NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

masalah datang

“Eh, Nanda, memang kamu biang kerok, ya?” Sutinah kesal. “Cucumu jadi brutal itu karena kamu tidak pernah mendidiknya.”

Suara Sutinah menggema di ruangan balai RW yang panas. Kipas angin tua di langit-langit berputar lambat, berdecit pelan, tak cukup mengusir gerah dan tegang yang menggantung di udara. Beberapa orang mengipas wajah dengan tangan, sebagian lain hanya menatap tajam.

“Cucuku enggak brutal. Anak kamu saja yang payah. Padahal cucuku melawan lima orang, tapi dia baik-baik saja. Kalian ini payah sekali jadi orang tua. Kalau punya anak lelaki itu jangan dibiarkan lemah.”

Nada suara Nanda keras, mantap, tanpa ragu sedikit pun. Tubuhnya condong ke depan, dagunya terangkat. Di sampingnya, Dewi duduk santai, bibirnya yang pecah masih menyisakan noda darah kering.

Tampak Dewi mengacungkan jempol.

Gerakan kecil itu justru memperkeruh suasana. Beberapa orang tua langsung mendengus kesal. Ada yang menggeleng pelan, ada yang berbisik tidak suka.

“Cukup, cukup,” ucap Pak Polisi.

Suara itu tegas, memotong keributan. Namun suasana belum sepenuhnya reda. Sejak tadi musyawarah tidak pernah benar-benar tenang. Nanda seperti api yang terus menyala, sedikit saja tersulut langsung membesar.

Amira duduk di sampingnya, punggungnya tegak, tapi jemarinya saling menggenggam erat. Ia berusaha tetap tenang, meski dadanya terasa sesak. Berbeda dengan Nanda, Amira memilih menahan diri.

Pak Polisi menggebrak meja. Bunyinya keras, memantul di dinding kayu.

Suasana langsung hening. Semua mata tertuju ke depan.

“Nah, begini dong. Kita berkumpul di sini untuk musyawarah. Saya akan bertanya pada masing-masing pihak, dan saat pihak yang satu saya tanya, yang lain diam, ya. Kalian bisa bicara kalau saya izinkan bicara.”

Tatapannya menyapu satu per satu wajah di ruangan itu. Tegas, tanpa kompromi.

“Apa kalian mengerti?”

“Mengerti, Pak,” jawab Amira dan beberapa orang tua.

Suara mereka tidak serempak, tapi cukup jelas. Amira melirik Nanda sebentar, memberi isyarat agar kali ini diam. Ia tahu, satu kata saja dari Nanda bisa memancing keributan lagi.

“Baik, sekarang saya tanya sama Ibu Amira, apakah bersedia menanggung biaya pengobatan seluruh korban?”

Semua mata beralih ke Amira. Ruangan terasa makin sempit. Suara napas orang-orang terdengar jelas.

“Saya bersedia dengan biaya yang wajar. Kalau harus puluhan juta, saya tidak sanggup. Kalau harus ke psikiater, anak saya juga harus ke psikiater. Anak saya perempuan, dikeroyok banyak anak lelaki. Apakah kalian pikir yang terguncang jiwanya hanya anak kalian saja?”

Suara Amira tenang, tapi tegas. Matanya lurus menatap ke depan. Ada keberanian yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

“Lecet dikit ke psikiater, payah kali,” gerutu Nanda.

Suara itu pelan, tapi cukup terdengar. Amira langsung menoleh, menatap tajam. Nanda melengos, pura-pura tidak peduli, tapi akhirnya diam.

Ia memang bukan tipe yang suka debat panjang. Dia lebih suka adu jotos ketimbang adu mulut. Kebenaran akan ditentukan oleh siapa yang kuat bukan oleh siapa yang pandai bicara, itu adalah pemikiran Nanda.

“Tidak bisa. Selain luka luar, luka batin juga harus diobati. Bagaimana kalau anak saya nanti jadi penakut setelah ini?” Sutinah masih kekeh.

Wajahnya merah, napasnya berat. Ia berdiri sedikit dari kursinya, seolah tidak mau kalah.

“Oh, kalau begitu ada program di kecamatan untuk konseling anak. Ini adalah produk baru dari Komisi Perlindungan Ibu dan Anak. Ibu-ibu yang merasa anaknya mengalami gangguan psikologi karena perkelahian bisa datang ke kecamatan,” Pak Polisi memberi jalan tengah.

Ruangan sedikit mereda. Beberapa orang saling pandang, mempertimbangkan.

“Cucuku memang hebat, memukul orang sampai gila,” kembali Nanda menggerutu.

Amira menutup mata sejenak, menahan emosi. Lalu menatap Nanda lagi, kali ini lebih tegas.

“Anak saya enggak gila,” ucap Purwo.

Nada suaranya dalam, menahan amarah. Ia tidak terima. Harga dirinya sebagai orang tua terusik.

