NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Batu Langka Untuk Lamaran

“Busyet, ini orang apa biji nangka? Pendek bener, mana mukanya udah kayak aspal lagi. Argh! Gue malah jadi dosa,” batin Darren saat pandangannya pertama kali mendarat pada pria yang duduk menunggu di meja itu.

Masalahnya Darren benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa herannya karena orang di hadapannya itu ternyata jauh lebih pendek daripada Seo yeon. Belum lagi, meski dia tahu dirinya tidak patut berbicara ini secara langsung, tapi entah bagaimana wajah pria itu terlihat sangat tua dengan kerutan di sekitar mata serta sudut mulut yang mulai turun. Penampilan fisik itu membuat angka lima puluh tahun terasa terlalu muda untuk menggambarkan kondisinya yang sebenarnya. Sekarang Darren menyadari mengapa Seo yeon begitu gigih ingin mandiri dari pengaruh keluarganya. Bagaimana mungkin orang tua wanita itu tega menjodohkan putri mereka yang secantik bidadari dengan pria yang fisiknya sudah tampak layu seperti ini. Ngotak dikitlah.

Darren mengamati penampilan pria itu dari ujung sepatu hingga kepala yang memantulkan cahaya lampu restoran dengan sangat menyilaukan. Belum sempat dia menyelesaikan penilaiannya, pria itu sudah berdiri dan menyodorkan tangan dengan ramah.

“Akhirnya kalian datang. Senang sekali melihat istri saya membawa teman baru hari ini,” kata pria itu sembari tersenyum lebar.

Kalimat itu membuat telinga Darren panas seketika. Pernikahan belum terjadi, namun pria itu sudah berani mengklaim kepemilikan secara terbuka di depan umum. Seo yeon juga tidak membantah, ekspresi wajahnya tetap sedingin es tanpa emosi sedikit pun.

“Perkenalkan, ini Darren, asisten pribadi saya yang baru.” ujar Seo yeon sembari memperkenalkan Darren secara mendetail. “Darren, ini Pak Priyo yang aku bicarakan sebelumnya.”

“Senang bertemu dengan Anda,” ucap Darren dengan membungkuk hormat.

Pria itu pun segera mempersilakan Seo yeon duduk dengan gerakan tangan yang sangat sopan. Namun, dia seolah tidak melihat keberadaan Darren yang berdiri tepat di sampingnya. Darren tetap berdiri karena tidak ada ajakan untuk duduk dari sang tuan rumah, meski mereka ada di mall. Menyadari hal itu, Seo yeon menoleh sedikit ke arah Darren.

“Darren, silakan duduk di sini,” perintah Seo yeon.

Baru pada saat itulah si pria tua tampak sedikit terburu-buru dan kikuk. “Ah, iya, silakan duduk, Saudara Darren. Maaf saya agak lalai karena terlalu bersemangat melihat istri saya.”

Darren menarik kursi dengan tenang, meski jelas dirinya menyadari bahwa orang di hadapannya ini hanya peduli pada dunianya sendiri dan menganggap orang lain sebagai pajangan yang tidak penting.

Tak lama setelahnya, Seo yeon mulai membicarakan bagaimana keluarganya sangat mendukung segala rencana bisnis yang sedang dikerjakan oleh pria itu. Dia memaparkan setiap rincian dengan profesional dan mendetail. Sementara pria itu tampak sangat menikmati pembicaraan itu, sesekali mengeluarkan tawa canggung yang terdengar dipaksakan.

“Saya sangat setuju dengan pandangan orang tuamu, Seo yeon. Masa depan kita akan sangat cerah,” kata pria itu. Dia lalu memajukan tubuhnya, menatap Seo yeon dengan tatapan aneh. “Lalu, menurutmu berapa anak yang sanggup kamu berikan untuk meneruskan dinasti kita nanti?”

“Gila, ini orang anggep Seo yeon apaan? Pabrik bayi?” Batin Darren sembari merasakan mual mendadak di perutnya. Pria ini benar-benar memperlakukan Seo yeon seperti mesin pencetak keturunan belaka tanpa memikirkan perasaan wanita itu. Kendati demikian, Seo yeon lagi-lagi tidak menunjukkan emosi yang terganggu, malahan menjawab pertanyaan itu dengan nada netral yang sangat terkontrol.

Adapun Priyo Tan Wijaya tampak sumringah. Dia memberikan isyarat tangan ke arah belakang sebelum dua pria berjas hitam dengan kacamata gelap segera mendekat sembari membawa sebuah kotak beludru kecil. Lantas pria tua itu meraih kotak itu dengan gerakan dramatis.

“Ini ada kejutan kecil untukmu, Seo yeon. Sesuatu yang sangat istimewa,” ucapnya sembari membuka tutup kotak.

Hebatnya, cahaya lampu restoran seolah terserap ke dalam kotak itu. Sebuah batu berwarna kebiruan dengan kilauan yang tidak lazim terlihat di sana. Itu adalah batu langka yang konon memiliki khasiat medis untuk memperpanjang usia. Para pengunjung di meja sekitar pun mulai berbisik-bisik. Beberapa orang menyebut Seo yeon sangat beruntung mendapatkan lamaran dari kolektor batu terkenal, sementara yang lain memuji keberuntungan pria tua itu karena mendapatkan wanita muda yang sangat menawan.

“Lihat itu! Bukankah itu batu yang harganya bisa membeli satu pulau?” bisik seorang wanita di meja sebelah kepada temannya.

“Nona Han benar-benar beruntung. Sudah cantik, kaya, sekarang dilamar dengan batu abadi seperti itu,” timpal temannya.

Seorang pria di sudut ruangan ikut berkomentar, “Yah, Pak Priyo memang kolektor gila. Tapi mendapatkan wanita semuda dan seberkelas Seo yeon memang butuh modal sebesar itu. Mereka benar-benar pasangan yang sepadan dalam hal kekuasaan.”

Merasa momennya sudah pas setelah melirik kanan-kiri, Priyo akhirnya berdiri, lalu berlutut di hadapan Seo yeon dengan satu kaki. Dia menyodorkan kotak berisi batu biru itu.

“Menikahlah denganku, Seo yeon. Besok lusa kita akan resmikan segalanya di hadapan keluarga besar,” ucapnya dengan penuh harapan.

Sementara Seo yeon menatap batu itu tanpa ekspresi. Alih-alih suasana haru yang tercipta, Darren justru memutuskan untuk memecah momen itu. Suaranya terdengar datar namun berwibawa di tengah keramaian restoran.

“Maaf mengganggu, tapi saya sedikit bertanya-tanya mengenai keaslian serta asal-usul batu yang Anda pegang itu,” ujar Darren bermental baja.

Seluruh aktivitas di restoran itu pun seolah berhenti seketika. Bisikan-bisikan yang tadi terdengar memuji kini berubah menjadi nada kecaman dari para pengunjung. Beberapa orang menyebut Darren sebagai asisten yang tidak tahu diri karena berani meragukan keahlian seorang kolektor besar. Di sisi lain, Seo yeon menatap Darren dengan tatapan yang sulit diartikan, dan pria tua itu kehilangan senyum ramahnya sebelum berdiri kembali sembari menatap Darren dengan pandangan yang sangat dingin.

“Anda tahu siapa saya? Berani-beraninya seorang asisten meragukan mata kolektor yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia ini!” bentak pria itu.

“Tugas saya adalah melindungi kepentingan Nona Han Seo yeon dari segala bentuk kerugian. Oleh karena itu, saya berhak memastikan legalitas hadiah yang akan diterima oleh majikan saya,” jawab Darren dengan sangat profesional.

“Batu ini asli! Saya sendiri yang menjaminnya!” teriak pria itu dengan wajah yang mulai memerah.

Darren pun menjawabnya dengan tersenyum tipis. Dalam pikirannya, dia segera memanggil sistem untuk membedah kebohongan di depannya.

Layar transparan sistem segera memberikan jawaban yang sangat gamblang.

Target terdeteksi. Nama Priyo Tan Wijaya. Utang Keberuntungan Rp87.400.000.000. Utang Umur 32 tahun 8 bulan 8 hari. Status kesehatan kritis. Batu langka yang diberikan diperoleh melalui perdagangan gelap yang melibatkan perusakan lingkungan dan eksploitasi pekerja anak. Batu itu memiliki kandungan radiasi rendah yang membahayakan kesehatan.

