NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 16: Serasa Rumah Tangga

*Ep 16: Serasa Berumah Tangga*

_Sabtu pagi. Jam 9:45 pagi. Stasiun Karawaci._

Gerimis turun pelan. Indry berdiri di bawah kanopi stasiun, memegang tote bag krem. Rambutnya dikepang satu, kaos krem sederhana. Jantungnya berdegup tidak karuan.

Kereta dari Tegal masuk dengan suara pelan. Pintu terbuka.

Zaki turun. Kemeja coklat, celana bahan, tote bag kecil di tangan. Di tangan satunya ada plastik putih, bau martabak coklat menyeruak.

Mereka saling pandang. Dua detik. Tidak ada pelukan, tidak ada teriakan. Hanya senyum kecil yang sudah 15 tahun ditahan.

Zaki: “Pagi, Indry.”

Indry: “Pagi, Zaki. Hujan ya.”

Zaki: “Iya. Untung aku bawa jaket.”

Indry: “Ogah tidak ada. Dia izin menginap di tempat temannya. Ada turnamen Mobile Legend.”

Zaki tertawa pelan. “Bagus. Jadi kita tidak ditontonin.”

Indry memukul pelan lengan Zaki. “Zaki!”

Mereka berjalan keluar stasiun. Sepi. Kost Karawaci hanya sepuluh menit dari sini.

Zaki: “Meta mana?”

Indry: “Janji dengan teman bule-nya di PIK. Katanya mau memberi waktu kita berdua.”

Zaki: “Pintar Meta. Menjadi jembatan, lalu minggir.”

Sampai kost. Kost dua lantai, kamar Indry di atas. Sepi. Hanya suara gerimis.

Indry membuka pintu. “Masuklah, Zaki.”

Zaki masuk. Kost kecil. Kasur single, meja kerja, rak BPJS, Alkitab di laci. Bau teh dan bubur ikan masih menempel.

Zaki meletakkan tote bag. Memandang sekeliling. “Kostnya kecil ya, Indry.”

Indry: “Iya. Tapi cukup untuk empat orang. Sekarang jadi satu orang. Sepi.”

Zaki: “Mulai hari ini tidak akan sepi lagi.”

Indry terdiam. Canggung. Status baru: pacaran. Tiga bulan. Jaga batas.

Zaki mengerti. Dia meletakkan plastik martabak di meja. “Aku belikan untuk nanti malam. Jangan dimakan sekarang. Nanti kamu gendut.”

Indry tertawa kecil. “Zaki!”

*Jam 10:30 pagi. Dapur kost.*

Indry: “Mau sarapan tidak? Ada bubur ikan sisa semalam.”

Zaki: “Mau. Tapi… bolehkah aku bantu memasak?”

Indry terkejut. “Kamu bisa masak?”

Zaki: “Aku bisa memarut kelapa dua puluh kilo. Memasak bubur kecil pasti bisa.”

Mereka masuk dapur. Sempit. Indry memotong daun bawang. Zaki mencuci piring.

Zaki: “Panci ini kecil sekali, Indry. Pas untuk dua orang.”

Indry: “Iya. Biasanya aku memasak untuk empat. Sekarang hanya untuk aku.”

Zaki: “Mulai hari ini untuk kita berdua.”

Indry terdiam. Tangan yang sedang memotong bawang berhenti.

Zaki: “Eh… salah bicara ya?”

Indry: “Tidak… hanya aneh saja. Mendengar kata ‘kita’.”

Mereka tertawa canggung.

Indry: “Garamnya sedikit saja ya, Zaki. Aku darah tinggi.”

Zaki: “Siap, dokter Indry.”

Indry: “Jangan panggil dokter. Rasanya seperti aku masih kerja.”

Zaki: “Baik… sayang.”

Indry kaget. Sendok jatuh ke lantai.

Zaki: “Eh maaf… keceplosan.”

Indry pelan: “Tidak apa-apa, Zaki… aku juga rindu mendengarnya.”

