Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun pesta dan Tatapan sinis
Pukul dua siang keesokan harinya, suasana di dalam kondominium mewah Gibran berubah menjadi ruang ganti eksklusif.
Dua orang wanita muda dengan seragam hitam modis sibuk menata beberapa kotak besar berselimut kain satin di atas meja marmer.
Di belakang mereka, seorang pria paruh baya bertubuh tinggi semampai dengan gaya flamboyan sedang memeriksa sebuah gaun yang digantung pada manekin portabel.
"Oh, darling, struktur tulang selangkang kamu itu sangat perfect! Klasik sekali!" seru pria itu, yang memperkenalkan diri sebagai Madam Ivan, desainer langganan keluarga Mahardika. Dia menangkupkan kedua tangannya di dagu sambil menatap Nayla yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah bingung.
Nayla hanya tersenyum canggung.
Dia melirik ke arah sofa, tempat Gibran sedang duduk pura-pura fokus pada tablet kerjanya, meskipun matanya sesekali melirik ke arah gaun yang dibawa Ivan.
Di sudut lain, Renata sedang asyik menyesap teh kamomilnya dengan senyum puas yang tidak pernah luntur sejak pagi.
"Ivan, pastikan menantuku kelihatan paling anggun malam ini. Jangan sampai kalah bersinar dari anak perempuan keluarga Wijaya yang hobi pamer itu," instruksi Renata dengan nada penuh penekanan.
"Tenang saja, Jeng Renata. Gaun ini khusus saya pilihkan dari koleksi privé terbaru saya. Warna emerald green dengan potongan off-shoulder ini akan membuat kulit putih Ibu Nayla terlihat kontras dan sangat mahal. Ditambah dengan aksen draping di bagian pinggang, dijamin Den Gibran tidak akan bisa kedip semalaman," goda Ivan sambil mengerlingkan matanya ke arah Gibran.
Gibran berdeham keras, wajahnya sedikit memerah. "Ivan, tidak usah banyak bicara. Cepat bantu Nayla bersiap. Waktu kita tidak banyak."
Proses transformasi itu memakan waktu hampir tiga jam. Nayla merasa wajahnya seperti kanvas yang dilukis dengan sangat hati-hati oleh penata rias profesional bawaan Ivan. Rambut panjangnya yang biasa dikuncir asal-asalan kini disanggul modern dengan gaya low bun yang menyisakan beberapa helai rambut halus membingkai wajahnya, memberikan kesan anggun sekaligus sensual.
Ketika Nayla akhirnya melangkah keluar dari ruang ganti dengan gaun beludru hijau zamrud yang menjuntai indah hingga menyentuh lantai, keheningan mendadak melanda ruangan tersebut.
Gibran menghentikan jarinya di atas layar tablet. Dia berdiri secara refleks, matanya menatap Nayla dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa berkedip. Gaun itu melekat sempurna di tubuh ramping Nayla, mengekspos bahunya yang indah dan leher jenjangnya dengan sangat pas tanpa terkesan berlebihan. Riasan wajahnya yang bernuansa bold dengan lipstik merah bata membuat mata jernih Nayla terlihat sangat tegas dan penuh percaya diri.
"Bagaimana, Den Gibran? Hasil karya saya tidak pernah gagal, kan?" tanya Ivan memecah keheningan dengan nada bangga.
Gibran berdeham, mencoba menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat melongo. Dia memalingkan muka sekilas sebelum kembali menatap Nayla dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Ya ... lumayan. Tidak memalukan untuk dibawa ke pesta."
Nayla mendengus pelan mendengar pujian setengah hati itu. ("Dasar cowok gengsi tinggi,") batinnya jengkel. Namun, jauh di dalam hatinya, dia juga sempat terpukau saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin besar tadi. Dia hampir tidak mengenali dirinya sebagai buruh korporat yang biasa memakai kemeja flanel kusut di kantor.
Pukul tujuh malam, sedan hitam premium milik keluarga Mahardika berhenti di depan lobi sebuah hotel bintang lima di kawasan Segitiga Emas Jakarta.
Tempat itu sudah dipenuhi oleh deretan mobil mewah, mulai dari Roll-Royce hingga pelat nomor diplomatik. Wartawan dari berbagai media bisnis dan gaya hidup tampak berbaris di balik pagar pembatas, lampu kilat kamera mereka menyala bergantian setiap kali ada tamu penting yang turun.
Nayla merasakan telapak tangannya mendadak dingin dan basah karena keringat. Dia meremas kain gaunnya dengan kuat.
"Gugup?" suara bariton Gibran terdengar di sampingnya. Pria itu malam ini tampil sangat menawan dengan setelan tuksedo hitam pekat, kemeja putih bersih, dan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna.
"Menurut lu bagaimana? Gue biasa kondangan pakai batik dan makan prasmanan sambil berdiri, sekarang harus masuk ke sarang naga seperti ini," bisik Nayla dengan gigi bergemeletuk.
Gibran terkekeh pelan, sebuah tawa tulus yang jarang dia tunjukkan. Dia mengulurkan lengan kanannya ke depan dada Nayla. "Kalau begitu, pegang lengan gue erat-erat. Jangan sampai lepas, dan yang paling penting ... jangan sampai pingsan."
Nayla menatap lengan tegap Gibran sejenak, lalu dengan ragu menyelipkan tangannya di sana. Begitu mereka keluar dari mobil, jepretan kamera langsung memberondong mereka bertubi-tubi.
Gibran dengan tenang menuntun Nayla melewati karpet merah, sesekali memberikan senyuman menawan ke arah media, sementara Nayla mencoba mempertahankan senyum anggunnya meski matanya agak perih karena kilatan cahaya lampu.
Saat mereka memasuki ruang dansa utama yang megah dengan lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit, ratusan pasang mata langsung tertuju pada mereka. Desas-desus langsung terdengar samar-samar di antara para tamu. Berita tentang pernikahan mendadak sang putra mahkota Mahardika Group ternyata sudah menyebar seperti api di kalangan sosialita.
Di ujung ruangan, tampak Baskoro Mahardika sedang berbincang dengan seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan jas formal.
Di samping pria tambun itu, berdiri seorang wanita muda yang penampilannya sangat mencolok.
Dia mengenakan gaun malam bertahtakan payet perak yang berkilauan, dengan rambut pirang kecokelatan yang ditata bergelombang.
Wajahnya cantik, namun tatapan matanya sangat angkuh.
Dia adalah Thalia Wijaya, wanita yang seharusnya dijodohkan dengan Gibran.
"Gibran, akhirnya kamu datang juga," sapa Baskoro dengan suara berat saat melihat anak dan menantunya mendekat. Tatapan matanya langsung menilai penampilan Nayla, dan ada sedikit kilatan kepuasan tersembunyi di mata pria tua itu saat melihat Nayla mampu mengimbangi wibawa anaknya.
"Malam, Pa. Malam, Om Wijaya," Gibran menyapa dengan sopan, lalu beralih menatap Thalia dengan anggukan kepala dingin. "Malam, Thalia."
Pria tambun yang dipanggil Om Wijaya itu tertawa renyah, meskipun tawanya terdengar agak dipaksakan. "Wah, Baskoro, jadi ini menantu mendadakmu itu? Cantik sekali. Sayang sekali ya, rencana kita untuk menyatukan dua perusahaan lewat anak-anak kita harus tertunda."
Sebelum Baskoro sempat menjawab, Thalia melangkah maju. Dia menatap Nayla dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. Senyum sinis terukir di bibirnya yang merah menyala.
"Jadi ... ini perempuan yang membuat kamu berubah pikiran di menit-menit terakhir, Gibran?" tanya Thalia, suaranya terdengar manis namun mengandung racun yang tajam.
Dia mengulurkan tangan kanannya yang dihiasi gelang berlian ke arah Nayla. "Hai, aku Thalia Wijaya. Teman dekat ... atau lebih tepatnya, hampir menjadi tunangan Gibran kalau saja dia tidak mengambil keputusan impulsif semalam."
Nayla merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak mendingin. Sindiran Thalia sangat jelas ditujukan untuk merendahkan posisinya.
Namun, harga diri Nayla sebagai wanita mandiri yang terbiasa menghadapi klien-klien korporat yang menyebalkan mendadak bangkit. Dia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak di depan umum, terutama di depan bapak mertuanya yang sedang mengawasinya dari belakang.
Nayla menyambut uluran tangan Thalia dengan genggaman yang mantap dan senyuman paling menawan yang dia miliki.
"Nayla Putri. Senang bertemu denganmu, Nona Wijaya," jawab Nayla dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa. "Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari cerita... kolega bisnis. Dan soal keputusan Mas Gibran, saya rasa itu bukan impulsif, melainkan sebuah takdir yang tidak bisa dihindari ketika seorang pria menemukan apa yang benar-benar dia cari."
Mendengar jawaban telak dari Nayla, senyum di wajah Thalia mendadak membeku. Dia tidak menyangka bahwa cewek yang dianggapnya sebagai "gadis kampung" ini memiliki keberanian dan kemampuan retorika yang begitu tenang di bawah tekanan.
Gibran yang berdiri di samping Nayla diam-diam menahan senyum bangganya. Dia mempererat rangkulannya di pinggang Nayla, menarik tubuh istrinya sedikit lebih rapat ke tubuhnya. "Nayla benar, Thalia. Terkadang hidup membawa kita pada pilihan yang paling tepat di waktu yang tidak terduga. Saya harap kamu juga bisa segera menemukan kebahagiaanmu sendiri."
Thalia menarik tangannya kembali dengan hentakan halus, wajahnya tampak memerah menahan kesal. Dia memalingkan muka ke arah ayahnya.
"Papa, aku mau ke bar dulu. Di sini mendadak hawanya jadi tidak enak."
Setelah Thalia dan ayahnya pergi menjauh, Baskoro melangkah mendekati Gibran dan Nayla. Pria tua itu menatap Nayla dengan pandangan yang sedikit berbeda dari sebelumnya ada sedikit rasa hormat yang mulai tumbuh di sana.
"Pertahanan yang bagus, Nayla," ucap Baskoro datar, namun kalimat itu adalah sebuah pujian besar dari seorang pria sedingin dia. "Tapi ini baru permulaan. Ujian yang sesungguhnya untuk menguji kelayakanmu berada di samping anak saya baru akan dimulai setelah malam ini."
Baskoro kemudian berbalik untuk menyapa relasi bisnis lainnya, meninggalkan Gibran dan Nayla yang akhirnya bisa mengembuskan napas lega yang panjang.
Nayla menyandarkan sedikit tubuhnya yang lemas pada lengan Gibran. "Mas.... setelah ini, gue minta bonus tambahan dari surat perjanjian kita. Menghadapi mantan tunangan lu itu rasanya lebih berat daripada menghadapi revisi desain sepuluh kali berturut-turut."
Gibran terkekeh pelan, matanya menatap wajah Nayla yang tampak kelelahan namun tetap terlihat sangat cantik malam itu.
"Oke. Apapun yang lu minta, bakal gue pertimbangkan. Lu hebat malam ini, Istri Pajangan."
Nayla tersenyum tipis, menyadari bahwa di balik semua sandiwara dan kepalsuan ini, sebuah ikatan aneh yang tidak kasat mata perlahan-lahan mulai tumbuh di antara mereka di tengah gemerlapnya dunia nyata yang penuh tipu daya.