10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Cermin yang Tidak Memantulkan
Malam itu terasa berbeda.
Udara di kamar Raka lebih dingin dari biasanya, seolah-olah seseorang membuka jendela yang tak terlihat.
Lampu meja berkedip pelan, memantulkan bayangan-bayangan ganjil di dinding. Buku tua itu masih terbuka di atas meja—halaman yang sama, yang belum berani ia lanjutkan sejak kejadian kemarin.
Raka menatap tulisan yang perlahan muncul di kertas kusam itu.
“Cara ke-10: Lihatlah dirimu… yang tidak lagi menjadi dirimu.”
Jantungnya berdegup kencang.
“Apa maksudnya…?” bisiknya pelan.
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Selama ini, setiap cara selalu memiliki konsekuensi. Setiap langkah semakin menariknya ke dalam dunia yang tak seharusnya ia lihat.
Tapi kini, ia sudah terlalu jauh untuk berhenti.
Tangan Raka gemetar saat ia meraih cermin kecil yang tergeletak di laci.
Cermin itu retak di bagian sudut—bekas jatuh beberapa bulan lalu.
Namun malam ini, retakan itu tampak seperti garis yang hidup, seakan-akan bergerak perlahan.
Ia menatap pantulannya.
Wajahnya pucat.
Mata cekung. Rambut berantakan.
Namun… ada sesuatu yang salah.
Pantulannya tidak bergerak.
Raka mengerutkan kening. Ia mengangkat tangannya perlahan—dan bayangan di cermin itu tetap diam, menatap lurus ke arahnya.
“Tidak… ini tidak mungkin…”
Tiba-tiba, pantulan itu tersenyum.
Senyum yang bukan miliknya.
Raka tersentak mundur hingga kursinya terjatuh.
Nafasnya memburu. Tangannya dingin seperti es.
Pantulan itu kemudian… bergerak sendiri.
Perlahan, sosok di dalam cermin mendekat, hingga wajahnya memenuhi seluruh permukaan kaca.
Matanya hitam pekat.
“Sudah lama aku menunggumu,” suara itu terdengar—bukan dari luar, tapi langsung di kepalanya.
Raka menutup telinganya, meskipun ia tahu itu sia-sia.
“Kau bukan aku…” gumamnya.
Sosok itu tertawa pelan.
“Justru aku adalah dirimu… yang kau abaikan.
”Lampu tiba-tiba padam.
Gelap.
Hanya ada cahaya samar dari cermin yang kini bersinar redup.
Raka terdiam, tak berani bergerak.
Lalu suara itu kembali terdengar.
“Kau ingin melihat hantu, bukan? Kau mengikuti semua cara… tanpa berpikir.”
Raka menelan ludah.
“Aku… hanya ingin tahu…”
“Tahu?” suara itu berubah dingin.
“Atau kau ingin membuktikan bahwa dunia ini tidak sesederhana yang kau pikirkan?”
Tiba-tiba, bayangan di dinding bergerak.
Bukan mengikuti cahaya.
Tapi… berjalan sendiri.
Satu per satu, bayangan muncul dari sudut ruangan.
Mereka tinggi, kurus, dan tak berbentuk jelas. Seperti asap yang hidup.
Raka mundur hingga punggungnya menempel ke dinding.
“Apa yang kalian mau…?”
Tidak ada jawaban.
Namun mereka semakin mendekat.
Cermin di tangannya bergetar.
Retakan di permukaan kaca melebar… hingga terdengar suara krek yang tajam.
Dan kemudian—
Cermin itu pecah.
Namun anehnya, pecahan-pecahan itu tidak jatuh.
Mereka melayang di udara.
Di setiap pecahan, Raka melihat sesuatu.
Dirinya… di waktu yang berbeda.
Dirinya yang kecil, menangis
sendirian di kamar.
Dirinya yang remaja, mengabaikan panggilan ibunya.
Dirinya yang sekarang… penuh rasa penasaran yang berlebihan.
