NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suara deru motor dan mobil keluarga Mas Dika perlahan menghilang di ujung jalan, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada pertengkaran tadi. Begitu pintu depan tertutup, Ibu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beliau tidak menatapku, tidak memarahiku lagi, bahkan tidak melirikku. Ibu langsung melangkah masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.

Suara dentuman pintu itu seolah memutus urat nadiku. Aku berdiri mematung di ruang tamu yang kini berantakan. Dengan tangan yang masih gemetar, aku berjongkok untuk memunguti pecahan gelas di lantai tegel. Satu per satu serpihan tajam itu kupindahkan, sesekali ujung jariku teriris, namun rasa perihnya tidak sebanding dengan luka di dadaku. Aku tahu Ibu sangat marah. Keheningannya adalah kemarahan yang paling mematikan yang pernah kurasakan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Seolah sudah dikomando, satu per satu kerabat dekatku berdatangan. Bude Ratmi, Pakde, hingga sepupu-sepupuku sudah berkumpul di ruang tamu. Kabar ini menyebar secepat api di padang rumput kering. Pintu kamar Ibu terbuka kembali, beliau keluar dengan mata yang bengkak, duduk di kursi utama tanpa ekspresi.

Aku dipaksa duduk di sebuah kursi plastik di tengah ruangan. Aku merasa seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis mati. Puluhan pasang mata menatapku dengan sorot yang beragam—ada yang jijik, ada yang kecewa, dan ada yang menatapku seolah aku adalah aib yang tak termaafkan.

"Apa yang ada di pikiranmu, Aira? Kamu dididik orang tuamu baik-baik, dikasih kepercayaan kerja, ditabungin buat kuliah, kok malah begini balasannya?" Pakde membuka suara dengan nada menggelegar, tangannya memukul meja kayu hingga terdengar suara berdentum.

"Kamu tahu kan Bapakmu banting tulang di perantauan? Dia itu bangga-banggain kamu di sana! Sekarang kamu mau kasih tahu apa ke dia? 'Pak, Aira hamil duluan' gitu?" sindir Bude Ratmi dengan bibir mencibir.

Aku hanya bisa menunduk, air mataku jatuh menetes ke lantai. Aku tidak punya kata-kata untuk membela diri. Semua yang mereka katakan adalah kebenaran yang pahit. Aku telah menghancurkan harapan semua orang.

"Selama ini kamu pura-pura alim, ya? Pakai hijab, kerja rajin, ternyata di belakang malah main kucing-kucingan sama laki-laki itu," celetuk salah satu sepupuku, membuat dadaku semakin sesak.

Penghakiman itu berlangsung berjam-jam. Mereka bergantian mencaciku, mempertanyakan moralitasku, hingga menyalahkan Ibu karena dianggap lalai menjagaku. Setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka seperti belati yang menusuk jantungku berkali-kali. Aku ingin berteriak bahwa Mas Dika akan tanggung jawab, tapi di depan keluarga besar yang merasa terhina, tanggung jawab saja tidak akan pernah cukup untuk mencuci aib ini.

Ibu hanya diam mendengarkan semua cacian itu, air matanya sesekali luruh tanpa suara. Melihat Ibu ikut dihujat karena kesalahanku adalah siksaan yang paling berat. Di kursi plastik ini, aku baru menyadari sepenuhnya bahwa masa depanku bukan lagi tentang buku kuliah atau toga sarjana, melainkan tentang bagaimana aku harus bertahan hidup di bawah bayang-bayang label "perempuan nakal" dan "istri karena kecelakaan" selama sisa hidupku.

Di tengah hujanan makian yang tak kunjung reda, pintu depan kembali berderit. Mbah Neni, bulek dari Ibu yang paling tua, melangkah masuk dengan napas tersengal. Beliau tidak ikut duduk di barisan para penghakim. Tanpa memedulikan tatapan sinis dari Pakde dan Bude Ratmi, Mbah Neni langsung berjalan ke arahku.

