NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Tinta di Jalan Daedalus dan Emas yang Gugur di Kematian

Jalan Daedalus adalah labirin buatan manusia yang membusuk di sudut Orario, tempat di mana hukum Guild tidak memiliki mata dan telinga. Di salah satu gang lembap yang berbau lumut dan tuak murah, sesosok berjubah hitam pekat berdiri menjulang. Sarung tangan tengkoraknya mencengkeram leher seorang pedagang pasar gelap yang kini meronta-ronta di udara.

​Fels, sang Penyihir Abadi, menatap manusia fana di genggamannya dari balik tudung yang kosong. Di tangan kirinya, Fels memegang salinan kasar jilid terbaru "The Xianzhou Alliance".

​"Aku akan bertanya satu kali lagi," suara Fels berderak seperti batu nisan yang digeser, bergema langsung ke dalam pikiran sang pedagang. "Siapa yang memasok perkamen ini ke jaringanmu?"

​"S-sumpah demi para Dewa! Aku tidak tahu!" Pedagang itu tercekik, air matanya bercampur ingus. "Barang itu selalu diantar oleh kurir bayaran kelas teri! Mereka mengambilnya dari titik jatuh yang selalu berpindah-pindah! T-tidak ada yang pernah melihat Anonym! Dia hantu!"

​Fels melepaskan cengkeramannya. Pedagang itu jatuh berdebum ke tanah berlumpur, terbatuk-batuk mencari udara.

​Sang Penyihir Abadi berbalik, membiarkan jubahnya menyapu genangan air. Ia membuka halaman perkamen itu. Kertasnya adalah kertas rami murahan yang biasa dipakai untuk membungkus ikan. Tintanya adalah campuran arang dan getah pinus biasa. Sama sekali tidak ada jejak sihir. Namun, rentetan kata di dalamnya mengandung bahaya yang mengancam langit Orario.

​Mata tak kasatmata Fels terpaku pada salah satu filosofi karakter Jing Yuan yang tertulis di halaman dua puluh.

​"Seorang komandan yang memimpin barisan Lan tidak boleh ditelan oleh rasa haus darah The Hunt. Ia harus memiliki batin yang jembar segarane*—kesabaran yang membentang seluas lautan tak bertepi, menyerap badai tanpa menjadi ombak yang menghancurkan kapalnya sendiri."*

​Fels terdiam. Jembar segarane. Pemilihan frasa dan dialek itu sama sekali tidak dikenal di seluruh benua fana, baik di wilayah Elven, kurcaci, maupun Amazon. Pemahaman tentang "lautan kesabaran" sebagai penawar dari kekuatan absolut adalah kearifan alien yang tidak bersumber dari Dewa-Dewi Tenkai yang temperamental.

​"Orang ini bukan sekadar penulis," gumam Fels pada bayangannya sendiri. "Dia adalah pembawa ajaran dari dunia yang tidak kita ketahui. Dan jika Ouranos tidak segera menemukannya, ajaran ini akan menjadi agama yang nyata."

​Lantai 60 Dungeon - Zona Gletser Keputusasaan

​Suhu udara berada jauh di bawah titik beku, namun bau amis darah dan getah kayu yang terbakar membuat udara terasa sesak dan panas.

​Finn Deimne menjejakkan kakinya di atas bongkahan es biru yang retak. Ujung tombaknya, Tir na Nog, meneteskan cairan kental berwarna ungu kemerahan. Di depannya, pemandangan yang tersaji bukanlah gerombolan monster Dungeon biasa, melainkan neraka biologis yang keluar dari halaman novel.

​Ratusan anggota kultus Evilus, yang biasanya mengenakan jubah hitam standar, kini telah berubah wujud. Mereka tidak lagi sepenuhnya manusia. Cabang-cabang kayu hitam menembus keluar dari bahu, punggung, dan rongga mata mereka. Daun-daun ginkgo berwarna kuning keemasan yang meneteskan darah tumbuh dari urat nadi mereka yang menonjol. Mereka telah terkena Mara—mutasi ekstrem dari pemujaan terhadap konsep Abundance.

​"Mereka gila..." bisik Bete Loga, sang werewolf, mengusap darah dari pipinya. Nafasnya terengah-engah. "Aku baru saja menendang hancur kepala salah satu dari mereka, dan lehernya menumbuhkan akar yang membentuk kepala baru! Sihir penyembuh macam apa ini?!"

​"Ini bukan sihir penyembuh, Bete," jawab Finn dingin. Mata birunya menatap tajam ke arah seorang pendeta Evilus yang tubuh bagian bawahnya telah menyatu dengan akar raksasa yang menancap ke lantai Dungeon. "Mereka menolak konsep kematian. Mereka mereplikasi Familia Yaoshi."

​"Braver!" Sang Pendeta Evilus berteriak dari kejauhan, suaranya terdistorsi oleh kayu yang tumbuh di pita suaranya. "Kau terlambat! Kami telah menemukan getah keabadian di lantai ini! Dewa-Dewa kalian di permukaan adalah pembohong! Hanya Sanctus Medicus yang memberikan keselamatan tanpa batas!"

​Finn memutar tombaknya. Taktik konvensional Loki Familia sudah tidak berguna. Formasi pertahanan hanya akan membuat mereka kelelahan sampai mati. Ia teringat naskah yang dikirimkan Asfi.

​Jadilah badai panah cahaya. Bakar hingga sel terakhir mereka.

​"Semuanya, dengarkan perintahku!" teriak Finn, suaranya membelah kekacauan medan perang. "Tinggalkan formasi Phalanx! Beralih ke formasi Rotasi Kematian! Gareth, Tione, Tiona, hancurkan kaki dan akar mereka untuk menghentikan mobilitas! Riveria, Lefiya, abaikan sihir pertahanan! Siapkan sihir api area terbesar kalian dan bakar setiap daging yang terpotong sebelum ia tumbuh kembali!"

​"Kapten!" Riveria berseru dari barisan belakang, tongkat sihirnya sudah bersinar. "Jika kita memfokuskan semuanya pada serangan, garis depan akan terbuka lebar!"

​"Maka jangan biarkan mereka menyerang!" balas Finn mutlak. "Kita adopsi filosofi The Hunt! Terus maju dan jangan menoleh!"

​Di sayap kiri formasi, Aiz Wallenstein bergerak seperti kilatan angin hitam. Wajah sang Putri Pedang tampak datar, namun mata emasnya menyala dengan api yang tidak stabil.

​Seekor monster Evilus raksasa mengayunkan gada berakar ke arahnya. Alih-alih menghindar menggunakan kecepatan anginnya, Aiz sengaja memiringkan tubuhnya, membiarkan duri dari gada itu merobek zirah ringan dan menggores lengan kirinya. Darah memercik ke es.

​Rasa sakit yang tajam meledak, namun Aiz tidak mundur. Ia mengingat doktrin Nanook dari naskah itu. Ubah rasa sakit menjadi kekuatan tempur. Berjalan di atas bara api untuk mengembalikan segalanya menjadi ketiadaan.

​Angin di sekitar pedang Desperate miliknya berubah warna menjadi hitam kelam—kombinasi dari sihir Avenger dan obsesi destruktif yang baru saja terpicu di alam bawah sadarnya. Dengan satu ayunan yang mengabaikan keselamatan dirinya sendiri, Aiz membelah monster raksasa itu beserta es di bawahnya hingga hancur berkeping-keping. Sisa energinya meledak, menghanguskan akar-akar monster itu menjadi abu.

​Finn melihat kejadian itu dari sudut matanya dan menggertakkan gigi. Keefektifan tempur Aiz meningkat tajam, tapi gaya bertarungnya menjadi murni bunuh diri.

​Pencerita sialan, maki Finn dalam hati. Jantungnya bergemuruh ngeri menyadari betapa rapuhnya akal sehat manusia.

​Hanya dengan beberapa lembar kertas, Anonym telah mengubah Evilus menjadi monster abadi yang memuja Dewa Fiktif, dan perlahan-lahan mengubah anggota Familia terkuat di Orario menjadi mesin pembunuh ekstrem yang terpengaruh oleh Path kosmis. Buku itu bukanlah sekadar panduan strategi; buku itu adalah kutukan kognitif yang menulis ulang hukum peperangan Orario secara real-time.

​"Bakar mereka semua!" teriak Finn, memimpin serbuan ke depan menembus hujan daun emas yang berdarah. "Selesaikan ini sebelum kegilaan ini menelan kita juga!"

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!