Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Sementara itu, Sinta yang mendengar jawaban Wana barusan, langsung tersenyum kecil dengan tulus. Senyum yang sangat manis di mata Wana. Senyum tanpa beban sedikitpun.
'Senyum itu untukku?' Wana bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati. 'Tuhan ... aku melayang,' katanya lagi.
'Itu terlalu indah.' Wana berucap sambil menyentuh dadanya dengan satu tangan.
Sinta yang melihat gelagat itu merasa sedikit terusik. "Kak ... Awan, baik-baik saja?"
"Hah? Iy-- iya. Aku ... baik. Baik kok, baik."
"Tapi, sejak tadi aku lihat, kamu sering menyentuh dada mu. Apa ada yang tidak nyaman di sana?"
Deg. Jantung Wana semakin berdebar karena pertanyaan itu. Fisiknya langsung merespon ucapan itu dengan cepat ternyata. Susah payah dia berusaha untuk mengontrol jantung yang berdebar tak karuan. Hingga akhirnya, pria itu berhasil.
"Aku ... baik-baik saja."
Saat ini, Wana semakin menyadari satu hal. Ternyata, berhadapan dengan Sinta lebih sulit dibandingkan berhadapan dengan klien asing yang sama sekali tidak pernah dia temui sebelumnya.
"Kak Awan yakin?"
"Iya. Tentu saja yakin," ucap Wana dengan cepat.
Sinta langsung mengangguk pelan. "Iya ... kalo gitu, syukurlah. Aku takut ada yang gak nyaman aja."
"Nggak. Semuanya baik-baik saja."
"Ah, iya. Kamu, lanjutkan lagi makannya. Jika tidak cukup, aku tambahkan lagi."
Sinta langsung menaikkan alisnya.
"Hah? Aku gak makan sekuat itu, kak Awan. Ini aja masih banyak. Gak akan bisa aku habiskan. Lagian, kamu kok gak ikutan makan sih, kak? Lagi ... diet ya?" Canda Sinta.
Wana menggelengkan kepalanya. "Nggak. Aku gak diet. Aku makan," ucapnya sambil melihat ke arah makanan yang ada di atas meja.
Sinta tersenyum kecil melihat tingkah Wana yang memang sangat kaku. Yah, pria ini terlalu kaku memang. Butuh banyak usaha untuk menyeimbangkan supaya suasana tidak terasa dingin.
Namun begitu, Sinta merasa bahagia ada di dekatnya. Entah karena apa, Sinta hanya merasa nyaman saja saat bersama Wana. Sikapnya yang kaku tidak memberatkan Sinta. Sebaliknya, sikap itu terasa lucu bagi Sinta.
Mungkin karena sikap itu adalah sikap yang baru bagi Sinta. Atau juga memang karena, sesuatu yang berbeda. Yang masih belum Sinta sadari untuk saat ini. Yang jelas, bersama dengan Wana tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Sebaliknya, Sinta malah merasa, bersama Wana jauh lebih baik dari pada bersama Rama yang sekarang hanya mementingkan Risa. Karena dunia Wana, tidak ada saingan untuk Sinta. Setidaknya, untuk saat ini. Walau kedepannya, gadis itu tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, dia akan bahagia untuk waktu yang sedang ia lalui sekarang.
Keduanya makan dengan tenang tanpa bicara. Sesaat kemudian, mereka berdua akhirnya menyelesaikan makanan mereka. Sinta angkat bicara kembali.
"Kak Awan."
"Iya."
"Bisa aku minta nomor kontak mu?"
"Nomor kontak?"
"Iya." Sinta berucap sambil mengangguk. "Kenapa? Ada yang salah?"
"Ah, nggak."
Wana langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Lalu menyodorkan ponsel itu pada Sinta. "Ini. Kamu bisa catat nomor kamu, lalu panggil."
Sinta menerimanya dengan wajah tenang. Namun dalam hati, gadis itu merasa sedikit bingung. Kebingungan itu semakin kuat saat ingin membuka kunci dari ponsel tersebut.
"Kak Wana. Ponselmu, masih terkunci."
"Oh, sandinya tanggal lahir ka-- " Seketika, ucapan itu Wana tahan. Karena dia sadar akan apa yang telah ia katakan. Wajahnya pun sedikit berubah.
"Ah, maaf. Biar aku yang membukanya."
"Iya .... " Sinta menyodorkan ponsel itu kembali.
