"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Sang Arsitek Pengkhianat
Setelah insiden pelabrakan memalukan yang dilakukan Raya di gudang, suasana di rumah tangga Setya semakin mirip dengan neraka. Setya tidak lagi bicara pada Raya. Setiap kali ia pulang dengan punggung yang terasa mau patah dan bau keringat yang tajam, yang ia dapati hanyalah omelan atau isak tangis Raya yang merasa dihinakan oleh Arumi.
Raya tidak sadar, bahwa yang paling terhina di sini adalah Setya—pria yang setiap hari harus melihat mantan istrinya duduk di singgasana kesuksesan sementara ia memanggul karung di bawahnya.
Namun, kejutan dari langit belum berakhir. Seminggu setelah Raya membuat keributan, sebuah mobil taksi berhenti di depan gerbang Gudang Berkah Arumi.
Seorang wanita turun dengan langkah gontai. Penampilannya sangat jauh berbeda dengan sosok Sarah yang beberapa bulan lalu terlihat mentereng dengan perhiasan emas di pergelangan tangannya.
Kini, Sarah tampak kurus kering. Wajahnya pucat, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam, dan pakaiannya tampak kusam seolah tidak pernah disetrika.
Sarah berdiri mematung menatap papan nama gudang milik Arumi. Air matanya jatuh tanpa permisi. Dengan keberanian yang tersisa, ia melangkah masuk, melewati barisan truk yang sedang bongkar muat.
Setya, yang saat itu sedang beristirahat di pojok gudang sambil meminum air dari botol plastik bekas, tersedak saat melihat sosok kakak sepupunya itu. "Mbak ... Mbak Sarah?"
Sarah menoleh. Ia melihat Setya yang kucel, memakai seragam kuli, dan berbau bawang. Sarah hanya bisa menutup mulutnya, tak sanggup berkata-kata melihat adik sepupu kebanggaannya jatuh sehina itu. Sarah tidak berhenti untuk Setya. Tujuannya adalah ruangan di lantai atas.
Arumi sedang memeriksa laporan keuangan saat pintu ruangannya diketuk. Kak Nia masuk dengan wajah yang sulit diartikan.
"Ada Sarah di bawah, Rum. Dia mau ketemu kamu. Katanya ... dia mau minta maaf," bisik Nia.
Arumi meletakkan pulpennya. Ia tidak terkejut. "Suruh dia masuk, Kak. Tapi jangan beri dia kursi dulu sebelum aku yang memintanya."
Sarah masuk dengan tubuh gemetar. Saat melihat Arumi yang duduk dengan anggun di balik meja kerja yang mewah, Sarah seketika ambruk. Ia bersimpuh di lantai, memegang kaki meja kerja Arumi sambil terisak hebat.
"Arumi ... tolong Mbak, Rum ... Maafkan Mbak..." rintih Sarah. suaranya parau, pecah karena keputusasaan yang amat sangat.
Arumi tetap tenang. Ia tidak beranjak dari kursinya, tidak pula berusaha membangunkan Sarah. Ia hanya menatap wanita itu dari atas dengan tatapan dingin, sedingin es di kutub utara.
"Minta maaf untuk apa, Mbak Sarah? Untuk pernikahan siri Setya yang Mbak fasilitasi di rumah Mbak? Atau untuk tawa Mbak saat menghina daster dan bau bawangku di dapur waktu itu?" suara Arumi datar, setiap katanya seperti sembilu yang menyayat harga diri Sarah.
"Mbak sudah kena karmanya, Rum! Mas Bambang ... dia benar-benar pergi. Dia membawa semua sertifikat rumah, membawa mobil, dan semua tabungan kami untuk wanita itu. Mbak sekarang diusir dari rumah sendiri, Rum! Anak-anak Mbak malu, mereka tidak mau sekolah karena ayahnya jadi buron karena membawa kabur uang kantor juga," Sarah meraung, kepalanya tertunduk hingga menyentuh lantai.
"Tante Ratna juga sudah tidak ada ... Mbak tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar."
