Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIXTEEN
Sementara itu, di bagian lain kota, suasana di kediaman keluarga Gauta berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Rumah mewah yang gerbangnya roboh dan pintunya hancur itu kini tampak merana. Di dalam kamar utama, Yuhana dan Tantowi baru saja kembali dari rumah sakit swasta setelah mendapatkan perawatan intensif untuk luka-luka yang diakibatkan oleh Dayaksa beberapa jam yang lalu.
Yuhana duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan wajahnya di cermin dengan air mata yang terus mengalir. Pipi kanannya kini ditutupi oleh perban putih besar akibat sayatan pisau Aksa. Setiap kali ia menggerakkan bibirnya, rasa perih yang luar biasa langsung menjalar.
"Dasar gila! Tuan Muda Herlos itu memang stres! Dia psikopat!" jerit Yuhana histeris, namun segera meringis kesakitan. "Aww... sakit, Sayang! Perih sekali! Lihat wajahku, wajahku cacat karena bajingan itu!" protesnya kepada Tantowi yang sedang duduk di tepi ranjang dengan tangan kiri yang dibalut gips dan perban tebal karena telapak tangannya sempat ditembus pisau.
Tantowi mendengus kasar, wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak kusam dan dipenuhi gurat penuaan yang tiba-tiba muncul. "Iya, aku tahu! Memangnya kau pikir aku tidak sakit?! Telapak tanganku hampir lumpuh karena ditusuk sampai menembus lantai! Aku tak menyangka, Tuan Muda Dayaksa lebih mirip seperti psikopat!" bentak Tantowi, meluapkan rasa frustrasinya yang tidak tahu harus ditumpahkan ke mana.
Tantowi bangkit dengan susah payah, berjalan mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu. "Entah apa yang dilakukan Della di rumah itu... Bagaimana bisa jalang kecil itu mengendalikan Aksa dan membuatnya menjadi seperti anjing penurut? Setiap kali Aksa mengamuk, dia hanya mendengarkan ucapan Della! Kita tidak akan bisa melakukan apa pun kepada Tuan Muda itu jika Della ada di sampingnya."
BRAKK!
Tantowi memukul meja dengan tangan kanannya yang sehat. "Sepertinya aku salah menikahkan Della dengan Dayaksa! Aku kira dengan mengirim Della ke sana, Aksa akan menyiksanya sampai mati atau membuatnya semakin gila. Tapi sekarang? Della cukup pintar memanfaatkan penyakit gila Aksa untuk menindas keluarga kita! Lihat apa yang terjadi tadi pagi? Itu adalah peringatan! sekarang kita tidak boleh bertindak gegabah."
Di sudut kamar, Adryan duduk di kursi sofa kulit sambil melipat kedua tangannya. Wajahnya tampak datar, namun di dalam hatinya, ada rasa muak yang mulai bergejolak melihat drama keluarga ini. Di sampingnya, Ratu berdiri dengan wajah merah padam karena amarah, matanya terus menatap kedua orang tuanya yang meratap.
"Tante... Om... Sudah lah, jangan dipikirkan lagi kejadian semalam," kata Adryan dengan nada suara yang berusaha ditenangkan. "Sekarang yang paling penting adalah kalian berdua istirahat total agar luka-luka itu bisa lekas sembuh. Masalah gerbang dan pintu, biar saya yang menyuruh orang untuk memperbaikinya hari ini."
Mendengar ucapan Adryan yang dinilai terlalu santai, Ratu langsung berbalik dan menunjuk wajah kekasihnya itu dengan jari telunjuknya yang bergetar. "Kamu gimana sih, Adryan! Lihatlah apa yang dilakukan oleh orang gila itu kepada kedua orang tuaku! Wajah ibuku disayat sampai cacat, tangan ayahku ditusuk! Dan kamu... kamu hanya bisa menyuruh orang tuaku untuk istirahat! Di mana otakmu?" protes Ratu dengan suara melengking.
Adryan menghela napas panjang, ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Lalu aku harus bagaimana, Ratu? Hah? Kamu mau aku datang ke mansion Herlos dan menantang Dayaksa? Balas dendam?"
