Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pagi itu, kamar utama kediaman Praditya berubah menjadi ruang ganti yang sibuk. Tiga orang penata rias dan seorang desainer ternama sibuk berlalu-lalang di bawah pengawasan tajam Kenzo yang duduk di sofa beludru sambil menyesap espreso.
Anindya berdiri mematung di depan cermin besar. Gaun sutra berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan sempurna terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang pucat.
Gaun itu indah, sangat indah, namun bagi Anindya, kain mahal itu terasa seperti kain kafan yang membungkus harga dirinya.
"Rias wajahnya dengan sempurna. Aku ingin dia terlihat seperti wanita paling bahagia di kota ini," perintah Kenzo dingin.
Sang penata rias mengangguk gemetar. Ia menyapukan blush-on untuk memberikan rona palsu di pipi Anindya yang tirus. Lipstik merah menyala dipulaskan pada bibir yang semalam digigit Kenzo hingga berdarah.
Dalam waktu satu jam, sosok wanita yang hancur itu hilang, digantikan oleh dewi yang mempesona.
Kenzo berdiri, melangkah mendekat dan meletakkan kalung berlian senilai miliaran rupiah di leher Anindya. Dinginnya logam itu membuat Anindya bergidik.
"Ingat janji kita, Anin. Satu tetes air mata, atau satu kerutan di dahimu, maka Elang akan menghabiskan malamnya di tempat yang tidak kau ketahui," bisik Kenzo di telinganya.
Anindya menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Ia membentuk sebuah senyuman, senyum yang sangat memukau, sangat manis, namun matanya tetap sedingin es.
"Seperti ini, Tuan Praditya?" tanya Anindya dengan suara yang dibuat manja, sebuah nada yang membuat Kenzo terpaku sejenak.
Kenzo menyeringai puas. "Sempurna. Mari kita temui dunia."
~~
Lobi gedung Praditya Group telah disulap menjadi ruang pesta yang megah. Ratusan lampu kristal berkilauan, memantul pada lantai marmer yang mengkilap.
Para pemegang saham, pejabat, dan sosialita ibukota berkumpul untuk menyaksikan suksesi kepemimpinan yang paling kontroversial tahun ini.
Saat pintu besar terbuka, semua mata tertuju pada pasangan yang baru saja masuk. Kenzo melangkah dengan penuh wibawa, sebelah tangannya posesif merangkul pinggang Anindya, sementara tangannya yang lain menggenggam jemari istrinya dengan erat.
Anindya berjalan dengan anggun. Ia menebarkan senyuman kepada setiap orang yang ia lewati. Ia tertawa kecil saat seorang kolega melontarkan pujian, dan ia menatap Kenzo dengan pandangan yang seolah penuh cinta.
Namun, di balik denting gelas sampanye dan musik klasik yang mengalun, bisik-bisik berbisa mulai menjalar seperti api di ilalang kering.
"Lihat itu... bukankah Arlan baru dimakamkan empat hari lalu?" bisik seorang wanita sosialita di balik kipasnya.
"Luar biasa. Belum genap tujuh hari, jandanya sudah pamer kemesraan dengan adik iparnya sendiri. Ternyata benar gosip itu, mereka pasti sudah punya hubungan gelap sejak dulu," timpal yang lain dengan nada sinis.
"Kasihan mendiang Arlan. Makamnya masih basah, tapi istrinya sudah tertawa lebar di pelukan adiknya. Benar-benar wanita tidak tahu malu. Cantik-cantik tapi hatinya busuk," sahut seorang staf senior yang dulu sangat menghormati Arlan.
Anindya mendengar semuanya. Setiap kata 'pelacur', 'pengkhianat', dan 'tak punya hati' menusuk jantungnya seperti ribuan jarum.
Namun, ia tidak membiarkan senyumnya luntur sedikit pun. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya pada Kenzo, membuat orang-orang di sana semakin geram.
Kenzo menyadari bisikan-bisikan itu. Bukannya marah, ia justru merasa menang. Ia ingin dunia membenci Anindya, sehingga wanita itu tidak punya tempat untuk bersandar selain dirinya.
Ia ingin Anindya terisolasi, sehingga hanya Kenzo-lah satu-satunya perlindungan yang ia miliki.
Kenzo naik ke atas podium, menarik Anindya untuk berdiri di sampingnya. Lampu sorot dan jepretan kamera wartawan membutakan pandangan Anindya untuk sejenak.
"Terima kasih atas kehadiran kalian," suara Kenzo bergema, penuh otoritas. "Kepergian kakak saya, Arlan, adalah tragedi besar. Namun, hidup harus terus berjalan. Saya di sini bukan hanya untuk meneruskan estafet kepemimpinan Praditya Group, tapi juga untuk memastikan bahwa keluarga yang ditinggalkannya tetap utuh dan terlindungi."
Kenzo menoleh ke arah Anindya, mengambil tangan wanita itu dan mengecup punggung tangannya di depan semua kamera.
"Banyak spekulasi di luar sana. Namun kenyataannya, pernikahan kami adalah bentuk penghormatan terakhir bagi wasiat kakak saya. Dan saya berjanji, akan mencintai Anindya dan menjaga keponakan saya sebagaimana Arlan menjaganya."
