Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resah
Jodoh Titipan Bagian 17
Oleh Sept
Saat semua orang panik, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang mendekat. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di halaman yang asri tersebut. Taqi langsung berjalan menghampiri mobil itu, dilihatnya ummi yang turun terlebih dahulu.
"Ummi ... kalian dari mana?" tanya Taqi khawatir.
"Dari rumah sakit, abah tadi mengeluh sakit lagi."
Sambil membantu abah turun, Taqi terus bicara.
"Mengapa nggak nunggu Taqi, Ummii?" Taqi memapah abah sampai duduk di ruang tamu.
Kini mereka semua ada di ruang tamu abah yang luas, sofa warna hijau lumut dan gorden yang senada. Ummi memang jago kalau masalah memadu padankan apa saja.
"Sini ... biar Naqiyyah ummi gendong. Ummi kangen."
Nada pun memberikan bayi kecilnya, kemudian menanyakan kabar abah.
"Masih sakit, Abah?" tanya Nada dengan perhatian.
Abah menggeleng. "Abah sudah baikkan," jawab abah dengan suara pelan.
"Kenapa tidak dirawat di rumah sakit? Kenapa Ummi bawa pulang Abah tadi?" sela Taqi.
"Abah gak mau dirawat, Taqi. Minta pulang terus. Baru juga diinfus, sudah minta dilepas. Ini aja tadi tanya Naqiyyah terus. Ya sudah, kita pulang saja," terang ummi panjang lebar.
"Tapi kan Abah lagi sakit, Ummi." Taqi masih saja protes.
"Abah sudah baikkan, kalian gak usah cemas. Faktor usia ... jadi ya wajar kalau abah sekarang sakit-sakitan," abah Yusuf menimpali.
"Coba Ummi ... abah ingin melihat Naqiyyah," sambung abah.
Ummi lantas mendekati abah, duduk di sebelah suaminya itu.
"Tambah berisi, Bah. Makin cantik ... hidungnya mancung, lihat alisnya. Masyallah ... Zain sekali, Abah." Ummi menatap cucunya dengan kagum, tapi matanya juga terasa perih.
Cantiknya baby Naqi, tapi sayang Zain tidak bisa melihat malaikat kecilnya itu. Membuat hati ummi terenyuh. Andai Zain masih hidup, putranya itu pasti bahagia sekali melihat foto kopinya.
Sementara itu, sambil melihat wajah cucunya yang mengemaskan, abah menyentuh bahu Taqi.
"Abah titip cucu Abah ya, Taqi?" pinta abah dengan hati yang terasa sakit.
Ditinggal mati anak terlebih dahulu, nyatanya hampir satu tahun tapi lukanya belum mengering. Abah merasa sesak, malu bila harus menangis di depan istri, anak, dan mantan menantu. Tapi bagaimana lagi, setiap melihat dan memikirkan Naqiyyah, abah selalu berkecil hati.
Memikirkan jika Naqiyyah bisa bicara nanti, memikirkan jika Naqiyyah bertanya sosok ayahnya? Tidak kuasa menahan rasa sedihnya. Abah mengusap wajah. Mata abah sudah basah.
"Abah ... jangan pikirkan Naqiyyah. Abah harus sehat kembali. Abah jangan banyak pikiran. Jangan memikirkan yang berar-berat."
Taqi berhenti bicara sejenak, kemudian menatap ke arah Nada. Ia tatap wajah wanita tersebut lekat-lekat. Cukup lama hingga ia kembali meneruskan ucapannya.
"Taqi akan jaga mereka, jadi Abah tidak perlu khawatir lagi."
Kali ini tidak hanya abah yang menitihkan air mata. Bahkan ummi pun sudah berkaca-kaca. Sedangkan Nada, dia hanya menundukkan pandangan. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyeruak dan membuatnya merasakan sesak.
Bulir bening jatuh mengenai tangannya. Ya, Nada tidak bisa untuk tidak menangis. Keputusan Taqi sepertinya harus ia setujui. Meski ia mengerti, hati Taqi bukan untuknya dan begitu pula sebaliknya.
***
Kamis, 19 Mei 2022
Kediaman abah Yusuf.
Dari jauh terlihat sebuah tenda sudah didirikan di depan rumah abah. Sebuah tenda warna biru, dengan dekorasi jauh dari kata mewah. Cukup sederhana untuk ukuran sebuah acara pernikahan. Padahal, mereka sangat mampu jika menyelengarakan pesta di sebuah ballroom hotel bintang lima. Ini memang pilihan Nada, pernikahan kedua digelar sederhana, seperti sekarang.
Janur kuning pun sudah melengkung, daunnya melambai-lambai seolah menyambut para undangan yang akan datang.
Sementara itu, di sebuah ruangan tepatnya di kamar Taqi. Pria itu berdiri menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Jas hitam yang ia pakai, akhirnya menjadi saksi bisu. Ia memang menikah tahun ini, tapi dengan wanita lain. Bukan sosok gadis selama ini mengisi hatinya.
Tok tok tok ...
Taqi melihat ke arah pintu.
"Masuk!"
Ummi datang, melempar senyum teduhnya. Ada kelegaan dalam sorot mata ummi ketika melihat Taqi.
"Ayo, Taqi ... semua sudah siap."
"Baik, Ummi."
"Ya sudah, Ummi tunggu di luar."
Taqi mengangguk. Kemudian hendak menyusul ummi ke luar kamar. Tapi mendadak ponselnya bergetar.
"Nisa?" gumam Taqi resah.
BERSAMBUNG
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