Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 16
Shila menitikkan air mata saat melihat Tiara berada di tengah kumpulan para zombie di hutan itu. Dadanya terasa sesak, tak menyangka sahabat yang dulu ceria kini berubah menjadi sosok yang asing.
Ia menutup mulutnya, mencoba menahan isak tangis yang hampir pecah.
“Gibran, lihat… itu Tiara,” tunjuk Shila dengan tangan gemetar.
Gibran menyipitkan mata, berusaha memastikan. Wajahnya langsung mengeras saat menyadari siapa yang dimaksud Shila.
“Pasti papanya sendiri yang menyerahkan Tiara pada mereka karena gagal menjalankan perintah,” tebak Gibran dengan nada dingin.
“Bisa jadi sih… kasihan banget. Tapi itu sudah jadi konsekuensi yang harus dia terima,” ucap Shila lirih, meski hatinya tetap terasa perih.
Gibran kemudian melajukan mobil dengan sedikit lebih cepat agar segera sampai ke jalan raya. Ia sesekali melirik kaca spion, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
Di sepanjang jalan, banyak zombie berkeliaran tanpa arah.
Tak hanya itu, banyak bangkai mobil berserakan di jalanan, beberapa bahkan sudah hangus terbakar. Shila cukup terkejut melihat pemandangan tersebut. Ini bukan lagi kota yang ia kenal.
Dari kejauhan, Shila melihat sebuah mobil melaju sangat kencang.
“Gibran, berhenti di pinggir dulu. Itu ada mobil yang ngebut dari arah sana,” kata Shila sambil menunjuk ke depan.
Gibran segera mencari tempat yang sedikit tersembunyi agar tidak ada yang menyadari keberadaan mereka. Ia mematikan lampu mobil dan menahan napas sejenak. Saat ini, hanya di dalam mobil tempat yang terasa paling aman.
Ternyata mobil itu sedang dikejar oleh mobil lain dari belakang. Keduanya melaju kencang, saling kejar tanpa peduli keadaan sekitar. Mereka bahkan menabrak para zombie yang berada di depan mereka, membuat suasana semakin kacau.
Setelah kedua mobil itu menjauh dan suara mesin tak lagi terdengar, Gibran menyalakan mobilnya kembali dan melanjutkan perjalanan. Di kursi belakang, Kenan duduk anteng dengan mainannya, seolah belum sepenuhnya memahami situasi berbahaya yang sedang terjadi.
“Berapa hari lagi kota ini akan benar-benar hancur… Aku gak kebayang kota kelahiran kita akan musnah, Gibran,” ujar Shila pelan, suaranya penuh kesedihan.
“Betul banget, Shila. Kota ini punya banyak kenangan… dan orang tua kita juga akan tetap abadi di sini,” jawab Gibran dengan nada berat, mencoba tegar meski hatinya terluka.
“Lo gak berniat hubungi ayah dan abang lo? Mereka berhak tahu juga kan kalau Tante Ningrum sudah tiada,” kata Shila hati-hati.
Gibran terdiam sejenak sebelum menjawab. Tangannya mencengkeram setir lebih erat.
“Gue gak punya kontak mereka. Setelah gue pergi dari kota ini, baik ayah maupun Bang Shaka gak pernah hubungi gue lagi… dan mungkin nomor lama gue juga sudah mereka buang,” ungkap Gibran pelan.
“Gak mungkin juga mereka gak tahu tentang kota kita yang kena wabah ini… pasti sudah diberitakan di TV,” lanjut Shila, mencoba memberi sudut pandang lain.
“Biarlah, Shil… gue juga sudah gak terlalu berharap buat ketemu mereka lagi,” jawab Gibran pasrah.
Mobil itu terus melaju membelah jalanan yang sepi namun penuh ancaman. Di tengah kehancuran kota, mereka hanya bisa berharap masih ada jalan keluar… dan kesempatan untuk bertahan hidup.
Gibran mencari tempat yang aman untuk memarkir mobil. Setelah itu, mereka langsung keluar dari kendaraan dengan waspada. Tidak lupa, mereka juga membawa senjata untuk berjaga-jaga.
Gibran menggendong Kenan dengan hati-hati, memastikan anak itu tetap aman di pelukannya.
Sampai di dalam toko, mereka langsung mencari baju dan kebutuhan lainnya. Rak-rak di sana masih penuh, seolah belum banyak yang menyentuhnya sejak kekacauan terjadi.
Baju-baju tergantung rapi, membuat suasana terasa aneh di tengah kondisi kota yang sudah porak-poranda.
“Shila? Lo ada di sini juga?” suara Dewi tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Shila menoleh cepat, sedikit terkejut melihat Dewi berada di tempat yang sama.
“Dewi… iya, gue mau ambil beberapa pakaian,” jawab Shila sambil mencoba tetap tenang.
“Gue senang lo selamat, Shila. Lo mau ke tempat yang disiapkan pemerintah itu juga?” tanya Dewi.
