“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Klarifikasi Naura
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar menyingsing, Naura sudah terjaga.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan mata yang masih sedikit bengkak. Semalam, setelah membaca pernyataan resmi Azzam di media sosial, ia menangis lagi, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia menangis karena terharu, karena suaminya membelanya secara terbuka, karena pria itu tidak malu mengakui bahwa ia bangga menjadi suaminya.
Tapi setelah air mata itu kering, sesuatu yang lain muncul.
Rasa malu pada dirinya sendiri.
"Bukan salah gue," batin Naura, menggenggam selimut di pangkuannya. "Gue nggak lakuin kesalahan. Jadi kenapa gue harus takut? menangis?"
Ia mengingat kata-kata Azzam semalam. "Tugasmu sekarang hanya satu, percaya padaku."
Ia percaya pada Azzam. Ia percaya sepenuhnya. Tapi ia juga menyadari satu hal. Azzam tidak bisa menghadapinya sendirian. Selama ini, pria itu selalu melindunginya, di depan ibu-ibu pengajian, di depan Zahra, di lobbi hotel, dan sekarang di media sosial. Azzam selalu menjadi tamengnya.
Tapi tameng itu tidak akan bertahan selamanya jika Naura tidak belajar menjadi pedangnya sendiri.
"Cukup," tekad Naura menguat. "Cukup menjadi gadis yang menangis setiap kali disakiti, bersembunyi di belakang suamiku."
Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Air itu menyegarkan kulitnya, membangunkan setiap sel di tubuhnya, dan menghapus sisa-sisa air mata dari semalam.
Saat ia melihat dirinya di cermin, ia tidak lagi melihat gadis yang pucat dan bengkak. Ia melihat seorang wanita yang marah. Wanita yang tidak akan membiarkan siapa pun merampas kehormatannya tanpa perlawanan.
.
.
.
Azzam duduk di ujung meja, sesekali mencuri pandang ke arah Naura, mencoba membaca ekspresi istrinya. Ia mengira Naura akan sedih, menangis lagi, akan meminta tinggal di rumah dan tidak keluar. Tapi yang ia lihat justru sebaliknya.
Naura duduk tegak, memakan sarapannya dengan tenang, tapi dengan nafsu yang stabil. Matanya tidak lagi merah dan bengkak, ia sudah meneteskan eye drops dan mengompresnya dengan es. Kerudungnya sudah terpasang rapi, lebih rapi dari biasanya, dan ia bahkan memakai sedikit lip tint yang membuat wajahnya terlihat segar.
"Naura?" panggil Azzam hati-hati. "Kamu... baik-baik saja?"
Naura menoleh, menatap suaminya, lalu mengangguk. "Iya. Aku baik-baik aja."
Azzam mengerutkan kening. "Kamu yakin? Karena kemarin..."
"Kemarin aku menangis," Naura memotong, meletakkan sendoknya, lalu menatap Azzam dengan mata yang tajam. "Hari ini aku marah. Dan aku lebih suka marah daripada menangis."
Azzam terkesima. Ada sesuatu di mata Naura yang jarang ia lihat, determinasi yang keras, api yang menyala, dan keberanian yang tidak lagi tertahan.
"Marah itu bagus," ucap Azzam perlahan, menyembunyikan kekagumannya. "Tapi jangan biarkan marahmu mengendalikanmu."
"Aku nggak akan biarkan," Naura mengambil gelas air, meminumnya, lalu meletakkannya kembali. "Tapi aku juga nggak akan diam. Azzam, semalam kamu bilang tugasku cuma percaya padamu. Dan aku percaya. Tapi aku nggak bisa cuma duduk diam nungguin kamu perang sendirian. Kamu udah terlalu banyak melindungiku. Sekarang... sekarang giliran aku melindungi diriku sendiri."
Azzam menatap istrinya lama-lama, dan perlahan, senyum tipis menghiasi bibirnya, bukan senyum khawatir, tapi senyum bangga.
"Jadi apa yang mau kamu lakukan?" tanyanya.
Naura menarik napas, lalu menjawab dengan suara yang jelas dan tegas. "Pertama, aku mau buka akun media sosialku lagi. Nggak untuk bales hujatan. Tapi untuk buat pernyataan sendiri. Komentar mereka nggak akan berhenti hanya karena pernyataanmu. Mereka perlu dengar dariku."
Azzam mengangguk pelan. "Baik. Tapi tulis dengan kepala dingin. Jangan emosi."
"Emosi sih pasti," Naura menyeringai tipis, senyum pertama yang ia tunjukkan sejak kemarin. "Tapi aku janji nggak akan pakai kata-kata kasar. Aku akan pakai bahasa yang mereka pahami."
"Dan kedua?"
"Kedua," Naura berdiri, merapikan kerudungnya, lalu menatap Azzam dengan tatapan yang tidak bisa digoyahkan, "aku mau keluar rumah. Ke pesantren. Bukan untuk bersembunyi. Tapi untuk menunjukkan pada mereka bahwa aku nggak takut, video itu nggak membuatku lari, aku masih di sini, masih istri Gus Azzam, dan nggak akan ke mana-mana."
Azzam berdiri, melangkah mendekat, dan menatap Naura dari jarak yang sangat dekat. Matanya menyapu wajah istrinya, wajah yang penuh tekad, wajah yang tidak lagi rapuh, wajah yang membuatnya ingin menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan tidak pernah melepaskannya.
"Kamu yakin?" tanya Azzam pelan.
"Sangat yakin," jawab Naura tanpa ragu.
Azzam menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk. "Baik. Tapi saya yang mengantarmu."
"Azzam.."
"Bukan karena saya tidak percaya padamu," Azzam mengangkat tangan, menghentikan protes Naura. "Tapi karena saya ingin berjalan di sampingmu. Karena itu tempatku."
Naura menatap Azzam, dan untuk sesaat, kemarahannya tergantikan oleh kelembutan yang selalu muncul setiap kali pria itu berkata hal-hal yang seharusnya tidak terlalu manis untuk diucapkan di pagi hari.
"Baik," bisik Naura. "Di sampingku."
.
.
.
Mereka berjalan bersama memasuki kompleks pesantren. Biasanya, Naura akan berjalan di belakang Azzam, menunduk, menghindari tatapan, dan berusaha menjadikan dirinya sekecil mungkin. Tapi kali ini berbeda.
Ia berjalan di samping Azzam, tepat di sampingnya. Kepalanya terangkat, matanya menatap lurus ke depan, dan punggungnya tegak seperti tiang yang tidak bisa ditumbangkan.
Dan yang paling penting, ia tidak memakai masker atau kacamata hitam untuk menyembunyikan wajahnya. Ia membiarkan semua orang melihatnya, melihat wajah yang telah dihujat di internet, melihat mata yang telah menangis semalam, melihat wanita yang menolak tunduk pada kebencian.
Saat mereka melangkah melewati koridor utama pesantren, santri-santri dan santriwati yang sedang beraktivitas menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar, seperti biasa. Tapi kali ini, Naura tidak menunduk. Ia menatap mereka kembali, satu per satu, dengan mata yang tenang namun tidak tergoyahkan.
"Ya, aku istri Gus Azzam. Ya, aku gadis yang ada di video itu. Ya, aku masih berdiri di sini. Ada masalah?" Diamnya.
Beberapa santriwati yang tadinya berbisik terdiam, menunduk malu saat mata Naura bertemu dengan mereka. Beberapa lainnya tampak kagum, bukan karena Naura cantik, tapi karena keberaniannya.
Zahra berdiri di depan asrama putri, bersama dua sahabatnya. Saat melihat Naura berjalan dengan kepala terangkat di samping Azzam, wajahnya berubah. Ia mengira video itu akan menghancurkan Naura, membuat gadis itu bersembunyi di rumah dan menangis seharian. Tapi Naura berdiri di sana, lebih kuat dari sebelumnya.
"Ini tidak seharusnya terjadi," batin Zahra, kuku-kukunya menekan telapak tangan. "Naura seharusnya hancur!"
Azzam, yang menyadari kehadiran Zahra, menoleh sekilas. Tatapannya bertemu dengan Zahra hanya selama satu detik, tapi satu detik itu cukup untuk menyampaikan pesan yang jelas. "Jangan harap Zahra, dan jangan coba-coba lagi."