“Gila, delapan puluh tujuh miliar? Terus ini kakek-kakek nyuri umur orang sampai tiga puluh tahun lebih? Bener-bener bukan manusia nih orang,” batin Darren sembari menahan amarah yang mulai naik.

Dia menyadari bahwa Priyo Tan Wijaya bukanlah orang baik. Selain uang yang melimpah, pria ini memiliki umur panjang yang dicuri dari orang lain melalui cara yang tidak sah. Dan yang lebih menjijikkan lagi, batu yang dia sebut sebagai simbol cinta itu ternyata mengandung racun radiasi yang bisa merusak kesehatan Seo yeon.

“Saya tidak meragukan keahlian Anda sebagai kolektor, Pak Priyo,” kata Darren sembari menyesap air putihnya dengan santai. “Saya hanya penasaran, apakah batu itu ditambang secara legal? Apakah ada izin ekspor yang sah? Dan yang paling penting, apakah proses penambangannya tidak melibatkan eksploitasi pekerja anak di pedalaman?”

Wajah Priyo langsung berubah pucat. Dia mulai gelagapan, tidak menyangka bahwa asisten muda ini akan melontarkan pertanyaan yang begitu tajam dan spesifik.

Seo yeon yang sedari tadi diam akhirnya ikut angkat bicara. Pandangannya kini terasa jauh lebih menusuk dibandingkan sebelumnya.

“Pak Priyo, saya rasa asisten saya ada benarnya. Saya perlu memastikan keaslian serta legalitas batu itu sebelum menerimanya. Saya tidak ingin reputasi keluarga Han tercoreng karena masalah seperti ini,” ujar Seo yeon.

Lantas bangkotan itu semakin ketakutan. Keringat dingin mulai muncul di keningnya yang lebar. “Ini asli, Seo yeon! Saya bersumpah demi hidup saya! Simpan saja dulu batu ini dan kamu bisa mengeceknya sendiri nanti!”

Bersamaan dengan perdebatan itu, Darren secara diam-diam melakukan penagihan melalui sistem. Dia menarik lima persen dari utang keberuntungan Priyo yang sangat masif itu. Seketika itu pula, angka Rp4,37 miliar masuk ke dalam Rekening Sistem miliknya tanpa ada yang menyadari.

“Nah, mampus lo. Satu miliar buat Seo yeon beres, sisanya buat jajan gue,” batin Darren sembari tersenyum puas.

Tiba-tiba saja, salah satu asisten Priyo mendekat dengan terburu-buru dan membisikkan sesuatu di telinga tuannya. Raut wajah pria tua itu berubah drastis menjadi sangat gelisah ketika merogoh ponselnya dan menatap layar dengan mata yang melotot panik.

“Maaf, Seo yeon. Ada urusan mendadak di kantor yang harus saya selesaikan sekarang juga. Tapi ingat, jadwal pernikahan kita tetap lusa! Simpan batu ini sebagai tanda ikatan kita,” katanya sembari berusaha memasang senyum yang sudah terlihat sangat hancur.

Seo yeon malah membalas dengan sebuah senyuman yang sangat formal. Dia mendorong kotak beludru itu kembali ke arah calon suaminya dengan tegas.

“Saya rasa saya akan menunggu sampai semua permasalahan yang dituduhkan asisten saya tadi selesai, Pak Priyo. Saya tidak bisa menerima hadiah dari seseorang yang status barangnya masih menyisakan tanda tanya besar,” kata Seo yeon.

Priyo Tan Wijaya ingin membalas, namun lidahnya seolah terkunci. Dia hanya bisa memberikan tatapan melotot penuh dendam ke arah Darren sebelum akhirnya bergegas pergi meninggalkan restoran. Sementara Darren memilih menundukkan kepala dengan sopan, memasang ekspresi wajah paling polos.

Seo yeon segera berdiri dari kursinya. “Ayo kita pulang, Darren.”

Mereka melangkah bersama meninggalkan restoran itu, membiarkan para pengunjung lain masih terpaku dalam kebingungan. Darren membawa semua tas belanjaan dengan langkah yang ringan setelah merasa puas karena baru saja mengantongi modal besar serta menggagalkan niat buruk si pria botak.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!