Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
"Bukan apa apa! Dah gak usah banyak tanya! Nurut saja apa yang aku katakan," ucap Mas Ivan dengan nada meninggi.
Aku pun memilih untuk diam, walaupun saat ini dalam benakku di penuhi banyak tanda tanya.
Ntah kenapa aku menaruh curiga pada Mas Ivan. Untuk apa coba Mas Ivan menyimpan make up, apakah mungkin make up ini memang dia belikan untukku? Tapi kenapa aku merasa tidak asing dengan make up yang sekarang ini ada didepan ku.
Ah sudahlah, aku berpikir dengan keras pun, tetap tidak ada yang berubah.
Mas Ivan terlihat membedaki ku dengan bedak yang ada di tangannya, lalu memberikan rona merah pada bibirku yang pucat.
Mas Ivan juga terlihat memberi bedak pada luka lebam yang ada ditangan ku.
"Sudah, sekarang ayo kita keluar bersama!" Ajak Mas Ivan sembari menarik tanganku dengan lembut.
Aku masih melirik ke arah bedak juga lipstik yang di taruh Mas Ivan diatas meja yang ada di dalam kamarnya.
Aku yang ingin bertanya akhirnya memilih untuk mengurungkan pertanyaan ku.
Melihat ku yang terus melirik ke arah bedak, Mas Ivan sepertinya sadar dan juga mengerti arti lirikan mataku.
Tiba tiba mas Ivan menarik tanganku. "Itu titipan seorang teman, dah gak usah masang wajah bingung dan curiga seperti itu," bentak Mas Ivan.
Aku segera merubah ekspresi wajahku menajdi biasa saja. Aku terus menggigit bibir bawahku, jika kata orang orang melahirkan itu sangat sakit, tapi kenapa sekarang ini aku merasa tubuhku sakitnya melebih seperti saat aku melahirkan Reyhan.
Akhirnya aku dan juga Mas Ivan sampai di ruang tamu.
Mataku membulat sempurna, kala ruang tamuku saat ini penuh dengan sanak saudara Mas Ivan.
"Dimana ibu Mas?" Tanyaku.
"Ibu lagi sama Reyhan," jawab mas Ivan dengan sebuah senyuman ramah, sesakali dia juga tersenyum ke arah saudaranya yang melihat ke arahnya.
"Kalau gitu aku mau salim sama bapak dulu!" kata ku sembari melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan bapak. Tapi tetap saja bapak tidak terlihat di pandangan mataku, "kok gak ada, emang bapak dimana mas?"
"Mungkin bapak sedang ikut ibu memandikan Reyhan Rena," kata Mas Ivan dengan lembut, sembari mengusap rambutku. Aku pun mendongakkan wajahku, untuk melihat ke arah Mas Ivan.
Deg
Hanya perlakuan manis seperti ini saja, mampu membuat hatiku berbunga bunga.
Aku tersenyum ke arah Mas Ivan.
Tapi senyuman ku malah di balas Mas Ivan dengan memalingkan pandangannya ke arah lain.
'Apa aku salah dengan tersenyum ke arahnya?' tanyaku dalam hati.
"Ayo salami semua saudaraku," bisik Mas Ivan tepat di telingaku, sehingga membuat lamunanku pun buyar seketika.
Mas Ivan menarik punggungku, agar aku mengikuti langkah kakinya untuk berjalan mendekat ke arah keluarga Mas Ivan itu.
Aku pun menurut dengan berjalan ke arah semua saudara suami ku sembari membungkukkan tubuhku, aku mati matian menahan nyeri di sekujur tubuhku.
Bahkan perutku sakitnya benar benar tidak tertahankan.
Aku mulai menyalami semua saudara Mas Ivan dengan keringat yang terus bercucuran di wajahku, mungkin bedak yang di oleskan Mas Ivan tadi sudah luntur.
Keringat tubuhku, mungkin saking sakitnya, tubuhku ini tidak bisa menahannya. Walaupun aku bisa.
Aku mendengar banyak sekali saudara Mas Ivan yang sedang membicarakan ku.
"Kenapa Renata sekarang kurus sekali? Mana tangannya pucat banget," ucap Bu Dhe dari Mas Ivan sembari terus menatap wajah hingga tubuh ku dengan tatapan yang terlihat begitu lekat.
