Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Gergaji mesin itu menancap dalam ke rahang bawah ular raksasa. Rantai besi yang berputar kencang merobek daging, tulang rahang, hingga menembus ke dalam kepala reptil mengerikan itu. Darah segar menyembur deras seperti air mancur, membasahi seluruh tubuh Sulaiman hingga ia tampak seperti orang yang baru saja keluar dari pembantaian.
Ular jelmaan jin itu menjerit dalam desisannya yang panjang dan memilukan. Tubuhnya yang sebesar batang kelapa menggeliat hebat, memukul-mukul dinding sekat ruangan hingga bambu-bambu itu pecah berantakan. Namun, Sulaiman tidak melepaskan pegangannya. Ia menekan mesin itu semakin dalam, memutarnya hingga kepala ular itu terbelah dua dan hancur lebur tak berbentuk.
Hanya setelah tubuh raksasa itu kaku dan diam, barulah Sulaiman melepaskan pegangannya. Ia terjatuh terduduk di atas tumpukan mayat ular, napasnya memburu seperti kerbau terluka, matanya melotot liar, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.
"Sudah... sudah mati..." gumamnya pelan, suaranya lelah dan serak.
Di sudut lain, Herman dan Deri masih sibuk menebas sisa-sisa ular yang masih mencoba masuk melalui celah-celah yang jebol. Parang mereka berlumuran darah hitam, lantai gubuk sudah tidak terlihat lagi, tertutup rapat oleh potongan-potongan tubuh reptil gaib yang masih menggeliat sekarat. Bau amis dan bau karat besi memenuhi seluruh ruangan, tebal dan menyengat hingga membuat mual.
"Potong semuanya! Jangan biarkan satu pun hidup!" teriak Sulaiman dengan sisa tenaganya, meski suaranya nyaris tak terdengar.
Selama berjam-jam, pertarungan fisik itu berlangsung tanpa henti. Mereka bertiga berubah menjadi mesin pembunuh. Tidak ada rasa takut lagi yang tersisa, hanya insting bertahan hidup yang primitif dan buas. Setiap kali ada kepala ular yang muncul, parang akan menghantamnya. Setiap kali ada yang mencoba memanjat, gergaji mesin akan menyambutnya.
Deri yang awalnya paling penakut, kini berubah menjadi ganas. Matanya merah berurat, ia menebas dengan liar, berteriak setiap kali ayunannya mengenai sasaran. Ia sudah tidak peduli apakah itu hewan atau jin, yang jelas ia ingin semua benda mengerikan itu mati.
Hingga akhirnya, desisan-desisan itu perlahan menghilang. Gerakan-gerakan di lantai dan dinding berhenti. Hanya tersisa suara desahan napas mereka bertiga yang berat, dan suara tetesan darah yang jatuh ke lantai.
Tess... tess... tess...
Mereka berdiri diam di tengah lautan daging. Gubuk kecil itu kini berubah menjadi rumah jagal yang mengerikan. Di mana-mana merah. Di mana-mana bau busuk.
"Sudah... sudah habis..." bisik Herman, tangannya lemas hingga parang terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara plak basah. "Kita... kita membunuh mereka semua."
Sulaiman berdiri perlahan, mengusap wajahnya dengan tangan yang berlumuran darah, membuat wajahnya tampak seperti jin lain. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memastikan tidak ada satu pun ekor yang masih menggeliat atau potongan kepala yang masih bergerak.
"Api..." kata Sulaiman pelan. "Kita bakar bangkai-bangkai ini. Kita tidak bisa tidur di antara mayat-mayat ini. Bau ini akan memancing bahaya lain."
Dengan tangan gemetar, mereka mengumpulkan sisa-sisa kayu kering dan melemparkannya ke tengah ruangan. Api dinyalakan. Saat api mulai membesar, mereka menumpuk daging cincang ular itu ke dalam kobaran api.
Ssssttt... Wusssy...
Suara daging yang dibakar terdengar memekakkan telinga. Asap hitam tebal mengepul memenuhi gubuk, berbau hangus dan amis yang sangat menyengat, namun setidaknya mereka bisa melihat lantai lagi.
Mereka bertiga duduk melingkar di dekat api, namun menjaga jarak aman. Tubuh mereka lelah tak terkira. Otot-otot kaki dan tangan terasa kram dan sakit. Tapi mereka tidak bisa beristirahat total. Malam masih panjang. Dan mereka tahu, di hutan ini, kelelahan fisik adalah hal termudah yang harus dihadapi. Yang paling sulit adalah menjaga akal sehat tetap utuh.
Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Api unggun yang mereka buat memberikan cahaya redup dan hangat yang tak berarti. Di luar gubuk, kegelapan terasa padat dan pekat, seolah-olah dinding hitam sedang menekan gubuk bambu mereka.
"Minumlah sedikit," kata Sulaiman, menyerahkan botol air mineral yang isinya tinggal sedikit kepada Herman dan Deri. Mereka membaginya dengan sangat hemat, hanya untuk membasahi tenggorokan yang kering dan terbakar.
Baru saja suasana mulai sedikit tenang, dan mata mereka mulai terasa berat...
Wrrrrrr...!!! Krrrt... krrrt...!!!
Suara itu kembali terdengar.
Suara gergaji mesin.
Tapi kali ini suaranya berbeda. Tidak terlalu keras, tapi sangat jelas. Terdengar tepat di luar sana, tidak jauh dari dinding tempat mereka duduk.
Wrrrrrr... sreeek... sreeek...
Deri yang baru saja meneguk air langsung tersedak. Matanya terbelalak menatap pintu.
"Lagi... lagi lagi dia datang, Bos!"
Sulaiman mengeratkan pegangannya pada gagang gergaji mesin di sampingnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. "Diam. Jangan bersuara."
Suara gergaji di luar itu bergerak. Sekarang terdengar di sebelah kiri. Lalu berpindah ke belakang. Seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan mondar-mandir membawa mesin berat, membiarkan mesin itu menyala terus-menerus tanpa dimatikan.
Dan yang paling mengerikan, di sela-sela deru mesin itu, kembali terdengar suara manusia.
"Potong... potong semuanya... tidak ada yang tersisa... potong... potong..."
Suara itu bergumam pelan, monoton, dan datar. Tidak ada emosi. Hanya perintah.
"Itu suara siapa?!" bisik Herman ketakutan. "Suaranya bukan cuma satu, Bos. Itu banyak suara. Banyak orang yang bergumam serentak."
"Itu suara mereka... suara-suara jin yang sekarat di sini sebelumnya," jawab Sulaiman dengan wajah pucat. "Mereka terjebak dalam rutinitas yang menyakitkan. Dan sekarang... mereka mengajak kita bergabung."
Tiba-tiba, suara gergaji itu menderu sangat kencang, tepat di depan pintu utama mereka.
WRRRRRRRRRRRRRR!!!!!!!