NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 16)

Malam yang entah apakah kali ini benar-benar malam yang sebenarnya? Tetapi satu hal, nuansa di dalam gubuk itu terasa seperti penjara tanpa tanggal bebas. Waktu berhenti berputar. Mereka bertiga duduk saling membelakangi, otot tegang, tangan mencengkeram senjata dengan kuku memutih. Sulaiman menatap hampir tak berkedip ke setiap celah dinding, ke pintu utama yang menganga lebar, dan ke bawah meja untuk memastikan bahwa putranya Umar baik-baik saja. Mereka mengira musuhnya yang akan kembali adalah hantu atau siluman tinggi besar.

Ternyata salah. Kematian datang dari bawah.

Awalnya hanya suara lengkingan halus yang mengganggu gendang telinga.

Citt... citt... citt...

Suara itu datang dari mana-mana. Dari celah lantai, dari sela-sela dinding kayu, dari lubang atap yang gelap. Seperti sikat jarum yang menggaruk-garuk otak mereka.

"Dengar itu..." bisik Herman, suaranya tercekat. "Apa itu? Apa yang sedang merayap?"

Suara itu makin keras, makin ramai, berubah menjadi gemuruh kering yang memekakkan telinga, seperti butiran pasir yang mengalir deras namun jauh lebih padat dan ganas.

TRRT... TRRT... TRRT...

Tiba-tiba, dari sebuah lubang kecil di pojok ruangan, muncul yang pertama. Seekor tikus hitam. Tapi bukan tikus biasa. Tubuhnya besar seperti kucing, bulunya hitam legam mengkilap basah seperti dilumuri darah kental, dan matanya memicing penuh kebencian.

Itu baru yang pertama.

Detik berikutnya, dinding dan lantai seakan muntahkan makhluk-makhluk itu. Ribuan, bahkan puluhan ribu ekor menyerbu masuk tanpa henti. Mereka datang bagaikan sungai lava hitam yang meluap, menutupi seluruh permukaan lantai dalam sekejap, memanjat dinding, memenuhi udara dengan desisan yang mengerikan.

"Mampus! Satu lagi hal busuk meluap!" teriak Sulaiman.

Umar pun meloncat keluar dari bawah meja dan naik ke atasnya.

"Ayah tolong.. tolong.. heeeaaa..." tangisnya kembali pecah, tapi tak terdengar karena riuhnya amukan tikus.

"Ja ja jangan! Jangan sentuh aku!!!" Deri menjerit histeris, langsung melompat naik ke atas bangku kayu yang nyaris ambruk. Kakinya gemetar hebat saat gelombang tikus itu menyapu pergelangan kakinya. Rasa bulu-bulu kasar dan cakar-cakar tajam yang menggaruk hingga kulit terkelupas membuat seluruh tubuh mereka merinding ketakutan.

"Mereka bukan cari makan! Mereka mau mencabik-cabik kita!" Teriak Herman. Ia tak buang waktu, parang di tangannya berkelebat dengan ganas.

Wush! Blatt! Srak!

Satu tebasan, lima hingga enam ekor tikus terbelah menjadi dua. Darah segar memercik ke wajah dan baju mereka, hangat dan bau amis yang menyengat. Tapi jumlah mereka tidak berkurang. Mereka datang tanpa akhir, bagaikan air bah yang tak berujung.

Sulaiman tidak main-main. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menonjol keluar. Ia melempar parangnya, mengambil sebatang kayu besar yang keras dan berat.

BRAK! BRAK! BRAK!

Setiap kali kayu itu menghantam lantai, terdengar suara tulang remuk yang menjijikkan. Daging tikus hancur lebur, otak berceceran, jeroan keluar membanjiri lantai. Namun makhluk-makhluk itu tidak takut mati. Mereka tidak punya rasa sakit. Mereka adalah mesin pembunuh kecil yang haus daging manusia.

"Bunuh! Hancurkan kepala mereka semua!" raung Sulaiman dengan napas memburu. "Jangan biarkan satu pun gigitan menyentuh kulit! Gigitan mereka bisa meluluhlantakkan tulang!"