Arumi menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menarik napas panjang, menikmati aroma pengharum ruangan yang mahal di kantornya—kontras dengan aroma kepedihan yang dibawa Sarah.
"Gimana, Mbak Sarah? Sekarang tahu kan rasanya?" tanya Arumi pelan, penuh penekanan.
"Tahu rasanya melihat suami yang kita layani dengan tulus, tiba-tiba memuja wanita lain yang lebih muda? Tahu rasanya dikhianati oleh orang yang kita anggap keluarga sendiri?"
Sarah hanya bisa menggeleng dalam tangisnya. "Mbak khilaf, Rum ... Mbak tergiur janji Setya yang bilang akan memberi Mbak bagian kalau dia sudah sukses dengan Raya. Mbak bodoh!"
"Memang," sahut Arumi tajam. "Mbak bukan hanya bodoh, tapi Mbak jahat. Mbak lupa bahwa rezeki Setya itu tertitip lewat tanganku. Saat Mbak membantu Setya membuangku, Mbak sebenarnya sedang membantu Setya membuang keberuntungannya sendiri. Dan sekarang, Mbak ikut terseret ke dalam lubang yang Mbak gali untukku."
Arumi bangkit, berjalan mendekati Sarah yang masih bersimpuh. Ia berjongkok di depan wanita itu, membuat Sarah terpaksa menatap mata Arumi yang kini berkilat tegas.
"Mbak datang ke sini mau apa? Mau minta uang? Atau mau minta pekerjaan?"
"Mbak ... Mbak butuh tempat tinggal, Rum. Dan Mbak butuh uang buat bayar tunggakan sekolah anak-anak. Tolonglah, Mbak mohon..."
Arumi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Aku akan membantu Mbak. Bukan karena aku masih menganggapmu saudara, tapi karena aku ingin Mbak tetap hidup untuk menyaksikan setiap babak keberhasilanku ke depan. Aku ingin Mbak melihat bagaimana wanita bau bawang ini tumbuh tanpa beban sampah seperti kalian."
Arumi mengeluarkan selembar cek dari laci mejanya, menuliskan sejumlah angka yang cukup untuk melunasi hutang sekolah anak-anak Sarah. Ia melemparkan cek itu ke lantai, tepat di depan wajah Sarah.
"Ambil itu. Itu gaji dari rasa sakit hatiku yang sedikit kuberikan padamu. Tapi jangan harap Mbak bisa masuk lagi ke rumah Ibu Aminah atau ke hidupku. Setelah ini, Mbak harus bekerja. Aku punya kenalan yang butuh tenaga cuci piring di warung makan pinggir jalan. Silakan datang ke sana, atau Mbak akan kelaparan di jalanan."
Sarah mengambil cek itu dengan tangan gemetar. Ia merasa sangat terhina, tapi ia tidak punya pilihan. Perutnya dan perut anak-anaknya lebih penting daripada harga dirinya yang sudah hancur.
"Terima kasih, Rum ... terima kasih..."
"Keluar sekarang. Aku ada rapat dengan investor," usir Arumi dingin.
Sarah keluar dari ruangan itu dengan langkah lunglai. Di bawah, ia berpapasan dengan Setya yang sedang mengangkat karung beras. Mereka saling pandang. Dua orang yang dulu berkomplot untuk membuang Arumi, kini bertemu dalam kondisi yang sama-sama hancur di tempat usaha Arumi. Setya hanya bisa memalingkan wajah, tidak sanggup melihat kemalangan Sarah yang merupakan cerminan dari kesialannya sendiri.
Arumi berdiri di balkon kantornya, melihat Sarah yang menjauh dan Setya yang kembali memanggul beban. Ia memegang dadanya yang kini terasa lebih lapang.
"Ini baru dua orang, Ya Allah," gumam Arumi.
"Masih ada Raya yang belum benar-benar merasakan puncaknya."
Arumi tahu, Raya sedang gelisah. Dan kegelisahan wanita yang terobsesi pada harta seperti Raya akan segera membuahkan tindakan konyol lainnya.