Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Bayang di Lembah Brantas
Pagi di lembah Brantas selalu datang lebih dulu daripada suara manusia.
Kabut masih menggantung rendah di atas pematang sawah ketika ayam-ayam jantan mulai saling sahut dari kejauhan. Embun menempel di ujung daun padi, memantulkan cahaya tipis matahari yang baru naik dari balik bukit. Dari arah barat, aliran Brantas mengalun tenang, menyapu batu-batu kecil di tepinya dengan suara yang hampir tak terdengar. Bagi orang luar, tempat itu mungkin tampak seperti desa kecil biasa, sekumpulan rumah kayu beratap ilalang yang berdiri di antara kebun singkong, rumpun bambu, dan jalur tanah yang bercabang ke sawah. Tetapi bagi orang-orang yang tinggal di sana, pagi seperti itu adalah pertanda bahwa hari akan berjalan seperti biasa. Dan bagi Wira, hari biasa adalah sesuatu yang paling ia hargai.
Ia belum tahu bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir dari hidupnya yang lama.
Wira baru saja selesai menimba air dari sumur ketika Panca datang dari arah timur dengan napas terengah. Sahabatnya itu lebih kurus, lebih pendek sedikit, dan selalu tampak seperti orang yang baru selesai berlari dari sesuatu yang tak terlihat. Rambutnya acak-acakan, kain bajunya penuh debu, dan di tangan kirinya tergenggam seikat daun muda yang baru ia petik dari kebun.
“Wira!” panggilnya sambil melambai. “Kau masih di rumah?”
Wira meletakkan ember di tanah. “Kalau tidak di rumah, aku di mana?”
“Di sungai, mungkin. Atau di kebun belakang. Aku pikir kau sudah kabur ikut anak-anak kecil yang main perang-perangan.”
Wira mendengus pelan. “Aku tidak sepayah itu.”
Panca tertawa kecil, lalu mencondongkan badan seperti hendak membocorkan rahasia besar. “Ada orang asing di jalan pasar.”
Wira mengernyit. “Pedagang?”
“Bukan. Terlalu diam. Kuda mereka bagus. Pakaian mereka rapi. Dan mereka bertanya soal jalan ke bukit utara.”
Kalimat itu membuat Wira berhenti sejenak. Jalan ke bukit utara memang ada, tetapi jarang dipakai orang desa. Hanya pemburu, penggembala kambing, atau orang yang hendak memotong jalan ke dusun lain yang lewat sana. Kalau rombongan asing menanyakannya, pasti ada alasan.
“Berapa orang?”
“Empat. Mungkin lebih. Aku cuma lihat dari jauh.”
Wira hendak bertanya lagi, tetapi suara ibunya memanggil dari dalam rumah kayu di belakangnya. Ia menoleh. Perempuan itu berdiri di ambang pintu, kain selendang menempel di bahunya, wajahnya tenang seperti biasa. Namun matanya tidak setenang wajahnya. Ada sesuatu di sana yang membuat Wira berhenti mengerutkan dahi. Ibunya tidak banyak bicara, tetapi kalau ia memanggil dengan nada seperti itu, biasanya ada pekerjaan atau peringatan.
“Wira,” kata ibunya. “Masuk sebentar.”
Wira mendekat. “Ada apa?”
Ibunya mengamati wajahnya sebentar, lalu menatap Panca. “Kau juga di sini.”
Panca cepat menegakkan badan. “Iya, bibi.”
“Jangan ke hutan hari ini.”
Wira terdiam. “Kenapa?”
“Jangan banyak tanya. Lakukan saja.”
Nada suara itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Wira dan Panca saling pandang. Panca mengangkat alis seolah mengatakan bahwa ia sudah menduga ada sesuatu yang tidak biasa. Wira hendak membalas, tetapi ibunya sudah lebih dulu berbalik masuk ke rumah, meninggalkan pertanyaan menggantung di udara pagi.
“Kalau ibumu bilang jangan ke hutan, berarti ada sesuatu,” gumam Panca.
Wira mengangkat bahu. “Mungkin cuma takut kita jatuh dari tebing lagi.”
“Kau bilang begitu karena pernah jatuh.”
“Dan kau tertawa waktu itu.”
“Aku tertawa karena kau terjun seperti kerbau.”
Wira hendak menyikut bahu Panca, tetapi suara derap kaki kuda membuat mereka berdua menoleh serempak.
