjukkan kepercayaan diri, tapi minim pengalaman nyata.
"Kultivator bebas, ya?" Rambutnya merah mencolok, itu warna buatan, warna yang populer di kalangan murid junior sekte tertentu sebagai tanda afiliasi. "Baru datang ke Wanhua?"
"Ya."
"Terlihat." Pria itu tersenyum. "Aku Luo Bing. Pemandu tidak resmi. Dengan bayaran yang pantas, aku bisa mengenalkan mu pada orang-orang yang perlu kamu kenal di kota ini."
"Informasi tentang Perpustakaan Awan. Dan cara masuknya."
Luo Bing mengangguk pelan. Minatnya naik sedikit. "Perpustakaan Awan tidak murah. Ada dua cara, menang di turnamen, atau mendapatkan rekomendasi dari salah satu dari tiga sekte besar."
"Turnamennya kapan?"
"Dua minggu lagi. Tapi untuk kultivator bebas tanpa rekam jejak…" Ia berhenti sejenak, menilai Wei Mou Sha dengan tatapan yang berusaha tampak tajam. "Tidak mudah. Babak kualifikasi saja sudah ketat."
"Berapa peserta biasanya?"
"Ratusan. Yang lolos ke babak utama paling dua puluh sampai tiga puluh orang."
Wei Mou Sha mengangguk. Ia meletakkan sekeping perak di meja, jumlah yang sepadan dengan informasi yang diberikan, tidak lebih, tidak kurang.
Luo Bing segera mengambilnya. "Kalau butuh informasi lagi, cari aku di sini setiap sore."
Wei Mou Sha tidak menjawab. Tatapannya sudah kembali ke jendela, mengamati lalu lintas di jalan utama, dengan cara yang membuat Luo Bing merasa seolah dirinya tak lagi ada.
Luo Bing pergi dengan sedikit rasa tidak nyaman, tanpa tahu penyebabnya.
Sore itu, Wei Mou Sha mulai menelusuri kota secara sistematis.
Ia mengikuti arah sinyal qi perlahan, tanpa tergesa. Sambil berjalan, ia mencatat tata letak kota, posisi gerbang antar wilayah, serta lokasi-lokasi yang mungkin berguna.
Sinyal itu membawanya ke distrik tengah, wilayah yang lebih tertata, dengan deretan toko artefak dan bahan kultivasi di sepanjang jalan yang lebih lebar.
Semakin dekat, sinyal itu terasa semakin aneh.
Bukan satu sumber. Bukan dua atau tiga.
Satu pola yang tersebar, seperti sidik jari yang sama di berbagai permukaan. Sesuatu, atau seseorang pernah menyentuh banyak hal di kota ini, meninggalkan jejak qi yang sangat samar, namun konsisten.
Wei Mou Sha berhenti di sebuah persimpangan dan menutup matanya sejenak, menajamkan persepsi qi-nya.
Jejak itu ada di mana-mana.
Di batu jalan. Di dinding bangunan. Bahkan pada beberapa orang yang lewat nyaris tak terasa, tapi tetap ada. Seolah seseorang telah tinggal di kota ini begitu lama hingga jejak qi-nya meresap ke sekelilingnya.
Atau… Emang sengaja ditinggalkan.
Wei Mou Sha membuka matanya.
Di dadanya, segel itu berdenyut sekali dengan tajam, lebih kuat dari biasanya lalu kembali ke ritme semula.
Menarik. Untuk kedua kalinya hari ini.
Ia menemukan penginapan murah di distrik bawah, sebuah kamar kecil, satu ranjang, satu jendela menghadap gang sempit, dan atap yang bocor di sudut kiri.
Sudah Cukup.
Malam itu, ia duduk bersila di atas ranjang dan bermeditasi, bukan untuk memulihkan qi, melainkan memetakan apa yang ia rasakan sejak memasuki kota ini.
Sinyal qi itu lebih kompleks dari dugaannya.
Ada lapisan di balik lapisan. Frekuensi yang berbeda, namun semuanya berakar pada resonansi dasar yang sama, pola yang asing, tapi entah mengapa terasa akrab bagi sesuatu di dalam dirinya.
Sesuatu di dalam segel.
Wei Mou Sha membuka mata di tengah meditasi.
Ini pertama kalinya segel itu bereaksi terhadap sesuatu di luar dirinya. Bukan sebagai respons atas kekuatan yang ia gunakan, bukan pula karena tekanan atau rasa sakit, melainkan tertarik secara aktif pada sesuatu di luar tubuhnya.
Seperti dua magnet yang saling menyadari keberadaan masing-masing.
Ia menyimpan temuan itu. Lalu berbaring, menatap langit-langit kayu, dan membiarkan pikirannya bergerak.
Kota Wanhua. Segel yang bereaksi. Sinyal yang tersebar seperti jejak yang ditinggalkan seseorang. Perpustakaan Awan. Turnamen dua minggu lagi.
Potongan-potongan yang belum membentuk gambaran utuh.
Tapi cukup untuk langkah berikutnya.
Wei Mou Sha menutup matanya.
Di menara tertinggi kota, seseorang berdiri dengan tangan di belakang punggung, menghadap jendela yang menguasai seluruh Wanhua.
Kabut tipis mengikuti sosok itu, bahkan di dalam ruangan.
Di tangannya, sebuah batu abu-abu kecil berpendar redup, alat pelacak yang menunjukkan satu titik yang baru saja memasuki jangkauan deteksinya.
Titik itu diam. Berhenti di distrik bawah.
Tao Xu Ying menatap batu itu lama.
"Akhirnya," ujarnya pelan, nadanya berada di antara lega dan sesuatu yang lebih dalam. "Dua tahun lebih cepat dari perkiraan."
Ia menutup telapak tangannya di atas batu itu.
"Tapi tidak apa-apa. Justru lebih baik."