"Iya ... ya, aku dari tadi juga ngerasa kalau Renata sekarang berubah. Padahal lebaran lalu dia masih terlihat bugar, gak sekurus sekarang," imbuh saudara Mas Ivan yang lain.
"Mungkin dia hamil lagi," cetus adik kandung dari ibu Mas Ivan.
"Ih gak mungkin lah, dulu Renata hamil badannya gak sekurus dan sekuyu itu kok, apa mungkin dia sakit?" Tanya sepupu Mas Ivan yang selalu memperdulikan ku.
"Enak saja Renata sakit? Gak mungkin lah, Ivan saja selalu membelikan makanan yang berkualitas untuk Renata kok. Apa kamu gak tau? Gaji Ivan bulanan aja 30 juta, itu gaji bersih sebagai kepala cabang. Katanya separuhnya di berikan sama Renata, terus bonusnya Ivan saja selalu di berikan semuanya pada Renata. Menurutku dia itu hamil." Sahut adik dari ibu kandung Mas Ivan.
Mereka masih saja membicarakan tentang tubuh kurusku saat ini.
Tapi aku yang sudah selesai menyalami mereka, memilih pergi dengan sebuah hati yang menjadi remuk dan juga patah.
Apa baru saja yang aku dengar itu tidak salah? Gaji Mas Ivan 30 juta perbulan. Tapi dia selalu mengeluh kehabisan uang, dan apa mereka bilang tadi? Semua bonus kerja di berikan kepada ku.
'Ya Allah ya Tuhan ku'. Aku benar benar terkejut dengan fakta yang ada sekarang ini ada di depan mataku. Karena setiap hari Mas ivan hanya mengeluh kepadaku, perihal gajinya yang semakin menurun dan tidak cukup.
Saking terkejutnya dengan fakta yang saat ini aku dengar, hidungku sampai mengeluarkan darah. Aku buru buru mengelap darah yang menetes dari hidungku ini.
Aku melihat ke arah sekeliling, saudara Ivan yang duduk dengan sebuah senyuman tawa bahagia.
Bahkan aku melihat Mas Ivan memberikan uang pada anak anak dari sanak saudaranya masing masing anak mendapat jatah 2 lembar pecahan seratus ribuan.
Aku menatap lekat ke arah Mas Ivan dengan ribuan tanda tanya besar.
Tapi sepertinya Mas Ivan tidak tahu, jika aku menatapnya sejak tadi.
"Alhamdulillah dapat rejeki dari Om Ivan, makasih Om."
"Yey, dapat uang dari Om Ivan!"
"Makasih Om!"
"Makasih Om Ivan."
Beberapa ucapan terima kasih dari para saudara Mas Ivan, dai anak kecil sampai anak SMP yang mendapatkan uang dari Mas Ivan.
Mas padahal kemarin kamu baru saja memotong belanja bulanan ku, bukanya aku kurang bersyukur Mas, tapi 1 juta lima ratus ribu itu hanya cukup untuk belanja bulanan. Tanpa Popok Reyhan.
Aku pun menganga, kala melihat mas Ivan berjalan ke arah sepupunya yang bernama Rihana, dia sedang menyusui anaknya yang berumur 2 bulan.
"Ini Keyla dapat jatah uang juga dari Kak Ivan, makasih banyak Van. Padahal Keyla kan masih berumur 2 bulan," ujar Rihana dengan wajah sumringah ke arah Mas Ivan.
"Alhamdulillah, kemarin aku dapat kenaikan gaji. Tapi karena semua uangnya sudah aku berikan pada Renata, jadi aku hanya memegang uang sedikit saja," tutur Mas Ivan dengan wajah yang terlihat tidak enak sembari menggaruk kepala belakangnya.
Dadaku tiba tiba terasa sakit dan juga nyeri, kala teringat Reyhan anakku meminta sebuah mobil mobilan kecil seharga 10 ribu rupiah. Dan aku tidak bisa membelikannya, tapi Reyhan anakku tidak menangis walaupun ibunya menolak membelikannya.
Ya Allah Mas Ivan, yang kamu berikan padaku sebulan hanya satu juta lima ratus ribu. Separuh gaji dan seluruh uang bonus di berikan kepadaku?
Kapan sihh moment pintarnya si Renata sbg wanita 👍😂
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