Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pada saat itu, Disa memakai dress panjang ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, sehingga perutnya yang membuncit pun terlihat jelas. Pandangan Cakra otomatis tertuju cukup lama ke arah sana. Okelah, Disa di restoran ini baru saja makan, tetapi tidak mungkin, kan, orang selesai makan perutnya langsung terlihat membuncit seperti itu?
Cakra masih hapal, bagaimana Disa selalu menjaga tubuhnya terlihat ideal dan langsing.
"Disa...."
"Hai, Mas."
Dalam diam, keduanya bertatapan cukup lama. Cakra kini paham peringatan papanya beberapa hari yang lalu.
"Jangan kaget kalau nanti kamu ketemu sama Disa."
Karena Disa membawa rahasia besar yang seharusnya Cakra ketahui sejak awal.
Sayangnya pada hari itu, Cakra sedang ada urusan di restoran itu. Ada meeting penting dengan klien, hingga Cakra tidak bisa bicara dengan Disa.
Tidak bisa memastikan apakah Disa beneran hamil atau tidak. Ia hanya diam terpaku bagaikan orang bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa saat Disa dan Vina melewatinya.
Kedua wanita itu masuk ke dalam taksi online yang mereka pesan. Disa masih bisa melihat Cakra yang terus menatap ke arahnya.
"Dia kayaknya udah mulai menduga-duga. Perut lo keliatan jelas soalnya," suara Vina terdengar di sebelah Disa.
"Biarin aja," sahut Disa. "Biar dia tau kalau gue emang lagi hamil. Dia pikir gue gak bisa hamil, biar dia tau kalau perkiraannya itu salah."
Ada rasa sesak saat Disa bicara. Disa juga seorang wanita, walaupun sudah disakiti, ia tak semudah itu melupakan Cakra. Proses melupakan tidak semudah jatuh cinta. Kendati Disa sudah tidak mau kembali bersama dengan pria itu, namun masih ada percikan cinta yang tertinggal di hati Disa.
"Kira-kira, si Cakra bakal menyesal atau enggak?" tanya Vina.
"Seharusnya sih iya. Tapi ya entahlah ... Toh, dia juga bakalan punya anak dari Risa. Anaknya gak cuma si kembar aja, kan?"
Saat memperhatikan wajah Disa, Vina benar-benar merasa kasihan. Wajah Disa memerah, kedua matanya mulai berkaca-kaca, ia menggigit bibir berusaha menahan agar cairan bening dari matanya tidak jatuh.
"Kalau gak ada Risa ... Pasti sekarang gue lagi bahagia kan sama Mas Cakra. Kita lagi bahagia-bahagianya menantikan kelahiran si kembar." Suara Disa bergetar. "Kenapa sih harus ada Risa di dunia ini? Kenapa gue harus kenal gitu sama Risa?"
Vina hanya bisa memeluk saat Disa mulai menangis. Ingin membisikkan kata sabar pun Vina tidak berani, karena menurutnya Disa sudah cukup bersabar selama ini.
"Gue benci banget sama Risa."
Vina mengangguk sambil mengusap-usap punggung Disa. "Udah, nangis aja di sini. Nangis, marah yang puas. Gue temenin."
*
Cakra tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya dipenuhi oleh satu nana. Disa, Disa, dan Disa. Benarkah Disa hamil? Cakra ingin tahu, ingin melihatnya lagi. Harus memastikan.
Malam harinya, ketika ia sudah tidak disibukkan dengan urusan kantor, Cakra mengunjungi rumah Disa. Cakra tidak bisa menunda-nunda lagi.
Disa yang membukakan pintu kala Cakra mengetuk. Meskipun sudah menduga pria ini akan datang, namun Disa tetap terkejut saat melihatnya di depan pintu.
Ekspresi Disa datar, sementara Cakra melemah.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Kenapa kamu sembunyiin ini, Dis?" cecar Cakra.
"Bilang apa? Sembunyikan apa?" balas Disa dingin, pura-pura tidak tahu.
"Kamu hamil, kan?" tandas Cakra.
Disa terdiam, tidak memberi jawaban.
"Iya, kan, Dis?" tuntut Cakra lagi.
"Terus kenapa kalau aku hamil?"
"Jadi benar? Kenapa kamu nggak bilang sejak awal tahu kamu hamil?"
"Pertanyaan yang sama." Disa membalas tercekat, "Kenapa kamu milih selingkuh sama Risa dibanding tetap setia sama aku?"
Untuk kali ini, Cakra yang terdiam. Napasnya memburu. Timbul sedikit rasa sesal di hatinya. Teringat ia melepaskan Disa dalam keadaan mengandung. Teringat talak tiga yang sudah ia berikan.
"Kenapa kamu nggak bisa bersabar sedikiiiit lagi aja, Mas? Tunggu sampai aku hamil," sambung Disa.
"Dis .... " Cakra menghela napas lesu. "Aku pikir kamu—"
Disa langsung menyela, "Kamu pikir aku nggak bisa hamil? Iya, kan?"