Anindya menatap Kenzo dengan mata yang berbinar palsu. Di depan publik, ia terlihat seperti wanita yang terharu karena mendapatkan perlindungan dari pria sehebat Kenzo.
Padahal dalam hatinya, ia sedang menjerit, memaki kekejaman pria yang sedang berbohong di depan ratusan orang ini.
"Kau sangat hebat bersandiwara, Sayang," bisik Kenzo saat mereka turun dari podium, sementara para tamu bertepuk tangan dengan raut wajah yang penuh penghinaan tersembunyi.
"Aku belajar dari gurunya, Kenzo," jawab Anindya tanpa melepaskan senyum indahnya.
Saat pesta berlangsung, Anindya izin ke toilet untuk sekadar menarik napas. Namun, di lorong sepi menuju ruang VVIP, ia dicegat oleh Ibunya, ibu kandung Anindya.
PLAAAK...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Anindya. Riasan cantiknya tidak mampu menutupi kemerahan yang muncul seketika.
"Kau benar-benar wanita murahan!" desis Ibu Anindya dengan wajah penuh kebencian. "Bagaimana bisa kau tersenyum seperti itu di hari suksesi adik iparmu? Kau bahkan tidak memakai baju hitam! Kau pamer perhiasan seolah kau baru saja memenangkan lotre atas kematian suamimu!"
Anindya memegang pipinya yang panas. Ia menatap ibunya. Ia ingin berteriak bahwa Ayah Kenzo-lah yang memaksanya, bahwa Kenzo-lah yang mengancam akan membuang Elang. Tapi ia tahu, di mata wanita ini, Kenzo adalah emas, dan ia adalah sampah.
"Maafkan Anin, Ma," ucap Anindya lirih, tetap dengan wajah yang tenang.
"Jangan panggil aku Mama! Kau hanyalah parasit yang memanfaatkan ambisi Kenzo. Kau pikir aku tidak tahu? Kau pasti yang menggoda Kenzo agar dia menikahimu demi harta ini, kan?"
Sebelum Anindya menjawab, sebuah suara berat menginterupsi.
"Cukup, Ma."
Kenzo berdiri di ujung lorong dengan mata yang memancarkan kilat berbahaya. Ia melangkah maju, berdiri di antara Anindya dan Ibunya. Ia tidak membela Anindya karena cinta, tapi karena ia tidak suka miliknya disentuh oleh orang lain, termasuk ibunya sendiri.
"Anindya melakukan apa yang aku dan Papa perintahkan. Jangan pernah menyentuhnya lagi, atau Mama akan tahu akibatnya," ucap Kenzo dengan nada yang sangat dingin, hingga Ibu Anindya sendiri mundur selangkah karena ketakutan.
Kenzo menarik tangan Anindya, menyeretnya kembali menuju keramaian pesta. Di tengah jalan, ia berhenti sejenak, mengambil sapu tangan dan mengusap sisa lipstik yang sedikit berantakan di bibir Anindya.
"Pipi ini harus tertutup riasan lagi sebelum kita masuk. Aku tidak ingin orang mengira aku tidak bisa menjagamu," kata Kenzo.
Ia menekan pipi Anindya yang lebam dengan kasar, sengaja menimbulkan rasa sakit.
Anindya meringis, namun ia kembali memaksakan senyumannya.
Pesta berakhir tengah malam. Di dalam mobil limosin yang membawa mereka pulang, Kenzo melepaskan dasinya dan bersandar lelah. Ia menatap Anindya yang duduk diam di sudut mobil, memandang ke luar jendela.
"Kau melakukan tugasmu dengan baik hari ini, Anin. Semua orang membencimu sekarang. Kau tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain aku. Orang tuamu sudah kubayar untuk menjauh, mertuamu membencimu, dan teman-temanmu menganggapmu pengkhianat."
Kenzo tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sangat jahat di telinga Anindya. "Kau sekarang benar-benar milikku. Tanpa sisa."
Anindya menoleh, menatap Kenzo dengan keberanian yang tiba-tiba muncul. "Kau benar, Kenzo. Aku tidak punya siapa-siapa. Tapi ingat satu hal... orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan adalah orang yang paling berbahaya."
Kenzo hanya menyeringai, ia menarik tengkuk Anindya dan menciumnya dengan kasar di dalam kegelapan mobil yang melaju. Ia tidak peduli pada ancaman itu.
Baginya, Anindya hanyalah burung dalam sangkar emas yang sayapnya sudah ia patahkan.
Sesampainya di rumah, Kenzo tidak membiarkan Anindya beristirahat. Ia menggendong wanita itu menuju kamar utama, mengabaikan rintihan lelah istrinya.
Malam itu, di bawah bayang-bayang fitnah dunia, Kenzo kembali menunjukkan kekuasaannya, memaksakan gairahnya kepada sosok boneka hidup yang ia ciptakan sendiri.
Anindya hanya menatap langit-langit, menghitung setiap detik yang berlalu, sambil membisikkan nama Arlan di dalam hatinya sebagai satu-satunya cara agar ia tidak benar-benar menjadi gila.
...----------------...
Next Episode ....