NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI ABDA SEDAH NIRAH

Waktu itu, Prabu Laksa baru saja dilantik jadi raja di kerajaan Kali Ireng. Seluruh rakyat bersuka cita dan mengadakan pesta.

Raja baru langsung membentuk pemerintahannya. Para ilmuwan dan ksatria dipilih untuk menjalani tapuk pimpinan berbagai aspek.

Prabu Laksa yang membumi, mau duduk lesehan bersama para prajurit kelas bawah. Bahkan tak segan ia mampir ke rumah warga hanya untuk meminta minum.

Makanya Prabu Laksa begitu dekat dengannya dibanding empat putra mahkota lain. Selain ia memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, ia juga sangat pintar.

"Ki Abda!" seorang pria berpakaian pangsi warna biru tua datang menunduk.

Wajah tampan, bulat telur. Alis mata rapi, sorot mata teduh. Abda berwajah terlalu halus jika dikatakan sebagai pendekar.

"Hamba Gusti," sahut Abda menakup dua tangan di atas kepala, ia bersimpuh di hadapan rajanya.

"Aku angkat kau sebagai Senopati ...."

"Maaf Sri Baginda Raja, boleh saya menolak. Saya ingin jadi punggawa saja!" pinta Abda penuh hormat.

Suasana pendapa agung mendadak sunyi.

Beberapa panembahan yang sejak tadi duduk bersila langsung saling pandang. Bahkan dua adipati tua sampai mengernyitkan dahi.

Menolak jabatan Senopati?

Di saat para pendekar lain berlomba mencari kedudukan setinggi mungkin?

Prabu Laksa sendiri tampak menahan senyum kecil di sudut bibirnya. Seolah ia sudah menduga jawaban itu sejak awal.

"Ki Abda ...," ujar sang Raja pelan. "Kau tahu berapa banyak pendekar yang menginginkan kedudukan itu?"

"Hamba tahu Gusti!"

"Lalu kenapa menolak?"

Abda tetap bersimpuh rendah. Kepalanya menunduk dalam penuh hormat.

"Hamba tidak pandai memimpin banyak orang," jawabnya tenang.

Beberapa pejabat kerajaan langsung tampak tidak suka mendengar jawaban itu.

"Itu alasan atau kerendahan hati palsu?" gumam salah satu adipati tua pelan.

Namun Prabu Laksa mengangkat tangan, menyuruh semuanya diam.

"Kalau begitu, apa yang kau inginkan?" tanya sang Raja.

Abda terdiam sesaat.

"Hamba hanya ingin menjaga kerajaan ini tanpa berada terlalu dekat dengan tahta!" jawabnya tegas.

Kalimat itu membuat pendapa kembali hening. Sorot mata Prabu Laksa perlahan berubah dalam.

Karena ia tahu ... jawaban seperti itu hanya keluar dari dua jenis manusia: orang bodoh, atau orang yang terlalu memahami kekuasaan. Pastinya Ki Abda bukan orang bodoh.

"Apa kau takut kekuasaan akan mengubahmu?" tanya Prabu Laksa lagi.

Abda tersenyum, "Hamba hanya takut orang-orang sekitarnya," jawabnya tenang.

Beberapa menteri istana tampak mencibir kerendahan hati Abda. Tapi tak banyak yang juga mengangumi kesederhanaannya.

Prabu Laksa turun dari singgasananya. Ia berjalan mendekati pemuda tampan yang masih bersimpuh itu, lalu menepuk bahunya.

"Kalau begitu, jadilah punggawa terkuatku!" pintanya tegas.

"Hamba abdikan hidup hamba untuk kerajaan Kali Ireng!" seru Abda tegas dengan masih mengangkat tinggi-tinggi telapak tangannya yang mengatup.

"Kalau begitu, aku siapkan rumah di dekat ...."

"Maaf sekali lagi Gusti!" potong Ki Abda lagi-lagi penuh tekanan.

Prabu Laksa mengernyit dahi.

"Hamba tidak menginginkan tinggal di tempat lain selain di lereng bukit, Gusti Prabu!" ujarnya sangat tenang.

"Hamba juga menolak seluruh kemudahan dan harta dari kerajaan!" imbuhnya tenang.

"Ki Abda ... jangan keterlaluan!" teriak salah satu perwira tinggi.

"Kau sama saja merendahkan kebaikan Gusti Prabu!" serunya lagi.

"Diam!" seru Prabu Laksa menenangkan para pemuka istana.

Mulut-mulut nyinyir bungkam, sementara yang mengenal siapa Abda tentu tahu. Termasuk Sengko dan Buksa. Sengko masih kerabat jauh Abda, sementara Buksa sepupu Abda.

"Baiklah Abda. Aku menghormati kemauanmu!' angguk Prabu Laksa setuju.

Setelah menerima jabatan dan fasilitas dari kerajaan. Mereka bubar.

Ki Abda berjalan menuju kekediaman nya di atas lereng. Ketampanan dan sikap tenang Abda sangat disukai para gadis.

Banyak para bangsawan memintanya jadi menantu. Tapi, Abda menolak mereka secara halus.

"Hamba hanya orang biasa, Yang Mulia. Tidak pantas untuk putri secantik putri Yang Mulia!"

Bahkan kerajaan Jalapati juga sering menawarkan Abda jabatan dan kemakmuran lebih dibanding kerajaannya. Abda juga ditawari para gadis-gadis bangsawan yang sangat cantik.

Namun kesetiaannya pada kerajaan Kali Ireng tak bisa digoyahkan. Ia menolak seluruh tawaran yang menggiurkan itu.

"Ki Abda!" dua prajurit mendatangi pria itu.