Bubur jadi. Mereka makan di lantai, duduk bersila.

Zaki: “Enak, Indry. Rasanya… seperti rumah.”

Indry: “Ini hanya kost, Zaki.”

Zaki: “Bagiku ini rumah.”

*Jam 1:20 siang. Pasar Karawaci.*

Indry memakai sandal. Zaki memakai topi. Mereka memegang keranjang.

Indry: “Kita beli sayur saja ya. Untuk tiga hari.”

Zaki: “Beli tempe juga. Aku suka tempe goreng.”

Indry: “Aku suka tahu. Kita beli keduanya.”

Mereka mengobrol seperti pasangan yang sudah menikah lima tahun.

Zaki: “Cabai berapa kilo, Indry?”

Indry: “Setengah saja. Aku tidak suka pedas.”

Zaki: “Aku suka pedas. Nanti kita pisah ya. Cabai aku di piring aku.”

Indry tertawa. “Lebay.”

Mereka membeli bawang, tomat, kangkung, ikan asin.

Penjual sayur: “Langgeng ya, Dek? Jarang ada cowok yang mau menemani belanja.”

Indry malu. “Hehe… iya, Bu.”

Zaki: “Iya, Bu. Kami baru pacaran.”

Indry: “Zaki!”

Zaki tertawa. “Biar Ibu-nya mendoakan kita.”

Di perjalanan pulang, hujan deras turun. Mereka berlari membawa keranjang. Basah. Tertawa.

Sampai kost, mereka mandi dan ganti baju.

Indry: “Zaki… baju aku kebesaran. Pakai kaos aku saja ya.”

Zaki: “Kaos BPJS?”

Indry: “Iya. Tidak apa-apa kan?”

Zaki memakai kaos itu. Kebesaran. Lucu.

Indry memotret. “Untuk kenangan.”

Zaki: “Jangan di-post ya. Malu.”

*Jam 4:00 sore. Kamar kost.*

Hujan masih turun. Mereka duduk di kasur. Tidak ada yang bicara. Canggung lagi.

Indry: “Ogah tidak pulang ya.”

Zaki: “Iya. Jadi kita benar-benar berdua.”

Indry: “Aku gugup, Zaki.”

Zaki: “Aku juga, Indry. Lima belas tahun menunggu, sekarang gugup.”

Mereka tertawa.

Zaki: “Indry… bolehkah aku memegang tanganmu?”

Indry diam dua detik. Lalu mengulurkan tangan.

Tangan Zaki hangat. Kasar karena kerja. Tapi lembut.

Indry: “Hangat ya.”

Zaki: “Karena aku rindu.”

Mereka mengobrol lagi. Tentang kerja. Tentang Ogah. Tentang Mauba. Tentang Meta.

Zaki: “Meta hebat ya. Dia yang mendorong kita.”

Indry: “Iya. Dia sahabat gila. Tapi aku sayang dia.”

Zaki: “Aku juga sayang Meta. Dia menjaga kamu selama aku tidak ada.”

Jam 6:30 sore. Hujan reda.

Indry: “Lapar tidak, Zaki?”

Zaki: “Lapar. Masak tempe ya?”

Indry: “Siap, chef.”

Mereka memasak lagi. Kali ini lebih santai. Lebih berani.

Zaki menyanyi pelan: “Tuhan Kau Gembalaku…”

Indry kaget. “KAMU BISA LAGU GEREJA?!”

Zaki: “Aku hafal sedikit. Dulu sering mendengar kamu menyanyi waktu video call.”

Indry tertawa. “Zaki… jangan buat aku menangis.”

Makan malam jadi. Tempe goreng, kangkung tumis, ikan asin.

Mereka makan sambil bercerita hal-hal absurd.

Zaki: “Kalau kita menikah, aku mau anak dua saja. Biar kamu tidak capek.”

Indry: “Aku mau tiga. Biar ramai.”