Wana menerimanya dengan perasaan tidak nyaman. Sungguh, bukan dia ingin menyembunyikan sesuatu dari Sinta. Tidak terniat sedikitpun. Hanya saja, kode sandi ponselnya adalah tanggal lahir Sinta.
Tentu saja Wana tidak ingin Sinta tahu semaniak apa dirinya ini. Seberat apa perasaannya pada Sinta. Sudah jelas, Wana ingin menyembunyikan hal itu sekarang. Karena dia tidak ingin Sinta berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
"Baiklah. Sudah aku buka," ucap Wana sambil menyodorkan kembali ponsel itu ke tangan Sinta.
Sinta menerimanya. Jujur, dia ingin bilang kalau biar Wana saja yang menyalin nomor tersebut. Namun, tiba-tiba dia merasa tidak enak hati untuk mengatakan hal tersebut. Akhirnya, dia terima.
Keduanya pun kini selesai bertukaran nomor kontak. Wana menyimpan nomor itu dengan nama khas yang unik. Panggilan sayang untuk orang yang memang iya sayangi.
Sudut bibirnya sedikit terangkat untuk mengukir senyum tipis. Senyum singkat hanya dengan melihat nama Sinta yang ada di layar ponsel miliknya.
Setelah semuanya dianggap selesai, keduanya memilih untuk meninggalkan ruang VIP tersebut. Namun sebelum mereka benar-benar beranjak dari ruang tersebut, Wana sempat menanyakan, bahkan menawarkan diri untuk mengantar Sinta pulang. Namun, Sinta menolaknya secara halus.
"Ah, hm ... pak Ahmad sudah menunggu aku di luar, Kak. Hari ini, aku pulang bareng pak Ahmad saja. Mungkin, lain kali kamu bisa jemput aku jika kita ingin bertemu lagi seperti hari ini."
Ucapan Sinta tiba-tiba menarik semu keluar di pipi Wana. Sayang, Sinta tidak bisa melihatnya. Karena semu yang muncul, langsung tertutup oleh topeng yang Wana kenakan.
"Iya ... lain kali, mungkin kita bisa atur waktu lagi buat makan di luar," ucap Wana pelan. Namun, dari ucapan yang ia lepaskan, ada harapan yang hanya dia sendiri yang bisa merasakannya.
"Hm. Bisa. Aku siap menunggu kabar," ucap Sinta sambil tersenyum kecil. Senyum yang sangat manis di mata Wana. Seperti biasa, senyum itu selalu mampu membuat jantung Wana tidak baik-baik saja.
Lalu akhirnya, mereka berdua benar-benar berpisah. Sinta beranjak duluan. Wana terus berdiri sambil memperhatikan setiap langkah sang pujaan hati yang beranjak semakin menjauh meninggalkan dirinya.
Wana terus memperhatikan punggung itu tanpa berkedip. Sampai-sampai, kehadiran Danu saja tidak ia sadari sangking fokusnya Wana dengan apa yang matanya lihat.
"Dia hampir tidak terlihat lagi, tuan muda. Jadi, jangan terus mematung di sini. Ayo pergi."
Kata-kata itu langsung menyadarkan Wana akan apa yang sedang ia lakukan. Sontak, Wana langsung melihat Danu dengan tatapan tajam karena kesal. Sejujurnya, bukan kata-kata yang Danu ucapkan yang membuat Wana melontarkan tatapan tajam. Melainkan, karena dia agak malu akibat ketahuan sedang memperhatikan Sinta tanpa berkedip. Bahkan, lupa akan dunia disekitarnya.
"Jangan banyak bicara. Kamu gak sayang bonus bulanan mu, Danu?"
"Ah, tuan muda. Jangan tega padaku. Aku sangat sayang pada bonus itu. Jangan korbankan bonus bulanan ku, Tuan muda."
"Akan aku lenyap kan jika kamu terlalu banyak bicara. Sekarang, ayo pulang. Aku ingin istirahat."
"Istirahat, atau memikirkan ulang apa yang telah tuan muda lewati hari ini?" Goda Danu semakin menjadi-jadi.
"Danu ... sudah tidak sayang bonus bulanan kamu lagi?"
"Iya, tuan muda. Iya. Ayo kita pulang." Lalu pria itu membuat gerakan kecil seolah dia sedang menarik resleting di bibirnya. "Tidak akan banyak bicara lagi, tuan muda. Percayalah. Tapi, aku tidak janji."
"Terserah kamu saja. Yang jelas, jika kamu banyak bicara, bonus bulanan mu yang akan jadi taruhannya."
"Tuan muda .... "
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️