"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kebohongan di Balik Pelukan
"Siapa yang mereka panggil Komandan, Nata? Kenapa satpam rumah sakit ini memegang senjata seolah mereka sedang berada di medan perang?"
Suara Airine bergetar, namun ada nada tuntutan yang tajam di dalamnya. Ia melepaskan diri dari pelukan Nata, berdiri dengan kaki gemetar di tengah ruang kerja direktur yang kini berantakan. Pecahan vas bunga dan berkas yang berhamburan menjadi saksi bisu perkelahian brutal yang baru saja terjadi. Matanya menatap tajam ke arah Nata, lalu beralih ke arah dua pria berseragam keamanan yang berdiri tegap di dekat pintu dengan ekspresi tanpa emosi.
Nata terdiam sejenak. Otaknya berputar cepat, mencari transmisi alibi yang paling masuk akal. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam aura militer yang masih terpancar kuat dari tubuhnya. Ia harus kembali menjadi "Bang Nata", meski jas mahalnya sudah robek di bagian bahu.
"Airine, tenanglah. Tarik napas dulu," ucap Nata lembut, mencoba melangkah mendekat.
"Jangan menyuruhku tenang!" teriak Airine, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya. "Gudang meledak, ada penyusup yang mencoba membunuhku di ruanganku sendiri, dan suamiku—tukang bakso yang kukenal—tiba-tiba datang dengan pengawalan bersenjata lengkap! Siapa kamu sebenarnya, Nata?"
Nata berhenti melangkah. Ia menatap dua anak buahnya dan memberikan isyarat tangan yang sangat halus—perintah untuk keluar dan mengamankan koridor. Begitu pintu tertutup rapat, Nata menatap Airine dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah yang dibuat-buat.
"Ingat foto yang kita lihat di ruang kerja kakekmu semalam?" tanya Nata pelan.
Airine mengerutkan dahi. "Foto Kakek Edward dan Jenderal Dexter? Apa hubungannya dengan satpam bersenjata ini?"
"Hubungannya sangat besar, Airine," Nata berjalan menuju sofa yang masih utuh dan duduk di sana, menyandarkan kepalanya sejenak. "Aku sudah bilang padamu bahwa kakekku adalah seorang Jenderal Intelijen. Setelah kejadian di gudang farmasi beberapa hari lalu, aku merasa nyawamu dalam bahaya besar. Aku... aku menghubungi salah satu teman lama Kakek Alexander yang masih aktif di militer."
Airine terpaku. "Teman kakekmu?"
"Ya. Beliau merasa berutang budi pada kakekku, dan saat tahu cucu dari sahabat kakekku—yaitu kamu—sedang diincar oleh sindikat obat-obatan, beliau mengirimkan tim pengamanan khusus untuk menyamar di rumah sakit ini," bohong Nata dengan wajah sangat serius. "Soal panggilan 'Komandan'... itu hanya ejekan mereka padaku. Mereka tahu aku cucu jenderal, jadi mereka menggodaku dengan sebutan itu karena aku yang meminta bantuan mereka. Mereka menganggapku sebagai 'bos sipil' yang merepotkan."
Airine menatap Nata dengan ragu. "Hanya itu? Mereka bersenjata lengkap hanya karena kamu meminta bantuan?"
"Airine, kakekku bukan sekadar jenderal biasa. Namanya masih punya pengaruh besar di lingkaran tertentu. Mereka melindungimu bukan karena aku, tapi karena menghormati sejarah antara kakek kita," Nata berdiri dan mendekati Airine, kali ini wanita itu tidak menghindar. Nata meraih tangan Airine yang dingin. "Maafkan aku karena tidak memberitahumu. Aku tidak ingin kamu merasa seperti tawanan di kantormu sendiri. Tapi lihat apa yang terjadi hari ini? Jika mereka tidak ada di sini, aku mungkin sudah kehilanganmu."
Airine menunduk, bahunya merosot. Ketegangan di tubuhnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. "Aku hampir mati tadi, Nata. Pria itu... dia menyebut nama Tuan Shen. Dia bilang Tuan Shen merindukanku."
Nata merasakan rahangnya kembali mengeras. Ia menarik Airine ke dalam pelukannya lagi, kali ini lebih protektif. "Tuan Shen tidak akan pernah menyentuhmu lagi. Aku janji. Teman-teman militerku ini akan berjaga 24 jam. Kamu tidak perlu takut."
"Kenapa kamu melakukan ini semua untukku, Nata?" bisik Airine di dada Nata. "Kamu mempertaruhkan nama kakekmu, melibatkan militer... kita hanya menikah kontrak."
Nata memejamkan matanya. Pertanyaan itu menusuk jantungnya. Ia ingin mengatakan: Karena aku mencintaimu sejak pertama kali kamu tersenyum di depan gerobak baksoku. Karena misiku adalah hidupmu. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah: "Karena aku tidak bisa membiarkan sahabat kakekku kecewa di alam sana melihat cucunya menderita. Dan karena... kamu adalah istriku, Airine. Kontrak atau bukan, itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku bertanggung jawab atas keselamatanmu."
Airine mendongak, menatap Nata dengan mata yang dipenuhi rasa percaya yang kembali tumbuh. "Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan pergi ke tempat berbahaya sendirian seperti tadi."
"Aku tidak akan pergi jauh," janji Nata.
Namun, di balik punggung Airine, tangan Nata meraba saku celananya. Ia merasakan kartu memori dan cincin emas milik ibu Airine yang ia temukan di gudang yang meledak. Ia tahu, kebohongan soal "teman kakek" ini hanya akan bertahan sementara. Cepat atau lambat, Airine akan tahu bahwa suaminya bukan sekadar cucu jenderal yang meminta bantuan, melainkan sang Komandan itu sendiri.
"Nata," panggil Airine pelan.
"Iya?"
"Setelah ini... bisakah kita pulang? Aku tidak ingin di sini. Aku ingin di tempat yang hanya ada kita berdua."
Nata mengangguk. "Kita pulang ke rumah utama. Aku sudah memerintahkan tim untuk menyisir setiap sudut rumahmu. Malam ini, kamu harus istirahat total."
Saat mereka berjalan keluar dari ruangan yang hancur itu, Nata melirik ke arah anak buahnya yang berjaga di lift. Ia memberikan kode 'Sector Clear' namun dengan tambahan 'Maximum Alert'.
Di dalam lift yang turun menuju parkiran, Airine menggandeng lengan Nata dengan erat. Ia merasa sangat bergantung pada pria di sampingnya ini. Keangkuhan dokter bedah jenius itu telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh kepercayaan buta pada seorang "tukang bakso" yang memiliki koneksi militer.
Nata menatap pantulan mereka di pintu lift. Ia melihat Airine yang rapuh dan dirinya yang penuh rahasia. Maafkan aku, Airine, batinnya. Aku berbohong agar kamu tidak ketakutan, tapi aku akan memastikan setiap orang yang membuatmu menangis hari ini akan memohon ampun di kakiku.
Tepat saat mereka sampai di parkiran, ponsel Nata bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia: "Video di memori card sudah didekripsi. Anda harus melihat ini sendirian, Komandan. Ini bukan hanya soal Tuan Shen. Ini soal Edward Jane."
Nata memasukkan ponselnya kembali dengan cepat sebelum Airine menyadarinya. Perang ini ternyata jauh lebih pribadi dan jauh lebih gelap dari yang ia duga.
...****************...