Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16. jangan bicara soal mantan
Keesokan harinya..
“Eh, Bro,” seru Riski sambil memperlihatkan layar ponselnya ke arah Chris. “Ini siapa, ya? Gue pernah liat mukanya, kayak familiar gitu.”
Chris yang masih berkutat dengan ponselnya sempat melirik sekilas. Begitu pun dengan Alif yang duduk di kursi dekat jendela sambil meminum kopi, ikut menoleh ke belakang, kepada sang sumber suara.
"Oh, gue inget Chris! Bukannya itu cewek yang dulu pernah lo gandeng di club FA?"
"Hmm." Chris hanya melihat foto dari ponsel Riski dengan gumaman singkat, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Alif yang merasa kepo, akhirnya berjalan ke arah Riski dan melihat foto yang dimaksud temannya itu.
"Oh. Itu sih, Tia." Alif hanya berdecak biasa.
"Lo tahu, Lif?" Riski mengalihkan fokusnya kepada Alif karena Chris tidak kunjung meresponnya.
"Dia mantannya Chris pas pertama masih semester awal. Bener kan, Chris?"
Riski langsung menoleh cepat dengan alis terangkat tinggi. “Seriusan dia mantannya Chris? Cakep gini kenapa diputusin?" Riski semakin ingin tahu.
"Chris mah sukanya yang masih ting-ting. Alias masih rapet," ucap Alif sambil menyesap kopi hangatnya.
Chris yang awalnya hanya menyandarkan punggung dengan santai di sofa sambil memainkan ponselnya, langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar celetukan Alif yang meluncur begitu saja tanpa filter. Lalu ia melemparkan sebuah bantal bergambar salah satu tim sepakbola dari Brazil yang ada di sofa kepada Alif.
Bug!
"Bacot lo, anjing! Kalau sampe Maya denger, gue habisin lo sekarang juga!"
"Tapi aku udah denger, tuh."
Chris menoleh cepat, matanya melebar, nyaris tidak percaya. Tiba-tiba saja Maya ada di depannya dan mendengar pembicaraan mereka.
......................
"May! Maya.. tunggu!" Chris refleks menjatuhkan ponselnya ke lantai dan segera berlari mengejar Maya yang melenggang pergi begitu saja. Tapi sebelum Chris keluar dari kos, ia menendang sofa yang saat ini di duduki oleh Alif dan Riski.
"Awas lo! Habis ini, gue bunuh lo berdua!"
Alif terkejut untuk kesekian kalinya karena sikap Chris. Begitu pun dengan Riski yang hanya menatap Chris dengan mulut yang menganga lebar.
Riski masih duduk menyender di sofa sambil memainkan gelas kopi ditangannya. Setelah kepergian Maya dan Chris yang tampak kesal, ia menggeleng pelan dan menatap Alif dengan ekspresi serius, ekpresi yang sangat langka muncul di wajahnya.
“Gue tuh makin yakin, Bro,” kata Riski tiba-tiba. “Ada teori kuat kenapa cewek nggak pernah suka dengerin obrolan cowok tentang mantan,” ucapnya seperti orang yang sok pintar.
Alif berdecak dan memutar bola matanya malas. Lalu diliriknya si buluk yang lagi-lagi ingin mengucapkan teori anehnya. “Kali ini teori apaan lagi, Ki?”
Riski menggelengkan kepalanya, menatap Alif prihatin. "Masa sih lo nggak tahu?"
Alif menjambak rambutnya sendiri, menahan tangannya agar tidak memukul kepala Riski.
Riski mengangkat jari telunjuknya, seolah sedang menyampaikan kuliah penting. “Karena buat cewek, mantan itu semacam hantu. Udah nggak keliatan, tapi keberadaannya masih ngeganggu. Apalagi kalau lo ngomongin dengan cara yang... ya gitu deh, kayak masih ada rasa atau dibanding-bandingin.”
Alif tertawa di sampingnya. “Kayak hantu ya, Ki? Serem dong.”
“Bukan cuma serem,” lanjut Riski. “Tapi bikin insecure. Cewek itu makhluk yang penuh perasaan, Bro. Dengar lo ngomongin mantan, itu kayak lo ngingetin mereka bahwa mereka bukan yang pertama, dan bisa jadi... bukan yang paling berarti.”
