NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Saat ini Natalie mengantar Nisa ke sekolah. Ia memakai motornya, lebih tepatnya motor milik Dewi. Sebenarnya tadi di rumah Nisa menolak mentah-mentah ajakan Natalie yang menggunakan motor, tapi mengingat waktunya yang sangat mepet Natalie memaksa anak itu.

"Aku nggak mau tau, nanti kalau jemput pakai mobil jangan motor. Lihat, rusak rambut aku gara-gara kamu," protesnya.

Natalie memutar bola matanya malas. "Udahlah nggak usah kebanyakan protes. Masih mending gue anter, Lo."

"Ck, yaudah sana. Hus, hus. Pergi kamu," usir Nisa, mengibas-ngibaskan kedua tangannya seperti mengusir hewan.

Setelah kepergian Natalie, Nisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah. Ia berjalan dengan anggun dan tatapan kagum. Ekspresi wajahnya menunjukkan seolah-olah ia adalah penguasa di sekolah ini.

Murid-murid berbisik saat Nisa melewati mereka. Banyak lontaran aneh yang mereka keluarkan. Karena selama ini, Natalie selalu menyapa mereka dengan ramah. Tidak seperti sekarang, hanya tatapan sombong dan angkuh yang di keluarkannya.

"NATALIE!" teriakan seseorang di belakangnya.

Nisa tak memperdulikan panggilan itu. Ia hanya menganggap angin lalu bisikan-bisikan dan teriakan panggilan yang di dengarnya.

"Ck, ini kelas Natalie kenapa harus di atas sih. Bikin kaki pegel tau nggak," gumamnya sebal.

Hingga sampailah Nisa di depan kelas Natalie. Di susul dengn seseorang yang memanggilnya tadi dengan napas ngos-ngosan. Nisa hanya menatap malas orang di depannya itu.

"Nata, di panggilin dari tadi juga," ucap Caca.

Natalie tak memperdulikan Caca, langsung Mauk ke dalam kelas. Di belakang Caca mendelik sebal. Bisa-bisanya ia di cuekin gitu aja, pikirannya.

Nisa menyapu pandangannya ke seluruh kelas, hingga perhatiannya berhenti di bangku tempat Nathan dan Fabian duduk. Dengan senyum centil, ia mendekat ke arah mereka.

"Emm, permisi. Kalian tau nggak bangku aku di mana?" tanya Nisa dengan nada sedikit manja.

Nathan dan Fabian saling pandang saling mengode satu sama lain.

Nathan menganggukkan kepalanya, membuat Fabian mau tak mau berlagak ramah pada orang di depannya.

"Nata, masa Lo lupa sih. Lo kan duduk di depan kita," ujar Fabian lembut, yang berbanding balik dengan hatinya yang menyumpah serapahi Nisa.

"Eh, iya kah? Kayaknya efek kebanyakan tidur deh, jadi lupa," ucap Nisa di akhiri dengan kekehan malu. Wajahnya bersemu merah melihat dua pemuda di depannya tersenyum kepadanya.

"Kayaknya mereka berdua nggak sadar deh, kalau aku bukan Natalie. Ada untungnya juga punya wajah sama," batinnya penuh kemenangan.

"Nata, kok Lo tinggalin gue, sih," protes Caca.

"Sorry, tadi aku masih konek. Jadi nggak tau kalau ada kamu," ucap Nisa dengan nada di lembutkan.

Membuat Nathan dan Fabian di belakangnya muak mendengarnya.

"Kok cara bicara Lo berubah, sih?" tanya Caca curiga.

"Emm, p-perasaan kamu aja kali," sanggah Nisa dengan senyum canggung.

"Nggak—"

"Caca, nanti gue sama Fabian mau bicara sama Lo, Lina, sama Isna juga sekalian," ucap Nathan menghentikan Caca.

"Tumben? Nata nggak di ajak?" heran Caca.

"Udah, ngikut aja kenapa sih."

"Yeu, kan gue heran aja sama Lo berdua. Nggak biasanya ngajak gue ketemuan," ujar Caca.

"Ca," peringat Fabian.

"Hehe, siap bos. Gue akan ikut kalian," kata Caca.

"Wah, nggak adil Lo. Masa iya sama Fabian Lo langsung nurut, sama gue nggak," protes Nathan.

"Sstt, diam ya Lo kutil badak. Lo sama Fabian itu beda. Fabian kan selingkuhan gue, jadi wajar dong kalau gue nurut sama dia. Lah, Lo siapa kok ngatur-ngatur," ujar Caca memulai perdebatan.

"Eh, eh, eh. Lo nggak bisa ya bilang kayak gitu sama pangeran. Lo mau gue aduin ke princess, biar dia pecat Lo jadi temennya. Mau?"

