Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.
Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?
SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judul: Bab 2 Isi: muka. Tangannya megang kepala... [+ tempel semua cerita sampe
"Lihat di belakang lo! Makin deket dia!" teriak Fitri.
Mereka lari terbirit-birit sampe akhirnya nyampe di dalam kamar. Napas ngos-ngosan, wajah pucat semua.
"Sepertinya kita harus pindah nih, Mas, nggak kuat aku," ujar Fitri sambil megang dada.
Mereka semua terdiam. Suasana begitu sepi, cuma kedengeran suara jangkrik sama burung alap-alap di kejauhan.
"Bagaimana ini? Nggak di kontrakan, nggak di gudang, horor semua," ucap Bima lemes.
"Menurut aku sih tanggung, Mas. Kita udah setengah jalan, lho. Itu yang ngontrak di seberang, sebelah ujung kanan, biasa-biasa aja. Walaupun mereka jarang kelihatan. Yang di gudang, karyawan lama juga biasa-biasa aja. Kita jalanin aja dulu deh," jawab Fitri.
"Kalau aku sih bingung. Di satu sisi aku harus nafkahin kamu sama anak kita, di sisi lain si kunti neror melulu," ujar Bima dengan nada agak kesal.
"Ssst! Pelanin suara lo!" bisik Fitri.
Tiba-tiba, suara angin mendesir kencang, berputar-putar. Terdengar di depan pintu kamar suara ketukan. _Tok! Tok! Tok!_
Mereka kaget, terperanjat, dan saling menatap.
"Fitri! Siapa itu, buka pintu!" ujar Bima.
"Nggak ah," Fitri geleng-geleng kepala. "Takut aku. Mas aja!"
"Nggak ah," Bima langsung tengkurep di kasur.
"Buka, jangan?" tanya Bima.
"Nggak usah, Mas! Suara orangnya aja nggak ada, iihhhh," ujar Fitri.
_Hihihihihiiii..._ Terdengar suara cekikikan kunti, keras banget. Mereka panik, saling berebut ke kasur.
"Mas, geser napa! Cepet! Geser!" ucap Fitri.
Karena saking takutnya, Fitri malah manjat tubuh Bima yang lagi tengkurep.
Nggak kerasa, mereka ketiduran. Tau-tau udah jam 06.30 pagi. Singkatnya, mereka udah rapi semua, lalu pergi berangkat kerja.
"Selamat pagi, Pak?" ucap mereka berdua.
"Selamat pagi, silakan masuk," ucap security.
"Kutu kupret! Baru juga aku datang, nih gudang udah bau kemenyan aja. Kecium nggak lo, Dek?" gerutu Bima.
"Iya, Mas. Tajem banget baunya, bikin merinding. Lawan aja rasa takut kita, oke!" ujar Fitri.
"Udah, udah, cuekin aja. Ayo masuk!" Bima nimpalin.
Baru juga masuk gudang, Bima udah keliatan pucat.
"Kenapa lo, Mas?" ujar Fitri.
"Aku tadi di pojokan liat kunti, Dek. Melambaiin tangan ke aku, hiiiiii."
"Ah, yang bener lo! Masih pagi begini," Fitri nggak percaya.
"Buat apa sih aku bohong, lo," Bima jawab dengan agak kesal.
"Ya udah, cuekin aja Mas. Kata lo harus berani, gimana sih lo!" ledek Fitri.
"Iya, maaf. Panik aku, sue! Tuh kunti, pagi-pagi begini udah nongol," ucap Bima.
Singkatnya, waktu udah pukul 16.00 sore. Waktu pulang 1 jam lagi. Fitri izin ke toilet yang ada di belakang gudang.
"Saya izin ke toilet, Pak?" ujar Fitri.
"Iya, Mbak, monggo," ucap ketua tim.
Ketika Fitri sedang di toilet, mendadak bulu kuduknya berdiri, merinding.
_(Dalam hati) Waduh kacau nih, tanda-tanda nggak beres ini mah._
Sambil ngusap-ngusap lehernya, tiba-tiba terdengar suara pintu toilet sebelah berbunyi. _Kreeeoot... kreeeoot... BRAAAK!_
"Siapa itu! Woy, siapa itu! Mas! Mas!" ucap Fitri, wajahnya panik.
Setelah selesai, Fitri membuka pintu toilet perlahan-lahan sambil tengok kanan-kiri.
_(Dalam hati) Nggak ada siapa-siapa. Aman... aman._
Fitri pun bercermin, merapikan rambut dan pakaiannya. Tiba-tiba...
_WUUUZZZ!_
Sekelebat bayangan putih melintas di belakang Fitri, di cermin.
"Kutu kupret!" ujar Fitri.
Fitri loncat kaget. Dia mengendap-ngendap, tengok sana, tengok sini. Terlihatlah sesosok berpakaian serba putih, rambut terurai panjang acak-acakan, berdiri di pojokan pintu toilet.
"E-e-eh, siapa lo!" ucap Fitri terbata-bata.