Secara mengejutkan, beliau berlutut di depanku yang masih bersimpuh, lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat. "Sudah, Nduk... sudah," bisiknya lirih sembari mengusap punggungku yang bergetar hebat.

Tangisku yang sempat tertahan kini pecah sejadi-jadinya di pundak Mbah Neni. Di saat semua orang memperlakukanku seperti kotoran, pelukan Mbah Neni terasa seperti satu-satunya oksigen yang tersisa. Beliau tidak mencaciku, tidak mempertanyakan moralitasku, ia hanya memberiku ruang untuk menangis sebagai seorang manusia yang sedang hancur.

"Neni! Jangan dimanja anak seperti itu! Dia sudah bikin malu kita semua!" teriak Pakde tidak terima melihat aksi Mbah Neni.

Mbah Neni mendongak, menatap Pakde dengan sorot mata yang tenang namun tajam. "Dia memang salah, tapi dia tetap darah daging kita. Memaki-makinya sampai pagi tidak akan mengubah perutnya kembali rata. Kita harus cari jalan keluar, bukan cuma cari siapa yang paling suci di sini!"

Ruangan itu mendadak sunyi. Keberanian Mbah Neni membungkam mulut-mulut yang sedari tadi haus akan hujatan. Beliau kemudian mengambil ponselnya dari saku kebaya, tangannya yang mulai keriput menekan sederet nomor yang sangat kukenal. Nomor Bapak.

Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku ingin mencegahnya, tapi lidahku kelu. Mbah Neni menjauh sedikit dari kerumunan, menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Man... iya, ini Bulek Neni. Kamu sehat di sana?" ucap Mbah Neni saat panggilan tersambung. Suaranya terdengar sangat tenang, sebuah ketenangan yang justru membuatku merinding ketakutan.

"Begini, Man... ada kabar penting. Si Aira, anakmu, mau menikah. Calonnya sudah datang tadi sama keluarganya ke rumah," lanjut Mbah Neni. Beliau sengaja menjeda kalimatnya, mendengarkan suara Bapak dari seberang sana yang pasti sedang terkejut luar biasa.

"Iya, Man. Menikahnya harus cepat, minggu-minggu ini juga. Kamu bisa pulang kan? Urusan jelasnya nanti dibahas kalau kamu sudah sampai rumah. Yang penting kamu tahu dulu kalau anakmu mau ibadah, mau membangun rumah tangga."

Mbah Neni tidak memberi tahu kebenaran yang sesungguhnya lewat telepon. Beliau tahu, jika Bapak mendengar kabar kehamilanku saat masih berada di perantauan, Bapak bisa nekat melakukan hal-hal berbahaya atau jatuh sakit karena syok. Beliau mencoba menjaga kewarasan Bapak sampai beliau tiba di rumah.

Setelah menutup telepon, Mbah Neni kembali ke sampingku. Beliau menggenggam tanganku yang masih sedingin es. "Bapakmu akan pulang besok sore, Nduk. Siapkan hatimu. Masalah ini belum selesai, tapi setidaknya kita selesaikan satu-persatu tanpa perlu saling membunuh."

Ibu yang sedari tadi hanya diam, kini menatap Mbah Neni dengan sorot mata yang hancur. "Terima kasih, Bulek... saya nggak sanggup kalau harus bicara sama suami saya sendiri soal ini."

Malam itu, penghakiman keluarga besar akhirnya bubar satu per satu, menyisakan kesunyian yang mencekam di rumah kami. Mbah Neni memutuskan untuk menginap, menjagaku dan Ibu dari pikiran-pikiran pendek yang mungkin melintas. Namun, jauh di dalam hatiku, ketakutanku justru semakin memuncak. Besok sore, Bapak akan pulang. Dan saat itulah, sandiwara "mau menikah" ini akan terbongkar oleh kenyataan perutku yang sudah membuncit enam bulan.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!