Adryan bangkit dari sofa, menatap Ratu dengan pandangan mata yang tajam dan dingin. "Tidak... tidak, terima kasih. Aku masih waras! Aku tidak mau berakhir babak belur atau mati konyol seperti kedua orang tuamu hanya karena meladeni orang yang bisa mengendalikan seluruh kekuasaan di kota ini! Kamu harus berpikir realistis!"
"Ighh! Kamu memang tidak sayang lagi kepadaku!" Ratu menghentakkan kakinya ke lantai, air matanya mulai tumpah karena merasa tidak dibela. "Kamu selalu membiarkan Della menang! Kamu takut pada suaminya, kan?!"
Adryan terkekeh sinis, sebuah tawa yang meremehkan. "Memangnya kamu mau menjadi janda bahkan sebelum kita resmi menikah? Kamu ingin aku menyetor nyawa dengan gratis ke tangan Dayaksa Herlos? Asal kamu tahu, pria itu tidak menggunakan hukum manusia saat marah. Dia menggunakan pisau!"
Ratu terdiam sejenak, wajahnya berkerut antara kesal dan ketakutan setelah membayangkan kembali tatapan mata Aksa yang merah semalam. "Ya... tidak juga, Sayang. Maaf..." gumamnya dengan nada yang melembut, mencoba meraih lengan Adryan.
"Ah, sudahlah! Kamu selalu begitu, Ratu. Tidak pernah berpikir dengan matang sebelum bicara. Selalu mengandalkan emosi dan gengsi!" Adryan menepis tangan Ratu dengan kasar. Ia merapikan jaketnya dan mengambil kunci mobil dari atas meja. "Lebih baik aku pulang saja! Kepalaku mau pecah mendengar keributan di rumah ini!"
Adryan berpura-pura kesal dengan menunjukkan gurat wajah yang mengeras, padahal di dalam hatinya, ini adalah alasan terbaiknya untuk pergi dari lingkaran racun keluarga Gauta.
"Sayang, jangan gitu... Aku minta maaf, jangan pergi dulu," kejar Ratu hingga ke ambang pintu kamar, namun Adryan tidak menoleh sedikit pun. Ia terus melangkah menuruni tangga rumah yang berantakan, mengabaikan panggilan Ratu yang merengek di belakangnya.
Begitu sampai di halaman depan, Adryan melewati reruntuhan gerbang besi yang hancur akibat ditabrak mobil Aksa semalam. Ia masuk ke dalam mobil sedan mewahnya dan membanting pintunya dengan keras.
KLIK.
Ia menyalakan mesin mobil, namun tidak segera menjalankan kendaraannya. Adryan menyandarkan kepalanya ke jok, menatap spion tengah yang memperlihatkan rumah keluarga Gauta yang kini tampak seperti istana yang kehilangan kejayaannya. Ia baru menyadari satu hal yang sangat krusial pagi ini, keluarga Gauta terlalu banyak masalah. Mereka selalu membuat keributan atas hal-hal yang tidak penting, penuh dengan keserakahan, dan sekarang mereka memicu kemarahan orang yang salah.
Pikiran Adryan mendadak melayang pada sosok Della. Gadis yang dulu selalu ia remehkan, gadis yang dikurung di rumah sakit jiwa selama lima tahun tanpa ada yang peduli. Namun kini, Della berdiri di puncak sebagai Nyonya Muda Herlos, dilindungi oleh seorang pria yang siap membakar dunia demi dirinya.
"Seharusnya aku dulu melindungi Della sebaik mungkin..." gumam Adryan dengan penyesalan yang mendalam merayap di dadanya. Seandainya dulu ia tidak berpaling kepada Ratu demi harta dan status, seandainya dulu ia menarik Della dari kegelapan rumah sakit jiwa itu, mungkin sekarang dialah yang berada di posisi terhormat itu.
Adryan mencengkeram setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa masih ada harapan untukku... untuk merebut Della kembali dari tangan si gila Dayaksa?"
Sebuah ambisi hitam yang baru mulai tumbuh di dalam kepala Adryan. Rasa ego sebagai seorang pria terusik saat melihat wanita yang pernah memujanya kini dimiliki oleh pria lain yang jauh lebih berkuasa. Dengan senyum miring yang penuh rencana licik, Adryan mulai menginjak pedal gas, memacu mobilnya meninggalkan kediaman Gauta yang hancur, tanpa tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil setelah ini justru akan membawanya semakin dekat ke dalam jurang maut yang telah menunggunya sejak lama.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua