Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 17 Mertuaku Kena Serangan Jantung
Suasana di ruang tamu yang tadinya hangat mendadak terasa hambar. Sudah hampir satu jam berlalu, tapi suara mesin mobil Bara belum juga terdengar di halaman depan. Maya sesekali melirik jam tangan mewahnya, lalu menatap layar ponselnya yang sepi tanpa ada notifikasi yang muncul.
"Aduh, Om... Tante... sepertinya saya harus pamit duluan deh," ucap Maya sambil merapikan tas tangannya dan berdiri dengan gerakan yang sengaja dibuat tampak terburu-buru.
Tante Sarah langsung ikut berdiri, wajahnya menunjukkan raut kecewa. "Lho, kok buru-buru banget, Maya? Ini Bara katanya sudah di jalan, sebentar lagi sampai. Makanannya juga belum sempat kita nikmatin bareng."
Om Baskoro yang sedang menyesap tehnya juga ikut menimpali. "Iya, Maya. Tanggung kalau pulang sekarang. Emang urusannya nggak bisa ditunda sebentar?"
Maya memasang senyum paling manis sekaligus paling "tertekan" yang bisa ia tunjukkan. "Maaf banget, Om, Tante. Bukannya saya nggak mau nunggu Bara, tapi kebetulan ada janji mendadak sama kolega Papa yang baru mendarat dari Australia. Nggak enak kalau saya telat, soalnya menyangkut urusan bisnis keluarga juga."
Maya sengaja membawa-bawa nama "bisnis keluarga" supaya alasannya terdengar berbobot dan profesional di mata kedua orang tua Bara. Padahal, dalam hatinya, ia hanya tidak siap jika harus berhadapan langsung dengan Renata di saat posisinya belum sepenuhnya kuat.
"Yah, kalau sudah urusan bisnis Papa kamu, Om nggak bisa maksa," sahut Papa Baskoro sambil mengangguk paham. "Tapi lain kali harus lamaan ya mainnya."
"Iya, Tante juga sayang banget nih kamu harus pulang. Padahal Tante kangen ngobrol lama," tambah Tante Sarah sambil mengantar Maya menuju pintu depan.
"Pasti, Tante. Nanti Maya main lagi kalau jadwalnya ada yang kosong," jawab Maya dengan nada sopan.
Meskipun Tante Sarah dan Om Baskoro berusaha menahan dengan berbagai bujukan, Maya tetap kekeh pada pendiriannya. Ia tahu benar kapan harus menarik diri sebelum situasi menjadi terlalu canggung atau malah berisiko bagi rencananya.
Mau tidak mau, Tante Sarah dan Om Baskoro mempersilakan tamu cantik itu pulang. Maya melambaikan tangan saat mobilnya perlahan meninggalkan gerbang megah kediaman Adiwangsa.
Sementara keadaan di dalam mobil Bara mendadak hening pas mereka lagi menyusuri jalanan komplek perumahan elit yang lebar dan asri itu. Di pertengahan jalan, sebuah mobil mewah berwarna putih melaju perlahan dari arah berlawanan.
Bara refleks ngurangin kecepatan mobilnya. Matanya nggak lepas ke arah mobil itu, merhatiin plat nomornya yang sangat dia kenal. Di balik kaca film yang gelap, Maya juga ngelirik tajam ke arah mobil Bara. Mereka berdua sama-sama tahu siapa yang ada di dalam mobil masing-masing, tapi nggak ada yang berhenti. Mobil Maya terus melaju keluar komplek, sementara Bara lanjut masuk ke arah rumahnya.
Renata yang duduk di samping Bara ternyata nggak luput merhatiin gerak-gerik suaminya. Dia nengok ke belakang, ngeliatin mobil putih itu sampai hilang di tikungan jalan komplek.
"Mas... kamu kayaknya merhatiin banget mobil yang barusan lewat," cetus Renata dengan nada menyelidik. Matanya balik natap tajam ke arah Bara.
Bara berdehem, berusaha netralin ekspresi mukanya supaya nggak kelihatan panik. Tangannya makin kenceng megang setir. "Eh? Enggak kok... Gapapa, cuma kayak nggak asing aja liat mobilnya," jawab Bara singkat, mencoba sedingin mungkin.
Renata diem sejenak, kayak lagi mengingat-ngingat sesuatu di kepalanya. "Iya sih... aku juga merasa gitu, Mas. Kayak pernah liat di mana gitu ya warna mobilnya," gumam Renata pelan.
