Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Malam di Dubai tidak pernah benar-benar gelap; ia selalu dibasuh oleh neon yang menari-nari. Di atas balkon penthouse, Anindya merasakan angin gurun yang kering namun menyejukkan.
Elang sudah terlelap, dan kesunyian ini adalah waktu baginya untuk menjadi dirinya sendiri, bukan Dian sang direktur, bukan pula Anindya sang pelarian.
"Nyonya, Mr. Zayed mengirimkan pesan lagi," Sarah muncul dengan wajah yang sulit menyembunyikan senyumnya. "Kali ini bukan bunga, bukan berlian. Tapi... seekor unta putih?"
Anindya menoleh, keningnya berkerut. "Unta? Dia gila?"
"Bukan unta sungguhan di kantor, Nyonya. Dia mengirimkan sertifikat adopsi atas nama Elang untuk seekor bayi unta di pusat pelestarian kerajaan. Katanya, agar Elang punya alasan untuk sering-sering mengunjungi gurun," Sarah terkekeh. "Pria itu benar-benar tahu cara mendekati ibu lewat anaknya."
Anindya tidak bisa menahan senyum tipisnya. Strategi Zayed mulai bergeser dari rayuan maut pria dewasa menjadi humor yang hangat.
"Dia pikir aku akan luluh dengan bayi unta? Katakan padanya, Elang lebih suka robot daripada hewan berpunuk."
"Oh, saya sudah bilang begitu, Nyonya. Dan jawabannya? Dia bilang, 'Kalau begitu, besok aku akan mengirimkan unta robot yang bisa terbang'. Dia benar-benar gigih," goda Sarah.
Anindya menggelengkan kepala, ada rasa haru yang terselip. Di tengah pelariannya yang menegangkan, kehadiran Zayed, meski ia tolak berkali-kali, memberikan warna humor yang selama ini mati dalam hidupnya.
Zayed tidak menuntut, ia hanya ada di sana, siap menjadi sandaran tanpa memaksa Anindya melupakan Arlan.
~~
Sementara itu, di Jakarta, atmosfernya seratus derajat berbeda. Kenzo masih terduduk di bangku taman mal yang mulai sepi.
Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan, kemejanya terkena tumpahan minuman, dan tatapannya kosong. Ia tampak seperti gembel elit yang baru saja kehilangan dunianya.
"Kenzo? Benarkah itu kau?"
Sebuah suara wanita yang lembut namun penuh keraguan menghentikan lamunan Kenzo. Ia mendongak perlahan.
Di depannya berdiri seorang wanita cantik dengan balutan gaun merah marun yang elegan, menenteng tas belanjaan dari butik ternama.
"Valerie?" desis Kenzo.
Valerie adalah mantan kekasih Kenzo yang ia campakkan begitu saja saat ia mulai terobsesi pada Anindya. Mereka menjalin hubungan cukup lama, tepat sejak Arlan menikahi Anindya.
Valerie adalah satu-satunya wanita yang pernah benar-benar sabar menghadapi temperamen Kenzo.
"Astaga, Kenzo... Apa yang terjadi padamu?" Valerie menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca melihat kondisi pria yang dulu begitu ia puja. "Kenapa kau seperti ini? Di mana pangeran Praditya yang sombong itu?"
Kenzo tertawa pahit, suaranya parau. "Pangeran? Aku sekarang hanya seorang tawanan di kerajaanku sendiri, Valerie. Ayahku memblokirku, Anin meninggalkanku... Semua orang meninggalkanku!"
Valerie duduk di samping Kenzo, mengabaikan jarak dan bau alkohol yang menguar dari tubuh pria itu. Ia mengeluarkan tisu basah dari tasnya, lalu dengan gerakan perlahan, ia mengusap noda di sudut bibir Kenzo.
"Kau terlalu mengejar apa yang bukan milikmu, Kenzo," bisik Valerie lirih. "Sejak dulu, aku selalu bilang, obsesimu pada Anindya akan membakarmu hidup-hidup. Sekarang lihat, kau terbakar, dan tidak ada yang menyiramkan air untukmu."
Kenzo terdiam. Sentuhan Valerie terasa begitu akrab, mengingatkannya pada masa-masa sebelum ia membiarkan kegelapan menguasai hatinya. Untuk sesaat, pertahanan Kenzo runtuh. Ia menundukkan kepala di bahu Valerie, pundaknya berguncang pelan.
"Dia pergi, Valerie... Dia pergi dan membawa Elang. Aku tidak bisa menemukannya," isak Kenzo lirih.
Valerie mengelus rambut Kenzo dengan perasaan campur aduk. "Mungkin itu cara Tuhan menyelamatkan kalian berdua. Kau butuh sembuh, Kenzo. Bukan butuh Anindya."
Namun, di balik pelukan itu, mata Kenzo yang tertutup tiba-tiba terbuka lebar. Sebuah pikiran licik muncul. 'Valerie masih peduli padaku. Ayahku mungkin memblokir rekeningku, tapi Valerie... Valerie punya akses. Valerie punya uang.' Kegilaan Kenzo belum sembuh, ia hanya berganti topeng.
~~
Kembali ke Dubai, Anindya memutuskan untuk mengajak Elang berjalan-jalan ke pantai pribadi di depan apartemen mereka. Elang berlarian mengejar ombak kecil, tawanya memecah kesunyian malam.
Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi mendekat. Zayed muncul tanpa pengawalan ketat, hanya memakai kaos santai dan celana linen. Ia tampak begitu manusiawi, jauh dari citra CEO yang dingin.
"Aku tidak menyangka akan menemukan ratu gurun sedang bermain air," canda Zayed sembari berjongkok di samping Elang.
"Ibu! Paman Zayed bilang dia punya unta terbang!" seru Elang dengan mata berbinar.
Anindya menatap Zayed tajam. "Unta terbang?"
Zayed tertawa lepas. "Itu hanya kiasan untuk drone pengantar hadiah. Elang, bagaimana kalau besok Paman ajarkan cara menerbangkannya?"
Elang bersorak gembira. Anindya hanya bisa menghela napas panjang, namun ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa kehadiran Zayed membuat Elang bahagia.
"Kau terlalu baik pada kami, Zayed," ucap Anindya lirih setelah Elang menjauh sedikit.
Zayed berdiri, menatap laut lepas. "Aku tidak sedang mencoba membeli hatimu dengan mainan, Dian. Aku hanya ingin kau tahu bahwa hidup ini terus berjalan. Suamimu akan selalu memiliki tempatnya, tapi bukan berarti kau harus mengubur dirimu bersamanya."
Zayed meraih tangan Anindya. Kali ini, Anindya tidak menariknya dengan cepat.
"Izinkan aku menjagamu. Bukan sebagai pengganti, tapi sebagai Zayed yang ingin melihatmu tersenyum tanpa beban di matamu," ucap Zayed tulus. Matanya menatap Anindya dengan kedalaman yang tak terukur.
Anindya merasakan dadanya sesak. Ada rindu pada Arlan, namun ada juga getaran aneh yang sudah lama hilang. Ia menatap Elang yang tertawa di kejauhan, lalu kembali menatap Zayed.
"Aku butuh waktu, Zayed. Luka yang dibawa dari Jakarta tidak akan sembuh hanya dengan kemewahan Dubai," jawab Anindya jujur.
"Aku punya seluruh waktu di dunia, Dian," balas Zayed sembari mengecup punggung tangan Anindya dengan sangat hormat.
~~
Di Jakarta, Kenzo sudah berada di apartemen Valerie. Ia sudah mandi dan berganti pakaian dengan baju yang dibelikan Valerie. Kenzo menatap pantulan dirinya di cermin, senyum dingin kembali tersungging.
"Valerie, kau masih punya saham di perusahaan keluargamu, kan?" tanya Kenzo sembari memeluk Valerie dari belakang saat wanita itu sedang membuatkan kopi.
Valerie tersenyum manis, mengira Kenzo sudah mulai berubah. "Ada, Kenzo. Kenapa? Kau mau bekerja sama?"
"Aku butuh modal, Lerie. Sedikit saja untuk membangun proyek baru. Ayahku akan menyesal karena sudah meremehkanku," ucap Kenzo dengan suara manis yang manipulatif.
Valerie mengangguk percaya. "Apa pun untukmu, Kenzo. Aku senang kau sudah mau bangkit kembali."
Valerie tidak tahu bahwa uang itu tidak akan digunakan untuk proyek bisnis. Kenzo akan menggunakan setiap sen dari Valerie untuk menyewa orang bayaran kelas kakap guna melacak jejak Anindya.
Kenzo tahu, Anindya tidak bersembunyi di Indonesia. Satu-satunya tujuan yang masuk akal adalah pusat bisnis di Eropa.
"Tunggu aku, Anin," bisik Kenzo dalam hati. "Mantan pacarku yang bodoh ini akan membawaku padamu."
Anindya di Dubai tiba-tiba merinding. Ia memeluk Elang lebih erat, seolah-olah instingnya memberitahu bahwa badai dari Jakarta sedang mengumpulkan tenaga untuk serangan terakhir.
Dunia mungkin sudah berubah, tapi obsesi seorang Kenzo Praditya adalah kutukan yang tidak mudah dipatahkan.
...----------------...
To Be Continue ....