Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Labirin Intrik dan Siasat Pena
Malam di gang sempit itu terasa lebih panjang dari biasanya. Suara deru motor trail yang baru saja melintas meninggalkan aroma bensin yang tajam dan firasat buruk yang mengendap di paru-paru Arini. Di dalam kontrakan yang hanya diterangi lampu pijar kekuningan, Zikri masih berdiri di depan jendela, tangannya menyisir rambutnya yang berantakan karena cemas.
"Mereka tidak akan menyerang secara terang-terangan di sini, Rin," ucap Zikri, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ini wilayah padat penduduk. Marco memang nekat, tapi dia tidak sebodoh itu untuk membuat keributan di depan banyak saksi mata."
Arini duduk di tepi tempat tidur, memeluk laptopnya seolah benda itu adalah perisai. "Tapi Said, Zik... Rian bilang Said sedang mengajukan banding. Bagaimana jika mereka bekerja sama lagi? Said punya uang dan pengaruh yang tersisa, sedangkan Marco punya 'kaki' di jalanan. Mereka bisa menjepit kita dari dua arah."
Zikri berbalik, menatap Arini dengan sorot mata yang kini lebih dewasa. "Maka kita harus menyerang balik sebelum mereka sempat menarik pelatuknya. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, apalagi merusak apa yang sudah kita bangun di sini."
Keesokan harinya, Zikri tidak pergi ke bengkel. Ia meminta izin kepada pemilik bengkel untuk bekerja setengah hari. Namun, ia tidak diam di rumah. Ia pergi menemui salah satu teman kuliahnya yang bekerja di sebuah biro hukum ternama sebagai asisten paralegal. Zikri sadar, ia tidak bisa lagi menyelesaikan masalah dengan kepalan tangan. Ia butuh "senjata" yang diakui negara.
Sementara itu, Arini kembali ke dunianya. Ia membuka laptop dan mulai menyusun sebuah taktik baru. Ia tidak akan mengunggah tulisan emosional lagi. Kali ini, ia akan bermain lebih cerdas. Ia mulai mengumpulkan data—secara digital. Melalui jaringan pembacanya yang luas, yang beberapa di antaranya ternyata adalah jurnalis investigasi dan aktivis hukum, Arini mulai mendapatkan informasi tentang siapa "pihak ketiga" yang mendanai pengacara Said.
Tangannya gemetar saat membaca sebuah dokumen PDF yang dikirimkan oleh seorang sumber anonim. Nama donor itu tersembunyi di balik sebuah yayasan fiktif, namun jejak digitalnya mengarah pada satu nama yang tak asing di dunia bisnis suku cadang motor ilegal—nama yang sering dikaitkan dengan jaringan distribusi tempat Marco bernaung.
"Ternyata ini bukan hanya soal dendam pribadi," bisik Arini pada layar laptopnya. "Ini soal bisnis."
Ternyata, Said selama ini menggunakan lahan pesantren dan pengaruh administrasinya untuk mempermudah jalur distribusi barang-barang ilegal milik jaringan Marco. Itu sebabnya Said begitu ngotot ingin menguasai yayasan sepenuhnya. Dan itu sebabnya Marco sangat marah ketika Zikri dan Arini membongkar semuanya; mereka bukan hanya membongkar rahasia keluarga, tapi juga menghancurkan lumbung uang yang sangat besar.
Malam harinya, di bawah lampu neon ruang kuliah yang dingin, Zikri duduk di barisan belakang. Ia mencoba fokus pada penjelasan dosen tentang "Sistem Pengendalian Internal", namun pikirannya melayang pada Arini yang ia tinggalkan sendirian di kontrakan (meski ia sudah meminta bantuan tetangga sebelah, seorang bapak pensiunan tentara, untuk mengawasi).
Setelah kelas berakhir, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik rapi mendekati Zikri. Dia adalah salah satu dosen senior yang juga merupakan praktisi hukum.
"Gus Zikri," sapa pria itu tenang.
Zikri tersentak. "Bapak tahu siapa saya?"
"Dunia ini sempit, Zikri. Dan tulisan istrimu... yah, itu sulit untuk dilewatkan bagi kami yang bergerak di bidang sosial-politik," dosen itu tersenyum tipis. "Saya tahu kamu sedang dalam masalah. Said sedang mencoba memutarbalikkan fakta dengan menuduh rekam medis ibumu sebagai dokumen palsu yang dibuat oleh Arini."
Zikri mengepalkan tangannya. "Dokumen itu asli, Pak. Mbah Kyai Hamzah sudah memverifikasinya."
"Masalahnya, di pengadilan, bukti verbal sering kalah dengan bukti formal yang dikemas secara manipulatif. Said memiliki akses ke rumah sakit lama itu. Mereka bisa saja menyogok oknum administrasi untuk 'menghilangkan' arsip aslinya, sehingga milik kalian dianggap palsu," jelas dosen itu. "Satu-satunya cara untuk mematahkan banding mereka adalah dengan menemukan saksi kunci yang masih hidup. Seseorang yang hadir di saat-saat terakhir ibumu, selain ayahmu."
Zikri terdiam. Pikirannya melayang ke sepuluh tahun yang lalu. Siapa yang ada di sana? Perawat? Pembantu ndalem?
"Ada satu orang," gumam Zikri tiba-tiba. "Mbok Nah. Dia pengasuhku dulu. Dia yang membersihkan kamar Ummi setiap hari. Tapi setelah Ummi wafat, dia dipecat oleh Said dan diusir dari pesantren. Aku tidak tahu dia di mana sekarang."
Zikri pulang dengan perasaan campur aduk. Namun, saat memasuki gang kontrakannya, ia melihat kerumunan orang di depan rumahnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia berlari, menerobos kerumunan itu.
"Arini!" teriaknya.
Ia melihat Arini berdiri di depan pintu, wajahnya pucat pasi namun ia tampak baik-baik saja. Di dinding kontrakan mereka yang dicat putih kusam, terdapat coretan besar menggunakan cat semprot merah: "PENULIS FITNAH \= MATI".
Tetangga sebelah, Pak pensiunan tentara itu, sedang memegang sebuah botol kaca yang pecah. "Tadi ada dua orang pakai motor trail, Gus. Mereka melempar botol ini ke jendela. Untungnya tidak kena Mbak Arini."
Zikri memeluk Arini dengan sangat erat. Tubuh istrinya bergetar hebat. "Cukup, Rin. Kita lapor polisi sekarang. Ini sudah keterlaluan."
"Tidak, Zik," Arini melepaskan pelukannya, matanya yang basah justru menunjukkan sorot perlawanan yang baru. "Kalau kita lapor sekarang dengan bukti yang lemah, polisi hanya akan menganggap ini teror preman biasa. Kita butuh sesuatu yang lebih besar. Kita harus memancing mereka keluar."
"Maksudmu?"
Arini menarik Zikri masuk ke dalam dan mengunci pintu. Ia menunjukkan layar laptopnya yang masih menyala. "Aku baru saja selesai menulis bab terbaru untuk blog-ku. Tapi aku tidak mengunggahnya. Aku mengirimkannya secara pribadi ke alamat email pengacara Said."
"Apa isinya?"
"Aku bilang padanya bahwa aku memiliki rekaman suara Ummi Fatimah sebelum wafat—rekaman yang disembunyikan di bawah ubin kamar *ndalem*. Aku bilang dalam rekaman itu Ummi menyebutkan keterlibatan Said dalam penggelapan dana zakat untuk bisnis Marco," Arini menelan ludah. "Tentu saja itu bohong, Zik. Aku tidak punya rekaman itu. Tapi ini akan membuat mereka panik. Mereka akan mencoba mengambil 'rekaman' itu sebelum kita bisa menyerahkannya ke polisi."
Zikri menatap istrinya dengan ngeri sekaligus kagum. "Kamu mempertaruhkan nyawamu, Rin. Mereka akan datang mencari rekaman itu ke sini atau ke pesantren."
"Mereka akan datang ke pesantren, Zik. Karena aku bilang aku belum sempat mengambilnya. Aku bilang aku akan mengambilnya besok malam saat pesantren sedang sepi karena ada acara khataman di luar desa. Mereka akan pergi ke sana untuk mencegatku—atau menghancurkan buktinya."
Ia mulai menuliskan perasaan takutnya ke dalam karakter alina di novel. Bagaimana sang penulis merasa berdosa karena harus berbohong demi kebenaran. Bagaimana ia merasa seperti sedang menenun kain kafannya sendiri dengan setiap baris kalimat yang ia ketik.
"Penulis adalah Tuhan di dunianya sendiri," tulis Arini. "Tapi di dunia nyata, aku hanyalah seorang wanita yang tangannya gemetar saat memegang pulpen, berharap bahwa plot twist yang kususun tidak akan membunuh pria yang kucintai."
Zikri duduk di sampingnya, sedang memeriksa mesin Ninjanya untuk perjalanan besok. Ia harus kembali ke Al-Ikhlas, bukan sebagai pelarian, tapi sebagai umpan yang sesungguhnya.
"Zik," panggil Arini pelan. "Jika rencana ini gagal... jika mereka benar-benar nekat..."
Zikri menghentikan aktivitasnya. Ia mendekati Arini, berlutut di depannya, dan menggenggam kedua tangan istrinya. "Rencana ini tidak akan gagal karena kita tidak lagi bermain di aturan mereka. Kita bermain di aturanmu, Arin. Kamu adalah sutradaranya sekarang."
"Tapi , Zik... aku masih sangat takut"
"Besok kita berangkat ke Al-Ikhlas," ucap Zikri. "Kita temui Mbok Nah dulu di desa sebelah, lalu kita hadapi Said dan Marco di tempat semuanya bermula."
Di luar gang, sebuah motor trail kembali menderu, namun kali ini Arini tidak bersembunyi di balik gorden. Ia menatap lurus ke arah kegelapan, menunggu fajar yang akan menentukan apakah mereka akan menjadi pemenang, atau sekadar barisan kalimat yang terlupakan.
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr