NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 001

Bau plastik terbakar? Bukan.

Zura mengerutkan hidung. Bau ini lebih mirip parfum melati yang dicampur alkohol dosis tinggi. Menusuk, bikin mual, dan sangat tidak estetis bagi hidung rakyat jelata yang biasanya hanya menghirup aroma bawang goreng dari gerobak cilok Bang Kumis. "Duh, Bang jangan kebanyakan sambal," gumam Zura parau.

Matanya masih terpejam rapat, kepalanya berdenyut seolah habis dipukul panci presto.

Ia mencoba menggerakkan tangan kirinya, mencari bungkusan cilok bumbu kacang yang seharusnya masih ada di genggamannya. Tapi nihil. Jarinya justru menyentuh sesuatu yang licin, dingin, dan halus, seperti sutra.

Tunggu. "Sejak kapan sprei kosan seratus ribuan miliknya berubah jadi selembut pantat bayi?"

Zura memaksakan matanya terbuka. Cahaya lampu gantung kristal di atasnya langsung menghantam pupil matanya tanpa ampun.

"Aduh," ia memekik, refleks menutup wajah.

Tapi saat tangannya menyentuh pipi, ia mematung. Teksturnya kaku. Pipi Zura yang biasanya kenyal dan berminyak karena hobi makan gorengan, sekarang terasa tebal dan kasar. Ia meraba lebih jauh ke area mata. Ada sesuatu yang kering dan menggumpal di bulu matanya.

"Ini semen?" Bisiknya. Suaranya tidak serak khas bangun tidur, melainkan melengking tinggi dan terdengar entah bagaimana sangat menyebalkan di telinganya sendiri.

Zura tersentak duduk. Rasa kantuknya hilang seketika digantikan rasa waspada tingkat dewa. Ia tidak berada di kamar kos berukuran 3x3 meter. Ia berada di sebuah ruangan seluas lapangan futsal dengan furnitur bergaya Victoria yang didominasi warna emas dan putih.

"Prank. Fix ini Uya Kuya balik lagi ke TV," gumamnya panik.

Ia menyibak selimut bulu angsa dan melompat turun. Kakinya nyaris terkilir saat menyadari ia memakai gaun tidur sutra hitam yang belahannya sampai ke paha. "Astaga, baju kurang bahan."

Langkahnya terhenti tepat di depan cermin setinggi plafon. Zura menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Ia menatap pantulan di depan sana dengan mata membelalak. "Demi micin di kuah bakso ini siapa?!"

Sosok di cermin itu terlihat seperti korban malapraktik tata rias. Eyeliner hitamnya ditarik terlalu panjang sampai hampir menyentuh pelipis, persis mata elang yang sedang sembelit. Pipinya merah merona bukan karena malu, tapi karena blush on yang terlalu tebal sampai menyerupai luka lebam. Dan bibirnya? Merah menyala, seolah-olah dia baru saja menghisap darah seekor ayam hidup-hidup.

Zura menyentuh wajahnya, sosok di cermin melakukan hal yang sama.

Zura menjulurkan lidah, sosok itu juga.

Zura menampar pipinya sendiri—PLAK—Aw! Sakit, anjir."

Rasa perih itu nyata. Dinginnya lantai marmer di bawah kakinya nyata. Dan denyutan di kepalanya yang tiba-tiba membawa sekelompok memori asing juga terasa sangat nyata. Bayangan-bayangan itu muncul seperti slide proyektor rusak wajah-wajah ketakutan di lorong sekolah, tawa jahat di atas penderitaan orang lain, dan satu nama yang terukir dengan tinta merah di otaknya.

"Ziva. Si Queen Bully."

"Bentar bentar," Zura memegangi kepalanya yang makin berdenyut.

Zivanna?

"Antagonis di novel 'Cinta Tak Sampai' yang gue baca sambil makan cilok tadi?"

Ia menatap kembali ke cermin. Potongan ingatan itu mengonfirmasi satu hal: ia sekarang berada di tubuh gadis paling dibenci satu sekolah. Gadis yang di akhir cerita bakal berakhir tragis karena kejahatannya sendiri.

Zura terdiam sejenak. Matanya menatap tumpukan foundation yang mulai retak di sudut bibirnya. "Oke, Zura. Tenang. Kalau ini beneran transmigrasi, biasanya ada sistem atau misi-misi ajaib yang muncul di udara, kan?"

Ia menunggu. Menatap udara kosong di depannya selama satu menit. "Sepi. Tidak ada layar hologram. Tidak ada suara robot. Nggak ada?"

Zura mengangkat bahu. "Ya udah, baguslah. Gue juga lagi males dapet misi aneh-aneh. Bikin capek aja!"

Keresahan eksistensial itu tiba-tiba kalah telak oleh satu hal "Kruyuuuuuuk." Perutnya protes. Rasa lapar yang tertunda karena ciloknya tertinggal di dunia nyata kini menuntut balas. "Krisis identitas bisa nanti, tapi maag gue nggak bisa kompromi," gumamnya.

Sebelum keluar kamar, ia menyambar tisu basah di meja rias dan menggosok wajahnya dengan brutal. Ia tidak tahan melihat 'topeng semen' itu. Setelah tiga kali usapan kasar, lapisan tebal itu luntur, menampilkan wajah asli pemilik tubuh ini.

Zura tertegun sebentar. "Gila... aslinya cantik banget kayak boneka, tapi kenapa seleranya kayak mau lenong?"

Ia tidak ambil pusing. Dengan rambut yang hanya diikat asal menggunakan ikat rambut yang ada di atas meja rias yang ia temukan di meja mahal itu, Zura melangkah keluar.

Langkahnya seret, bahunya merosot, benar-benar tidak ada aura 'Ratu' sama sekali.

Di ujung tangga, seorang asisten rumah tangga paruh baya sedang mengelap pegangan tangga. Begitu melihat Zura turun dengan riasan berantakan dan gaya jalan seperti orang habis kerja rodi, si Bibi Sumi langsung berdiri tegak, wajahnya pucat pasi.

"N-Nona Ziva! Maaf Nona, sarapannya hampir siap, saya—"

Zura menoleh. Tatapannya layu. "Bi, nggak usah tegang gitu. Saya nggak mau makan steak atau apa pun yang ribet dipotong."

Bibi itu melongo. "M-maksud Nona?"

"Ada mie instan nggak?" Tanya Ziva (Zura) sambil menggaruk perutnya yang tidak gatal.

"Yang kuah ya, Bi. Telurnya satu, mateng. Kalau ada rawit iris, boleh juga. Saya butuh asupan micin biar otak saya yang geser ini balik ke tempatnya."

Bibi itu menjatuhkan kain lapnya. Mulutnya menganga lebar, seolah baru saja melihat kucing peliharaan majikannya tiba-tiba bisa bicara bahasa Mandarin. "M-mie... instan, Nona?"

"Iya, Bi. Buruan ya, saya tunggu di ruang makan. Saya lagi males marah-marah, jadi tolong jangan lama-lama."

"Makasih, Bi! ucap Ziva (Zura) lagi."

Ziva (Zura) berlalu pergi, meninggalkan si Bibi Sumi yang masih mematung, meragukan apakah kiamat sudah dekat atau majikannya baru saja kesurupan setan penunggu warung kopi.

Zura duduk di kursi makan yang ukurannya lebih besar dari kursi singgasana di film-film kolosal. Ia merasa kecil, tapi perutnya yang keroncongan jauh lebih berkuasa daripada rasa minder.

Beberapa menit kemudian, Bibi datang dengan nampan perak. Di atasnya, sebuah mangkuk porselen mahal mengepulkan aroma yang sangat familiar. Aroma yang sanggup membangkitkan semangat hidup Zura, Mie instan kuah rasa ayam bawang.

"I-ini Nona, mie instannya. Maaf kalau tidak sesuai selera non Ziva." ucap Bi Sumi sambil menunduk dalam, tangannya gemetar seolah sedang menyajikan granat aktif.

"Mantap! Makasih ya, Bi," sahut Ziva (Zura) semangat.

Ia langsung menyambar sumpit perak (iya, di rumah ini sumpitnya pun perak) dan mulai menyantap mi itu dengan khusyuk. Slruuup.

Suara seruputan Ziva (Zura) menggema di ruang makan yang sunyi dan elegan itu. Bibi nyaris pingsan. Nona Ziva (Zura) yang biasanya hanya mau makan salad organik atau steak wagyu dengan kematangan medium rare, sekarang sedang menghisap kuah mie instan seolah itu adalah air suci.

"Bi," panggil Ziva (Zura) di sela kunyahannya.

"I-iya, Nona?" Jawab Bi Sumi.

"Di sini ada kerupuk kaleng nggak? Yang putih, yang kalau digigit bunyi kriuk?"

Bibi mengerjapkan mata berkali-kali. "K-kerupuk putih? Di kaleng biru itu, Nona? Biasanya supir yang beli untuk makan di pos."

"Nah, itu! Minta satu dong. Sama es teh manis, gulanya agak banyakan ya. Lagi butuh glukosa buat mikir kenapa hidup gue jadi begini."

Setelah Bi Sumi pergi dengan langkah linglung, Zura kembali menatap pantulan dirinya di badan teko perak yang ada di meja. Wajahnya yang sudah bersih dari 'topeng semen' terlihat sangat kontras dengan bajunya yang seksi.

"Oke, Zura," bisik Zura pada dirinya sendiri. "Gue nggak tahu kenapa gue terjebak di tubuh lo. Tapi satu hal yang pasti gue capek kalau harus jadi jahat kayak lo. Ngejar-ngejar cowok yang nggak suka sama kita itu buang-buang energi. Mending gue pake waktunya buat maraton drakor atau tidur siang."

Ingatan-ingatan Ziva kembali berkelebat. Tentang sebuah geng bernama 'The Roses', tentang cowok bernama Reygan yang dikejar-kejar Ziva sampai gila, dan tentang si protagonis wanita yang sering disiksa Ziva, namanya Liana.

Zura mendesah panjang. "Duh, besok harus sekolah lagi. Mana sekolahnya elit banget. Pasti banyak drama!"

Ia menyeruput kuah terakhirnya sampai habis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Matanya mulai sayu. Efek kenyang mie instan mulai bekerja. "Pokoknya, mulai besok nggak ada lagi Queen Bee yang galak. Yang ada cuma Zura yang low energy."

"Kalau ada yang mau cari ribut, gue ajak tidur siang aja. Malas gue ladeninnya."

Tepat saat itu, sebuah suara berat terdengar dari arah pintu masuk ruang makan.

Ziva?

"Kamu makan apa itu? Baunya murahan sekali."

Ziva (Zura) menoleh. Di sana berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal dan wajah sedingin es. Papanya Ziva. Sosok yang di novel digambarkan sangat keras dan jarang pulang.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!