"Maaf karena aku udah pernah berpikiran seperti itu," kata Cakra penuh sesal.
Rahmi muncul dari dalam. Bertanya dengan nada heran sebab Disa tak kunjung kembali setelah membukakan pintu untuk tamu.
"Siapa sih, Dis, yang datang? Kok nggak disuruh masuk?"
Disa tidak memberi jawaban. Ia membiarkan Rahmi melihat sendiri orang yang berkunjung malam-malam ke rumahnya. Detik berikutnya, saat melihat Cakra, Rahmi langsung membentaknya.
"Ngapain kamu datang ke sini?!"
Padahal dulu Cakra adalah menantu kebanggaannya. Yang tetap mau memperjuangkan Disa meskipun status sosial mereka tidak setara. Cakra berasal dari keluarga yang terpandang dan kaya raya, sementara Disa hanya berasal dari keluarga yang sederhana.
Tetapi sekarang tidak ada lagi kebanggaan yang tersisa. Yang ada hanyalah tatapan kebencian.
"Pergi sana! Jangan ganggu Disa lagi!" usir Rahmi.
"Tapi, Bu, Disa sedang hamil anak aku. Aku juga ingin tau gimana keadaan anak aku."
"Gak perlu! Urus aja calon anak kamu yang lain. Disa ... Dan si kembar akan aman sama saya. Mereka gak butuh bapaknya."
"Ke-kembar??" sepasang mata Cakra melebar penuh.
Rahmi langsung menarik Disa masuk ke dalam. Ia membanting pintu tepat di depan wajah Cakra kemudian langsung menguncinya.
"Disa! Disa tolong jelaskan dulu sama aku! Aku mau tau kebenarannya, Dis!" Cakra berusaha membujuk Disa seraya mengetuk-ngetuk pintu rumah Disa.
Ia sangat mengenal Disa. Wanita lembut itu tidak akan tega mengabaikan Cakra.
"Jangan dengerin dia, Dis. Ayo masuk aja ke kamar," ajak Rahmi.
Disa hanya diam. Namun ia menurut ketika akhirnya Rahmi mengajaknya kembali ke kamar.
*
"Lagi sibuk?"
Disa terlonjak begitu mendengar suara khas Rayyan. Tiba-tiba saja pria itu datang, masih memakai seragam khas pilot. Sepertinya Rayyan baru pulang setelah menyelesaikan jadwal penerbangannya.
"Eng ... Enggak aku cuma lagi motong timun aja," jawab Disa. "Kamu mau pesen sesuatu Ray?"
"Ibu di mana?" bukannya menjawab, Rayyan malah balik bertanya sambil bisik-bisik pula. Disa mengernyit bingung.
"Ibu ... Lagi di kamar mandi. Mau nunggu ibu? Duduk dulu."
"Nggak usah." Seperti takut ketahuan orang karena telah melakukan sesuatu yang salah, Rayyan segera memberikan sesuatu untuk Disa yang ia ambil dari saku celananya.
"Buat kamu."
Melihat barang di tangan Rayyan, Disa langsung menolak. "Hah? Enggak ah!"
"Ambil cepetan, Dis, ntar keburu ada yang liat," desak Rayyan.
"Kamu ngapain tiba-tiba ngasih aku benda kayak gini?"
Rayyan berdecak tidak sabar. "Cuma mau memenuhi janji aku waktu kita kecil."
"Janji? Janji apaan sih?"
"Ah kelamaan! Cepet ambil, Disa!"
Disa jadi ikutan panik melihat kepanikan Rayyan. Ia ambil kalung di telapak tangan Rayyan. Setelah itu, Rayyan langsung berlari pergi. Disa pun secepat kilat memasukkan kalung itu ke dalam saku dasternya sebab ibunya tiba-tiba muncul.
"Udah motong timunnya?"
"Udah, Buk. Disa mau pipis dulu ya Buk, gantian."
"Iya...."
Disa masuk ke dalam rumah. Tidak ke kamar mandi, ia pergi ke kamar untuk melihat kalung yang Rayyan beri.
"Cuma mau memenuhi janji aku waktu kita kecil."
Janji yang mana yang dimaksud Rayyan? Disa lupa. Apa pernah Rayyan berjanji untuk membelikannya kalung?
Lagi pula, kalung yang diberi Rayyan ini bukan kalung biasa. Pernah menjadi istri Cakra yang kaya dan tidak pelit, Disa jadi mempunyai pemahaman tentang perhiasan.
Disa tebak, harga kalung ini mencapai puluhan juta.
Tidak, Disa tidak bisa menerima barang semahal ini dari seseorang yang tidak ada hubungan apa pun dengannya.
...****************...
lanjut g pake lama
pokonya jngn sampe disa celaka
AYO TAKBIR
biarin kebalik ke risa
risa aja tuh ya dibikin keguguran
biar g ba punya anak