Shila mengangguk pelan. Namun, dalam hatinya mulai muncul rasa waspada. Jika Dewi ada di sini, kemungkinan besar Hendro juga berada tidak jauh dari mereka.
“Sayang, kamu lagi ngobrol sama siapa?” tanya Hendro yang tiba-tiba muncul, suaranya membuat suasana langsung berubah tegang.
“Sama Shila, Pah. Ternyata dia juga masih selamat,” jawab Dewi polos.
“...Hai, Om Hendro. Kita ketemu juga akhirnya,” ucap Shila sambil menatap Hendro dengan tajam, menyimpan banyak emosi di
balik tatapannya.
“Shila…” hanya itu yang mampu Hendro ucapkan. Wajahnya tampak sedikit kaku, seolah tidak menyangka pertemuan ini.
Shila tidak ingin berlama-lama. Ia langsung melanjutkan mencari baju, namun dalam pikirannya sudah menyusun langkah selanjutnya. Ia harus segera memberi tahu Gibran.
“Gibran, kita harus hati-hati… Om Hendro ada di sini juga,” bisik Shila saat sudah berada di
dekatnya.
“Yang benar aja, Shila?” respon Gibran dengan nada terkejut, alisnya langsung mengernyit.
“Iya, gue barusan ketemu langsung sama dia,” jawab Shila pelan.
Gibran menghela napas panjang, mencoba tetap tenang meski amarahnya perlahan muncul kembali. Ia mengangguk, memberi tanda bahwa ia mengerti situasinya.
Mereka pun melanjutkan mencari pakaian untuk diri mereka dan Kenan. Sesekali mereka saling bertukar pandang, memastikan tetap waspada. Setelah merasa sudah cukup, mereka segera bersiap untuk pergi dari toko itu.
Langkah mereka cepat, tapi tetap hati-hati… karena mereka tahu, bahaya bisa datang dari mana saja—termasuk dari orang yang pernah mereka kenal.
_____
“Shila, Om punya tawaran baik untukmu. Bagaimana kalau kita bersama-sama menuju tempat itu? Kamu dan temanmu ini pasti aman,” tawar Hendro dengan nada seolah peduli.
“Maaf, Om. Kami bisa ke sana sendiri, kok. Jadi kita jalan masing-masing saja,” tolak Shila tegas, tanpa ragu.
“Kamu jangan keras kepala, Shila. Kalian ini masih bocah, mana bisa menghadapi para zombie itu,” Hendro meremehkan Shila dan Gibran, nada suaranya terdengar merendahkan.
“Jangan pernah remehkan kami. Buktinya kami bisa bertahan sampai sekarang, meskipun orang tua kami sudah meninggal,” jawab Gibran dengan datar, tatapannya tajam penuh peringatan.
“Kalian jangan keras kepala, deh. Papa gue pasti bisa melindungi kalian,” kata Dewi, mencoba membujuk.
“Kami bisa melindungi diri kami sendiri, kok. Jadi gak butuh papa lo yang licik ini,” balas Shila ketus, emosinya mulai terpancing.
“Udahlah, Pah, jangan dipaksa. Biarkan saja mereka menghadapi risiko itu. Mending kita pergi dari sini dan melanjutkan perjalanan,” ajak Dewi sambil menarik tangan ayahnya.
Hendro mengangguk pelan, seolah menyerah. Namun, sebelum keluar dari sana, ia tiba-tiba memecahkan pintu toko itu dengan keras. Suara kaca pecah menggema, mengundang perhatian dari luar.
“Tamatlah riwayat kalian… dan selamat menyusul orang tua kalian,” ucap Hendro dengan senyum tipis yang penuh maksud tersembunyi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Shila dan Gibran masih berada di dalam toko. Mereka langsung menyadari situasi berubah menjadi berbahaya. Kini mereka terjebak di dalam, sementara dari luar mulai terdengar suara langkah dan gerakan yang semakin mendekat.
“Gib, sembunyikan Kenan di bawah tumpukan baju, cepat!” suruh Shila dengan suara tertahan, berusaha tetap tenang.
Gibran langsung bergerak cepat. Ia menaruh Kenan di bawah tumpukan baju yang ada di keranjang yang dia pegang, memastikan tubuh kecil itu tertutup dengan aman.
“Gimana cara kita keluar dari sini, Shila? Mereka sudah pada masuk…” Gibran mulai gelisah, napasnya sedikit memburu.
Shila mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru toko, mencoba mencari jalan keluar. Pikirannya bekerja cepat di tengah tekanan.
“Tenang, Gib… kita cari jalan belakang atau apa pun yang bisa kita pakai. Kita gak boleh panik sekarang,” bisik Shila, mencoba menenangkan sekaligus menyusun rencana.
Suasana di dalam toko semakin mencekam. Mereka tahu, satu langkah salah saja bisa membuat keadaan semakin sulit. Namun, mereka juga sadar—mereka tidak punya pilihan selain bertahan dan mencari cara keluar.