Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merayap Diantara Bayangan
Episode 25
Aku tetap diam mematung pada sebuah balok besar yang terbuat dari tulang raksasa yang menopang langit langit ruang belajar Lord Valos. Seluruh berat tubuhku yang kini sudah berisi otot dan lapisan logam Black Iron sepenuhnya bertumpu pada sepuluh ujung jari tanganku yang mencengkeram celah sempit di permukaan kalsium yang keras itu. Aku bisa merasakan suhu dingin dari batuan obsidian yang melapisi atap ruangan ini merambat perlahan melalui kulit metalik ku. Sebagai seorang pendaki aku tahu bahwa posisi menggantung secara horizontal seperti ini adalah ujian sesungguhnya bagi otot inti tubuh.
Dug... dug... dug...
Aku mengatur ritme detak jantung esensi ku agar berdenyut sesepi mungkin. Di dalam ruangan yang sangat sunyi ini setiap getaran kecil bisa terdengar seperti dentuman genderang bagi mahluk yang memiliki indera pendengaran tajam. Aku menolehkan kepalaku dengan sangat perlahan ke arah pojok ruangan tempat Ember Stalker sedang meringkuk. Mahluk kucing api itu masih terlihat tenang namun ekor kalajengkingnya sesekali bergerak pelan menunjukkan bahwa kesadarannya tetap waspada meskipun matanya tertutup.
"Goma jangan biarkan keringat esensi mu menetes ke bawah. Cairan itu memiliki suhu yang berbeda dengan udara ruangan ini serta kucing itu akan langsung menyadarinya," bisik Kharis melalui transmisi jiwa yang sangat halus hampir menyerupai getaran pikiran semata.
Aku tahu Kharis. Aku menekan seluruh pori kulitku agar tidak mengeluarkan energi berlebih. Fokusku sekarang hanya pada jangkauan tangan berikutnya.
Aku mulai menggerakkan tangan kiriku. Aku melepaskan cengkeraman jariku satu per satu dengan sangat hati hati agar tidak menimbulkan suara gesekan kuku dengan tulang. Aku menjangkau sebuah ukiran berbentuk kepala iblis yang menonjol di balok sebelah kiri. Aku memasukkan dua ujung jariku ke dalam lubang mata ukiran tersebut menggunakan teknik pocket grip yang sangat presisi. Begitu peganganku terasa stabil aku memindahkan seluruh beban tubuhku secara perlahan lahan.
[ SISTEM: BEBAN OTOT PUNGGUNG DAN LENGAN: TINGGI ]
[ SISTEM: POSISI TUBUH: HORIZONTAL OVERHANG ]
[ SISTEM: KONSUMSI ENERGI ESENSI UNTUK STABILITAS: 5 % PER MENIT ]
[ SISTEM: ANALISIS JARAK KE RAK NOMOR TIGA: 4 METER ]
Empat meter. Di atas permukaan tanah itu hanya butuh beberapa langkah. Tapi di langit langit ini empat meter terasa seperti mendaki satu kilometer dinding es.
Aku merayap maju dengan gerakan yang menyerupai seekor cicak namun jauh lebih berat dan bertenaga. Setiap inci kemajuan yang ku buat adalah hasil dari kontraksi otot perutku yang sangat kuat. Aku menjaga agar kakiku tetap menempel pada balok kayu tulang menggunakan kuku kaki hitamku sebagai jangkar tambahan. Pandangan mataku yang kuning keemasan terus memantau pergerakan udara di bawahku. Aku melihat adanya garis garis merah tipis yang melintang secara acak di seluruh lantai ruangan.
[ SISTEM: MENDETEKSI JARINGAN SENSOR TEKANAN JIWA PADA LANTAI ]
[ SISTEM: STATUS SENSOR: AKTIF ]
[ SISTEM: PERINGATAN: JANGAN MENJATUHKAN BENDA APA PUN KE ARAH LANTAI ]
Lantai itu adalah jebakan maut. Satu butir debu yang jatuh dengan membawa esensi ku sudah cukup untuk membangunkan Lord Valos dari tidurnya.
Aku sampai tepat di atas rak buku nomor tiga yang menjulang tinggi. Rak ini tidak menyentuh langit langit secara langsung melainkan menyisakan celah sekitar lima puluh sentimeter. Aku merendahkan tubuhku perlahan lahan menurunkan kakiku terlebih dahulu untuk mencari tumpuan di bagian atas rak tersebut. Aku merasakan permukaan rak yang berdebu sangat tebal. Debu ini sangat berbahaya karena jika ia terbang tertiup napas ku maka pergerakannya bisa memicu sensor suhu mahluk kucing api itu.
"Kharis siapkan dirimu. Jika aku berhasil mengambil gulungan itu kau harus segera menutupi jejak energiku menggunakan asap hitammu dalam hitungan detik," perintahku dengan sangat tegas.
"Aku siap Goma. Tapi kau harus cepat. Aku merasakan aura Lord Valos di balik tirai itu mulai bergerak. Sepertinya ia sedang berpindah posisi tidur atau ia mulai merasakan sesuatu yang asing."
Aku tidak membiarkan kata kata Kharis membuatku panik. Aku menggunakan tangan kananku untuk meraih gulungan kulit yang terikat benang emas itu. Aku tidak langsung menariknya. Aku menggunakan penglihatan Eyes of the Abyss untuk melihat jalinan segel yang mengunci gulungan tersebut.
[ SISTEM: MEMINDAI SEGEL PADA GULUNGAN DIMENSI ]
[ SISTEM: TIPE: TRIGGER SEAL (SEGEL PEMICU) ]
[ SISTEM: MEKANISME: AKAN MELEDAK JIKA DIANGKAT TANPA MENYAMAKAN FREKUENSI ENERGI ]
[ SISTEM: PROSES PENYELARASAN ENERGI SEDANG BERJALAN: 10 %... 20 %... ]
Ayo cepat sedikit lagi. Aku tidak bisa bertahan dalam posisi menggantung ini lebih lama lagi.
Otot lengan kiriku mulai terasa panas serta bergetar sedikit karena harus menahan seluruh beban tubuhku ditambah beban Black Iron di tulangku. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di keningku namun aku segera menyerapnya kembali ke dalam pori kulit menggunakan kontrol otot wajahku. Ini adalah ujian ketahanan yang sangat menyiksa. Setiap detik yang berlalu terasa seperti jam yang berdetak di dalam kepalaku.
Tiba tiba mahluk Ember Stalker di pojok ruangan berdiri. Ia merenggangkan tubuhnya seperti kucing biasa namun ketiga matanya yang hijau neon terbuka lebar. Ia mengendus udara dengan lubang hidungnya yang kecil. Ia sepertinya merasakan adanya perubahan aliran udara di bagian atas ruangan.
"Sssshhh..."
Mahluk itu mengeluarkan suara desisan yang sangat rendah. Cahaya api di tubuhnya mendadak menjadi lebih terang menyinari ruangan yang gelap tersebut. Aku membeku sepenuhnya. Aku menghentikan seluruh gerakan ototku bahkan aku mencoba menghentikan detak jantungku sejenak melalui paksa'an energi jiwa. Aku menjadi sebuah benda mati yang menempel pada rak buku.
Mahluk kucing itu menatap ke arah atas tepat ke posisi tempatku berada. Aku bisa melihat pantulan diriku yang mengenakan jubah pelayan di dalam mata hijaunya yang besar. Namun karena aku menggunakan jubah isolasi serta kemampuan Shadow Veil yang masih aktif secara pasif mahluk itu tidak bisa memastikan apakah aku adalah mahluk hidup atau hanya bayangan dari ukiran tulang langit langit.
Setelah beberapa saat yang sangat menegangkan mahluk itu kembali duduk namun matanya tetap terbuka. Ia sekarang dalam mode siaga penuh.
[ SISTEM: PENYELARASAN ENERGI SELESAI ]
[ SISTEM: SEGEL DINONAKTIFKAN SEMENTARA SELAMA 30 DETIK ]
[ SISTEM: AMBIL GULUNGAN SEKARANG! ]
Aku segera menarik gulungan kulit itu dengan gerakan yang sangat halus seolah olah aku sedang menarik sehelai rambut dari atas air. Begitu gulungan itu lepas dari raknya aku segera memasukkannya ke dalam saku rahasia di balik jubah isolasi ku. Aku tidak membuang waktu untuk memeriksa isinya sekarang. Tujuanku adalah segera keluar dari ruangan ini.
"Dapat. Sekarang kita harus pergi Kharis!"
Aku tidak kembali melalui jalur ventilasi tempatku masuk tadi karena mahluk kucing itu sekarang sedang menghadap ke arah sana. Aku melihat ke arah jendela besar di sebelah meja kerja Lord Valos. Jendela itu tertutup oleh kaca kristal tebal namun sistemku mendeteksi adanya engsel manual di bagian bawahnya yang bisa dibuka dari dalam.
Aku merayap kembali di langit langit bergerak menuju arah jendela. Kali ini aku bergerak lebih cepat karena durasi penonaktifan segel terus berkurang. Jika segel itu kembali aktif saat aku masih di dalam ruangan maka alarm akan berbunyi secara otomatis.
Dua meter lagi... satu meter...
Aku sampai di atas jendela. Aku menggantungkan tubuhku menggunakan kaki kaki tulang ku pada balok kayu atas sementara tanganku menjangkau engsel jendela kristal tersebut. Aku membukanya dengan sangat perlahan menghindari suara derit logam. Angin malam Gehenna yang dingin langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan menciptakan pusaran debu kecil di lantai.
Mahluk Ember Stalker langsung berdiri tegak serta mengeluarkan geraman yang sangat keras. Kali ini ia tidak lagi ragu. Ia tahu ada penyusup di dalam ruangan tuannya.
"MIAAAAAWWWW!"
Mahluk itu melompat ke arahku dengan ekor kalajengkingnya yang siap menusuk. Di saat yang sama tirai ungu di balik meja kerja Lord Valos tersingkap. Aku bisa merasakan aura energi yang sangat dahsyat meledak dari arah tempat tidur tersebut.
"Siapa yang berani mengusik tidurku!" suara Lord Valos menggelegar menghancurkan beberapa vas kristal di atas mejanya.
Aku tidak menunggu untuk melihat wajahnya yang marah. Aku melompat keluar dari jendela yang terbuka terjun bebas menuju kegelapan jurang di bawah istana.
"Sekarang Kharis! Tutupi jejak kita!"
Kharis meledakkan seluruh asap hitamnya di mulut jendela menciptakan tabir kegelapan yang sangat pekat untuk menghalangi pandangan Lord Valos dan peliharaannya. Aku jatuh dengan kecepatan tinggi merasakan angin dingin menusuk kulit wajahku. Aku segera menjulurkan tangan kanan ku mencari tumpuan pada dinding tebing tulang di bawah jendela.
Grep!
Tangan berotot ku mencengkeram sebuah tonjolan tulang dengan kekuatan yang bisa menghancurkan batu. Aku berayun di udara menahan beban gravitasi yang sangat besar. Aku tidak berhenti di situ. Aku mulai mendaki turun dengan kecepatan yang belum pernah kulakukan sebelumnya.
Ibu Widya aku sudah memegang kuncinya. Aku sudah memegang peta menuju rumah kita. Tidak ada seorang pun di neraka ini yang bisa mengambilnya kembali dariku sekarang.
Di atas sana aku bisa mendengar suara teriakan kemarahan Lord Valos serta suara kepakan sayap para penjaga yang mulai keluar untuk memburuku. Namun di dalam kegelapan tebing tulang ini aku adalah raja. Aku akan merayap menghilang ke dalam bayangan kota sebelum mereka sempat melihat warna kulitku.
Pendakian maut ini baru saja mencapai puncaknya serta aku sedang turun dengan membawa harta yang paling berharga di seluruh Gehenna. Dan aku Goma tidak akan pernah membiarkan peta ini lepas dari genggamanku sampai aku memijak tanah Bumi kembali.