Dari ujung jalan tanah yang menuju pasar, sebuah rombongan kuda muncul perlahan dari balik tikungan. Debu naik di bawah telapak kaki hewan-hewan itu. Empat orang tampak duduk tegak di punggung kuda, semuanya memakai pakaian gelap yang rapi. Bukan pakaian pedagang, bukan pula pakaian petani atau pengembara. Yang paling depan adalah seorang lelaki tua bertubuh besar, dengan sorot mata tajam dan wajah yang tidak ramah. Di belakangnya, dua orang membawa tombak pendek. Yang keempat memegang gulungan kain yang tampak dijaga hati-hati di dada.
Wira langsung merasakan sesuatu berubah di perutnya.
Rombongan itu berhenti di depan balai bambu kecil yang biasa dipakai untuk rapat desa. Beberapa warga yang sedang membawa hasil kebun langsung menyingkir. Anak-anak berhenti berlari. Ayam berhamburan ke pinggir jalan. Lurah desa keluar dari rumahnya dengan langkah tergesa, wajahnya jelas canggung. Ia menunduk cepat, lalu memberi hormat yang terlalu kaku.
Lelaki tua di atas kuda tidak segera berbicara. Ia menatap sekeliling dengan pandangan yang seperti sedang mengukur sesuatu. Dari rumah ke rumah, dari pohon ke pohon, dari orang ke orang. Sampai akhirnya matanya berhenti ke arah rumah Wira.
Wira merasakan tengkuknya dingin.
Lelaki itu turun dari kuda dengan gerak mantap. Ia tidak tergesa, tidak panik, dan justru karena itulah ia terasa berbahaya. Kain gelap yang menutup tubuhnya bersih dari debu. Tombak pendek di tangan salah satu pengawalnya masih mengarah ke bawah, tetapi siap diangkat kapan saja. Suasana desa yang tadi tenang seketika menegang.
Lurah desa menelan ludah. “Ada yang bisa kami bantu, Tuan?”
Lelaki tua itu mengeluarkan lembar kain yang telah dilipat rapi. Saat dibuka sedikit, tampak gambar tanda asing di permukaannya—garis yang bertemu di satu titik, melengkung seperti sayap, atau mungkin tanduk. Wira tidak mengenal lambang itu, tetapi ada sesuatu pada bentuknya yang terasa ganjil. Seperti bayangan benda yang pernah ia lihat dalam mimpi, atau pada peti kayu tua di rumah ibunya, walau ia tidak yakin.
“Kami mencari seseorang,” kata lelaki itu.
“Siapa?”
Lelaki itu menatap lurah dengan dingin. “Seorang anak. Pemuda. Tinggal di desa ini bersama ibunya.”
Beberapa warga mulai saling pandang.
Wira berdiri diam di dekat sumur. Panca, yang sejak tadi masih berdiri di sampingnya, menahan napas. Lelaki itu melanjutkan dengan nada datar, “Namanya Wira.”
Nama itu jatuh di tengah pagi seperti batu ke air tenang.
Wira langsung mengangkat kepala. Itu namanya. Namanya sendiri. Tetapi mendengarnya dari mulut orang asing, di depan seluruh desa, membuatnya merasakan sesuatu yang ganjil. Seolah namanya bukan lagi miliknya. Seolah orang itu datang bukan untuk bertanya, melainkan untuk memastikan.
Lurah desa memandang ke arah rumah Wira. “Wira?”
Ibunya muncul di ambang pintu.
Wira langsung menoleh. Perempuan itu berdiri tegak, wajahnya masih tenang, tetapi ada sesuatu yang menegang di matanya. Ia berjalan pelan mendekat, kain selendangnya bergeser sedikit di bahu. Langkahnya tidak cepat, namun justru itu yang membuat Wira sadar bahwa ibunya sedang berusaha mengendalikan sesuatu yang besar di dalam dirinya.
“Siapa kalian?” tanya ibunya.
Lelaki tua itu menatapnya lama. “Kami datang membawa kabar lama.”
Ibunya tidak bergeming. “Kabar apa?”
“Dan kami mencari anak itu.”
Wira mengernyit. Ibunya menatapnya sekilas, lalu kembali ke rombongan asing itu. “Dia bukan urusan kalian.”
“Sayangnya, dia justru urusan kami.”
Panca memandang Wira. “Kau kenal mereka?”
Wira menggeleng. “Tidak.”
Lelaki tua itu menatap Wira lagi. “Kami mendapat kabar bahwa barang yang seharusnya tidak beredar lagi berada di sekitar lembah ini.”
Lurah desa mengangkat tangan sedikit, gugup. “Maaf, Tuan. Kami hanya orang kecil. Tak ada barang penting di sini.”
“Justru karena itu kami datang.”
