Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lencana Perak Dan Anggota Baru.
Lin Tian berjalan sedikit cepat setelah keluar dari markas, melewati lorong-lorong yang sudah ia hafal dari peta. Meskipun bukan jalan utama, lorong di sini tetap terlihat seperti jalan utama kota kecil berkat lampion-lampion yang menggantung di setiap sudut dan pedagang yang mulai berjualan.
Setelah berjalan sekitar satu jam dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat namun tidak terlalu lambat, ia akhirnya sampai di sebuah kediaman besar di wilayah barat laut kota.
Di depan pintu kediaman itu, Jiyue sudah berdiri menunggu. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi masam, seolah ia sudah menunggu sejak pagi dan tidak sabar untuk segera menyelesaikan urusan ini.
Lin Tian berbicara tanpa basa-basi, "Aku tidak punya banyak waktu. Mari kita selesaikan ini secepat mungkin."
Jiyue hanya mengangguk. "Ikuti aku."
Lin Tian mengikuti Jiyue masuk ke dalam kediaman. Mereka melewati halaman depan yang cukup luas dengan kolam ikan dan taman kecil, kemudian masuk ke sebuah ruang keluarga besar di bagian tengah. Di ruangan itu, seluruh keluarga Ji sudah berkumpul.
Ayah Jiyue, Ji Chang, duduk di kursi utama dengan wajah serius. Ibunda Jiyue, seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut dan rambut disanggul rapi, baru pertama kali melihat Lin Tian. Ia mengangguk ramah sambil tersenyum tipis. Kakek Jiyue dan paman Jiyue juga duduk tidak jauh dari sana, keduanya menatap Lin Tian dengan tatapan yang sulit diartikan.
---
Sementara itu di markas Faksi Kebenaran, suasana di halaman latihan cukup ramai. Mu Wan berdiri di samping para anggota pasukannya yang sedang berlatih dengan tekun. Ia mengamati gerakan mereka satu per satu, sesekali memberikan koreksi kecil atau sekadar mengangguk puas.
Waktu berlalu hingga matahari berada tepat di atas kepala. Tanda bahwa siang telah tiba.
Para anggota pasukan berhenti berlatih lalu beristirahat di bawah pohon-pohon rindang di tepi halaman. Beberapa dari mereka mengeluarkan bekal makanan dari cincin penyimpanan masing-masing, sementara yang lain hanya duduk sambil memulihkan energi.
Zhuxuan muncul dari balik pintu utama lalu berjalan mendekati Mu Wan. Di tangannya, ia membawa dua buah lencana perak berkilauan dengan ukiran pedang dan timbangan. Lencana itu sudah disahkan oleh para dewan faksi, sehingga status Lin Tian dan Mu Wan sebagai Komandan Perak dan Wakil Komandan Perak sudah resmi dan tidak bisa diganggu gugat.
Mu Wan menangkupkan tangannya saat Zhuxuan mendekat. "Komandan Zhuxuan."
Zhuxuan mengangguk lalu menyerahkan kedua lencana itu pada Mu Wan. "Ini lencana untukmu dan untuk Lin Tian. Keduanya sudah disahkan. Mulai hari ini, status kalian resmi."
Mu Wan menerima lencana itu dengan hati-hati lalu mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Komandan. Saya akan menyampaikan ini pada Komandan Lin begitu ia kembali."
Zhuxuan mengangguk.
Mu Wan yang sejak pagi tidak melihat Lin Tian pun bertanya. "Di mana Komandan Lin sekarang? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi."
Zhuxuan menjawab, "Komandan Lin sedang berkunjung ke kediaman keluarga Ji. Ada urusan pribadi yang harus diselesaikan."
Mu Wan tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menghela napas lalu menyimpan kedua lencana itu di dalam cincin penyimpanannya.
---
Kembali ke kediaman keluarga Ji.
Lin Tian keluar dari ruang keluarga sambil memijat pelipisnya dengan jari telunjuk dan jari tengah. Ia menghela napas panjang, sangat panjang. Kesalahpahaman dengan keluarga Ji akhirnya tuntas setelah hampir dua jam berdebat, menjelaskan, dan mendengarkan ceramah dari kakek Jiyue tentang tanggung jawab seorang pria. Ia akhirnya terlepas dari wanita gila itu.
