NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Langkah kaki Cameron terhenti begitu ia keluar dari ruang keluarga. Tatapannya langsung menangkap sosok Giana yang berdiri diam di sana, dengan wajah yang tampak kosong seolah pikirannya sedang melayang jauh. Namun bagi Cameron, wanita itu mungkin telah mendengar semua percakapannya dengan sang ibu.

“Giana.”

Suara itu memecah lamunannya. Giana tersentak. Tubuhnya sedikit bergetar saat ia menoleh, menampilkan ekspresi yang sulit disembunyikan. Ada keterkejutan, kegugupan, dan keraguan yang mulai tumbuh.

“Sedang apa kau di sana?” tanya Cameron dengan sebelah alis terangkat ke atas. 

“Aku … aku sedang, m-maksudku ….” Ia mencoba berbicara, tetapi kata-katanya terasa tersangkut di tenggorokan.

Cameron menatapnya tajam sejenak, lalu tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan, ia melangkah cepat mendekat dan meraih pergelangan tangan Giana.

“Ayo, ikut aku sebentar,” bisiknya seraya menarik lengan Giana. Tidak kasar, tetapi juga tidak memberi ruang bagi Giana untuk menolak.

Giana terkejut. “Tu-tuan. Tunggu, aku—”

Namun kalimatnya terputus saat Cameron membawanya masuk ke dalam kamarnya. Pintu tertutup rapat, dan dalam satu gerakan cepat, Cameron menguncinya dari dalam.

Giana membeku di tempatnya. Matanya membelalak, napasnya tertahan, sementara pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan tanpa bisa ia kendalikan. Refleks, ia mundur selangkah, lalu selangkah lagi, hingga jarak di antara mereka semakin jauh. Tangannya terangkat di depan tubuhnya, seolah melindungi diri.

“Ja-jangan, Tuan! Aku … aku bukan wanita murahan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Cameron mengernyit, benar-benar heran dengan reaksi itu. Ia menatap Giana sejenak sebelum bertanya, “Kau sedang apa? Apa yang kau bicarakan?”

Namun Giana tidak menjawab. Tatapannya justru semakin waspada, tubuhnya semakin menjauh hingga punggungnya hampir menyentuh dinding.

Cameron menghela napas pendek, lalu melangkah mendekat. “Kemarilah? Kenapa kau terus melangkah mundur? Aku ingin bicara—”

Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Giana tiba-tiba berbalik dan berlari menjauh.

“To-tolong! Tolong aku!” teriaknya panik.

Suara itu menggema di dalam kamar, memecah suasana dengan ketakutan yang begitu nyata.

Cameron terdiam sesaat, benar-benar tidak menyangka reaksi itu. “Giana, hentikan! Apa yang kau lakukan?! Kau bisa membuat kepanikan di rumah!” sentaknya pelan. 

Namun wanita itu tidak mendengarkan. Ia terus menjauh, suaranya semakin keras, dipenuhi ketakutan yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami sendiri.

Sementara di luar kamar, suara itu terdengar jelas. Bianca yang tengah berjalan di lorong berhenti. Alisnya terangkat perlahan saat ia mengenali suara teriakan itu. Ia tidak bergerak, tidak pula mendekat. Sebaliknya, ia hanya berdiri diam, mendengarkan dengan saksama.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Gumamnya, terheran-heran dengan suara teriakan Giana. 

Tanpa mengatakan apa-apa, Bianca justru berbalik dan melangkah pergi, seolah tidak mengetahui apa pun. Namun dalam diam, ia sudah menarik kesimpulan yang menurutnya paling masuk akal.

Dan di dalam kamar, Cameron akhirnya bergerak cepat. Ia menangkap pergelangan tangan Giana sebelum wanita itu semakin menjauh, lalu menariknya dengan tegas.

“Cukup! Hentikan! Apa kau sudah gila? Mengapa kau berteriak minta tolong? Memangnya aku akan melukaimu?” tanyanya dengan suara pelan, namun penuh tekanan.

Giana terdiam seketika, napasnya masih memburu. Matanya menatap Cameron dengan campuran ketakutan dan kebingungan. “Bu-bukankah kau … kau mau melakukan itu secara paksa kepadaku?” Gugup Giana masih waspada.

“Apa? Apa kau sudah kehilangan akal? Aku bukan pria yang seperti itu! Aku hanya ingin bicara tentang Cayden,” lanjut Cameron dengan nada yang lebih terkendali.

Giana yang masih menatapnya itu berubah menunduk malu karena sudah salah paham dengan apa yang baru saja terjadi. “Lalu kenapa Anda mengunci pintu?” tanyanya, suaranya masih bergetar.

Cameron terdiam sejenak. Pertanyaan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya menyadari kesalahannya sendiri. Ia menghela napas, lalu perlahan melepas genggaman tangannya.

“Aku tidak ingin percakapan ini didengar siapa pun,” jawabnya akhirnya, suaranya lebih rendah dan serius. “Maaf jika sudah membuatmu salah paham, tapi percaya padaku, aku pria terhormat yang tidak akan pernah melakukan hal itu kepada wanita manapun.

Giana tidak bergerak. Ia masih berdiri di tempatnya, namun mendengar pernyataan Cameron itu, keningnya mengernyit dalam, kepalanya kembali dipenuhi berbagai pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Cameron sendiri. 

Cameron menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu berkata dengan tegas, “Kau mendengar pembicaraan tadi, bukan?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Dan di dalam kamar yang terkunci itu, kebenaran, kesalahpahaman, dan perasaan yang belum sempat dijelaskan mulai saling bertabrakan, menciptakan ketegangan yang tidak lagi bisa dihindari.

1
awesome moment
thx, kak. sdh mengembalikan giana dan cay ke panti. buat agak lamaan di panti jg g p2. biar regina dan bianca tau smuanya dlu. biar cameron terbuka dlu. biar bianca nyesel dlu..biar...cay gemoy dlu😄😄😄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!