Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti
"Makasih, Ma, udah ajak Kayla ke taman," ucap Kayla riang, saat Arumi memarkirkan sepeda motor listriknya di area parkir taman kota sore itu. Arumi tersenyum.
"Sama-sama," ucap Arumi.
Arumi menggandeng Kayla berjalan di taman yang cukup ramai. Arumi jarang mengajak Kayla ke taman kota. Sore ini, entah mengapa, Arumi ingin keluar dari rumah, tapi dia tak tahu harus kemana dan melakukan apa. Akhirnya dia memutuskan mengajak Kayla ke taman kota.
Keputusan Arumi sepertinya tak salah. Suasana taman yang lumayan ramai membuat Arumi sedikit melupakan rasa sesak yang selama ini membebaninya.
"Wah! Gendhis!" teriak Kayla saat Kayla melihat Gendhis dari kejauhan. Kayla langsung berlari menghampiri Gendhis.Seketika Arumi menatap ke arah Kayla berlari.
Di dekat ayunan, berdiri Dimas yang sedang mengayunkan ayunan yang dinaiki Gendhis. Senyum hangat langsung menghiasi wajah Dimas saat melihat Kayla berlari ke arah Gendhis.
"Hai, Kay!" sapa Dimas pada Kayla.
"Mas Dokter!" sapa Kayla ceria. Dimas tertawa.
"Panggil 'Om' ajalah. Biar sama kek Gendhis," kata Dimas dengan sisa tawa yang masih terdengar.
"Nggak mau! Om itu buat bapak-bapak," kata Kayla sambil naik ayunan di samping Gendhis. Dimas tersenyum lalu mengayunkan ayunan Gendhis dan Kayla bergantian.
"Hai," sapa Dimas saat Arumi mendekat. Arumi tersenyum.
"Udah selesai praktiknya?" tanya Arumi. Dimas mengangguk.
"Satu pasien minta ganti besok. Abis itu ada Gendhis dateng. Mbak Arisa masih sibuk. Ya udah aku bawa kesini," kata Dimas masih sambil mengayunkan ayunan Kayla dan Gendhis. Arumi manggut-manggut.
"Kamu?" tanya Dimas sambil menatap Arumi dan tersenyum.
"Eh?"
"Sering ke taman sore-sore gini?" tanya Dimas memperjelas pertanyaannya.
"Oh. Nggak. Baru hari ini... setelah sekian lama," kata Arumi sambil menatap Kayla. Dimas tersenyum.
"Kamu butuh hal-hal kecil seperti ini sesekali," kata Dimas.
"Kamu bisa minta tolong aku jagain Kayla kalo kamu butuh waktu sendiri," lanjut Dimas sambil menatap Kayla.
"Eh? Itu terlalu mere..."
"Nggak. Sama sekali nggak ngerepotin," potong Dimas cepat sambil tersenyum.
"Sepertinya aku dan Kayla akan cepat cocok. Ya kan, Kay?" kata Dimas.
Kayla menoleh ke arah Dimas lalu tersenyum dan mengangguk, seolah mengerti apa yang dibicarakan Dimas dan mamanya. Arumi menaikkan kedua alisnya, terkejut melihat reaksi Kayla.
"Yang tak disadari suami adalah... terkadang, isteri juga butuh waktu untuk dirinya sendiri, tanpa suami, tanpa anak-anak," kata Dimas sambil mengayunkan ayunan. Arumi menatap Dimas.
"Bukan karena ingin lari dari tanggung jawab atau kenyataan," lanjut Dimas.
"Tapi, kerena mereka butuh waktu jeda untuk mengisi daya mereka, untuk menghargai dan mencintai diri mereka, agar bisa lebih bahagia saat kembali menghadapi hari-hari bersama suami dan anak," kata Dimas. Arumi tertegun.
Arumi menatap Kayla. Sejak kelahiran Kayla, Arumi bahkan tak bisa mengingat kapan terakhir kali dia pergi jalan-jalan sendiri, menikmati waktunya sendiri dan melakukan hal yang dia sukai sendiri.
'Sudah lama sekali...'
***
"Ngapain orang Sanjaya Abadi nyariin lo?" tanya Dira saat Ardi sudah kembali ke mejanya.
"Cuma mau ngasih proposal yang udah mereka revisi," kata Ardi. Dira manggut-manggut.
"Trus kenapa lo keliatan panik tadi?" tanya Dira heran. Ardi terlihat memutar bola matanya, mencoba mencari alasan.