_(Dalam hati) Anjir! Kok badan aku kaku begini, ya?_
"Eh pekok! Pergi lo! Jangan ganggu aku, lo!" bentak Fitri. Padahal lututnya gemeter.
_(Dalam hati) Haduuuh, badan aku tambah kaku begini. Nggak bisa gerak._
Terdengar dari sosok kunti itu suara ketawa cekikikan. _Hihihihiiii..._ sambil mendekat ke arah Fitri. Bau anyir darah langsung nyengat.
"Berhenti! Stop, nggak lo! Jangan ke sini!" ujar Fitri.
Karena saking takutnya, Fitri nangis sesenggukan.
"Tolooong! Tolooong!" teriak Fitri.
Kunti itu makin mendekat. Mukanya pucat kebiruan, bola matanya putih semua. Karena badannya nggak bisa digerakin, akhirnya Fitri pingsan tergeletak di lantai toilet yang basah.
Singkat cerita...
"Fitri! Bangun! Bangun, Dek!" Bima memegang air putih dan mencipratkannya sedikit ke wajah Fitri.
Akhirnya Fitri siuman, dengan wajah kosong dan tatapan kosong. Napasnya ngos-ngosan.
"Mas... awas kunti! Itu awas kunti!" ujar Fitri sambil nunjuk-nunjuk ke belakang Bima, panik.
Bima ngernyit. "Ngomong apaan sih lo? Ngigau lo. Noh, lo liat di belakang lo, nggak ada siapa-siapa kan?"
Di belakang Bima cuma ada tembok gudang. Nggak ada siapa-siapa.
"Oh iya, lo tau nggak Mas? Di toilet aku tadi diteror kunti, anjir! Galak bener tuh kunti. Salah apa ya, aku digangguin terus," ujar Fitri. Mukanya masih pucat.
"Lo udah keren tuh, bagus Dek," ucap Bima. Padahal raut wajahnya kesel, mulutnya menganga.
"Kutu kupret lo! Aku ketakutan begini dibilang keren, Mas, mas! Sampe aku nangis, lo! Bilang bagus," ucap Fitri sambil nahan tangis.
"Ya harus begitu, Dek. Beraniin! Kalau nggak diberaniin, ya bakalan neror melulu," ujar Bima.
"Au ah, elap," ucap Fitri.
Bima tersenyum tipis. Setelah Fitri siuman kembali, barulah mereka pulang ke kontrakan. Soalnya udah jam 5 sore, waktunya pulang kerja.
"Tumben nih, suasananya adem. Sejuk, nggak serem lagi," kata Bima.
"Iya, ya. Aku juga ngerasa begitu, sejuk aja," timpal Fitri.
"Husst, nanti kedengeran lagi sama do’i. Ah, lo mah! Udah tau aku masih down, sue lo!" ujar Bima.
"Halaaah, lo! Dasarnya aja penakut, Mas!" Fitri menimpali.
Bima tersenyum. Singkatnya, mereka udah hampir sebulan ngontrak di daerah sini.
"Beberapa hari lagi kita gajian nih. Kamu ada rencana apa?" ujar Bima ke Fitri.
"Kalau aku sih nggak punya rencana apa-apa. Ya paling gajian, langsung aku kirim ke anak. Sisanya buat bayar kontrakan, sama buat makan sehari-hari. Itu aja," ujar Fitri.
"Ya udah, sama aja. Tapi besoknya libur, Dek. Ayolah refreshing, yang deket-deket aja. Bisa kan? Yang penting kita semua udah kirim buat anak. Ayolah," ujar Bima.
"Oke deh, aku setuju. Kita refreshing. Tapi yang enak ke mana ya?" ujar Fitri.
"Bagaimana kalau kita ke Taman Ria?" ucap Bima.
"Ya udah, terserah Mas aja deh. Lokasinya juga lumayan deket kok, paling satu kali naik angkot," ucap Fitri.
Hari semakin gelap. Angin berhembus spoi-spoi, dinginnya nusuk tulang.
"Udah, sana mandi gantian. Badan lo bau, tau nggak," ujar Bima.
"Bareng aja yuk, ke kamar mandinya?" ucap Fitri.
"Ya udah, yuk ah. Keburu makin malam, keburu do’i nongol lagi dari balik pohon bambu," ucap Bima.
"Husst, jangan mulai ke situ lagi pikirannya. Makhluk begituan kan suka ngedenger, Mas. Udah ayo, kelamaan cerita melulu," ujar Fitri.
Seperti biasa, mereka berjalan beriringan sambil ngobrol. Tiba-tiba, pas melewati pohon bambu...
"Anjir, lo liat, Dek," ujar Bima dengan nada pelan. Daun bambu bergerak sendiri, padahal nggak ada angin. Kayak ada yang mainin dari atas.
"Iya, udah cepat jalannya. Cuekin aja," ujar Fitri.
Fitri mulai erat megang tangan Bima. "Lo mulai dah!"