“Baiklah, kita selesaikan saja masalahnya di sini. Sekarang bayar semua pengobatan anak kami.”

“Pak, biaya ke mantra hanya 150.000, masa minta segitu?” Sutinah keceplosan.

Ucapan itu membuat ruangan kembali riuh kecil. Purwo langsung menoleh tajam ke arah istrinya. Rahangnya mengeras. Dalam hatinya ia kesal,.

“dasar wanita bodoh tapi kamu minta 10 juta sekarang malah membocorkan harga asli” kata kata itu hanya ada dalam hati tidak keluar.

“Baik, saya akan mengganti dua kali lipat. Saya akan bayar 300.000,” ucap Amira tanpa ragu.

Keputusan itu keluar cepat. Ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Lebih baik selesai sekarang, daripada membesar. Kalau terus di perpajang amira takut akan keluar uang lebih besar

“Baiklah. Kalian ambil kwitansinya sebagai bukti. Jangan mempersulit diri, apalagi dengan memalsukan kwitansi. Nanti kena pasal memalsukan dokumen, ancamannya empat tahun penjara,” ucap Pak Polisi.

Suasana kembali tenang. Kali ini benar-benar tenang.

Amira menarik napas pelan. Dalam hatinya, ia mengakui, polisi ini cukup tegas dan bijaksana.

Purwo tentu saja tidak puas, bagaimanapun dia harus mengambil untung sebesar mungkin daru peristiwa ini. Namun dia juga tidak mau kena masalah hukum hanya karena memalsukan dokumen,

Hanya dua orang yang lukanya parah. Masing-masing sekitar tiga ratus ribu. Amira menghitung cepat di kepalanya. Uangnya akan berkurang banyak, tapi masih bisa bertahan.

“Baiklah, kalau begitu masalah ini kita cukupkan saja sampai di sini. Dan kalau kalian mau ke kecamatan, saya bisa antar agar anak kalian ditangani psikolog.”

“Tidak usah,” ucap Purwo. “Anak saya kuat. Hanya dipukul anak kecil, tidak berpengaruh sedikit pun.”

Nada suaranya sudah lebih rendah. Amarahnya mulai reda, meski gengsi masih tersisa.

Akhirnya dicapai kesepakatan. Amira mengeluarkan uang 700.000 untuk mengganti semua kerugian. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkan uang itu.

Pak Polisi membuat berita acara musyawarah. Kertas itu berpindah tangan, ditandatangani satu per satu. Tinta mengalir, mengikat kesepakatan.

Dan diakhiri dengan sesi salaman sebagai tanda damai.

Amira keluar dari balai RW sambil menggenggam tangan Arjuna.

Sedangkan Nanda menggenggam tangan Dewi dengan penuh kebanggaan dan kepala tegak.

Tidak ada yang bicara sama sekali. Arjuna melihat Amira dengan rasa takut dan penyesalan.

Sedangkan Dewi, walau badannya terasa sakit semua, dia berjalan dengan riang gembira.

Sesekali bertemu dengan orang, Dewi mengacungkan tangannya seolah mengajak berantem.

Beberapa orang langsung menghindar.

Kepala Amira terasa pening melihat semua ini.

Uangnya tinggal 300 ribu dan ponselnya ketinggalan di kontrakan.

Rencananya, dia akan menjual ponselnya itu untuk modal usaha. Nenek dan Dewi harus diberi aktivitas supaya tidak membuat onar lagi.

Sesampai di kontrakan, mereka tercengang.

Pintu kontrakan sudah terbuka. Beberapa jejak kaki terlihat.

Jelas sekali ada yang masuk ke kontrakan mereka.

Amira segera bergegas masuk ke kontrakan. Dia tercengang. Baju dia sudah hilang semua, sedangkan baju Dewi berserakan di ruang tengah.

“Sialan, ada rampok di siang bolong,” ucap Nanda kesal, mengedarkan pandangannya.

Kepala Amira berdenyut keras. Ponselnya sudah raib. Beberapa bajunya sudah hilang. Yang tersisa hanya pakaian dalam saja. Bahkan koper dia sudah tidak ada.

Belum hilang keterkejutan, tiba-tiba terdengar suara lantang.

“Kalian harus pergi dari rumah ini,” ucap Ibu Suminah, pemilik kontrakan.

“Eh, Minah, kontrakan ini sudah aku bayar, kenapa aku harus pergi?”

“Itu semua karena cucu kamu. Cucu kamu sudah melukai keponakanku,” jawab Suminah.

“Siapa keponakanmu?”

“Anakku,” ucap seseorang.

Nanda melihat ke sumber suara. Terlihat Sutinah sudah berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada.

“Kamu pikir masalah kita sudah selesai? Aku masih sakit hati. Sekarang kalian harus pergi dari kontrakan ini,” Sutinah berkata dengan lantang.

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!