Zahra menelan ludah, menunduk, dan berbalik masuk ke asrama.
.
.
.
.
Tujuan pertama Naura adalah perpustakaan pesantren. Tempat yang sama di mana ia pertama kali bertemu Farrel. Tempat yang sama di mana ia merasa tidak nyaman. Kali ini, ia kembali bukan sebagai gadis yang ragu.
Ia melangkah masuk, berjalan melewati rak-rak buku dengan langkah yang mantap, dan menuju bagian referensi. Azzam berdiri di dekat pintu masuk, bersandar di dinding, memberikan ruang bagi Naura namun tetap menjaga kehadirannya.
Beberapa santriwati yang sedang membaca di meja menatap Naura dengan mata yang melebar. Mereka jelas tahu siapa Naura, jelas tahu video yang viral, dan jelas penasaran apa yang akan dilakukan gadis itu.
Naura mengabaikan mereka. Ia mencari buku yang ia butuhkan, bukan buku botani kali ini, tapi buku tentang hukum dan etika media sosial dalam Islam. Ia menemukannya di rak sudut, mengambilnya, lalu berjalan menuju meja kosong.
Saat ia melewati meja santriwati, salah satu dari mereka,seorang gadis bermata bulat dengan kerudung biru berbisik cukup keras agar terdengar.
"Bukannya dia lagi kena skandal? Berani banget keluar rumah."
Naura berhenti.
Azzam, yang berdiri di dekat pintu, menegang, siap untuk melangkah maju dan melindungi istrinya. Tapi ia menahannya. Ia ingin melihat apa yang akan Naura lakukan. Naura memutar tubuhnya, menatap gadis yang berbisik itu, lalu berjalan mendekat. Santriwati-santriwati di meja itu terdiam, kaget, menatap Naura dengan mata yang campur aduk antara takut dan penasaran.
"Maaf," ucap Naura, suaranya tenang namun jelas. "Aku dengar apa yang kau bilang. Dan aku ingin menjawab."
Gadis bermata bulat itu menelan ludah, wajahnya pucat. "A-aku..."
"Skandal itu berdasarkan video yang diedit," lanjut Naura, tidak meninggikan suara, tidak marah, hanya menyatakan fakta. "Pria dalam video itu adalah mantanku yang datang tanpa diundang. Suamiku ada di sana dan melihat semuanya. Suamiku sudah membuat pernyataan resmi bahwa aku nggak bersalah. Jika kau masih memilih percaya pada video yang diedit daripada , itu hakmu. Tapi jangan berbicara tentang aku di belakangku seolah aku tidak bisa mendengar."
Ruangan senyap. Santriwati-santwiati di meja itu saling bertatapan, malu.
"Aku nggak mengurung diri," Naura melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut sekarang. "Karena aku nggak melakukan apa-apa yang salah. Dan aku nggak akan membiarkan kebohongan orang lain membuatku takut untuk berada di tempat yang berhak kujunjungi."
Ia menoleh pada santriwati lainnya yang ada di perpustakaan, memastikan mereka semua mendengar.
"Jika kalian punya pertanyaan untukku, tanyakan langsung. Jangan berbisik di belakang. Karena aku lebih menghargai orang yang berani bertanya daripada orang yang hanya berani bergunjing."
Lalu, tanpa menunggu respons, Naura berbalik, berjalan menuju meja kosong, duduk, dan membuka bukunya.
Azzam, yang menyaksikan semuanya dekat pintu, merasa sesuatu di dadanya membengkak, bukan kemarahan, atau kekhawatiran, tapi kebanggaan yang luar biasa. Istriinya bukan gadis rapuh yang butuh diselamatkan setiap saat. Istriinya adalah pejuang.
Ia mengambil langkah maju, berjalan menuju meja Naura, lalu duduk di kursi di seberangnya. Naura menatapnya dengan alis terangkat.
"Kamu nggak usah nungguin aku, Azzam. Aku oke."
"Saya tahu kamu oke," Azzam menyalip senyum, meletakkan tangannya di atas meja. "Tapi saya ingin duduk di sini. Setelah melihatmu barusan... itu adalah hal paling menakjubkan yang pernah saya saksikan."
Naura memerah, mengalihkan pandangannya ke bukunya. "Lebay deh."
"Tidak," Azzam memiringkan kepalanya, menatap Naura dengan mata yang tidak mau berkedip. "Itu fakta. Kamu baru saja menghadapi mereka sendirian. Kamu tidak menangis, tidak berteriak, tidak lari. Kamu berdiri dan bicara dengan kepala terangkat. Itu... itu sangat indah, Naura."
Naura menggigit bibirnya, berusaha menyembunyikan senyum yang ingin muncul. "Dasar ustaz. Pujianmu terlalu muluk."
"Saya berkata jujur," Azzam bersandar di kursinya, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan, hanya untuk Naura, "Dan saya sangat bangga menjadi suamimu."
Naura menelan ludah, matanya memanas lagi, bukan karena sedih, tapi karena kata-kata itu mengenai sesuatu yang sangat dalam di dalam dirinya.
"Berhenti ngomong gitu," bisik Naura, suaranya bergetar sedikit. "Nanti aku nangis lagi di perpustakaan."
"Haha.." Azzam tertawa pelan yang membuat beberapa santriwati di meja sebelah menoleh dengan rasa iri yang tak tersembunyi.
"Tangisan kebahagiaan boleh," ucap Azzam. "Tapi cukup satu kali sehari. Saya tidak ingin air matamu habis."
.
.
.
Siang harinya, setelah kembali dari perpustakaan, Naura duduk di meja di kamar. Ia membuka laptop... laptop yang sudah lama tidak ia gunakan karena sibuk beradaptasi dengan kehidupan pesantren. Ia membuka akun media sosialnya, dan seperti yang ia duga, notifikasi masih membanjiri layarnya.
Tapi kali ini, ia tidak membaca komentar-komentar kebencian itu. Ia mengabaikannya, fokus pada satu hal, menulis pernyataannya sendiri. Ia mengetik perlahan, memilih setiap kata dengan hati-hati, memastikan bahwa pesannya jelas, kuat, dan tidak dipenuhi emosi yang berlebihan.
PERNYATAAN DARI NAURA ALEESHA AL-FARIZI
Assalamu'alaikum.
Perkenalkan, saya Naura. Istri Gus Azzam Al-Farizi. Gadis modern yang suka bunga, kamera, dan ngafe. Gadis yang tidak bisa membaca kitab gundul. Gadis yang masih belajar menjadi istri pesantren yang baik.
Video yang beredar tentang saya adalah video yang telah diedit untuk menyesatkan. Pria dalam video itu adalah mantan saya yang datang tanpa diundang. Suami saya berada di sana dan menyaksikan semuanya. Saya menolak pria tersebut, dan saya tetap berada di samping suami saya.
Tapi saya tidak menulis ini untuk membela diri. Karena suami saya sudah membela saya dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan. Saya menulis ini untuk mengatakan sesuatu yang lebih penting.
Saya tahu banyak dari kalian yang tidak suka pada saya. Saya tahu banyak yang menganggap saya tidak pantas menjadi istri Gus Azzam. Saya tahu banyak yang berharap saya pergi dari pesantren ini. Tapi saya tidak akan pergi.
Karena pesantren ini bukan hanya tempat suami saya. Ini juga tempat saya belajar menjadi lebih baik. Ini juga tempat di mana saya menemukan taman bunga yang dibuatkan oleh suami saya, tempat di mana saya menemukan bahwa agama bukan penjara, tapi rumah.
Jadi, kalian bisa terus menghujat saya, bisa terus membuat video editan, mengharapkan saya menyerah. Tapi saya tidak akan menyerah. Karena saya tidak melakukannya untuk kalian. Saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Untuk suami saya. Dan untuk Tuhan yang telah mempertemukan kami.
Wassalamu'alaikum.
-Naura Aleesha Al-Farizi-
Naura menarik napas, menatap layarnya, lalu menekan tombol post. Saat pernyataan itu terbit, ia memejamkan mata dan berdoa dalam hati. "Ya Allah, berikan aku kekuatan. Berikan aku keberanian. Dan lindungi pernikahanku dari siapa pun yang mencoba menghancurkannya."