Lin Tian berjalan menuju halaman depan untuk keluar, tetapi di sana seorang pria berpakaian hijau berdiri dengan senyum lebar. Pria itu tinggi, dengan rambut disisir rapi, dan tingkat kultivasinya berada di Inti Emas. Dari wajahnya, ia terlihat mirip dengan paman Jiyue, sehingga Lin Tian langsung bisa menebak bahwa ini adalah sepupu Jiyue yang disebut-sebut oleh kakek Jiyue saat berbincang tadi.
Sebagai syarat untuk melupakan masalah ini, Lin Tian diminta untuk membawa sepupu Jiyue bergabung menjadi anggota pasukannya. Alasannya sederhana: keluarga Ji ingin agar sepupu Jiyue mendapatkan pengalaman di dunia nyata, bukan hanya berlatih di dalam rumah.
Pria itu menangkupkan kedua tangannya dengan penuh semangat. "Salam, Komandan! Saya Ji Gong, sepupu dari Jiyue. Senang berkenalan dengan anda!"
Lin Tian hanya mengangguk datar. "Baiklah. Ayo kita pergi ke markas sekarang. Aku akan memberitahu wakil-ku untuk menambahkan namamu di daftar anggota. Tapi itu pun jika atasan kami menyetujui. Karena aku tidak punya wewenang penuh untuk merekrut sembarangan."
Ji Gong mengangguk dengan antusias. "Siap, Komandan!"
Mereka berdua kemudian berjalan meninggalkan kediaman keluarga Ji. Di sepanjang perjalanan menuju markas, tanpa diminta, Ji Gong menjelaskan banyak hal tentang kota Cifu dari yang dia tau. Dia berbicara tentang empat sekte besar yang menguasai wilayah ini, tentang para kultivator terkenal yang lahir di kota ini, dan tentang berbagai tempat menarik yang bisa dikunjungi.
Lin Tian mendengarkan dengan setengah hati, namun satu pertanyaan muncul di pikirannya. "Ji Gong, kau tahu di mana tempat yang bisa memberikan informasi akurat? Maksudku, informasi tentang seseorang."
Ji Gong mengerutkan kening lalu menjawab. "Ada beberapa tempat, Komandan. Tapi semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit." ia berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Ada sebuah paviliun di timur kota yang khusus menangani jasa pencarian informasi. Mereka memiliki jaringan luas hingga ke berbagai benua. Tapi tarifnya mahal. Ada juga toko buku tua di selatan kota yang menyimpan banyak catatan sejarah. Itu lebih murah, tapi informasinya tidak selalu lengkap. Yang pasti, jika mereka gagal memberikan informasi yang pelanggan butuhkan... pembayaran akan dikembalikan."
Lin Tian manggut-manggut sambil berpikir. Ia mungkin akan mencari informasi tentang ayahnya saat ia sudah mampu membayar. Tapi ia sama sekali tidak tahu berapa gaji seorang komandan perak. Mungkin nanti setelah sampai di markas, ia bisa bertanya pada Mu Wan.
Mereka terus berjalan.
Selah berjalan sekitar dua jam dengan kecepatan santai... mereka akhirnya sampai di markas Faksi Kebenaran. Di halaman depan, Mu Wan sudah berdiri menunggu.
Lin Tian segera menghampiri Mu Wan. Setelah sampai ia bertanya. "Apa ada kejadian penting selama aku pergi?"
Mu Wan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung maju selangkah, lalu memasangkan lencana perak di dada kanan Lin Tian dengan gerakan yang rapi dan cepat.
Lin Tian melihat lencana itu sebentar lalu mengangguk puas. "Terima kasih, Mu Wan. Ini terlihat bagus."
Mu Wan tersenyum lalu mengeluarkan selembar kertas dari cincin penyimpanannya. Kertas itu berisi catatan tentang upah komandan perak dan wakilnya.
"Komandan, upah kita adalah lima ribu batu roh tingkat menengah per bulan. Tapi dengan satu catatan. Kita harus melakukan tugas minimal satu kali dalam sebulan. Jika tidak, gaji kita akan dipotong setengah."
Lin Tian mengangguk. Itu jumlah yang cukup besar untuk ukuran seseorang yang sebelumnya hanya memiliki beberapa puluh batu roh rendah.
Mu Wan kemudian menunjuk ke sebuah nama tambahan di bagian bawah daftar anggota. "Oh, satu lagi. Ada anggota baru kita ditingkat Perunggu, yang bergabung tadi. Namanya Bogar. Dia juga dari wilayah barat, sama seperti Bha Lung."
Lin Tian merasa asing dengan nama Bogar. Tapi karena orang itu berasal dari wilayah barat, ia bisa memaklumi bahwa nama di sana memang terdengar berbeda dari nama-nama di wilayah selatan atau timur.
"Wakil Mu Wan, tolong masukkan satu nama lagi ke dalam daftar," ucap Lin Tian sambil menunjuk ke arah Ji Gong yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh semangat.
Ji Gong segera memperkenalkan diri pada Mu Wan. "Salam Wakil Komandan! Saya Ji Gong, sepupu dari Jiyue. Saya akan bekerja keras!"
Mu Wan mengangguk lalu mencatat nama Ji Gong di dalam gulungan daftar anggota tanpa banyak komentar.
"Wakil Mu Wan, bisakah kau memanggil anggota baru itu?" pinta Lin Tian. "Aku ingin melihat bagaimana orangnya."
Mu Wan mengangguk lalu berteriak ke arah barak anggota di belakang halaman.
"Bogar! Kemari!"
Beberapa saat kemudian, seorang pria berlari kecil keluar dari barak. Penampilannya sedikit pendek dari pria dewasa lainnya, dengan rambut disisir rapi ke samping dan senyum lebar yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Ia langsung berhenti di depan Lin Tian lalu menangkupkan kedua tangannya dengan penuh semangat.
"Salam Komandan! Saya Bogar, dari wilayah barat! Saya sangat senang bisa bergabung dengan pasukan komandan! Saya akan membunuh seratus makhluk kegelapan dalam sehari! Seribu...? Tidak mungkin!"
Lin Tian tertegun, merasa agak aneh mendengar semangat Bogar yang berapi-api seperti itu. Tapi ia tetap mengangguk sopan.
"Baik. Selamat bergabung."
Ji Gong yang sejak tadi berdiri di samping Lin Tian langsung mendekati Bogar.
"Hei! Aku Ji Gong! Kita sama-sama anggota baru di sini! Ayo kita berteman!"
Bogar menepuk pundak Ji Gong dengan keras. "Tentu! Aku suka orang yang antusias! Nanti malam kita minum-minum, ya!"
Ji Gong tertawa. "Setuju!"
Lin Tian yang melihat interaksi antara kedua pria dewasa yang bertingkah seperti anak kecil itu merasa stres maksimal. Ia memijat pelipisnya lagi, lalu menghela napas. Pasukannya belum pernah bertugas, tapi sudah diisi oleh orang-orang yang tingkahnya aneh semua.
Mu Wan yang melihat ekspresi Lin Tian terkekeh pelan. Ia kemudian berpamitan pada Lin Tian untuk mengurus administrasi, lalu pergi meninggalkan ketiga pria itu di halaman.
Lin Tian hanya bisa berdiri diam, menatap Ji Gong dan Bogar yang sudah asyik berbincang seolah mereka sudah berteman sejak kecil. Di kejauhan, Bha Lung yang sedang berlatih di sudut halaman tiba-tiba mengeluarkan suara.
PRUT!
Bau tidak sedap langsung menyebar ke seluruh area. Beberapa anggota lain terbatuk-batuk sambil lari menjauh.
Lin Tian memejamkan matanya. "Ini... ini semua adalah pasukanku."
Ia kemudian membuka mata lalu berteriak ke arah semua anggota. "Dari sekarang... siapapun itu... setiap kali kentut kalian harus lari keliling halaman sepuluh kali! Itu perintah!!!"
Bha Lung langsung berlari sambil tertawa. Ji Gong dan Bogar ikut berlari meskipun mereka tidak kentut. Anggota lain yang tidak bersalah juga ikut berlari karena tidak mau dianggap melanggar perintah.
Di balik jendela ruang komandannya, Zhuxuan tertawa kecil melihat pemandangan di halaman. "Anak muda ini... mungkin akan stres sepertiku dulu."