"Next time, pas ada gebetan lo atau gebetan gue, obrolan kita cukup soal skripsi, mie instan, atau teori kenapa cowok tidur duluan saat nonton film,” lanjutnya sambil nyengir.
Alif menutup wajah Riski dengan bantal sofa. “Lo emang kampret.”
Riski tertawa pelan. “Tapi kampret yang penuh teori cinta. Inget Bro, cewek itu sensitif. Yang peka kalo jadi cowok, gitu aja nggak tahu!"
Riski yang berniat untuk berdiri, tiba-tiba kembali jatuh ke sofa. "Aduh! Sakit bego!"
Alif memiting leher Riski, lalu kepalanya diarahkan ke ketiaknya. "Rasain!"
"Anjir! Ketek lo bau banget sih, Lif?!" Riski berusaha melepaskan diri. "Pantes aja Windi minta putus sama lo, ternyata ketek lo bau bangke!"
Alif kian tersulut emosi. "Eh, sialan lo!"
"Ampun! Ampun!.. bercanda elah.. gitu aja marah! Kek anak perawan aja!"
...****************...
"Maya! Tunggu!"
Chris berlari menyusul Maya yang melangkah cepat meninggalkan kos. Nafasnya memburu.
“Maya! Dengar dulu, dong!” serunya, tapi Maya tetap melangkah tanpa menoleh.
Langkah Maya semakin cepat, tapi dalam hatinya ada yang jauh lebih cepat, keraguan dan ketakutan yang bertubi-tubi. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Entah kenapa, ia merasa takut jika Chris berhasil mengejarnya.
Semakin lama mengenal Chris, Maya mulai merasa bahwa laki-laki itu mirip dengan Andrew, si mantan pacarnya yang hampir memperkosanya.
Chris... Kenapa kamu mulai terdengar seperti Andrew?
Maya membatin. Nada suara Chris saat marah, caranya menahan tangannya tadi, bahkan tatapan matanya, semuanya mengingatkan Maya pada masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Masa lalu yang membuatnya tak lagi mudah percaya, apalagi memberi hatinya secara utuh.
Maya melihat ke kanan dan ke kiri. Tapi sialnya, tidak ada tukang ojek atau taksi yang lewat di area tempat tinggal Chris. Terlebih saat ini masih terbilang sangat pagi. Yakni, masih jam setengah enam pagi.
Semalaman, Maya tidak bisa tidur dengan tenang di kamar Chris. Ia takut jika Chris tiba-tiba masuk ke dalam dan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Katakanlah Maya parno, tapi memang begitulah kenyataannya.
"May! Kamu mau kemana?" Chris akhirnya berhasil mengejarnya dan meraih lengan Maya. Namun gadis itu berusaha menepisnya, tapi Chris dengan cepat menahannya untuk tidak lari lagi.
“Ish! Lepasin! Jangan sentuh aku!” seru Maya tajam.
"Iya. Tapi bilang dulu, kamu mau kemana?" Chris masih menahan lengan Maya, tetapi kali ini mengurangi intensitas cengkramannya.
"Aku mau pulang!" balas Maya ketus.
"Ini masih pagi, May."
"Nggak! Jam segini itu udah termasuk siang!" Lagi-lagi Maya berkata sinis.
"Kita makan dulu aja, ya? Kan dari kemarin kamu belum makan. Memangnya kamu nggak laper?" ajak Chris dengan suara selembut mungkin.
"Nggak mau ah! Aku mau pulang sekarang! Lagian.. ehm.." Maya berpikir sejenak mencari alasan, lalu kembali berkata asal. "Ehm.. aku kan ada kuliah pagi."
"Kuliah?" Tawa Chris pecah mendengar ucapan Maya barusan.
Maya cemberut dan semakin kesal dibuatnya, karena Chris tertawa mengejeknya.
"Ish! Nggak ada yang lucu! Kenapa kamu ketawa, ish!!" Maya memukul lengan Chris berkali-kali.
"Oke.. oke. Maaf. Hari ini hari Sabtu, Honey. Kamu ikut kelas reguler, jadi mana mungkin ada kelas pada hari Sabtu."
Maya menggigit bibirnya sendiri malu, dan merutuk dalam hati. 'Bego! Bego! Bego!'
"Karena kamu udah bohong. Sebagai gantinya, kamu harus mau sarapan sama aku."