Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Sate Taichan Pembakar Lidah dan Sertifikat Kebun Teh
Jebakan telah dipasang. Meja judi telah digelar.
Di bab ini, Kirana menggunakan ilmu psikologi kulinernya: "Orang yang kepedesan akan minum lebih banyak alkohol, dan orang mabuk akan membuat keputusan bodoh."
Kolaborasi antara Kirana (Logistik), Panji (Aktor Utama), dan Arga (Backing) siap menenggelamkan putra kesayangan Sengkuni.
Selamat datang di Kasino Bawah Tanah.
[Rumah Judi "Naga Emas" - Ruang VIP]
[Waktu: 22.00 Malam]
Asap cerutu mengepul tebal di ruangan VIP yang remang-remang. Dindingnya dilapisi beludru merah untuk meredam suara teriakan kemenangan maupun tangisan kekalahan.
Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar menjadi pusat perhatian.
Di satu sisi, duduk Pangeran Panji. Dia terlihat santai, kerah bajunya dibuka sedikit, wajahnya agak merah (pura-pura mabuk), dan di sampingnya bertumpuk koin emas yang menggunung.
Di sisi lain, duduk Raden Seta, putra tunggal Sengkuni. Wajahnya tegang, matanya merah, keringat bercucuran. Tumpukan koin di depannya sudah menipis.
Aku (menyamar sebagai pelayan pria dengan kumis palsu) berdiri di pojok ruangan, menjaga meja katering.
Arga (menyamar sebagai pengawal pribadi Panji dengan topeng separuh wajah) berdiri tegak di belakang Panji, siap jika situasi memanas.
"Ayo, Seta! Masa segitu saja nyalimu?" Panji melempar dadu di tangannya dengan provokatif. "Katanya anak orang terkaya di ibu kota? Kok taruhannya recehan?"
Seta menggebrak meja. "Diam kau, Panji! Aku cuma lagi sial putaran ini! Naikkan taruhannya!"
Aku tersenyum di balik kumis palsuku. Rencanaku berjalan mulus.
Di meja Seta, tersaji piring kosong bekas Sate Taichan super pedas yang kusiapkan.
Sate ayam putih polos, tapi direndam bumbu cabai rawit setan, jeruk nipis, dan garam. Tanpa kecap. Pedasnya nendang langsung ke ulu hati.
Seta yang kepedesan terus menerus menenggak arak mahal yang disediakan Panji.
Akibatnya: Logikanya tumpul, emosinya labil, dan gengsinya meroket.
"Pelayan! Tambah arak!" teriak Seta.
Aku segera menuangkan arak kualitas tinggi (kadar alkohol 40%) ke gelasnya. "Silakan, Tuan Muda. Semoga beruntung."
Seta meminumnya sekali teguk. "Hah... Pedas! Panas! Ayo main lagi!"
[Babak Penentuan]
Panji mengedipkan mata padaku sekilas. Saatnya Grand Finale.
Panji sengaja mengalah dua putaran kecil sebelumnya untuk memberi Seta "harapan palsu".
"Oke, Seta. Aku bosan main koin," kata Panji malas. Dia mendorong seluruh gunungan koin emasnya ke tengah meja.
"Ini semua hartaku malam ini. Sekitar 10.000 koin emas. Cukup buat beli satu desa."
Mata Seta terbelalak tamak. Kalau dia menang ini, dia bisa bayar semua hutang lamanya dan foya-foya setahun.
"Tapi..." lanjut Panji, "Koinmu sudah habis, kawan. Apa yang mau kau pertaruhkan untuk menyamai ini?"
Seta merogoh kantongnya. Kosong.
Dia panik. Gengsinya dipertaruhkan di depan para penonton VIP.
"Aku... aku akan tulis surat hutang!"
"Ah, tidak laku," tolak Panji. "Aku butuh aset nyata."
Seta berpikir keras. Alkohol di otaknya membisikkan ide gila.
Di saku dalamnya, dia membawa dokumen penting yang dicurinya dari brankas ayahnya tadi pagi (untuk digadaikan, tapi belum sempat).
Sertifikat Hak Milik Perkebunan Teh Teratai.
Sumber utama kekayaan keluarga Sengkuni. Kebun teh terbaik di negeri ini.
"Ini!" Seta membanting gulungan sertifikat itu ke meja. "Sertifikat Kebun Teh Teratai! Nilainya dua kali lipat dari koinmu! Berani tidak?!"
Arga di balik topengnya menahan napas. Kena kau.
Panji tersenyum tipis. "Wow. Main besar. Baiklah. Satu putaran dadu. Angka terbesar menang."
Suasana hening mencekam.
Seta mengambil kocokan dadu. Tangannya gemetar. Dia mengocoknya kuat-kuat sambil memejamkan mata.
Klotak. Klotak. BRAK.
Dia membuka penutupnya.
Angka: 5, 5, 4. Total 14. (Angka Besar).
"Hahaha! Lihat! 14! Kau tamat, Panji! Kebun teh ini tetap milikku dan uangmu jadi milikku!" Seta tertawa histeris, sudah merasa menang.
Panji tenang. Dia mengambil kocokan dadu.
Dia tidak mengocoknya heboh. Hanya satu gerakan flick pergelangan tangan yang presisi (hasil latihan seminggu sama bandar judi profesional).
Tak.
Dia membuka penutupnya.
Semua orang menjulurkan leher.
Angka: 6, 6, 6. Total 18. (Triple Six - Angka Sempurna).
Hening.
Seta berhenti tertawa. Matanya melotot sampai hampir keluar. Wajahnya berubah dari merah menjadi putih kertas.
Mulutnya menganga, tapi tidak ada suara.
"Sayang sekali," kata Panji santai, mengambil sertifikat itu. "Triple Six. Bandar menang semua."
"TIDAAAAAAK!" Seta meraung, mencoba merebut kembali sertifikat itu.
Tapi Arga dengan sigap menahan tangan Seta, memelintirnya sedikit. "Tuan Muda, harap sportif. Jangan bikin malu Perdana Menteri."
Panji berdiri, merapikan bajunya. "Terima kasih atas donasinya, Seta. Sampaikan salamku pada Ayahmu. Bilang padanya, mulai besok, teh yang dia minum adalah teh milikku."
Panji, Arga, dan aku berjalan keluar dari ruangan VIP dengan langkah kemenangan, meninggalkan Seta yang menangis meraung-raung di lantai karpet, muntah-muntah karena arak dan shock.
[Keesokan Harinya - Kediaman Jenderal]
Kami sarapan dengan suasana hati yang sangat cerah.
Di atas meja makan, tergeletak Sertifikat Kebun Teh Teratai yang sudah resmi berpindah tangan (Panji menyerahkannya pada Arga sebagai 'hadiah' karena dia malas mengurus kebun).
"Sengkuni pasti kena serangan jantung hari ini," kata Arga sambil memakan Soto Ayam buatan istri tercinta.
"Bukan cuma serangan jantung, dia lumpuh finansial," tambahku sambil mengupas jeruk. "Tanpa kebun teh, suplai Kedai Teh Teratai putus. Dia harus beli teh dari kita. Skakmat."
Kami tertawa bahagia. Masalah Sengkuni selesai untuk sementara. Bisnis aman, politik aman, kehamilan aman.
Rasanya hidup terlalu sempurna.
Dan seperti hukum alam di novel drama: Jika hidup terasa terlalu sempurna, badai pasti datang.
"Lapor, Jenderal!"
Kepala Pelayan masuk dengan wajah bingung.
"Ada tamu, Jenderal. Nona Laras datang bersama... seorang wanita tamu kehormatan."
"Siapa?" tanya Arga santai.
"Beliau mengaku sebagai... Putri Diah Pitaloka."
PRANG.
Sendok di tangan Arga jatuh ke piring.
Wajah Arga yang tadi cerah, seketika berubah pucat. Lebih pucat daripada saat dia melihat hantu.
Aku mengernyit. "Siapa Diah Pitaloka? Mantanmu?"
Arga tidak menjawab. Dia menelan ludah susah payah. Matanya menyiratkan ketakutan masa lalu.
Sebelum Arga sempat menjawab, pintu ruang makan terbuka.
Laras masuk dengan senyum licik yang lebar, menggandeng seorang wanita.
Wanita itu... Cantik.
Sangat cantik dengan cara yang mengintimidasi. Tinggi, anggun, memakai gaun sutra biru tua yang mahal. Rambutnya disanggul modern ala bangsawan asing. Aura "Wanita Berkelas"-nya begitu kuat, membuatku yang pakai kebaya rumahan merasa seperti butiran debu.
Wanita itu menatap Arga. Matanya tajam, cerdas, dan penuh... kepemilikan.
"Halo, Arga," sapanya. Suaranya merdu tapi dingin. "Lama tidak bertemu. Aku dengar kau sudah jadi Jenderal Besar sekarang."
Dia melirikku sekilas—tatapan yang menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tersenyum meremehkan.
"Dan ini... istri 'pengganti'-mu?"
Arga berdiri kaku. "Diah... Kapan kau kembali dari Kerajaan Seberang?"
"Kemarin," jawab Diah santai, berjalan mendekat dan menyentuh lengan Arga tanpa ragu. "Aku kembali untuk menagih janji, Arga."
"Janji apa?" tanyaku tajam, naluri istri sah-ku menyala.
Diah menoleh padaku, tersenyum manis (tapi beracun).
"Janji pertunangan kami yang belum pernah dibatalkan secara resmi sepuluh tahun lalu."
Dia mengangkat tangannya, memamerkan cincin giok kuno di jari manisnya.
"Aku adalah tunangan pertama Arga. Dan sesuai hukum adat lama... jika pertunangan tidak dibatalkan, maka akulah yang berhak menjadi Istri Utama."
Laras tertawa kecil di belakang. Inilah kartu As barunya.
Jika Sengkuni gagal, dia bawa masa lalu.
Diah Pitaloka bukan wanita sembarangan. Dia putri bangsawan tinggi, kaya raya, pintar, dan... cinta pertama Arga (katanya).
Aku menatap Arga, menuntut penjelasan.
"Arga? Jelaskan. Siapa perempuan halu ini?"
Arga memejamkan mata, memijat pelipisnya yang mendadak pening.
"Tantri... ini rumit. Dulu... sebelum aku jadi tentara... orang tua kami memang menjodohkan kami. Tapi dia pergi sekolah ke tempat yang jauh dan menghilang tanpa kabar. Aku kira dia mati atau menikah di sana."
"Aku tidak menikah, Arga," potong Diah. "Aku sekolah. Aku belajar strategi, politik, dan ekonomi. Aku memantaskan diri untuk menjadi pendamping Jenderal. Bukan seperti wanita ini..." dia menunjukku, "...yang katanya cuma bisa masak di dapur."
Darahku mendidih.
Oh, dia menantangku?
Dia pikir dia siapa? Cinderella yang telat pulang?
Aku berdiri, memegang perutku (senjata andalan).
"Maaf ya, Nona Diah. Anda boleh punya cincin giok dari sepuluh tahun lalu. Tapi saya..."
Aku menepuk perutku pelan.
"...Saya punya masa depan Arga di sini. Sertifikat nikah saya sah, distempel negara. Dan Arga tidur di kasur saya tiap malam."
"Jadi, silakan ambil nomor antrean. Atau lebih baik, pulang saja ke tempatmu. Di sini sudah penuh."
Diah terdiam. Matanya berkilat marah. Dia tidak menyangka aku berani melawannya. Laras pun kaget.
"Baiklah," Diah tersenyum dingin. "Kita lihat saja, Arga. Siapa yang lebih pantas mendampingimu di acara kenegaraan. Istri koki ini... atau aku, diplomat lulusan terbaik."
Diah berbalik pergi dengan elegan, diikuti Laras yang mengekor.
Setelah mereka pergi, aku menatap Arga tajam.
"Malam ini, kau tidur di sofa. Dan jelaskan semuanya, detail, tanpa ada yang ditutupi. Kalau tidak, pisau Damaskus-ku yang bicara."
Arga menunduk pasrah. "Siap, Nyonya."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal