Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Bulan
Tugas Delana setiap pagi bertambah, selain dia berangkat kuliah, dia juga harus menyiapkan sarapan untuk Rex. Itu artinya Delana harus bangun lebih awal.
Kamar Delana dan Rex saling berhadapan, hanya terhalang oleh ruangan kosong yang di isi dengan sebuah meja dan vas bunga besar di atasnya.
“Tunggu sebentar.”
Langkah Delana terhenti saat Rex yang baru saja keluar dari kamarnya meminta dia untuk berhenti.
“Ada apa?”
“Mau ke mana dengan pakaian seperti itu?”
Delana melihat tubuhnya sendiri dari bawah.
“Kenapa memangnya?”
“Lana, di rumah ini penghuninya laki-laki semua. Hanya kamu spesies berbeda.”
“Spesies? Oh, kalian amoeba dan aku manusia?”
“Kau mau masak dengan chef Tata dengan pakaian seperti itu? Keenakan tata nya dong.”
“Apa sih, gak jelas.”
“Ganti.”
“Pak, ih.”
“Lanaaa.”
Suara lembut namun penuh tekanan itu membuat Delana tidak bisa membantah lagi. Dia bergegas masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
“Memangnya kenapa dengan bajuku? Bagus kok.” Delana berlenggak lenggok di depan cermin. Sambil mirror selfi.
Gadis itu kembali keluar kamar setelah mengganti pakaian nya. Rupanya Rex masih ada di depan pintu kamarnya menunggu Delana keluar.
“Udah gini? Boleh? Kalau nggak aku balik lagi buat ganti baju pake gamis, sekalian pake cadar.”
“Udah, oke.”
Delana memiringkan sebelah bibirnya. Sementara Rex hanya tersenyum senang melihat tingkah wanitanya itu.
“Kenapa sepi sekali?”
“Iya, emang sepi gak ada orang.” Delana menimpali dengan ketus.
“Dasar pria tua, pikun. Masa dia lupa, orang dia yang nyuruh anak buahnya libur.”
“Ke mana mereka semua?”
“Kan Bapak sendiri yang meliburkan mereka hari ini kecuali bodyguard.”
Rex baru menyadarinya.
“Aaaah, aku mengerti.”
Delana menoleh pada Rex yang mengikutinya ke dapur. Gadis itu bahkan menggerakkan bibirnya meledek Rex. Dia mengambil wajan, lalu menyalakan kompor.
Cettasss.
Rex mematikan kembali komponya.
“Ih, kenapa sih?” Delana kesal. Dia membalikan badannya. Tidak disangka jarak Rex nyari tak berjarak dari tubuhnya. Pria itu mengunci Delana dengan kedua tangan nya.
“Apa ini alasan kamu memakai pakaian tadi?”
“Maksud?”
Mata Rex seperti singa kalaparan yang melihat seekor anak rusa di hadapan nya.
“Pakai kembali.”
“Pak, bisa bicara terus terang aja nggak? Otak ku agak ngelag soalnya.”
“Pakaian kamu tadi sangat seksi, apa karena kamu tahu di rumah ini hanya ada kita berdua?”
“Ooooh, bapak ngira nya aku mau menggoda? Duh pak, pak. Untuk apa aku menggoda bapak dengan pakaian yang tidak seberapa seksi itu. Toh Bapak sudah melihat saya tanpa sehelai benang pun kan?”
Rex menyeringai. Membuat Delana sedikit merasa cemas.
“Pak, bisa minggir nggak? Aku mau bikin sarapan.”
Rex menarik pinggang Delana hingga tubuh kecil gadis itu nyaris tertutup oleh tubu besar Rex.
“Pak, apa yang—“
Belum sempat Delana menyelesaikan ucapan nya, Rex menutup mulut Delana dengan bibirnya. Beruntung tangan Delana tidak kalah cepat dan berhasil menghalangi bibir Rex menyentuh bibirnya.
“Ada apa?”
“Jangan begini caranya.”
“Lantas?”
Delana menghela nafas. Dari gerak gerik matanya, Rex bisa melihat jika Delana tidak suka dan sedikit emosional.
Dia melepaskan dekapan nya.
“Maaf, Pak. Tapi ….”