Kata-kata itu membuat suasana makin berat. Wira melihat ibunya menegang sedikit, hanya sedikit, tetapi cukup untuk membuatnya curiga. Orang tua di depan itu memperhatikan perubahan kecil itu. Mata mereka beradu sesaat, dan Wira merasa ada sejarah panjang di balik tatapan itu. Sejarah yang tidak ia mengerti.
Lelaki tua itu kemudian berkata, “Anak itu harus ikut kami.”
Ibunya langsung menjawab, “Tidak.”
“Ini bukan permintaan.”
“Bagiku tetap tidak.”
Wira menatap ibunya, lalu lelaki itu, lalu kembali ke rombongan kuda yang diam tanpa emosi. Suara ayam, desir bambu, dan langkah orang-orang desa yang mundur perlahan terasa seperti menjauh. Di tengah semua itu, Wira hanya menangkap satu hal: ibunya tampak mengenal mereka. Bukan sekadar mengenal wajah mereka, tetapi mengenal lebih dari yang boleh diketahui orang biasa.
Wira belum sempat bertanya, karena dari sisi utara desa, angin membawa bau lain.
Bau asap.
Ia menoleh cepat ke arah bukit utara. Di balik pepohonan jauh di sana, sebuah kepulan gelap tampak naik ke langit. Tidak besar. Belum besar. Tetapi cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Panca mengikuti arah pandangnya. “Itu apa?”
Wira tidak sempat menjawab.
Terdengar teriakan dari arah belakang desa.
“Api!”
Orang-orang langsung berlarian. Seorang perempuan memeluk anak kecil dan menunjuk ke arah atap rumah di tepi kebun. Asap tebal mulai keluar dari bawah jerami. Dalam hitungan detik, api menjilat atap seperti makhluk hidup yang haus. Beberapa warga berteriak. Yang lain lari membawa ember. Seekor kambing lepas dari kandang dan menabrak pagar bambu.
Wira membeku.
Rombongan asing itu bergerak cepat. Lelaki tua menoleh ke anak buahnya dan mengangkat tangan. Dua orang turun dari kuda, satu lagi tetap di atas sambil menatap jalan desa. Di kejauhan, terdengar lagi suara kuda lain mendekat dari arah utara. Lebih banyak. Lebih dekat. Dan kali ini, suasana pagi benar-benar berubah.
Ibunya menarik lengan Wira. “Masuk.”
“Bu—”
“Masuk sekarang.”
Wira menoleh sekali ke arah rombongan asing, lalu ke api yang mulai membesar di rumah sebelah, lalu ke Panca yang sudah pucat. Di seluruh desa, orang-orang berlarian tanpa arah. Suara anak kecil menangis, warga memanggil nama tetangga, dan langkah kuda dari utara makin dekat. Di tengah semua itu, seseorang berteriak dari kejauhan.
“Wira!”
Suara itu asing.
Wira langsung menoleh ke arah bukit. Untuk sesaat ia tidak melihat siapa pun, hanya asap dan pohon yang bergoyang. Namun teriakan itu terdengar lagi, lebih jelas, lebih dekat, seolah orang itu memang sengaja mencari dirinya.
“Wira!”
Ibunya menggenggam pundaknya kuat-kuat. “Jangan dengarkan.”
Wira menatap wajah ibunya. “Siapa itu?”
Ibunya tidak menjawab. Wajahnya justru semakin pucat.
Derap kuda dari utara semakin keras. Orang-orang berlarian di jalan. Api di rumah dekat balai desa makin tinggi. Dan di tengah semua kekacauan itu, Wira merasa seolah ia baru saja berdiri di atas tanah yang retak, sementara dunia di bawahnya mulai terbuka.
Lelaki tua di dekat balai menatap ke arah bukit dengan tajam. “Mereka datang lebih cepat dari dugaan.”
Ibunya menutup mata sebentar, lalu membukanya lagi. “Wira, masuk ke rumah.”
Namun Wira masih menoleh ke arah utara, ke arah suara yang memanggil namanya. Ada sesuatu dalam nada panggilan itu yang tidak ia mengerti. Bukan suara orang desa. Bukan suara pedagang. Bukan pula suara musuh yang sekadar mengancam. Ada kesan bahwa orang itu tahu lebih banyak tentang dirinya daripada yang ia tahu sendiri.
Api merambat ke rumah tetangga.
Lalu ke pagar bambu.
Dan di ujung jalan, debu mulai naik tinggi dari derap kuda yang akhirnya memasuki desa.
Wira baru sempat menarik napas ketika ibunya mendorongnya ke dalam rumah.
Tetapi sebelum pintu menutup, ia masih mendengar satu kali lagi suara itu memanggil namanya dari kejauhan, dan kali ini terasa seperti awal dari sesuatu yang tidak akan bisa ia hindari.
bukin pusing aja