Bara nggak berani nyaut lagi. Dia cuma fokus markirin mobil pas sampai di halaman depan. Begitu mesin mati, Bara langsung turun duluan, seolah mau buru-buru masuk biar obrolan soal mobil tadi nggak berlanjut.
Pas mereka melangkah masuk, dan berjalan ke ruang tamu, Papah yang lagi santai langsung nurunin iPad-nya.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu baru nongol!" seru Papah. "Tadi di jalan papasan nggak sama Maya? Baru banget dia keluar dari sini, katanya ada urusan mendadak."
Mamah yang lagi ngeteh juga ikut menyambar. "Iya, Bar! Kasihan lho Maya nungguin kamu lama banget. Mamah sampai nggak enak tadi pas dia pamit buru-buru."
Deg.
Langkah Renata langsung terhenti di tengah ruangan. Dia menoleh pelan ke arah Bara, lalu ke arah mertuanya. "Oh... jadi tamu yang dari tadi kita omongin itu... Maya, Mas?" tanya Renata. Suaranya pelan, tapi aura di sekitarnya mendadak jadi dingin banget.
Bara cuma bisa diem seribu bahasa. Rahasia yang dia tutup-tutupi sepanjang jalan tadi akhirnya meledak juga gara-gara kejujuran papanya sendiri.
"Lho, emangnya kenapa, Renata?" tanya Papa Baskoro polos, nggak sadar kalau pertanyaannya itu justru membuka kotak pandora.
Renata mencoba tersenyum tipis, meski tatapannya ke arah Bara sudah sangat tajam. "Nggak apa-apa, Pah. Cuma tadi di jalan Mas Bara nggak kasih tahu siapa tamunya. Katanya 'nanti juga tahu sendiri'."
Papa Baskoro langsung menoleh ke arah anak laki-lakinya itu dengan dahi berkerut. "Bara, kamu kenapa nggak kasih tahu istrimu? Kan tinggal bilang kalau Maya yang datang."
Bara menghela napas panjang, mencoba menahan rasa frustrasinya. "Pah... kan tadi aku bilang, nanti juga tahu sendiri. Aku bukan nggak mau bilang, Pah, cuma waktunya aja nggak pas."
"Setidaknya kamu kasih tahu dulu! Ini istrimu lho, Bar. Kamu kan sudah dewasa, punya tanggung jawab, bukan anak kecil lagi yang apa-apa harus dirahasiain!" sahut Papa Baskoro, suaranya mulai meninggi.
Nyonya Sarah yang melihat suaminya mulai emosi langsung memegang lengan Papa Baskoro. "Udah, Mas... gitu aja diributin, nggak baik di depan menantu. Masalah sepele kok."
Tapi Papa Baskoro justru makin tersulut. "Siapa yang mau ribut kalau nggak ada yang salah? Lagian aku udah kesel dari semalam juga! Bukannya pulang kerumaheee, udah tahu di rumah ada tamu, malah keluyuran nggak jelas!"
Bara yang sedari tadi mencoba bersabar akhirnya meledak juga. Dia merasa sudah bekerja keras di kantor Adiwangsa Group seharian, tapi malah diserang urusan rumah tangga di rumah sendiri.
"Lah, aku kan udah bilang kalau aku ada urusan kerja! Kok Papah nggak ngerti-ngerti sih?!" balas Bara dengan nada membentak, membuat suasana ruangan seketika mencekam.
"SETIDAKNYA KAMU NGASIH TAHU ISTRIMU DULU, BARA!" bentak Papa Baskoro tak kalah keras, wajahnya mulai memerah padam.
"Pah! Renata juga percaya sama aku! Dia tadi di kantor juga bareng aku, dia nggak merasa keberatan kok! Ini malah Papah yang ribet sendiri!" sahut Bara sambil berdiri, emosinya sudah di puncak kepala.
"BARA...!!"
Papa Baskoro hendak berteriak lebih keras lagi, tapi tiba-tiba kalimatnya terputus. Tangannya refleks mencengkeram dadanya dengan kuat. Wajahnya yang tadinya merah padam mendadak pucat pasi, napasnya memburu dan pendek-pendek.
"Mas? Mas!" teriak Nyonya Sarah panik saat melihat suaminya mulai limbung di sofa.
"Pah? Papah kenapa?!" Bara langsung lari menghampiri papanya, rasa kesalnya hilang berganti ketakutan luar biasa saat melihat Papa Baskoro mulai kehilangan kesadaran akibat serangan jantung mendadak.
Renata yang berdiri nggak jauh dari situ juga kaget bukan main. Dia langsung lari ke arah dapur, "Bi! Ambilin air anget sama minyak kayu putih cepetan!" teriaknya sambil balik lagi ke arah mertuanya.
Papa Baskoro cuma bisa mengerang pelan, matanya mulai sayu. Cengkeraman tangannya di dada perlahan melemas, bikin semua orang di ruang tamu itu panik setengah mati. Kejadiannya bener-bener cepet banget, dari debat panas langsung berubah jadi suasana darurat medis yang mencekam.
"Mas Bara, jangan diguncang-guncang badannya! Mas, telepon ambulans sekarang!" perintah Renata dengan suara tegas meski badannya juga gemeteran.
Bara dengan tangan gemetar hebat langsung mengambil ponselnya, menekan nomor darurat untuk memanggil ambulans. Suaranya terdengar parau dan panik saat memberikan alamat rumah, sementara matanya tak lepas dari sosok Papa Baskoro yang tegeletak lemas di sofa.
Sambil menunggu suara sirine ambulans datang, Nyonya Sarah mulai terisak hebat. Rasa panik dan sedihnya berubah menjadi ledakan emosi yang ditumpahkan kepada putranya itu.
"Kamu itu gimana sih, Bar?! Kamu kan sudah tahu Papa kamu ada riwayat penyakit jantung! Kenapa harus dilawan terus kalau dia lagi bicara?!" semprot Nyonya Sarah sambil memijat tangan suaminya yang mulai mendingin. Suaranya melengking tinggi, penuh dengan nada menyalahkan.
Bara hanya bisa tertunduk lesu di samping sofa, wajahnya pucat dan penuh penyesalan yang mendalam. "Aku juga baru ingat, Mah... Tadi aku terbawa emosi, aku benar-benar nggak maksud bikin Papa begini," jawab Bara pelan, suaranya nyaris hilang ditelan rasa bersalah.
Melihat pertikaian ibu dan anak itu makin memanas di tengah kondisi darurat, Renata langsung berdiri di tengah-tengah mereka. Ia memegang bahu Nyonya Sarah dengan lembut.
"Udah, Mah... udah. Jangan nyalahin Mas Bara dulu. Yang penting sekarang kita fokus supaya Papa stabil sampai ambulan datang," lerai Renata dengan tenang. Ia beralih menatap Bara, memberi isyarat lewat mata agar suaminya itu tidak membalas omongan mamanya lagi.
"Mas, tolong longgarkan kancing kemeja Papa biar napasnya lebih lega," perintah Renata lagi.
Bara menurut seketika, jemarinya yang masih gemetar berusaha membuka kancing kerah baju papanya. Di luar, suara sirine ambulans mulai terdengar lamat-lamat mendekat ke arah gerbang rumah.
Tepat saat itu, raungan sirine ambulans memekak telinga, lampunya yang merah membiru berputar-putar di depan gerbang megah kediaman Adiwangsa. Para petugas medis dengan sigap melompat turun sambil membawa tandu lipat.
Bara langsung angkat tubuh Papanya yang sudah terkulai lemas. Dengan sisa tenaga dan deru adrenalin yang memuncak, dia menggendong Papa Baskoro sekuat tenaga. Napasnya memburu, keringat dingin bercucuran di pelipisnya saat berlari keluar rumah.
"Cepat! Sebelah sini!" teriak Bara dengan suara serak, urat lehernya menegang karena menahan beban tubuh sang Papa sekaligus rasa takut yang luar biasa.
Petugas medis langsung mengambil alih. Tubuh Papa Baskoro diletakkan di atas tandu dengan hati-hati. Oksigen segera dipasangkan ke hidung yang sudah tampak pucat pasi. Suasana di depan teras rumah itu bener-bener kacau. Tangisan Nyonya Sarah pecah lagi, sementara para asisten rumah tangga cuma bisa berdiri kaku di pojokan dengan wajah ketakutan.
"Satu atau dua keluarga saja yang ikut di dalam!" teriak petugas medis sambil mendorong tandu masuk ke dalam mobil.
"Mas Bara, kamu yang naik ambulans baren Mama!" perintah Renata dengan nada bicara yang sangat tenang tapi nggak bisa dibantah. "Aku bakal nyusul pakai mobil sendiri di belakang. Cepet, Mas!"