"Lo jangan kenceng-kenceng megang tangan aku, sakit tangan aku, kampret! Kecakar tangan aku nih, sue lo ah!" ujar Bima, kesal.
"Takut aku," ucap Fitri.
"Ah, lo! Aku bilang juga apa, katanya berani. Omdo lo!" ujar Bima.
Setelah sampai kamar mandi, mereka bergantian mandi.
"Kebiasaan si Fitri, lama! Kalau mandi ngapain aja sih tuh anak," gerutu Bima.
"Fitri, Fitri! Lama amat sih tuh bocah," kesal Bima dalam hati. "Woy! Fitriii! Cepetan!"
"Sabar kenapa! Lo kayak nggak kenal aku aja. Perut aku mules nih, lagi di tengah-tengah, tanggung," ujar Fitri, sambil teriak.
Bima yang nunggu, nggak sengaja kepalanya mendongak ke atas kamar mandi. Matanya langsung melotot. Dengan nada pelan, dia nunjuk ke atas.
"Dek... liat noh, yang di atas apaan. Ngegantung kaki segala lagi," ucap Bima sambil bergeser.
Di antara genteng bolong, ada kaki pucat nggantung. Nggak napak. Kuku kakinya panjang, item, kotor tanah. Dan kaki itu gerak-gerak pelan kayak lagi nungguin.
"Fitri! Fitriiii! Cepat lo! Keluar sekarang!" ujar Bima.
"Sebentar lagi ini Mas! Sabar!" balas Fitri.
Terpaksa Bima mendekati pintu kamar mandi dan menggedor-gedor pintunya. _Plak! Plak! Plak!_
"Sue lo! Cepetan! Di atas lo, noh ada apaan!"
"Iya ini udah! Ada apaan sih lo!" ucap Fitri.
Tanpa basa-basi lagi, Bima langsung lari terbirit-birit, ninggalin Fitri. Ternyata setelah selesai, Fitri belum sadar dengan apa yang terjadi.
"Pekok doang! Ke mana nih Mas, sue bener! Ninggalin," ucap Fitri.
_Hihihihihihiiii..._ Suara cekikikan mulai terdengar oleh Fitri, bareng hembusan angin malam yang begitu dingin. Pas Fitri mendongak ke atas...
"Kutu kupret! Pantesan lo kabur ya, sue! Bener! Aku nggak dikasih tau, main kabur-kabur aja. Dia ngelirik ke aku lagi, hiiiiii," ucap Fitri, menggerutu kesal.
"Mas! Mas! Tega lo, ninggalin aku sendirian!" Ternyata itu kunti, melayang, terbang, ngejar Fitri. _Hihihihihiiii..._ Rambutnya nutupin muka, bajunya putih dekil berlumuran tanah merah.
"Aduuuh, Mas! Setan alas, pake acara terbang lagi tuh kunti. Pergi lo! Pergi sana!" teriak Fitri.
Tanpa Fitri sadari, ternyata tuh kunti berhenti dan turun ke pohon bambu. Ngintip dari balik rumpun.
"Buka pintu! Buka pintu! Kampret! Cepetan!" teriak Fitri.
Setelah pintu dibuka, Bima terperangah sejenak. Karena Fitri basah kuyup, gemetaran.
"Udah, cepat masuk!" ucap Bima.
Bima nahan napas ngeliat kondisi Fitri yang udah kayak ayam sayur.
"Tega semua, lo, ya! Kutu kupret! Lo!" ujar Fitri.
"Lo udah aku kasih tau, lo! Malah jawab, 'Iya, iya, sebentar lagi'. Rasain tuh lo!" ledek Bima.
"Aaaaah, tega lo! Gimana kalau tuh kunti ngejar sampe sini?" Fitri panik.
"Emang ngejar lo," ujar Bima, mukanya datar.
"Iya, ngejar dia. Terbang, melayang. Kutu kupret tuh kunti, udah mukanya serem, melototin aku lagi! Sue doang!" ucap Fitri.
Bima diem. "Iya, maaf. Aku minta maaf, udah ninggalin lo!" ucap Bima.
"Ya udah, sana salin lo. Tidur. Mau diteror lagi lo! Aku jadi penasaran, kenapa tuh kunti neror kita terus ya," ujar Bima.
"Nanti kalau sempet, aku mau ngobrol sama Bapak yang punya kontrakan. Sebenarnya dulu di sini tempat apaan sih? Siapa tau ada kejadian apa gitu, iya nggak?" ujar Fitri.
"Iya bener, sekali-kali kita harus ngobrol sama Bapaknya," sahut Bima.
"Ya udah, tidur deh. Nanti kesiangan lagi," ujar Bima.
"Aku nggak bisa tidur!" ujar Fitri.
"Udah, paksain aja tidur. Daripada diteror lagi lo, mau?" ujar Bima.
"Pekok lo! Nakutin aku aja lo, ah!" ucap Fitri sambil narik selimut sampe nutup kepala.
*[BERSAMBUNG KE BAB 3: HUJAN PERTAMA SURO]*