NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Sebuah Pertemuan

Perasaan bingung mulai muncul di dadanya.

‘Apa aku salah dengar?’ pikirnya. ‘Atau jangan-jangan Bibi juga hanya menyampaikan pesan yang tidak lengkap?’

Ia menghela napas pelan sambil berdiri di tepi jalan, mencoba menenangkan pikirannya. Namun belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, suasana desa mendadak ricuh oleh sebuah teriakan keras dari atas.

“PENCURI! BERHENTI!”

Cang Li refleks mendongak.

Di atas atap rumah-rumah batu, seorang pria kurus berlari secepat mungkin sambil membawa pedang bersarung indah di tangannya. Tak jauh di belakangnya, seorang gadis muda berpakaian ringan mengejar dengan lincah, melompat dari satu atap ke atap lain tanpa ragu.

“Astaga…” gumam Cang Li.

Ia tidak berpikir lama. Begitu melihat si pencuri hampir lolos ke sisi jalan yang lebih padat, Cang Li langsung menekuk lutut dan melompat ke atas atap terdekat.

Angin menerpa wajahnya saat ia mendarat dengan ringan.

Gadis itu sempat menoleh kaget ketika melihat seorang pemuda asing tiba-tiba muncul dan menyamai kecepatannya.

“Apa yang terjadi?” tanya Cang Li sambil tetap berlari di sampingnya.

“Pria itu mencuri pedangku!” jawab gadis itu cepat, matanya tidak lepas dari target di depan. “Kalau dia kabur masuk ke keramaian, akan lebih sulit menangkapnya!”

“Serahkan padaku.”

Cang Li mempercepat langkahnya. Energi spiritual mengalir ke kedua kakinya, dan dalam sekejap percikan listrik ungu kecil mulai muncul di bawah telapak sepatunya.

Zzzt!

Kilatan ungu itu meledak ringan, lalu tubuh Cang Li melesat maju seperti anak panah.

Gadis itu membelalakkan mata. Ia hanya sempat melihat bayangan ungu melintas di sampingnya sebelum sosok Cang Li sudah berada jauh di depan.

“Cepat sekali…” bisiknya tak percaya.

Beberapa detik kemudian, Cang Li berhasil menyusul si pencuri. Tanpa memberi kesempatan untuk bereaksi, ia memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan keras ke arah dada pria itu.

BUM!

Tubuh si pencuri langsung terpental dari atas atap dan jatuh menghantam jalanan dengan suara keras. Pedang curian itu hampir terlepas dari tangannya.

Cang Li melompat turun dan mendarat beberapa langkah di depannya. Tatapannya dingin, membuat si pencuri yang kesakitan itu langsung gemetar ketakutan.

“Serahkan,” kata Cang Li singkat.

Pria itu menelan ludah, lalu buru-buru melemparkan pedang tersebut ke arah gadis yang baru saja mendarat di belakang Cang Li.

Dengan gerakan cepat, gadis itu menangkap pedangnya dan memeriksa sarung serta bilahnya sebentar. Begitu memastikan tidak ada kerusakan, ia akhirnya menghela napas lega.

“Syukurlah…” gumamnya.

Cang Li melangkah maju, berniat menyeret si pencuri itu ke penjaga desa. Namun sebelum ia sempat melakukannya, gadis itu mengangkat tangan, menghentikannya.

“Sudahlah,” katanya. “Biarkan dia pergi.”

Cang Li menoleh, sedikit heran. “Dia mencuri milikmu.”

“Aku tahu,” jawab gadis itu sambil menyarungkan pedangnya ke pinggang. “Tapi yang terpenting, pedangku sudah kembali. Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk orang seperti dia.”

Mendengar itu, si pencuri langsung bangkit dengan tubuh gemetar dan berlari sekencang mungkin menjauh dari tempat itu.

Setelah suasana kembali tenang, gadis itu menoleh ke arah Cang Li. Wajahnya cukup cantik, dengan mata yang tajam namun cerah, dan dari caranya berdiri, jelas bahwa ia bukan orang biasa.

Ia membungkuk ringan.

“Terima kasih sudah membantuku,” ucapnya dengan tulus. “Namaku Su Yan.”

“Cang Li,” jawabnya singkat.

“Pendatang?”

Cang Li mengangguk. “Aku dari Desa Jianxin.”

“Jianxin?” Su Yan terlihat cukup terkejut. “Itu jauh sekali dari sini. Ada urusan apa kau datang ke Desa Sura?”

“Aku mencari seseorang bernama Ling,” jawab Cang Li tanpa bertele-tele. “Aku datang untuk menemuinya, tapi semua warga yang kutanya bilang mereka tidak mengenalnya.”

Kalimat itu langsung membuat ekspresi Su Yan berubah.

“Kau mencari… Guru Ling?”