“First kiss? Me too, aku pun belum pernah melakukan nya.”
Delana yang hendak pergi pun kembali menoleh. Dia tertawa semu.
“Bapak berharap aku percaya?”
“Tidak. Aku hanya ingin mengatakan hal yang sebenarnya.”
“Bapak sarapan saja di luar, aku berangkat ke kampus agak siangan.”
“Mau ….”
“Tidak perlu.”
Delana pergi begitu saja meninggalkan Rex yang masih bingung atas sikap nya.
Di dalam mobil, Rex terlihat gusar. Menahan amarah dan kekesalan yang tidak bisa dia luapkan pada si sumber masalah.
“Ada apa? Kenapa lo terlihat sangat kesal.”
“Kenapa harus sekecil dia? Aku … aku merasa sedang mengasuh anak remaja labil. Dikit-dikit ngambek. Ngambek tapi gak tau kenapa. Dia pikir aku cenayang apa gimana?”
Angga dan Tias saling melirik, lalu menahan tawanya karena tidak ingin 90% menjadi 100%.
Kedua asisten kepercayaan Rex itu memilih diam.
“Astagaaa, gue kenapa sih kesel banget hari ini? Padahal dia nggak ngelakuin hal apapun loh. Tapi kok. Arrghhhh kesalnya.”
Delana mendumel sendiri di dalam kamar. Dia membaringkan tubuhnya sebentar. Lalu pergi ke kamar mandi.
“Halah pantes. Rupanya aku mens.”
Sambil menunggu waktu, Delana gelelengan di atas kasur sambil scroll media sosial. Lama kelamaan, dia merasa perutnya kram.
“Duh. Kebiasaan banget sih kalau hari pertama mens sakit banget.”
Saat Delana menstruasi, dia akan merasakan apa yang namanya Dismenorhoe, di mana rasa nyeri pada bagian perut bawah akan begitu menyiksa. Ditambah dia akan merasa mual juga.
Gadis itu mencari obat penahan rasa sakit, tapi dia tidak menemukan nya.
“Kalau gak ada obat, gimana mau ke kampus kalau gini. Oweeekkk. Duh, mual lagi.”
Delana pergi ke kamar mandi. Dia muntah beberapa kali. Selain perutnya yang sakit, Delana juga harus merasakan mual muntah. Hal itu membuat energi nya terkuras habis.
“Mana pelayan di rumah ini libur semua. Hiks.”
Gadis itu membaringkan dirinya di atas kasur. Meringkuk sambil memegangi perutnya yang semakin lama semakin menjadi rasa sakit yang dia rasa.
Hari semakin sore, tenaga Delana benar-benar sudah hampir habis. Keringat dingin membanjiri wajah dan tubuhnya. Dia berguling ke sana kemari.
“Toloooooong, siapapun tolong.”
Tidak ada yang mendengar.
Sementara di bawah sana, bodyguard yang bertugas menjaga Delana pun menunggu dengan cemas. Dia yang diberitahu Rex bahwa hari ini Delana akan pergi kuliah, tapi Delana tidak kunjung turun.
“Telpon saja bos. Kasih tahu kalau nyonya tidak berangkat ke kampus.”
“Tapi mungkin nyonya sendiri sudah memberitahu.”
“Ya telpon aja. Kalau ada apa-apa toh kita udah laporan.”
“Bener juga sih.”
Akhirnya salah satu dari mereka mencoba menghubungi Rex.
“Ada apa? Saya sedang meeting.”
“Bos, sepertinya nyonya tidak ke kampus.”
“Maksdunya?”
“Nyonya tidak turun sejak pagi.”
“Oke, biar nanti saya telpon.”
Rex menutup obrolan nya dengan sang bodyguard, lalu mencoba menghubungi Delana.
Satu kali, dua kali, tiga kali tidak ada jawaban. Rex mulai gusar.
“Maaf, pertemuan kita cukup sampai di sini. Saya—“
Belum selesai dia berbicara, telponnya berdering. Delana.
“Halo, kamu ken—“
“Pak, pulang. Tolooongg.”
Suara lirih Delana dari telpon membuat Rex seketika berlari tanpa berpamitan pada rekan kerjanya yang sedang diajak meeting.
Angga dan Tias pun ikut berlari menyusul Rex.