Ia membuka matanya, menatap terrarium di meja nakas, tanaman kecil dalam kaca yang diberikan Azzam pada hari pertama mereka bertemu dan tersenyum.
"Gue nggak bakal menyerah," tekadnya kuat. "Mau sekarang, ataupun nanti."
.
.
.
Satu jam setelah pernyataan Naura diposting, responsnya luar biasa. Bukan semuanya positif, masih ada hujatan, masih ada keraguan, masih ada orang-orang yang memilih percaya pada kebohongan. Tapi untuk pertama kalinya, suara-suara yang mendukung mulai terdengar lebih keras.
@jamaahikhlas: Salam buat Naura! Kuat ya, Kak! Kami ada di sini!
@muslimah_modern: Ini yang namanya istri kuat. Bukan yang diam, tapi yang berani bicara dengan kepala terangkat.
@santri_setia: Gus Azzam dan NIng Naura adalah pasangan yang saling melengkapi. Semoga dilindungi selalu oleh Allah SWT.
@netizen_baik: Siapa nih yang bikin video editan? Kena karma loh nanti!
Tapi di antara semua respons itu, ada satu yang membuat Naura terkejut. Sebuah pesan langsung dari akun anonim.
@anonim_dark:Kau pikir pernyataan itu bisa menyelamatkanmu? Tunggu saja. Ini baru permulaan. Kami tahu rahasiamu, Naura. Dan kami akan membongkarnya.
Naura menatap pesan itu, merasakan dingin yang menjalar di tulang belakangnya. "Rahasia? Rahasia apa?"
Ia ingin membalas, ingin bertanya, tapi instingnya mengatakan untuk tidak melakukannya. Ini adalah umpan. Ini adalah jebakan dan ia tidak akan terjebak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memblokir akun itu, lalu mematikan laptopnya.
Ia berdiri, berjalan menuju jendela kamar, menatap pesantren yang terhampar di bawah langit yang cerah, dan berbisik pada dirinya sendiri.
"Kalau lo mau berperang, Gue siap!."
.
.
.
Di ruang kerjanya, Azzam menerima laporan dari Pak Dodo, petugas keamanan pesantren.
Pak Dodo: Gus, ada perkembangan. Akun-akun yang menyebarkan video itu berasal dari IP address yang sama. Kami sedang melacaknya. Tapi ada yang lebih mencurigakan... beberapa akun tersebut terhubung dengan seseorang dari dalam pesantren.
Azzam menatap pesan itu, rahangnya mengeras.
Azzam: Siapa?
Pak Dodo: Masih kami selidiki, Gus. Tapi pola sebarannya mengarah ke asrama putri. Kemungkinan besar ada santriwati yang terlibat.
Azzam mengetik balasan dengan jari-jari yang mengepal.
Azzam: Lacak secepatnya. Saya ingin tahu siapa yang berada di balik ini.
Ia mematikan ponsel, bersandar di kursi.
"Zahra," batin Azzam, nama itu bergema di kepalanya seperti dentingan lonceng peringatan. "Atau Farrel. Atau keduanya."
Tidak peduli siapa, mereka akan membayar. Karena Azzam telah membuat janji pada dirinya sendiri: siapa pun yang mencoba melukai Naura, ia akan menghancurkan mereka. Dengan cara yang sah, dengan cara yang terhormat, tapi tanpa ampun.
Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan buku catatan kecil yang telah ia simpan selama berminggu-minggu... buku yang berisi catatan tentang setiap insiden, setiap fitnah, dan setiap orang yang mencoba mendekati istrinya dengan niat buruk.
Ia membuka halaman terakhir, menulis satu baris baru:
1. Serangan ketiga\, Video editan.
2. Sumber\, Asrama putri.
3. Tersangka: Z.H dan/atau U.F.
4. Tindakan: Dalam proses.
Ia menutup buku itu, memasukkannya kembali ke laci, dan menguncinya. Perang belum selesai. Baru saja dimulai. Dan Azzam bertekad untuk mengakhirinya.
.
.
.