Zaki: “Tiga? Kamu capek, Indry.”

Indry: “Tidak. Aku kuat. Aku Indry AndreBetari.”

Zaki tertawa. “Iya, kepala keluarga.”

*Jam 9:15 malam. Kamar kost.*

Ogah belum pulang. Meta belum pulang. Kost benar-benar sepi.

Indry: “Zaki… kamu menginap kan?”

Zaki: “Boleh?”

Indry mengangguk pelan. “Kasur aku kecil. Tapi cukup.”

Zaki terdiam. Dia tahu maksud Indry.

Zaki: “Kita tidur. Hanya tidur, Indry. Aku janji.”

Indry: “Iya, Zaki. Aku percaya.”

Mereka berganti baju. Indry memakai daster. Zaki memakai kaos BPJS itu lagi.

Lampu dimatikan. Tinggal lampu tidur biru.

Mereka tidur di kasur single. Tidak ada jarak.

Zaki memeluk Indry dari belakang. Pelan. Hangat.

Indry: “Hangat ya, Zaki.”

Zaki: “Karena aku rindu lima belas tahun.”

Indry memejam mata. Dadanya tenang.

Zaki: “Indry… bolehkah aku mencium keningmu?”

Indry mengangguk.

Ciuman pertama. Pelan. Singkat. Hangat.

Tidak ada nafsu. Hanya rasa: “akhirnya”.

Zaki: “Indry… aku janji. Aku menjaga kamu. Aku menjaga imanmu. Aku menjaga batas kita.”

Indry: “Aku juga janji, Zaki. Aku menjaga kamu. Aku menjaga hatimu.”

Mereka berpelukan. Tidak lebih.

Zaki: “Aku pria normal, Indry. Aku ingin lebih. Tapi aku tahan. Karena kamu berharga.”

Indry: “Terima kasih, Zaki. Terima kasih sudah menjaga aku.”

Mereka tertidur. Berpelukan. Hangat. Aman.

*Jam 6:00 pagi. Minggu.*

Indry bangun lebih dulu. Zaki masih tidur. Tangan masih memeluk.

Indry mengusap rambut Zaki pelan.

Zaki bangun. “Pagi, Indry.”

Indry: “Pagi, Zaki. Lapar tidak?”

Zaki: “Lapar. Tapi… aku tidak mau bangun dulu.”

Mereka tertawa.

Zaki: “Rasanya… seperti sudah menikah sepuluh tahun.”

Indry: “Lebay, Zaki.”

Zaki: “Biar. Aku mau lebay dengan kamu.”

Mereka bangun. Memasak bubur lagi. Sarapan bersama.

Ogah belum pulang. Meta belum pulang.

Kost Karawaci… serasa rumah.

Zaki: “Indry… tiga bulan ini kita jaga baik-baik ya.”

Indry: “Iya, Zaki. Kita jaga.”

Zaki: “Kalau Tuhan mengizinkan… kita lanjut.”

Indry: “Kalau tidak… kita mundur dengan baik-baik.”

Zaki: “Siap.”

Mereka berpelukan lagi.

Di luar, hujan kecil masih turun.

Di dalam, ada hangat yang lima belas tahun tidak berani disebut nama.

*Jam 10:30 pagi. Ruang tamu kost.*

Hujan sudah berhenti. Sinar matahari masuk lewat jendela. Indry duduk bersandar di Zaki, masih di kasur. Mereka belum beranjak.

Zaki: “Indry, aku takut.”

Indry mengangkat kepala. “Takut apa?”

Zaki: “Takut merusak kamu. Takut membuat kamu kecewa lagi. Lima belas tahun aku menunggu, aku tidak mau gagal sekarang.”

Indry menggenggam tangan Zaki lebih erat. “Kalau kita jatuh, kita jatuh bersama. Aku tidak takut.”

