Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kembali ke rumah lain, Eka dan Irwan akhirnya menghadapi Kara. Si anak tunggal hanya menatap keduanya datar.
"Nikah? Sama cewek?" ulangnya, hampir tak percaya.
"Iya. Anaknya Pak Taslim. Kalian satu sekolah kok. Narisa Talya."
Kara diam Satu detik. Dua detik. Lima detik. Lalu ia menggeleng tegas.
"Bukan soal nikahnya, Ma, Pa. Tapi orangnya. Si Bonar? Enggak, deh. Mending aku jomblo seumur hidup."
Eka dan Irwan saling pandang.
"Lo kenal?" tanya Eka.
"Banget." Kara mendengus. "Tuh anak hobi cari perkara-" ia berhenti sebentar, sadar dirinya pun sama saja. "Intinya, kalau aku satu rumah sama dia, itu rumah gak bakal tahan semalam, "
"Separah itu?" Eka mengangkat alis. "Kalian musuhan?"
Kara mengangkat bahu. "Kurang lebih,"
"Yaudah, nikah aja," kata Eka enteng. "Lagian lo masih bebas mau pacaran sama siapa juga. Anggap aja formalitas."
Kara terdiam.
Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa selama ini dia memang tidak tertarik pada laki-laki. Dirinya saja sudah seperti laki-laki. Kalau pun ada yang mau, justru dia yang tidak mau.
"Gimana?" desak Eka. "Mau aja lah. Ribet."
Irwan tetap diam. Ia memilih tidak ikut campur. Di satu sisi, ia masih ingin menolak. Di sisi lain, ia tahu persis, kalau ia melawan, rumah ini bisa lebih ribut dari biasanya.
Sementara itu, Kara mulai menyusun sesuatu di kepalanya. Kalau suatu hari nanti ia membawa seorang perempuan ke rumah, dia bisa saja berdalih semuanya bermula dari pernikahan ini.
Masuk akal. Dan cukup aman.
"Yaudah," katanya akhirnya. "Terserah kalian,"
Eka langsung menghela napas lega. Sementara Irwan hanya menunduk pasrah. Untuk kali ini, ibu dan anak itu sepertinya berada di satu pihak.
**
Keesokan harinya di SMA Hasem (Harapan Semu)
"Niiirrr~ paaarrra wereeeper yu ar-aduh, goblok!"
Narisa yang sedang menyanyikan lagu Titanic dengan penuh penghayatan tiba-tiba terjungkal saat kakinya tersangkut sesuatu.
Sambil menahan kesal, ia menoleh ke belakang. Dua makhluk berjongkok sambil terbengong, masing-masing memegang ujung batang kayu sebesar pergelangan tangan.
"Lo berdua ngapain sih?!" teriak Narisa sambil bangkit.
Kara menoleh ke temannya, Harum. Cewek dengan gaya sebelas dua belas dengannya.
"Lo liat tadi? Warna ijo," kata Kara santai.
Harum cekikikan. " Liat. Lumutan kali ya."
Narisa tidak terpancing. Ia melipat tangan, menatap keduanya datar.
"Yang ijo itu celana pendek gw. Kalo mau liat yang di dalem, bayar dulu."
"Anjir, murah amat," Kara mendecak. " Calon bini gw begini? Alamat dapet bekas gw."
Narisa langsung mendelik. Ingatan semalam menyeruak tanpa izin. Dan dari kalimat Kara, artinya si beliau ini juga sudah tahu soal itu.
Dalam posisi setengah berlutut, Narisa tiba-tiba berteriak dengan penuh perasaan,
"TIDAAAAAAKKKKk!"
"Jangan berisik, bego!" Kara panik. "Kita bisa ketauan!"
"Lagian lo ngomongnya gitu!" balas Narisa sambil mendelik. "Gw coblos, lemes lo."
Kara ikut mendelik. "Dih, nyablak amat. Gw cuma becanda."
"Sstt."
Harum mundur pelan saat seseorang muncul dari lorong. Tinggi. Tegap. Hitam. Kumisan. Galak.
"Kalian bolos?! Berani-beraninya!"
"Pak Kasim! Kabur!" teriak Narisa tanpa basa-basi.
Ia langsung berlari menuju pagar belakang, tempat favorit untuk melompat. Kara dan Harum mengikuti di belakang.
"Aduh, kotaknya mana?!" Narisa panik, "Yang biasa buat pijakan itu!"
"Ya tinggal lompat aja, ribet," gerutu Kara.
"Kagak nyampe, Santen."
"Makanya, tinggi jangan cuma dua penggaris."
"Anjing."
"Woy, buru!" Harum makin panik.
"Hei! Kemari kalian!" suara Pak Kasim semakin dekat. Kumisnya tampak ikut bergetar.
"Elah, lama amat!"
Kara melompat lebih dulu, lalu memberi isyarat Harum langsung mendorong Narisa dari bawah, Kara menariknya dari atas.
Dan-bruk!
Mereka jatuh bertumpuk di balik pagar.
"Lo berat amat, Bonar," keluh Kara sambil mendorong Narisa ke samping.
"Lo aja yang lemah," balas Narisa. "Gw aja bisa gendong lo keliling lapangan-"
Bruk!
Harum menyusul dan mendarat tepat di punggung Narisa. Alhasil, dua tubuh kini menindih Kara.
"Aduh! Mati gw!" Kara nyaris kehabisan napas.
"Sorry. Salah target gw," Harum langsung bergeser.
"Awas kalian ya! Saya catat nama kalian satu-satu! "
Ancaman dari balik pagar membuat mereka tersadar. Sambil menahan perih di siku dan lutut, ketiganya berdiri menjauh, lalu malah tertawa puas karena berhasil kabur.
Namun Narisa tiba-tiba berhenti. Ada yang terasa janggal. Seperti sesuatu tertinggal di belakang. Tapi apa? Dari balik pagar, suara perdebatan terdengar.
"Saya cuma mau hirup udara segar, Pak. Di kelas pengap."
"Halah, alasan! Ke ruang Bk sekarang."
Narisa membelalak.
"Mampus.." ia menepuk jidat. "Gw lupa sama Putri."
.