Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pertemuan Pertama dengan Sang Nona
Setelah keributan di ruang arsip lantai delapan mereda dengan Dodi yang diseret ke ruangan HRD oleh Pak Bagus, Mahesa kembali melanjutkan tugasnya dengan tenang. Ia memindahkan ember pel dan alat pembersihnya menuju koridor utama lantai lima belas—lantai eksklusif yang menjadi tempat bagi ruangan para direksi tingkat atas Gedung Graha Subroto. Di lantai ini, ubin marmernya jauh lebih mengkilap, karpetnya lebih tebal, dan aroma wewangian aromaterapi kelas atas menguar di setiap sudut lorong.
Mahesa tetap mempertahankan penyamarannya dengan profesional. Ia berjalan agak merunduk, membiarkan rambutnya sedikit berantakan menutupi dahi, dan memposisikan kacamata tanpa lensanya agak melorot di hidung. Postur tubuh tingginya yang kini tegap sengaja ia buat agak membungkuk lemas, menjaga agar tidak ada satu pun orang kantor yang menyadari transformasi luhur pada dirinya. Di dalam hatinya, ada rasa damai yang mendalam, ia merasa aman karena kekuatannya terbukti bisa melindunginya dari kelicikan rekan kerja.
Tepat pukul sebelas siang, pintu lift eksekutif di ujung koridor berdenting nyaring. Ting.
Pintu lift terbuka perlahan, menampilkan sosok seorang wanita muda yang melangkah keluar dengan gaya yang sangat anggun namun memancarkan aura keangkuhan yang kental. Wanita itu adalah Alena Subroto, anak perempuan tunggal dari pemilik utama perusahaan raksasa ini. Alena mengenakan gaun desainer berwarna merah menyala yang trendi, tas tangan bermerek internasional yang harganya setara rumah petak Mahesa, serta kacamata hitam besar yang bertengger di wajah cantiknya yang dipoles riasan tebal. Ia melangkah dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer dengan irama yang angkuh. Klak! Klak! Klak!
Mahesa yang sedang menyapu di sisi dinding koridor refleks menghentikan gerakannya, merapat ke arah tembok dan menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk memberikan jalan, seperti prosedur standar bagi seorang office boy rendahan saat berpapasan dengan petinggi perusahaan.
Namun, Alena tampaknya sedang berjalan sambil sibuk menatap layar ponsel pintarnya dengan dahi berkerut, mengabaikan kondisi di sekitarnya. Langkah kakinya yang cepat dan tidak sabaran itu membuatnya tidak memperhatikan gagang sapu yang dipegang Mahesa agak menjorok ke depan karena ruang koridor yang sedikit menyempit oleh papan peringatan lantai basah.
Brak!
Ujung sepatu hak tinggi Alena menyenggol ujung sapu Mahesa, membuatnya sedikit tersandung meski tidak sampai jatuh tersungkur. Ponsel mahal di tangannya hampir saja terlepas dari genggamannya.
"Aduh! Sialan banget sih!" pekik Alena dengan nada suara yang melengking tinggi, sarat akan kemanjaan dan kekesalan yang meledak-ledak.
Ia langsung menghentikan langkahnya, berbalik dengan cepat, dan melepas kacamata hitamnya dengan sentakan kasar. Sepasang matanya yang indah namun bermanik tajam dan sombong itu langsung melotot, menatap lurus ke arah Mahesa yang berdiri membungkuk di depannya.
"Heii! Punya mata nggak sih lu?!" bentak Alena kasar, menunjuk-nunjuk wajah Mahesa dengan jarinya yang berkuku panjang penuh hiasan cat kuku. "Lu sengaja ya mau bikin gua jatuh?! Lihat nih, sepatu gua jadi lecet gara-gara sapu butut lu itu!"
Mahesa tersentak pelan di balik tudung kepalanya. Menghadapi semprotan amarah yang mendadak itu, naluri batinnya tetap tenang karena kestabilan emosi dari hawa murni Kitab Inti Jagat di dalam dirinya. Ia membetulkan letak bingkai kacamatanya yang melorot dengan jari tengahnya, lalu berpura-pura gugup layaknya Mahesa yang dulu.
"Ma... maaf, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya tadi sudah mencoba merapat ke dinding," jawab Mahesa dengan nada suara yang sengaja dicemprengkan dan dibuat agak gemetar, menunduk dalam-dalam menghadap lantai marmer.
"Halah! Nggak usah banyak alasan lu!" potong Alena sengit, melangkah mendekat hingga aroma parfum mahalnya yang menyengat menusuk indra penciuman tajam Mahesa. "Gua tahu ya tipe-tipe orang kayak lu begini! Sengaja cari perhatian atau emang otaknya nggak dipakai waktu kerja?! Lu tahu nggak harga sepatu gua ini berapa, hah?! Gaji lu setahun juga nggak bakal cukup buat bayar ganti ruginya!"
Mendengar makian yang teramat sangat merendahkan martabat itu, ada setitik rasa terusik di dalam hati emosional Mahesa. Namun, ia profesional dan sadar posisinya saat ini adalah OB yang berpura-pura lemah. Dari balik poni rambutnya yang berantakan, sepasang mata tajam Mahesa yang setajam elang melirik ke arah kaki Alena. Dengan penglihatan supernya, ia bisa melihat dengan sangat jelas bahwa sepatu hak tinggi merah itu sama sekali tidak lecet sedikit pun, hanya ada sebutir debu kecil yang menempel di ujungnya.
"Maaf sekali lagi, Nona. Saya bersedia membersihkan debu di sepatu Nona kalau Nona berkenan," tutur Mahesa lembut, berusaha meredam situasi agar tidak memanjang dan mengganggu pekerjaannya.
"Apa?! Lu mau pegang-pegang sepatu gua pakai tangan kotor lu itu?!" pekik Alena dengan raut wajah yang tampak sangat jijik, mundur satu langkah seolah-olah Mahesa adalah tumpukan sampah yang mengeluarkan bau busuk. "Najis banget gua! Kulit lu yang dekil begitu jangan berani-berani nyentuh barang-barang gua ya! Bisa kotor semua nanti!"
Pada saat yang bersamaan, Alena tanpa sengaja menatap lebih dekat ke arah struktur wajah Mahesa yang menunduk. Meskipun Mahesa memakai bingkai kacamata usang melorot dan berambut acak-acakan, dari jarak sedekat ini, garis rahang Mahesa yang tegap, tegas, serta potongan bibirnya yang simetris tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan aura ketampanannya yang alami. Kulit wajah Mahesa yang bersih pasca-transformasi luhur bersinar tipis di bawah lampu lobi lantai lima belas.
Alena sempat tertegun selama dua detik di dalam hatinya. 'Kok... kok office boy ini mukanya agak beda ya? Garis mukanya kelihatan tegas banget kayak model-model luar negeri, badannya juga kelihatan tegap di balik baju kembungnya,' batin Alena berbisik heran, merasa ada kontradiksi aneh antara ketampanan fisik tersembunyi pemuda itu dengan pakaiannya yang kumal dan posisi membungkuknya.
Namun, rasa sombong dan ego tingginya sebagai anak pemilik perusahaan raksasa langsung menepis perasaan takjub singkat tersebut. Alena mendengus kencang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. "Heh! Malah ngelamun lagi lu! Pokoknya gua nggak mau tahu, hari ini gua bakal laporin lu ke manajer operasional gedung! Orang ceroboh dan culun kayak lu ini nggak layak kerja di lantai eksekutif! Bikin merusak pemandangan aja!" gertak Alena dengan nada mengancam yang manja.
"Tolong jangan, Nona. Saya benar-benar butuh pekerjaan ini untuk biaya hidup keluarga saya," pinta Mahesa, masih mencoba bersikap mengalah dengan intonasi suara yang diatur sedemikian rupa, meskipun di dalam lubuk hatinya ia tahu bahwa jika ia mau, ia bisa saja melesat pergi secepat angin meninggalkan wanita manja ini dalam hitungan detik.
"Bodo amat sama urusan keluarga lu! Makanya kalau kerja itu pakai mata, jangan pakai dengkul!" ketus Alena tanpa belas kasihan sedikit pun. Ia memakai kembali kacamata hitam besarnya dengan gerakan teatrikal, lalu membalikkan tubuhnya dengan sentakan kaki yang keras. "Awas aja kalau gua lihat muka lu lagi di lantai ini nanti sore!"
Alena melangkah pergi meninggalkan koridor menuju ruang direksi utama dengan kepala terangkat tinggi, menyisakan gema ketukan sepatu hak tingginya yang kian menjauh. Klak! Klak! Klak!
Mahesa perlahan menegakkan punggungnya kembali setelah sosok Alena menghilang di balik pintu kayu jati besar di ujung lorong. Ia membetulkan letak kacamata kosongnya, lalu mengembuskan napas panjang sembari tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang memancarkan pesona yang kuat di koridor yang sepi itu. Pertemuan pertamanya dengan sang nona besar pemilik gedung ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam tentang betapa angkuh dan manjanya dunia kalangan atas. Namun, bagi Mahesa, kemarahan Alena hanyalah riak kecil di permukaan air yang tidak akan mampu menggoyahkan keteguhan langkah barunya sebagai sosok yang telah bertransformasi luhur. Ia memungut sapunya kembali, lalu melanjutkan pekerjaannya membasuh lantai dengan keanggunan gerak yang tersembunyi.