Cang Li menatapnya tajam. “Kau mengenalnya?”

Su Yan mengangguk cepat. “Tentu saja. Dia guruku.”

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Desa Sura, dada Cang Li terasa sedikit lebih ringan.

“Kalau begitu, aku tidak salah datang,” katanya pelan.

Su Yan menatapnya beberapa saat, seolah sedang menilai apakah pemuda di hadapannya ini benar-benar pantas dibawa menemui orang yang sangat sulit ditemui itu. Namun pada akhirnya, ia hanya mengangkat bahu kecil.

“Kalau kau memang datang untuk menemuinya, ikut aku,” katanya. “Tapi jangan salah paham dulu. Guruku bukan orang yang ramah.”

“Aku tidak datang untuk mencari keramahan.”

Su Yan tersenyum miring. “Bagus. Karena yang kau dapat nanti mungkin justru pukulan.”

Mereka berjalan meninggalkan keramaian desa dan memasuki jalur hutan di pinggiran wilayah Sura.

Semakin jauh mereka melangkah, suara manusia perlahan menghilang dan digantikan oleh desir angin yang menyapu dedaunan. Pohon-pohon di sana tumbuh lebih tinggi dan rapat, membuat cahaya matahari yang masuk hanya tersisa dalam garis-garis tipis di antara ranting dan kabut.

Suasana hutan itu terasa berbeda dari hutan biasa. Ada tekanan halus yang tidak terlihat, seolah wilayah itu secara alami menolak kehadiran orang asing.

Su Yan berjalan di depan dengan santai, seolah sudah sangat akrab dengan tempat itu. Sementara Cang Li mengikuti di belakang sambil tetap waspada, matanya terus mengamati sekitar.

“Guru Ling memang tinggal di tempat seperti ini?” tanya Cang Li setelah beberapa saat.

“Dia tidak suka keramaian,” jawab Su Yan tanpa menoleh. “Menurutnya, terlalu banyak manusia hanya membuat pikiran jadi bising.”

“Itu terdengar seperti orang yang sulit diajak bicara.”

Su Yan tertawa kecil. “Bukan sulit. Sangat sulit.”

Setelah berjalan cukup lama, langkah Su Yan akhirnya melambat.

“Kita sudah sampai,” katanya.

Cang Li mengangkat pandangan.

Di balik kabut tipis dan pepohonan tua, berdiri sebuah rumah kayu yang tampak sederhana namun memancarkan aura aneh. Bangunannya tidak besar, tetapi suasananya terasa berat, seolah rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan wilayah pribadi milik seseorang yang tidak boleh diganggu.

Tidak ada suara. Tidak ada asap dari cerobong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Namun justru karena itulah, tempat itu terasa lebih menekan.

Cang Li tanpa sadar menelan ludah.

“Ini… rumahnya?” tanyanya pelan.

Su Yan mengangguk sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Ya. Dan kalau kau memang datang karena dipanggil, maka masuklah.”

Cang Li menoleh padanya. “Kenapa kau tidak mengetuk dulu?”

Su Yan langsung menyeringai kecil, seolah menikmati rasa gugup yang mulai muncul di wajah Cang Li.

“Karena yang ditunggu bukan aku,” jawabnya santai. “Cepatlah. Jangan membuat Guru menunggu terlalu lama, kecuali kau ingin dia marah.”

Cang Li menarik napas dalam-dalam.

Meski ia sudah menghadapi banyak hal dalam hidupnya—mulai dari kehilangan, serangan misterius, hingga rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar pergi—entah kenapa berdiri di depan rumah kayu tua itu justru membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ia melangkah maju perlahan, lalu mengangkat tangan.

Tok… tok… tok…

Suara ketukannya terdengar kecil, tetapi anehnya bergema begitu jelas di tengah keheningan hutan.

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Lalu—

Kreeeek…

Pintu kayu itu terbuka perlahan dengan suara derit panjang.

Dari balik bayangan ruangan yang gelap, muncul seorang pria berambut perak dengan tatapan tajam setajam bilah pedang. Wajahnya tenang, tetapi aura yang terpancar dari tubuhnya membuat udara di sekitar pintu terasa jauh lebih berat.

Cang Li langsung menegang.

Ia belum pernah melihat pria ini sebelumnya, tetapi entah kenapa nalurinya langsung berteriak bahwa orang di hadapannya bukanlah kultivator biasa.

Sebelum Cang Li sempat berkata apa pun, Su Yan di belakangnya segera menundukkan kepala dengan hormat.

“Guru.”

Mendengar sapaan itu, dada Cang Li seolah ikut menegang.

Jadi, inilah Ling.

Salah satu pendekar legendaris yang pernah berdiri di puncak dunia… dan orang yang akan menentukan apakah ia cukup layak untuk menjadi lebih kuat.

End Chapter 22

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!