"Ada apa Kisanak?" tanya Abda ramah.

"Maaf, Ki. Apa bisa ikut kami. Pangeran Dalapati ingin menemui Ki Abda!" jawab salah satu prajurit.

"Oh, baiklah!" angguk Ki Abda lalu mengikuti dua prajurit itu.

Tak butuh waktu lama, mereka sampai pada pagar batu bata tinggi. Di dalamnya berdiri sebuah rumah joglo yang besar dengan halaman luas. Kediaman khas para bangsawan dengan strata tertinggi. Pangeran Dalapati adalah kakak kandung Prabu Laksa.

"Sugeng daluh, Ki Abda!' sambut pangeran tampaknya memang sudah menunggunya.

Ki Abda hendak bersimpuh, tapi Pangeran Dalapati menahan bahunya.

"Jangan seperti itu," tapi Ki Abda tetap bersikeras bersimpuh di depan Pangeran Dalapati.

"Nyuwun pangapunten, Pangeran!" ujarnya bersikap tunduk pada penguasa.

Pangeran Dalapati menghela nafas panjang. Ia baru tau jika pria di depannya memang senang menjaga jarak. Terutama pada pemuka kerajaan.

"Duduklah!" perintahnya.

Ki Abda kembali memberi hormat dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Ia berjalan berjongkok dan duduk di lantai.

"Demi sang hyang Widhi, apa aku juga harus duduk di bawah agar bisa bicara denganmu?" protes sang Pangeran.

"Ampun Gusti pangeran. Hamba tidak berani melampaui batas. Hamba hanya takut, jika kelakuan hamba ditiru oleh punggawa atau ksatria lain!" jawab Abda memberi alasan.

Sementara di balik tirai dapur, seorang gadis cantik mengintip dari sela-sela tirai. Matanya mengangumi sosok yang bersikeras duduk di lantai keramik

"Nduk!" Raden Ayu Windu terkejut.

Sang ibu tersenyum melihat wajah putrinya yang malu.

"Ibunda ...," rengeknya pelan.

"Jangan seperti itu Nduk. Jaga marwahmu. Jika kau terlalu berani. Ibu takut kalau Ki Abda malah takut terhadapmu!" peringat Raden Ajeng Dasirah Nepati bijak.

"Baik, tapi biarkan aku melihat Kangmas Abda sekali lagi," pinta Raden Ayu Windu memohon.

Raden Ajeng Dasirah tak bisa menahan putrinya yang jatuh cinta pada sosok yang bersama suaminya. Ia pun tak keberatan jika Abda menerima perjodohan ini.

"Ki Abda. Aku memanggilmu karena ada sesuatu," ujar Pangeran Dalapati setelah mencoba berbasa-basi pada Abda tapi pria itu tak menanggapinya sama sekali.

"Hamba mendengarkan Gusti Pangeran," ujar Abda tenang.

"Aku akan mengajukan perjodohanmu dengan putriku Raden Ayu Windu, pada Prabu Laksa!" sahut Pangeran penuh tekanan.

"Hamba. Dijodohkan dengan Yang Mulia Tuan Putri?" tanya Abda menatap Pangeran.

"Iya, Ki! Aku telah memberi surat pada Prabu untuk menerima perjodohan ini. Makanya aku memberitahumu!" jawab Pangeran Dalapati menatap Abda mengintimidasi.

"Hamba sangat tersanjung dengan permintaan itu Gusti Pangeran!" sahut Abda sangat tenang dan tak terpancing tekanan yang diberikan empunya rumah.

"Perkara jodoh. Hamba sudah punya pilihan sendiri!" lanjutnya membalas seluruh tekanan dari Dalapati.

Deg! Windu menggeleng pelan airmatanya langsung mengalir.

"Kangmas ... apa kau yakin tidak menerimaku!" teriaknya keluar dari tirai.

"Rara!" seru sang ayah.

"Tuan Putri!" Abda menunduk penuh hormat.

Bersambung.

Yah.... Langsung ditolak.

Next?

1
Deyuni12
lanjut
Deyuni12
galak banget nh si Rukmi,sleper juga nh
Deyuni12
nyari kesempatan Mulu nh Rukmi
Anita Barus
penasaran lanjut
Anita Barus
serem juga KLO sampai sda acara menjulatin darah gitu gitu
vania larasati
lanjut
Anita Barus
maki seru lanjut Thor
Anita Barus
Srikandi punya bibi yg unik serakah kepo cerewet .juga rada cengeng .
Anita Barus
bibi Rukmi yg serakah seperti kera ternyata🙏 masih bisa menangis juga ya
Anita Barus
nah Lo sakta rakus di usir kan Lo 5thn di pengasingan jauh dr istri anak dan gundik kapok mu sampai kapan 🤣🤣🤣🤣🤣pake ngusik hak Srikandi
Anita Barus
ternyata bibi Rukmi dan suaminya sama serakah nya ingin menguasai upeti.ki abda tapi kocak juga ya waktu bi Rukmi. dan putra semata wayang nya yg gemulai merajah kebun milik Srikandi .sampai.jatuh dan putra gemulai nya Doko menangis pulang kerumah nya 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
walau windu benci dgn bayi Ki sabda TDK masalah Ki sabda dan paman sengko pasti melindungi sang anak
Benny Badaruddin
kasihan sekali tapi untung nya dia dari kecil sudah ditempa menjadi gadis yg kuat oleh ayahandanya
Benny Badaruddin
apakah Srikandi tau kalo ayahnya FFR
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
pas episode sebelumnya disebutkan kalo Nyi Padan Laran beraroma bunga kantil udah feeling kalo sosoknya memang sepertinya tidak biasa
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!