Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Menerima
Rysh tiba di rumah megah milik keluarganya. Begitu tiba, laporan yang di terimanya ialah, sang mama dan papa sedang berada di kamar.
Rysh langsung memutar mata malas. Menduga, jika orng tuanya lagi memadu kasih, setelah membuat kekacauan di keluarganya.
Tanpa menunggu lama, dan dengan niat jahatnya. Rysh langsung ke kamar orang tuanya. Dia menekan interkom berkali-kali, berharap orang tuanya terganggu.
Syukur-syukur papa dan mamanya mendekati puncak. Biar mereka geram sekalian.
"Ada apa?" tanya Ghea, yang keluar dengan masker di wajahnya.
Rysh mendorong pintu kamar lebih lebar. Harapannya sia-sia. Sang papa terlihat bersandar di sofa, lengkap dengan selimut dan bantalnya.
Dan sepertinya Rysh bisa menebak apa yang telah terjadi di dalam sana.
"Kenapa buka pintunya lama sih, ma?" tanya Rysh.
"Karena mama tahu, kalo itu kamu," balas Ghea, mengeserkan tubuhnya, membiarkan Rysh masuk ke sana.
Rysh menatap papanya. Senyumnya penuh ejekan.
"Masih untung gak tidur di luar pa," cetus Rysh mencibir.
Belum sampai pantatnya menduduki kasur, sebuah bantal terlempar ke arahnya.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Ghea, mengabaikan perbuatan anak dan suaminya.
"Kenapa mama merahasiakannya?" tanya Rysh, to the point.
"Sama seperti kalian, kenapa harus membuat surat kontrak segala?"
"Eh, mama tahu?" Rysh mengerjap.
"Mama bahkan tahu, berapa kali kamu buang air dalam sehari Rysh," balas Ghea, melepaskan masker di wajahnya.
"Kenapa kalian gak jujur aja si ma? Kalo kalian jujur, aku gak harus begini. Setidaknya, aku gak harus membuat surat kontrak itu," keluh Rysh, lesu.
"Jadi?" tuan Sinclair duduk tegap, menatap anaknya.
Rysh pun mulai bercerita. Bukan, lebih tepatnya mengaku.
Awalnya dia memang penasaran sama Violet. Tapi, lambat laut penasaran itu berubah jadi perhatian. Dari perhatian berubah menjadi peduli. Bahkan kini, dia gak mau Violet menelan semua masalahnya sendiri.
Ya, Rysh merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan dia, ingin mengakuinya nanti, di acara ulang tahun kantornya.
Mendengar itu, tuan Sinclair langsung duduk di samping Rysh. Memberikan anaknya nasehat dan petuah, sebagai lelaki berpengalaman.
"Berikan dia kartumu, atau belikan dia perhiasan. Karena dengan begitu, cukup membuktikan kalo kamu cinta padanya," tutur tuan Sinclair, menepuk-nepuk pundak anaknya.
"Dih … itu ajaran sesat. Kamu mulai dengan perhatian-perhatian kecil, seperti menanyakan tentangnya, ataupun memujinya cantik," tutur Ghea, membuat tuan Sinclair mengernyit.
"Hei, bagaimana bisa itu di sebut perhatian?" tuan Sinclair menatap istrinya.
"Terus, dengan memberikan perhiasan atau uang, kamu pikir kami wanita ini akan luluh?" tanya Ghea menatap tajam.
"Itu kenyataannya, kan? Semua wanita di muka bumi ini akan senang jika di berikan uang. Apalagi, tanpa batasan," balas Sinclair mengedipkan matanya.
"Jadi, kamu pikir aku begitu? Aku matre? Aku hanya hidup untuk uangmu?" berang Ghea, memukuli suaminya dengan bantal.
Rysh menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena pada akhirnya meminta nasehat dari orang tuanya bukan lah, suatu hal yang tepat.
Kecuali, ketika mereka lagi terpisah.
🍇🍇🍇
Kembali ke kediaman, tempat Violet dan Dania berada.
Violet sedang berbaring di pangkuan ibunya.
Setelah kepergian Rysh, Dania menceritakan kenapa dia setuju menjodohkan mereka berdua.
Karena ia ingin lepas dari suaminya. Dan berkat bantuan Rysh, dia bahkan bisa melenyapkan lelaki bejad itu, dari depannya.
Kalau saja, lelaki yang di pilih orang biasa. Besar kemunginan, Bastian masih menjadi bayang-bayang dalam hidupnya.
Lagipula, selain itu. Dania juga mau Violet mendapatkan mertua yang menganggapnya sebagai anak. Dan, Ghea memenuhi kriteria tersebut. Karena setahu Dania, Ghea merupakan perempuan yang berhati lembut serta peka akan keadaan.
Tak lupa, Dania juga membeberkan kenapa dia tega memberikan mereka obat tersebut.
Selain kebelet ingin gendong cucu, dia dan sahabatnya, ingin mengikat hubungan Violet dan Rysh melalui anak. Dengan begitu, tak akan ada perceraian diantara mereka berdua.
"Kamu marah sama ibu?" tanya Dania.
Violet menggeleng.
Bagaimana bisa dia marah, seharusnya dia berterima kasih, bukan?
Setidaknya, dia terlepas dari masa lalu yang selalu menghantuinya. Kala, menatap wajah lelaki yang di panggil ayah.
Dan karena ibunya pula, dia lupa apa trauma dalam melayani suaminya.
Dia lupa, apa itu sakit, ketika Rysh, hendak menuntaskan ritual yang bahkan belum di mulainya.
Malam semakin beranjak. Atas nasehat ibunya, Violet memakai dress lingerie yang diam-diam di beli oleh ibunya dan mama mertua, saat mereka berbelanja, entah kapan itu.
Violet sempat bergidik, kala melihat baju tipis itu.
Rysh pulang, lelaki itu memang selalu pulang. Walau apapun masalah yang mereka hadapi.
Tapi, ini bukan masalah bukan? Ini hanya sedikit salah paham diantara mereka.
Mengetahui, jika suaminya akan masuk kamar. Violet langsung menarik selimut. Menutupi seluruh tubuhnya.
"Kamu make-up?" tanya Rysh, begitu menghidupkan lampu di kamarnya.
Violet menutupi wajahnya, sembari mengumpati kebodohannya.
"Seharusnya, tadi aku pura-pura tidur aja," batin Violet menjerit.
Rysh mendekati Violet. Dia langsung duduk di sisi istrinya.
"Vio …" panggil Rysh lembut.
Violet tampak tak bergeming. Dia bahkan belum keluar dari balik selimut.
"Maafkan mama ya," pinta Rysh menarik selimut.
Namun, tarikkan itu tertahan.
Ya, Violet menahannya.
Penasaran, Rysh malah menarik lebih keras.
Alhasil, nampak lah, sesuatu yang tak seharusnya terlihat.
Violet menggigit bibirnya.
"I-ibu yang menyuruhku … dan aku akan menggantinya," Violet buru-buru menurunkan kedua kakinya.
"Kenapa harus di ganti," Rysh menahan tubuh Violet.
Tatapan itu mulai berat.
"Kamu cantik, pakai beginian," bisik Rysh dengan napas berat.
"Tapi …"
Suara Violet mulai menghilang. Namun, tergantikan dengan suara-suara yang hanya di ketahui oleh orang-orang pilihan.
🍇🍇🍇
Kembali ke rumah utama keluarga Sinclair.
Tuan Sinclair berakhir tidur di sofa. Karena pada akhirnya, mood Ghea beneran berantakan.
Karena pada kenyataannya, tuan Sinclair gak mau mengalah. Dia masih berpendapat jika perempuan lebih mengandalkan logika daripada cinta.
Baginya, gak akan ada perempuan yang mau hidup susah. Makan saja, harus dari belas kasihan orang-orang.
Kalau pun ada, perempuan itu— bodoh. Termasuk sahabat istrinya, si Dania.
Tak terima sahabatnya di senggol, Ghea berang. Karena baginya, Dania bukan bodoh, namun hanya … dia sendiri gak bisa menafsirkan.
"Kalo kamu jadi dia, kamu mau cari nafkah, dan setelahnya di siksa habis-habisan?" tanya tuan Sinclair.
Ghea diam.
Dan diam Ghea, dianggap kemenangan bagi tuan Sinclair.
"Karena aku menang, jadi malam ini bisa kali dua ronde," tuan Sinclair menaik-turunkan alisnya.
Sebab, perdebatan diantara mereka sering terjadi. Dan selama ini, Ghea lah, pemenangnya.
Dan di setiap kemenangan, Ghea pasti meminta hadiah, berupa uang. Ataupun, suatu barang yang telah diincarnya jauh-jauh hari.
Dan hari ini, tuan Sinclair mencoba peruntungan untuk dirinya sendiri.
Akan tetapi, bukan hadiah yang didapatkan. Melainkan, bantal yang kembali melayang ke sofa. Dengan selimut temannya.
"Aku gak mau tidur sama kamu," teriak istrinya sebelum menghilang di balik selimut.
"Apa salahku," gumam tuan Sinclair, menatap nanar tubuh istrinya diatas kasur king size.