Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ruang kerja itu kini terasa seperti sel isolasi yang pengap. Bau alkohol yang tajam bercampur dengan aroma kertas terbakar menciptakan atmosfer yang memuakkan.
Anindya mundur hingga punggungnya menabrak pintu kayu jati yang baru saja dikunci Kenzo. Suara klik dari lubang kunci itu terdengar seperti vonis mati baginya.
"Kenzo, sadarlah! Kau sedang mabuk!" teriak Anindya, suaranya melengking memecah keheningan malam.
Kenzo tidak peduli. Ia melangkah maju dengan gerakan yang tidak stabil namun pasti. Sorot matanya yang merah mengunci Anindya, seolah wanita itu adalah mangsa yang sudah lama ia incar.
"Mabuk? Mungkin. Tapi aku belum pernah secerdas ini dalam hidupku, Anin. Aku membakar masa lalumu agar kau hanya punya masa depan... bersamaku."
Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa senti, Kenzo mengulurkan tangan, mencoba menyentuh pipi Anindya yang basah. Namun, dengan gerakan cepat dan penuh kebencian, Anindya melayangkan tamparan keras.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema. Wajah Kenzo terlempar ke samping. Keheningan yang mengikuti terasa jauh lebih mencekam. Anindya terengah-engah, tangannya gemetar hebat.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu! Arlan baru saja dimakamkan, Kenzo! Kau benar-benar tidak punya nurani!"
Kenzo perlahan memutar wajahnya kembali menatap Anindya. Alih-alih marah, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang berdarah akibat tamparan tadi.
Ia justru terkekeh rendah, suara yang membuat bulu kuduk Anindya berdiri.
"Tamparan yang bagus," bisik Kenzo. "Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku adalah suamimu malam ini."
Kenzo menerjang. Ia merengkuh tubuh Anindya dengan kasar, mencoba mencium leher wanita itu. Anindya meronta sekuat tenaga.
Ia memukul dada Kenzo, mencakar lengan jasnya, dan menggunakan lututnya untuk memberikan perlawanan terakhir.
BUGH!
Anindya berhasil mendaratkan tendangan keras tepat di bagian pedang milik Kenzo. Pria itu mengerang kesakitan dan jatuh bertumpu pada satu lutut di atas tumpukan abu foto yang terbakar.
"Kau monster! Aku membencimu!" Anindya mencoba meraih gagang pintu, berusaha membukanya dengan panik. Namun, kunci itu masih di tangan Kenzo.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik rambutnya dari belakang, memaksa Anindya mendongak.
Kenzo berdiri dengan wajah yang kini benar-benar gelap oleh amarah dan nafsu yang terpendam selama sepuluh tahun. Rasa sakit di tubuhnya justru memicu adrenalin yang lebih gila.
"Kau ingin bermain kasar, sayang?" Kenzo menyeringai mengerikan. "Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan di sangkar emas ini."
Tanpa peringatan, Kenzo mengangkat tubuh Anindya dan menghempaskannya ke atas meja kerja besar yang penuh dengan dokumen perusahaan.
Suara barang pecah kembali terdengar saat vas bunga dan tumpukan kertas jatuh berserakan di lantai.
"Lepaskan! Kenzo, tolong jangan!" Anindya menangis histeris.
Kakinya menendang-nendang udara, mencoba menjauhkan tubuh Kenzo yang mulai menindihnya.
"Kau selalu menjadi milikku dalam mimpiku, Anindya. Sekarang, mimpi itu menjadi nyata," ucap Kenzo dengan suara parau.
Kenzo mengunci kedua tangan Anindya di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Kekuatan mereka sangat tidak sebanding.
Anindya merasa lumpuh di bawah tekanan tubuh pria yang memiliki wajah menyerupai suaminya, namun dengan jiwa yang sepenuhnya berbeda.
Dalam pergulatan yang penuh paksaan itu, Kenzo berhasil menyatukan tubuh mereka. Anindya memejamkan mata rapat-rapat, giginya mengatup menahan jeritan yang lebih dalam. Setiap sentuhan Kenzo terasa seperti sayatan sembilu di kulitnya.
Pikiran Anindya melayang pada nisan Arlan yang masih basah, pada janji setia yang pernah mereka ucapkan, dan pada kehormatan yang kini direnggut secara paksa di atas meja kerja yang dulu menjadi tempat Arlan bekerja keras demi keluarganya.
Malam itu, di dalam ruang kerja yang gelap, Anindya merasa jiwanya ikut terbakar bersama foto-foto di asbak itu. Ia merasa kotor. Ia merasa menjijikkan. Setiap desah napas Kenzo di telinganya adalah penghinaan bagi cintanya pada Arlan.
