Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. WATACI
"Kami menuntut keadilan. Kami mau bertemu pemilik perusahaan, agar mempertanggung jawabkan semua kejahatannya," seru para pendemo serempak.
"Cepat keluar! Hadapi kami semua, jangan bersembunyi seperti kura-kura," timpal yang lain.
Sementara di depan deretan petugas keamanan sebagai benteng. Tak lama mobil Nika berhenti tepat di depan mereka.
Semu terdiam, tatapan fokus ke arah mobil. Saat pintu dibuka, mata mereka melotot tajam seolah menghujam ke arah Nika.
"Tolong semua tenang! Saya akan dengar semua keluhan kalian dan akan bertanggung jawab atas kekacauan ini," serunya sambil mengangkat kedua tangan.
Salah seorang sebagai perwakilan maju beberapa langkah. "Benarkah? Bukannya Anda selama ini sembunyi. Kenapa setelah kita protes baru berkoar-koar ingin tanggung jawab? Bukannya ini semua ulahmu yang ingin meraup keuntungan banyak dengan mengorbankan kami?"
"Tolong dengarkan saya. Saya benar-benar serius dengan ucapan saya. Pihak kami benar-benar sudah mengawasi dengan teliti, hanya saja ada seseorang yang ingin produk saya gagal. Jadi say mohon, beri saya waktu untuk membuktikan jika kesalahan ini bukan dari pihak kami," ungkap Nika dengan nada tegas.
Semua terdiam. Namun, saat amarah mereka mulai mereda tiba-tiba suara keras di antara mereka kembali menyulut amarah.
"Bohong! Jangan percaya dengan ucapannya. Dia wanita ambisius mana mungkin mau tanggung jawab, dia hanya bisa melimpahkan kesalahan pada orang lain," timpal seseorang dari kerumunan.
"Iya jangan percaya!" sahut yang lain hingga suasana kembali memanas.
Plak!
Sebuah telur mentah mendarat tepat di badan Nika.
Plak! Bruk!
Rentetan telur, tomat, bahkan air di lempar ke arahnya. Nika tak menghindar ataupun pergi dari sana. Ia menerima semua itu karena ia merasa ia memang pantas mendapatkan semua itu. Ia meyakini semua kelalaiyannya, yang tak bisa mengawasi dengan benar.
Saat dunianya terasa runtuh, tiba-tiba sebuah payung hitam menghalau lemparan itu. Nafas yang semula tercekat di tenggorokan seakan kembali normal.
Pandanganya perlahan naik ke arah yang melindunginya. Tubuh tegap nan bidang itu kokoh tak tergoyahkan. Seketika lelaki yang beberapa jam lalu di bencinya kini seolah menjelma sebagai super hiro.
"Adnan?" bisiknya lirih.
Adnan menoleh, sorot mata itu berbeda dari sebelumnya. Tatapannya teduh dan hangat. Tak ada lagi tatapan dingin yang penuh kebencian.
"Kamu baik-baik saja, kan?" ia memastikan keadaan sang istri.
Nika mengangguk. Lelaki di depannya bertanya dengan begitu cemas, seolah mereka benar-benar pasangan suami istri yang saling mencintai.
Adnan perlahan menurunkan payungnya. Dengan gerakan tegas ia berdiri di depan Nika. "Jika kalian tidak mempercayainya, kalian bisa percaya padaku. Aku seorang pengacara, aku bisa memastikan tuntutan kalian terpenuhi. Tapi seperti yang sudah Bu Direktur katakan, masalah ini masih kami selidiki. Ada kemungkinan, ada pihak yang menyabotase, jadi saya mohon bersabar lah sedikit lagi."
"Kami pastikan akan menangkap pelaku yang sebenarnya, dan membuatnya meminta maaf pada kalian serta mempertanggung jawabkan semua di depan hukum," tambah Adnan lagi.
Semua terdiam, seolah percaya akan ucapan Adnan.
"Benarkah? Bagaimana kami bisa percaya begitu saja?" sahut seseorang yang terlihat seperti provokator.
"Jika itu terjadi kalian bisa datang ke sini lagi bahkan dengan membawa polisi. Maka aku Adnan akan ikut kalian, siap mempertanggung jawabkan ucapanku ini."
Beberapa orang mengangguk seolah puas dengan jawabannya. Karena semua terkendali Adnan membawa Nika masuk ke dalam Arta Dirgantara Group.
Bau anyir menyeruak dari dari tubuh sang istri. Rambut lepek, pakaiannya penuh noda. Melihat istrinya dalam keadaan berantakan Adnan melepas jas dan mengenakannya pada Nika.
"Geby," panggilnya tanpa menoleh.
Geby mendekat dengan perasaan campur aduk. "Ia Pak Adnan."
"Tolong carikan Bu Nika baju ganti. Biar dia bisa membersihkan tubuhnya sebelum melakukan rapat," perintahnya sambil membimbing Nika menuju lift.
"Baik." Geby mengangguk patuh. Walau, hatinya khawatir setidaknya bosnya kini ada yang memihak bahkan membantu menyelesaikan semuanya.
Setelah kedua atasannya menjauh Geby dan Lucas saling pandang.
"Sejak kapan mereka begitu akrab?" ucap mereka berdua serempak.
"Aneh, kan?" ucap Lucas sambil menatap ke arah bosnya.
Geby menaikan bahunya lalu pergi menyiapkan pakaian Nika.
Di dalam ruangan. Adnan membawa Nika ke sofa. Dengan lembut ia meminta Nika duduk di sofa.
"Tunggulah sebentar. Geby akan ke sini membawakanmu pakaian," ucapnya sambil membuka jas yang menutupi sebagian tubuh Nika.
"Terima kasih sudah membantuku meyakinkan mereka," ucap Nika datar tanpa sedikitpun menoleh.
Adnan duduk di sebelahnya. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Anggap saja ini ucapan maafku karena sudah salah paham padamu kemarin."
Nika seketika menoleh. Apa yang ia pikirkan. Tak. mungkin Adnan melakukan itu semua tanpa alasan. Nika segera menepis pikirannya yang bukan-bukan.
'Mana mungkin dia melakukan ini demi aku. Dia yang begitu membenciku tak mungkin tiba-tiba baik tanpa sebab,' gumamnya dalam hati.
Nika tersentak saat tangan besar Adnan mengusap noda di wajahnya. Seketika ia merasa tubuhnya meremang panas.
'Kenapa ini? kenapa tiba-tiba aku merasa kegerahan,' batin Nika.
"Bilang ya, kalau aku mengusapnya terlalu keras. Kamu sangat berantakan kali ini. Lain kali jangan turun kalau banyak pendemo seperti tadi," omel Adnan.
Nika menepis tangan Adnan dengan kasar. Ia tak ingin Adnan dapat mendengar detak jantungnya yang berdetak dengan cepat. Dengan langkah lebar ia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Adnan terkejut dengan sikap tiba-tiba Nika. Ia menatap lekat ke arah pintu di mana Nika bersandar.