Bara cuma bisa mengangguk cepat, matanya merah menahan tangis. Dia membantu Mamanya naik ke dalam ambulan yang sempit itu. Saat pintu ditutup dengan bantingan keras, dan sesaat kemudian, ambulan itu melesat membelah jalanan komplek dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Renata yang berdiri terpaku di depan teras rumah yang mendadak terasa sangat sunyi.
Renata menarik napas panjang, mencoba menguatkan mentalnya sendiri. Dia tahu, badai di keluarga Adiwangsa baru saja dimulai. Dia segera masuk kembali kerumah, mengambil kunci mobil milik bara yang masih tergeletak di atas meja ruang tamu.
Tanpa membuang waktu, Renata berlari menuju mobil, setibanya ia membuka pintu, kemudia menutuonya dengan hentakan keras. Deru mesin mobil itu menggeram keras sebelum melesat cepat membelah halaman, bannya berdecit tajam saat meliuk keluar gerbang hingga meninggalkan area komplek dengan kecepatan tinggi.
Sambil satu tangannya mencengkeram setir, Renata menekan tombol di panel instrumen mobil. Dia melakukan panggilan suara lewat sistem radio mobil yang langsung terhubung ke nomor Reno. Nada sambung terdengar singkat, sebelum suara Reno yang terdengar santai—seolah masih di suasana makan siang tadi—menyahut di seberang sana.
"Halo, Ren. Ada apa? pasti lo kangen gue," tanya Reno diiringi tawa kecil yang belum tahu situasi.
Renata menarik napas dalam, suaranya bergetar namun tetap berusaha tegas. "Ren... Papa, Ren. Papa Baskoro serangan jantung."
Hening seketika di seberang sana. Tawa Reno lenyap, digantikan suara gesekan kursi yang menandakan dia langsung berdiri tegak.
"Apa?! Kok bisa! Terus gimana udah di bawa ke rumah sakit?" suara Reno mendadak naik satu oktav, penuh nada nggak percaya.
"Tadi sempat ada debat panas sama Mas Bara soal... pokonya ada. Terus sekarang Papa sudah dibawa ambulan menuju Rumah Sakit Medika. Mas Bara sama Mama Sarah ikut di dalam ambulan, nah sekarang aku lagi nyusul di belakang," jelas Renata sambil terus menambah kecepatan mobilnya, menyalip beberapa kendaraan di depannya dengan lincah.
Reno mengumpat pelan di seberang telepon. "Aduh... ada-ada aja, yaudah jangan ngebut-ngebut, bahaya. Sekarang gue juga langsung jalan ke RS Medika. Kita ketemuan di sana!"
Klik. Sambungan terputus.
Renata melempar pandangannya ke jalanan yang mulai padat. Di dalam hatinya, rasa khawatir bercampur aduk dengan amarah yang dia simpan rapi. Dia tahu, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Papa Baskoro, rumah tangga mereka yang baru saja mulai harmonis bisa hancur berantakan gara-gara campur tangan orang dari masa lalu suaminya sendiri.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa kehadiran seorang "mantan" bisa sampai membuat nyawa Papa Baskoro terancam? Jawabannya bukan karena Papa pro-Maya, tapi justru sebaliknya.
Bagi Papa Baskoro, Renata adalah menantu pilihan yang sangat ia banggakan. Beliau adalah sosok yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Maka, ketika beliau tahu semalam Bara tidak pulang dan malah mengabaikan Renata demi urusan yang kelihatanya belum begitu jelas, apalagi ditambah hari ini Maya dengan berani menampakkan diri di rumahnya, yang membuat Papa Baskoro langsung bertanya-tanya.
Seoalah Papa merasa gagal mendidik Bara menjadi laki-laki yang menjaga perasaan istrinya. Kekecewaan Papa memuncak karena ia tidak ingin Renata merasa tersisih di keluarga Adiwangsa. Beliau marah besar karena menganggap Bara tidak tegas memutus tali masa lalu, padahal sudah ada Renata di sisinya. Niat tulus Papa untuk membela posisi Renata itulah yang justru memicu ledakan emosi hebat, hingga detak jantungnya sendiri nyaris berhenti.
Renata menginjak gas lebih dalam. Mobil melesat membelah kemacetan, mengejar waktu yang terus berpacu dengan nyawa mertuanya. Jika hari ini Papa tidak tertolong, Renata takut Bara akan memikul rasa bersalah seumur hidup karena telah membangkang pada ayahnya demi menutupi jejak masa lalunya. Dan Renata bersumpah, ia tidak akan membiarkan Maya menang dalam kekacauan ini.