Saat cahaya fajar mulai menyelinap di balik gorden ruang kerja, Kenzo sudah berdiri di dekat jendela, mengancingkan kemejanya yang kusut.
Ia menoleh ke arah meja kerja, di mana Anindya masih terbaring meringkuk dengan gaun hitam yang sudah robek di beberapa bagian. Wanita itu tidak menangis lagi, matanya kosong, menatap hampa ke langit-langit ruangan.
"Mandilah. Elang akan segera bangun dan bertanya di mana ibunya," ucap Kenzo tanpa nada menyesal sedikit pun.
Anindya tidak bergerak. Suaranya keluar dengan sangat lirih, hampir seperti bisikan hantu. "Kau sudah mengambil semuanya dariku, Kenzo. Kau tidak hanya mengambil tubuhku, kau membunuh jiwaku."
Kenzo berjalan mendekat, melemparkan kunci pintu ke atas meja di samping kepala Anindya.
"Aku tidak membunuhmu, Anin. Aku sedang membentukmu kembali untuk menjadi wanita yang pantas berdiri di sampingku. Mulai hari ini, lupakan Arlan. Jika aku mendengar namanya keluar dari bibirmu lagi... hukumanmu akan jauh lebih berat dari malam ini."
Kenzo keluar dari ruangan itu, meninggalkan Anindya dalam kehampaan yang tak berujung.
Dengan tubuh yang gemetar dan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuh, Anindya bangun. Ia merapikan pakaiannya sebisa mungkin. Saat ia melangkah keluar, ia melihat Elang sedang berdiri di ujung lorong dengan boneka beruangnya.
"Ibu? Kenapa Ibu di ruang kerja Ayah? Kenapa rambut Ibu berantakan?" tanya bocah mungil itu dengan polos.
Anindya memaksakan sebuah senyuman yang menyakitkan. Ia berlari memeluk anaknya, membenamkan wajahnya di bahu kecil Elang agar anaknya tidak melihat air mata yang kembali jatuh. Aku kotor, Elang. Ibu sangat kotor, jeritnya dalam hati.
~~
Beberapa jam kemudian, rumah itu kembali sibuk. Beberapa pelayan baru berdatangan, orang-orang yang dibawa langsung oleh Kenzo dari kediamannya yang lama.
Anindya menyadari bahwa ini bukan lagi rumahnya dan Arlan. Ini adalah wilayah kekuasaan Kenzo.
Segala hal yang berbau Arlan mulai menghilang. Parfum di meja rias, sikat gigi di kamar mandi, bahkan pakaian Arlan di lemari pun sudah kosong.
"Tuan Kenzo memerintahkan kami untuk membakar semua barang ini, Nyonya," ucap salah seorang pelayan saat Anindya mencoba menghentikan mereka yang membawa koper-koper berisi baju Arlan.
"Jangan! Itu milik suamiku!" teriak Anindya.
"Suamimu ada di ruang makan, Nyonya. Dan dia sedang menunggu Anda untuk sarapan," jawab pelayan itu dengan nada robotik.
Anindya melangkah ke ruang makan dengan amarah yang membuncah. Ia menemukan Kenzo sedang menyesap kopi hitam sambil membaca koran finansial, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
"Kembalikan baju-baju Arlan, Kenzo! Kau tidak punya hak!"
Kenzo meletakkan korannya pelan. Ia menatap Anindya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Duduk dan makan. Kita punya banyak hal untuk dipersiapkan. Besok adalah pengumuman resmi pengangkatanku sebagai CEO Praditya Group, dan kau harus hadir sebagai istriku."
"Aku tidak akan pergi!"
Kenzo berdiri, melangkah mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Anindya mematung.
"Jika kau tidak hadir dengan senyum terbaikmu di sampingku, aku akan memastikan Elang tidak akan pernah melihatmu lagi. Aku punya kuasa untuk membuatmu menghilang dari hidupnya, Anin. Jangan uji kesabaranku."
Anindya menelan ludah. Ia menatap pria di depannya, pria yang memiliki wajah kakaknya namun memiliki hati seorang tiran.
Ia menyadari bahwa ia tidak hanya terjebak dalam pernikahan, ia terjebak dalam sebuah sangkar emas yang setiap jerujinya terbuat dari ancaman dan obsesi.
Di sudut ruangan, Kenzo tersenyum puas melihat ketidakberdayaan istrinya. Baginya, ini hanyalah permulaan. Ia akan memastikan Anindya tidak punya tempat untuk berlari, hingga suatu saat nanti, wanita itu sendiri yang akan memohon untuk dicintai olehnya.
...----------------...
**To Be Continue** ....