"Mmm... nggak. Gue kira ada hal urgent gitu," kata Ardi. Dira mengerutkan alisnya.
"Hhh~" Dira menghela nafas panjang lalu meninggalkan Ardi.
Ardi lega. Ternyata bukan Farida yang datang ke kantornya, melainkan Damar yang ingin memberikan revisi proposal. Namun, ada ketakutan di hati Ardi. Dua hari lagi akan diadakan meeting bersama PT. Sanjaya Abadi dan klien mereka untuk memantapkan proyek yang akan segera dikerjakan.
'Apa Farida akan datang? Gue harus siap,'
***
Arumi tiba di rumah sebelum petang. Mobil Ardi belum terparkir di garasi, artinya Arumi pulang tepat sebelum Ardi sampai di rumah.
"Mamaaa, ada paket!" seru Kayla saat tiba di depan pintu. Arumi mengerutkan kedua alisnya.
"Paket?" tanya Arumi sambil mengambil bungkusan kecil berwarna cokelat.
Tak ada nama pengirim disana. Juga tak ada resi dari jasa pengiriman paket. Arumi membaca tulisan yang tertera di dalam bungkusan kecil itu.
"Untuk isteri Mas Ardi tersayang?"
Jantung Arumi berdetak hebat. Arumi segera membuka pintu rumah dan masuk ke kamarnya.
"Maaa..."
"Kayla main sendiri dulu ya. Mama mau buka ini dulu," kata Arumi pada Kayla. Kayla mengangguk lalu berlalu ke ruang keluarga dan memainkan mainannya.
Arumi menatap bungkusan itu lama. Tangannya bergetar. Jantungnya berdetak hebat. Arumi perlahan membuka bungkusan itu. Sebuah flashdisk kecil terjatuh ke pangkuannya. Tak ada apapun selain itu.
Arumi dengan cepat mengambil laptop Ardi di atas meja kerja. Dengan tangan gemetar, Arumi menghubungkan flashdisk ke laptop. Ada satu folder disana. Arumi mengklik folder itu. Ada satu file video. Jantung Arumi masih berdetak hebat.
Arumi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya membuka file video itu.
Mata Arumi membulat sempurna melihat apa yang ada dalam video itu. Jelas. Rekaman CCTV. Ardi sedang begitu bergairah menciumi seorang wanita di sebuah ruang tamu sesaat setelah wanita itu mengunci pintu. Arumi menutup mulutnya. Tak percaya.
Arumi melihat tanggal yang tertera dalam rekaman CCTV itu. Hari kematian ibunya! Mata Arumi panas. Airmatanya menggenang. Seluruh adegan di dalam rekaman CCTV itu membuktikan aroma parfum yang memikat waktu itu memang adalah jejak perselingkuhan Ardi.
"Hai, Kay," suara Ardi terdengar. Arumi bergegas mematikan laptop dan mencabut flashdisk yang dia dapat dari entah siapa.
"Mana Mama?" tanya Ardi. Arumi bergegas mengelap sisa airmata yang masih ada dan menenangkan dirinya.
"Di kamar," jawab Kayla sambil asyik bermain.
"Ngapain?" tanya Ardi sambil duduk di samping Kayla.
"Baru..."
"Udah pulang, Mas?" tanya Arumi sambil memasang senyuman —meski berat— dari ambang pintu kamar.
"Ah! Iya," jawab Ardi sambil berdiri, berjalan menghampiri Arumi. Arumi mencium tangan Ardi. Ardi mencium pucuk kepala Arumi.
Ada sesuatu yang perih di dalam hati Arumi saat Ardi mencium pucuk kepalanya. Kilasan adegan rekaman CCTV yang baru saja Arumi lihat kembali terlintas dalam pikiran Arumi. Arumi menahan agar airmatanya tak keluar.
"Aku mandi dulu," kata Ardi sambil berlalu menuju kamar mandi. Arumi tersenyum.
Arumi merogoh saku celananya dan mengambil flashdisk yang dia dapat. Dia menatap flashdisk itu dengan tatapan nanar. Hatinya begitu sakit hingga tak tahu harus melakukan apa. Arumi menatap Kayla yang sedang asyik bermain. Arumi jadi teringat Dimas dan kata-katanya.
"Kamu bisa datang pada ku kapan pun kamu mau. Entah sebagai pasien... atau... sebagai... teman,"
***