Belum selesai ia bicara, seekor tikus gemuk melompat tinggi seperti panah, menggigit lengan Deri dengan ganas dan brutal.

GRRRAAKK!

"Aaaaahh!!! Sakit!!! Tolong Bos!! Sakit sekali!!!" Deri berteriak histeris. Darah langsung menyembur deras. Lukanya tidak hanya lecet, tapi dagingnya tercabik, gigi-gigi tajam itu menancap dalam hingga terasa sampai ke tulang, seakan mulut itu terbuat dari penjepit baja.

"Dasar sampah laknat!!!"

Sulaiman menghantam kepala tikus itu dengan sekuat tenaga tepat di lengan Deri.

Bug!

Perut tikus itu hancur berkeping-keping, jeroannya berceceran membasahi lengan Deri, namun kepalanya masih menggantung dengan mulut yang menggigit kencang. Sulaiman harus mencongkelnya dengan paksa. "Pegang! Tekan lukanya! Jangan sampai darahmu habis!"

Herman bertahan di sudut ruangan lain, tubuhnya sudah basah kuyup oleh darah dan lendir tikus. Wajahnya datar namun matanya memancarkan pembunuhan dingin. Tebasan parangnya cepat dan mematikan. Tapi jumlah lawan terlalu banyak tak terhingga. Kaki mereka sudah terasa panas terbakar, digigit-gigit dari segala arah, kulit mereka penuh luka sayat dan lebam.

Gubuk kecil itu kini berubah menjadi ladang pembasmian yang nyata. Lantai kayu kini tertutup lapisan daging hancur, darah merah pekat yang membuat lantai licin seperti sabun, dan potongan-potongan tubuh tikus yang tak terhitung jumlahnya.

Bau anyir bercampur bau kencing dan daging busuk memenuhi paru-paru, membuat mereka ingin muntah namun tak punya waktu. Suara memek tikus yang sekarat, suara tulang patah, suara tangisan Umar, bercampur teriakan ketiga orang yang sedang bertahan hidup itu menciptakan simfoni kejam yang tak kunjung usai.

"Mereka takut api! Api!!!" teriak Herman di tengah kegilaan pertempuran.

"Cari api! Cari obor sekarang!!!" teriak Sulaiman.

Deri, meski tubuhnya gemetar dan lengan kanannya nyaris lumpuh, segera merogoh sakunya. Dengan tangan yang berlumuran darah, ia berhasil menyalakan sepotong kain kering yang dibalut pada tongkat kayu.

Saat api berkobar tinggi, cahaya merah menyala menerangi ruangan penuh kematian itu. Tikus-tikus itu mendesis marah, sejenak mundur ketakutan. Namun hanya sedetik. Mereka kembali maju dengan lebih ganas, rela kulitnya gosong terbakar, rela tubuhnya hangus asap, asalkan bisa menggigit daging manusia.

Pertarungan tidak seimbang ini berlangsung seperti selamanya. Otot-otot mereka kram dan robek, tangan mereka gemetar tak berdaya karena kelelahan yang melebihi ekstrem. Lantai gubuk kini tertimbun tumpukan bangkai tikus setinggi mata kaki, di bagian sudut ruangan, terdapat sebuah gunungan daging mati yang mengerikan.

Di gubuk itu, situasi tak menentu, lebih condong ke arah akhir segalanya. Umar hanya duduk bergetar di atas meja, tangisannya sudah mereda karena kelelahan. Tapi tidak bagi tiga orang yang menjadikan diri mereka sendiri sebagai perisai. Hanya ketiga manusia itulah yang masih berdiri tegak. Mereka terengah-engah, tubuh penuh luka, berlumuran darah musuh dan darah sendiri, siap menghadapi gelombang berikutnya yang entah apa bentuknya, karena mereka tahu... di tempat ini, kematian adalah hal yang paling diharapkan oleh pengincar namun paling sulit didapat karena adanya perlawanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!