Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
FLASHBACK
Lulu melangkah keluar dari lift Hotel Grand Palace dengan pandangan yang mengabur. Dunia di sekitarnya seolah berputar. Cairan pahit yang dipaksakan Shinta tadi bukan hanya membakar tenggorokannya, tapi juga menghancurkan kesadarannya. Ia berkali-kali menyeka bibirnya dengan kasar, merasa jijik pada dirinya sendiri, merasa kotor oleh aroma alkohol yang kini melekat kuat di seragamnya.
Ia berdiri di trotoar, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya yang pucat. Ia tidak berani memesan ojek daring menggunakan ponselnya karena layar itu terus menampilkan notifikasi dari grup sekolah—foto-foto yang ia sendiri tidak ingat kapan diambil.
"Arlan... kenapa kamu nggak datang?" bisiknya parau, nyaris tidak terdengar di tengah bisingnya jalanan kota.
Pukul 23.00 WIB – Di Depan Pagar Rumah
Dengan sisa-sisa tenaga, Lulu berjalan mendekati rumahnya. Ia berhenti tepat di bawah lampu jalan, gemetar hebat saat menyadari betapa kuatnya bau rokok dan bir yang menempel di bajunya. Dengan panik, ia merogoh tasnya, mengeluarkan parfum melati yang ia bawa, lalu menyemprotkannya secara berlebihan ke seluruh tubuh hingga sesak.
Ia merasa seperti seorang kriminal yang sedang menghapus barang bukti.
Saat ia membuka pintu depan, ia berharap semua orang sudah tidur. Namun, harapannya pupus. Di ruang tamu yang remang, Ibunya duduk di sofa sambil memegang tasbih, wajahnya penuh kecemasan.
"Lulu? Ya Allah, Nak... jam berapa ini?" Ibu berdiri dengan tergesa-gesa, menghampiri putrinya.
Lulu menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik rambut yang berantakan dan kacamata yang miring. "Maaf, Bu... asyik banget bahas soal UAS sama Sisil... lupa waktu."
Ibu mendekat, hendak memeluk Lulu, tapi langkahnya terhenti. Hidungnya mengernyit. "Bau apa ini, Lu? Parfummu... tajam sekali. Tapi di baliknya ada bau pahit yang aneh. Dan kenapa jalanmu limbung begini?"
Lulu mundur satu langkah, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. "Itu... tadi di rumah Sisil kakaknya lagi bersihin karpet pakai cairan pembersih yang keras banget, Bu. Terus tumpah ke baju Lulu. Lulu pusing karena baunya, makanya jalannya begini."
Ibu menatap Lulu lama. Ada keraguan besar di matanya, sebuah firasat seorang ibu yang tahu anaknya sedang berbohong. "Sisil tadi telepon ke rumah, Lu. Dia tanya kenapa kamu belum balas pesan dia soal pinjam catatan."
Lulu membeku. Kebohongannya runtuh di detik itu juga. Namun, ia terlalu lelah dan terlalu pusing untuk menjelaskan. "Mungkin... mungkin Sisil lupa kalau kami sudah bahas tadi, Bu. Lulu capek, mau tidur."
Lulu masuk ke kamar, mengunci pintu, dan langsung jatuh terduduk di balik pintu kayu itu. Isak tangis yang ia tahan sejak di hotel akhirnya pecah. Ia membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar sampai ke kamar orang tuanya.
Ia baru saja menjual nama satu-satunya sahabatnya demi menutupi sebuah malam yang menghancurkan kehormatannya. Ia merasa menjadi manusia paling rendah. Saat ia menghidupkan ponselnya, sebuah pesan dari Arlan masuk—pesan yang seharusnya menjadi penenang, justru menjadi belati terakhir.
Arlan: Jangan pernah hubungi gue lagi. Gue udah liat foto-fotonya. Lo murahan, Lu. Malu-maluin gue aja.
Lulu menatap pesan itu dengan pandangan kosong. Malam ini, ia kehilangan segalanya: kepercayaan ibunya, harga dirinya, dan satu-satunya orang yang ia anggap sebagai pelindung.
Ia meringkuk di lantai kamar yang dingin, memeluk dirinya sendiri sambil menatap kalender di meja belajarnya. Tanggal 25 Juni dilingkari dengan spidol merah, seolah-olah sedang tertawa menatap kematian jiwanya yang sudah dimulai malam ini. Esok pagi, ia tahu petir akan benar-benar menyambar saat ia menginjakkan kaki di sekolah.