Fabian yang jengah dengan pertengkaran keduanya hanya bisa pasrah. Ia merobek kertas buku di tangannya, menggumpal kertas itu. Lalu ia menyumpal kertas itu ke dalam mulut Nathan.

"Ian, Lo kok jahat sih sama pangeran!" pekik Nathan tak terima.

"Udah ya, stop! Gue mau tidur, jangan ganggu gue," finalnya menghentikan pertengkaran.

"Lo, sih. Jadi marahkan Fabian," ucap Nathan lirih.

Caca mencibikkan bibirnya kesal. Ia duduk di bangkunya dengan kasar, menaruh tasnya tak sabar.

......................

Di sisi lain, Natalie sedang membersihkan meja di sebuah warung kecil. Meskipun tempatnya cukup kecil, tapi pelanggan di warung ini lumayan banyak. Bahkan terbilang cukup ramai untuk tempat yang tak sebegitu besar. Makanan yang di jual di sini pun cukup enak, jadi sangat worth it lah meskipun cukup murah harganya.

Ia sangat bersyukur karena keterima kerja di sini. Ya, meskipun kerjaannya banyak, tapi ia cukup senang. Banyak hal yang harus ia lakukan di hari pertamanya kerja. Apalagi di sini karyawannya hanya sedikit, sekitar 3 orang termasuk dirinya.

Selesai mengelap meja, Natalie beralih ke dapur untuk membantu memasak makanan yang sudah habis. Padahal masih pagi, tapi ramai sekali orang yang mampir ke sini.

"Natalie, tolong ambilkan sayur yang ada di kulkas dong. Ini udah pada habis semua," ucap Dina, salah satu pegawai.

"Iya, mbak."

Natalie mengambil sayuran yang di butuhkan, lalu membantu Dina memasak.

"Natalie, emang kamu nggak sekolah? Kenapa nyari kerja. Seharusnya seumuran kamu bukannya masih sekolah, ya."

"Aku lagi cuti, mbak. Jadi sekalian bantu-bantu mama untuk biaya sekolah adik aku," bohongnya.

"Oh, gitu. Hebat ya kamu, masih kecil udah bisa bantu orang tua. Sekarang banyak anak yang nggak semangat kayak kamu. Selalu saja mengandalkan orang tua."

Natalie hanya tersenyum tipis mendengarnya.

Drrtt … Drrtt …

"Mbak, aku ijin angkat telepon ya," pamit Natalie yang di angguki Dina.

Tertera nama Fabian yang menelponnya, membuat ia mengernyitkan dahinya. Ia melihat jam yang di mana seharusnya sekarang memang waktunya istirahat.

"Kenapa, Ian?"

"Nggak ada sih, cuma pengen denger suara Lo aja."

Natalie menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkah sahabatnya itu.

"Yaudah kalau nggak ada apa-apa. Gue matiin ya, masih kerja soalnya."

"Tunggu! Lo kerja?"

Natalie gelagapan sendiri di buatnya. Ia keceplosan bilang kalau dirinya sedang kerja. Padahal ia sudah bertekad untuk tidak memberitahu sahabatnya itu.

"Emm, Ian ku tutup teleponnya ya. Aku di panggil Tante Dewi, nih. Bye," alibinya.

Natalie buru-buru menutup telponnya. Ia merutuki mulutnya yang nggak bisa di rem. Bisa-bisanya ia keceplosan bilang ke Fabian. Sepertinya ia harus menyiapkan diri untuk di interogasi oleh kedua sahabatnya itu nanti.

"Natalie,udah selesai nelponnya?" tanya Bu Ani, pemilik warung sekaligus bosnya.

"Udah, Bu. Kalau gitu saya lanjut kerja ya," pamitnya.

"Eh, tunggu dulu Natalie," cegah Bu Ani. "Saya sudah memutuskan kalau khusus kamu selesai kerjanya nanti sore, beda dari yang lain. Karena kata kamu juga harus jemput adik kamu, kan?"

"Makasih banyak ya, Bu. Ibu udah memberi pengertian dan udah baik sama saya," ucap Natalie dengan sopan.

"Nggak masalah. Justru saya yang berterima kasih sama kamu. Dengan adanya kamu di sini, bisa mengurangi rasa rindu saya sama anak saya."

Natalie tersenyum penuh haru mendengarnya. Hatinya sedikit teriris mendengar perkataan Bu Ani. Ia paham, sangat paham dengan apa yang di rasakan oleh beliau. Karena bagaimanapun juga, ia sedang berada di posisi itu. Hanya berbeda tempat dan suasana saja.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!