Dan di satu pecahan—
Ia melihat dirinya… yang berdiri di tengah kegelapan, dikelilingi bayangan-bayangan itu.
“Ini… masa depanmu,” suara itu berbisik.
Raka menggeleng kuat.
“Tidak… tidak!”
“Tapi kau sudah memilih jalan ini.”
Bayangan-bayangan itu kini hampir menyentuhnya. Udara terasa berat, seperti dipenuhi sesuatu yang tak kasat mata.
Raka teringat sesuatu.
Setiap cara sebelumnya selalu
punya aturan.
Selalu ada batas.
Ia menatap cepat ke buku yang masih terbuka.
Tulisan baru muncul.
“Jika kau melihat dirimu yang lain… jangan biarkan ia keluar.”
Mata Raka membelalak.
Ia menoleh ke cermin—atau apa yang tersisa darinya.
Sosok itu… tidak lagi berada di dalam.
Ia berdiri tepat di belakang Raka.
“Sudah terlambat,” bisiknya.
Raka membeku.
Perlahan, ia menoleh.
Dan di sanalah ia berdiri.
Dirinya.
Namun lebih gelap.
Kulitnya pucat seperti mayat.
Matanya kosong, namun penuh kebencian.
“Kau terlalu lemah untuk menghadapi semua ini,” kata sosok itu.
“Tapi aku tidak.”
Raka mundur selangkah.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Sosok itu tersenyum lebar.
“Menggantikanmu.”
Jantung Raka serasa berhenti.
“Apa…?”
“Kau membuka pintu. Kau mengundang kami. Sekarang… kau harus membayar.”
Bayangan-bayangan di sekeliling mereka bergerak lebih cepat, seperti pusaran yang mengurung Raka.
Ia merasa tubuhnya semakin berat.
Sulit bergerak.
Sulit bernapas.
Namun di tengah ketakutan itu, ia menyadari satu hal.
Ini belum berakhir.
Ia masih punya pilihan.
Dengan sisa tenaga, Raka meraih buku itu dan membacanya keras-keras.
“Aku… tidak akan membiarkanmu keluar!”
Sosok itu tertawa.
“Kau pikir kau bisa menghentikanku?”
Raka mengangkat salah satu pecahan cermin yang melayang.
Dengan keberanian yang tersisa, ia mengarahkan pecahan itu ke arah sosok tersebut.
“Aku tidak tahu caranya…” katanya dengan suara gemetar. “Tapi aku tahu satu hal—kau tidak nyata tanpa aku!”
Sosok itu terdiam.
Untuk pertama kalinya,
ekspresinya berubah.
Raka melangkah maju.
“Semua ini terjadi karena aku melihat… karena aku percaya.”
Ia mengangkat pecahan cermin lebih tinggi.
“Kalau begitu… aku juga bisa menutupnya.”
Dengan gerakan cepat, ia menghantamkan pecahan cermin itu ke arah sosok tersebut.
Cahaya terang meledak.
Suara jeritan memenuhi ruangan.
Bayangan-bayangan itu menghilang satu per satu, seperti asap yang tertiup angin.
Raka terjatuh ke lantai.
Nafasnya tersengal.
Lampu kembali menyala.
Kamar itu… kembali normal.
Cermin di tangannya kini benar-benar hancur, tak lagi melayang.
Buku di meja tertutup sendiri.
Sunyi.
Raka menatap sekeliling.
Tidak ada apa-apa.
Namun ia tahu… sesuatu telah berubah.
Ia menoleh perlahan ke arah jendela.
Di pantulan kaca—
Ia melihat dirinya.
Kali ini, pantulannya bergerak sesuai gerakannya.
Normal.
Tapi…
Di baliknya, jauh di dalam bayangan—
Seolah ada sesuatu yang masih mengawasi.
Raka menutup mata.
Permainan ini belum selesai.
Dan mungkin… tidak akan pernah benar-benar berakhir.