Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Sesampainya di rumah malam itu, Laura tidak singgah ke mana pun. Ia langsung menuju kamarnya, menutup pintu, lalu menguncinya dari dalam. Punggungnya bersandar sesaat di daun pintu, napasnya tertahan.
Tubuhnya terasa tidak nyaman, ada nyeri samar yang membuatnya harus bergerak lebih pelan dari biasanya. Ia sama sekali tidak menyangka hari itu akan menguras tenaganya sedemikian rupa. Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental.
“Tenaga ku habis, apa aku terlalu berlebihan?” gumamnya pelan, lebih sebagai peringatan untuk dirinya sendiri.
Laura merebahkan diri, memejamkan mata. Di kepalanya berputar satu kesadaran yang tak bisa ia pungkiri, Haikal tidak lagi sekadar majikan.
Dan itu membuat segalanya jauh lebih berbahaya. Tapi ia suka.
Keesokan paginya, Laura terbangun dengan tenggorokan kering. Ia bangkit perlahan dari tempat tidur, merapikan rambut seadanya, lalu melangkah keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air. Ia merasakan nyeri di area sensitifnya.
"Awsshh.... Kok masih nyeri ya. Mana gue ketiduran lagi."
Namun baru beberapa langkah, ia menyadari gerakannya tidak seleluasa biasanya.
Saat memasuki ruang makan, pemandangan yang ia lihat membuatnya terhenti sesaat.
Sagita sudah duduk di sana.
Ratna berdiri di samping meja, sibuk menata sarapan. Suasana terlihat rapi—terlalu rapi—seolah ingin menegaskan bahwa pemilik rumah telah kembali ke posisinya.
“Oh,” ucap Sagita ketika melihat Laura. “Kamu sudah bangun.”
Laura menunduk sopan. “Selamat pagi, Nyonya. Maaf saya ketiduran.”
Ia melangkah menuju dapur, tapi Sagita memperhatikan sesuatu yang membuatnya mengernyit pelan.
“Laura,” panggil Sagita.
Laura berhenti. “Iya, Nyonya?”
“Kamu kenapa jalannya begitu?” tanya Sagita dengan nada datar, bukan menuduh, tapi jelas penasaran.
“Kelihatan agak aneh.”
Ratna yang mendengar itu langsung menoleh.
Tatapannya tajam, menyapu setiap gerakan Laura tanpa berusaha menyembunyikan kecurigaan.
Laura tidak panik. Ia sudah memperkirakan pertanyaan itu.
“Tadi malam saya tergelincir di kamar mandi, Nyonya,” jawab Laura tenang. “Pinggang saya jadi agak sakit.”
Sagita mengangguk kecil. “Oh. Hati-hati lain kali. Kalau perlu, istirahat saja.”
“Terima kasih, Nyonya,” balas Laura sopan.
Ratna mendecakkan lidah pelan. Jelas ia tidak sepenuhnya percaya. Ia membuka mulut, hendak menambahkan sesuatu.
Namun langkah kaki terdengar dari arah lorong.
Haikal muncul.
Ia berjalan ke meja makan dengan ekspresi datar. Tatapannya menyapu ruangan lalu berhenti sejenak pada Laura yang sedang meneguk air.
Hanya sejenak.
Namun cukup lama untuk disadari Ratna.
"Tatapan itu berbeda," batinnya.
Sagita berdiri cepat. “Mas, sarapan dulu. Aku minta Bi Ratna buatkan nasi goreng kesukaan kamu.”
Tanpa menunggu jawaban, Sagita mengambilkan sepiring nasi goreng dan menuangkan kopi—sesuatu yang jarang, hampir tidak pernah ia lakukan selama ini.
Haikal duduk, menerima piring itu tanpa banyak reaksi.
“Kamu kapan pulang dari Bali?” tanyanya singkat.
“Tadi subuh,” jawab Sagita.
“Hm.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada basa-basi. Hanya suara sendok menyentuh piring dan detik jam dinding yang terasa lebih keras dari biasanya.
Laura menunduk, berpura-pura sibuk merapikan gelas. Ratna memperhatikan semuanya dengan seksama—gestur kecil, jarak duduk, bahkan arah pandangan Haikal.
Setelah beberapa suap, Haikal berdiri. “Saya berangkat.”
“Mas...” Sagita sempat memanggil, tapi Haikal sudah melangkah pergi.
Pintu depan tertutup.
Keheningan kembali menyelimuti ruang makan, namun kali ini terasa jauh lebih berat.
Sagita duduk perlahan. Ratna mengepalkan tangan di balik celemeknya.
Dan Laura, menyadari satu hal yang tidak bisa ditarik kembali, sesuatu telah berubah, dan semua orang mulai merasakannya.
Begitu pintu depan tertutup dan suara langkah Haikal benar-benar menghilang, Ratna bergerak cepat. Ia merapikan celemeknya, lalu mendekat ke meja makan dengan wajah yang berubah—lebih serius, lebih waspada.
“Nyonya,” katanya pelan namun tegas, “boleh saya bicara sebentar?”
Sagita menoleh. “Ada apa, Bu Ratna?”
Ratna tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah dapur, memastikan Laura sudah menjauh, lalu kembali menatap Sagita. “Ini penting. Dan sebaiknya Nyonya tahu apa yang terjadi selama Nyonya tidak ada.”
Sagita menarik kursinya sedikit. “Maksud Ibu?”
Ratna menarik napas, seolah menyusun cerita dengan hati-hati. “Sejak Nyonya berangkat ke Bali, banyak hal yang… berubah.”
“Berubah bagaimana?” Sagita mengernyit.
“Pak Haikal,” Ratna menekankan nama itu, “belakangan ini berbeda. Lebih sering diam. Lebih sering memperhatikan satu orang.”
Sagita tersenyum tipis, mencoba meredakan. “Mas Haikal memang begitu dari dulu, Bu. Tidak banyak bicara.”
Ratna menggeleng pelan. “Bukan itu, Nyonya.”
Ia mencondongkan tubuh, suaranya diturunkan. “Tatapan beliau pada Laura pagi ini, Nyonya mungkin tidak menyadarinya. Tapi saya melihat jelas. Itu bukan tatapan majikan pada pembantu.”
Sagita terdiam sesaat. Lalu ia menggeleng ringan. “Ibu terlalu curiga. Tidak mungkin.”
Ratna menahan diri agar tidak terlihat terlalu bernafsu. “Saya tahu kedengarannya berlebihan. Tapi izinkan saya menyampaikan apa adanya.”
Ia mengangkat jari satu per satu. “Pak Haikal menolak pelayanan saya. Semua kebutuhan beliau mulai dari kopi, berkas, hal-hal kecil lainya beliau minta Laura yang urus.”
Sagita menghela napas. “Itu karena Laura sudah terbiasa.”
“Lalu kenapa ketika Nyonya tidak ada, Pak Haikal jadi sering memanggil Laura secara pribadi?” Ratna menyela cepat. “Kenapa beliau membela Laura terang-terangan di hadapan Nyonya Amara?”
Sagita mengangkat kepala. “Mama datang ke sini?”
Ratna mengangguk. “Dan terjadi perdebatan. Pak Haikal membela Laura.”
Hening menyelimuti meja makan.
Sagita memutar cangkir di tangannya.
“Mas Haikal bukan tipe pria yang tertarik pada perempuan lain,” katanya perlahan. “Apalagi… pada Laura.”
Ratna menatap Sagita tajam. “Nyonya yakin?”
Sagita mengangguk, meski suaranya terdengar ragu. “Saya tahu suami saya. Ia tidak punya… ketertarikan seperti itu.”
Ratna menahan senyum tipis. Inilah celahnya.
“Nyonya,” katanya lembut tapi menusuk, “justru karena itu saya khawatir.”
Sagita menatapnya. “Maksud Ibu?”
“Kalau Pak Haikal selama ini dingin,” Ratna melanjutkan pelan, “lalu tiba-tiba ada seseorang yang bisa membuat beliau berubah,apa itu tidak berbahaya?”
Sagita tersentak kecil. “Tidak mungkin. Mas Haikal..”
“...adalah manusia, Nyonya,” potong Ratna cepat. “Dan manusia bisa berubah, terutama ketika merasa diperhatikan.”
Sagita terdiam lebih lama. Keraguannya mulai muncul, meski ia berusaha menahannya.
Ratna menambahkan, “Saya tidak bermaksud menuduh. Saya hanya ingin Nyonya waspada. Rumah tangga ini perlu dijaga.”
“Apa yang Ibu sarankan?” tanya Sagita akhirnya.
Ratna menurunkan suara. “Bicaralah dengan Pak Haikal. Tegaskan batasan. Dan… mungkin sebaiknya kita menambah pengawasan di rumah. Demi kebutuhan rumah tangga Nyonya dan Tuan.”
Sagita mengerutkan kening. “Mengawasi?”
Ratna mengangguk. “Agar tidak ada yang melampaui batas.”
Sagita menyandarkan punggung, pikirannya bergejolak. “Saya tidak ingin menuduh tanpa bukti,” katanya lirih. “Dan saya tidak yakin Mas Haikal bisa tertarik pada Laura.”
Ratna menunduk sopan, menyembunyikan senyum kecil. “Tentu, Nyonya. Keputusan ada di tangan Nyonya.”
Ia lalu menambahkan, nyaris berbisik, “Saya hanya takut… ketika Nyonya yakin semuanya aman, justru saat itulah bahaya datang.”
Sagita terdiam.
Dan di kejauhan, Laura berdiri di balik pintu dapur, mendengar sebagian percakapan itu cukup untuk tahu satu hal, keraguan Sagita telah ditanam.
Dan Ratna… sedang bermain api.
Malam turun perlahan di rumah itu, membawa udara dingin yang anehnya terasa menekan dada Sagita. Lampu kamar menyala redup. Haikal baru saja keluar dari kamar mandi ketika Sagita memberanikan diri membuka pembicaraan.
“Mas,” panggil Sagita pelan.
Haikal berhenti mengeringkan rambutnya di depan cermin. “Kenapa?”
Sagita duduk di tepi ranjang, jemarinya saling bertaut. Ia terlihat ragu, tapi matanya menyimpan tekad. “Aku ingin bicara soal Laura.”
Haikal menoleh. Sekilas, ekspresinya berubah, bukan kaget, melainkan waspada.
“Ada apa dengan Laura?” tanyanya datar.
Sagita menarik napas panjang. “Aku berpikir… mungkin kita tidak perlu banyak pembantu. Cukup Ratna saja.”
Haikal mengernyit. “Maksudmu?”
“Aku ingin Laura dipecat,” ucap Sagita akhirnya.
Suaranya gemetar meski ia berusaha tegar. “Rumah ini terlalu besar tapi satu aja cukup. Dan untuk keperluan kamu mulai besok aku yang handle. Terlalu banyak orang justru membuat tidak nyaman.”
Hening.
Haikal menatap Sagita lama, terlalu lama. Lalu ia meletakkan handuk di kursi dan berkata, “Tidak.”
Satu kata itu jatuh seperti palu.
Sagita mengangkat wajahnya. “Mas?”
“Aku tidak setuju,” ulang Haikal. “Laura tetap di sini.”
Sagita berdiri perlahan. “Kenapa? Bukankah Mas sendiri yang dulu bilang tidak suka banyak orang di rumah?”
“Itu dulu,” jawab Haikal cepat. “Sekarang berbeda.”
“Berbeda bagaimana?” suara Sagita meninggi tanpa ia sadari. “Mas, ini rumah tangga kita.”
Haikal menghela napas, tampak tidak sabar. “Laura bekerja dengan baik. Aku nyaman dengan pelayanannya. Tidak ada alasan memecatnya.”
Kata nyaman itu menusuk Sagita.
“Mas terlalu membela dia,” kata Sagita lirih. “Ini hanya pembantu.”
Haikal menatapnya tajam. “Justru karena itu jangan dibesar-besarkan.”
Sagita menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau begitu… kenapa Mas menolak permintaanku?”
Haikal terdiam sesaat, lalu berkata dengan nada yang membuat Sagita membeku.
“Kalau kamu memang tidak ingin banyak pembantu, Ratna saja yang pergi.”
Sagita terperangah. “Apa?”
“Ratna terlalu ikut campur,” lanjut Haikal dingin. “Aku tidak butuh orang yang merasa paling tahu urusan rumah ini.”
Sagita benar-benar kehilangan kata-kata. “Mas… sejak kapan Mas bicara seperti ini padaku?”
Biasanya, setiap permintaannya selalu dituruti. Selalu. Haikal yang dingin sekalipun tak pernah membantahnya secara terang-terangan.
“Kamu yang berubah,” jawab Haikal singkat.
“Tidak,” Sagita menggeleng keras. “Mas yang berubah.”
Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat.
Sagita merasa dadanya sesak. “Mas, aku istrimu,” ucapnya lirih. “Kenapa rasanya aku kalah dari seorang pembantu?”
Haikal memalingkan wajah. “Jangan berlebihan.”
Tapi justru sikap itu yang menghancurkan Sagita.
Air mata akhirnya jatuh.
“Kalau tidak ada apa-apa,” katanya dengan suara patah, “kenapa Mas begitu keras mempertahankannya?”
Haikal tidak menjawab.
Dan di situlah Sagita tahu—diam Haikal adalah jawabannya.
Ia teringat ucapan Ratna pagi tadi. Tentang tatapan, tentang perubahan, tentang rasa nyaman yang perlahan berubah menjadi ketergantungan. Dulu Sagita menepis semua itu. Tapi malam ini, semua potongan itu menyatu dengan rapi dan menyakitkan.
“Aku mengerti sekarang,” kata Sagita pelan.
Haikal menoleh. “Mengerti apa?”
Sagita tersenyum pahit. “Bahwa mungkin… aku bukan lagi pusat perhatian Mas.”
Ia berbalik, berjalan menuju pintu kamar tanpa menoleh lagi. “Aku tidak akan memaksa,” katanya lirih. “Tapi jangan salahkan aku kalau suatu hari aku tidak sanggup lagi bertahan.”
Pintu kamar tertutup perlahan.
Haikal berdiri sendiri, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, ia merasa ia telah melangkah terlalu jauh.
Sementara di kamar lain, Sagita menangis dalam diam.
Dan dalam benaknya, satu kesimpulan tak terbantahkan muncul yaitu suaminya tertarik dengan Laura.