Zaki menghela napas. “Aku tidak pernah berpikir bisa sampai tahap ini. Dulu aku hanya bisa melihat kamu dari jauh. Sekarang kamu di sini. Di pelukanku.”

Indry tersenyum. “Aku juga tidak pernah berpikir. Aku pikir aku akan jadi kepala keluarga selamanya. Ternyata Tuhan punya rencana lain.”

Zaki mencium pelipis Indry. “Terima kasih sudah percaya aku, Indry.”

Indry: “Terima kasih sudah sabar, Zaki.”

Mereka terdiam lagi. Bukan canggung, tapi nyaman. Seperti dua orang yang baru sadar bahwa rumah bukan tentang tembok, tapi tentang siapa yang memelukmu.

*Jam 12:45 siang. Dapur kost.*

Indry mencuci piring. Zaki berdiri di belakangnya, memeluk pinggangnya dari belakang.

Zaki: “Indry, kamu tahu tidak? Aku bahagia.”

Indry tidak menjawab. Dia hanya bersandar lebih dalam ke pelukan Zaki.

Zaki: “Dulu aku kira kebahagiaan itu punya martabak laris setiap hari. Ternyata bukan.”

Indry: “Lalu apa?”

Zaki: “Kebahagiaan itu mendengar kamu tertawa di dapur kecil ini. Melihat kamu sibuk mencuci piring sambil bersenandung.”

Indry menoleh. “Kamu gombal ya, Zaki?”

Zaki menggeleng. “Aku jujur, Indry. Lima belas tahun aku menyimpan ini semua.”

Indry menutup kran air. Dia berbalik, menatap mata Zaki. “Aku juga menyimpan, Zaki. Hanya saja aku takut mengeluarkannya.”

Zaki mengecup kening Indry lagi. “Sekarang kamu tidak perlu takut.”

*Jam 3:00 sore. Balkon kecil kost.*

Mereka duduk di lantai balkon. Indry memegang cangkir teh hangat. Zaki memegang martabak coklat yang belum habis.

Indry: “Zaki, kalau nanti keluarga aku bertanya, apa yang akan kamu jawab?”

Zaki: “Aku akan bilang, aku mencintai putri kamu. Aku akan menjaga dia. Aku tidak akan memaksanya meninggalkan imannya.”

Indry menatap Zaki lama. “Kamu serius?”

Zaki: “Serius, Indry. Aku tidak main-main. Aku tidak ingin kamu memilih antara aku dan Tuhanmu. Aku ingin kamu tetap Indry yang utuh.”

Indry mengangguk. Matanya berkaca. “Kamu membuat aku merasa dihargai, Zaki.”

Zaki: “Karena kamu memang berharga, Indry. Kamu kepala keluarga. Kamu pejuang. Kamu layak dicintai dengan tenang.”

Mereka terdiam. Angin sore masuk lewat balkon. Membawa bau basah hujan dan martabak.

Indry bersandar ke bahu Zaki. “Aku bahagia, Zaki.”

Zaki: “Aku juga, Indry. Sangat bahagia.”

*Jam 7:00 malam. Kamar kost.*

Ogah masih belum pulang. Meta belum pulang. Kost tetap sepi.

Indry menyalakan lampu tidur biru. Zaki duduk di tepi kasur.

Zaki: “Indry, aku tidak ingin pulang malam ini.”

Indry: “Aku juga tidak ingin kamu pulang, Zaki.”

Zaki: “Tapi kita harus jaga batas, kan?”

Indry mengangguk. “Iya. Kita jaga.”

Zaki tersenyum. “Kalau begitu, kita tidur. Hanya tidur.”

Indry: “Hanya tidur, Zaki.”

Mereka berbaring. Berpelukan. Tidak ada kata lagi. Hanya detak jantung yang saling mendengar.

Zaki berbisik: “Selamat malam, sayang.”

Indry: “Selamat malam, Zaki.”

Di luar, Karawaci sepi.

Di dalam, dua hati yang sudah lama menunggu akhirnya pulang.

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!