Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Janji yang Belum Selesai
Menara tertinggi di Kota Wanhua tidak pernah gelap.
Bukan karena ada yang tinggal di sana secara resmi, menara itu sudah kosong selama bertahun-tahun menurut catatan penjaga kota, properti tua yang pemiliknya tidak jelas dan tidak pernah ada yang merasa perlu mempertanyakannya.
Tapi malam ini, seperti malam-malam sebelumnya sejak seseorang tak terlihat masuk ke dalamnya dua minggu lalu, cahaya tipis masih berpendar di jendela paling atas.
Cahaya yang bukan dari lentera atau lampu minyak.
Lebih seperti sisa qi yang merembes keluar tanpa sengaja dari seseorang.
Tao Xu Ying berdiri di depan jendela yang menghadap ke seluruh kota.
Batu pelacaknya tidak lagi berpendar. Ia meletakkannya di meja beberapa jam lalu ketika sinyalnya berfluktuasi, dan sejak itu ia berdiri di sini, memproses apa yang batu itu tunjukkan sebelum berhenti.
Di atas meja, di samping batu pelacak yang sudah padam, ada tumpukan catatan, tulisan tangan yang rapi, penuh dengan angka dan simbol yang bukan tulisan kultivasi standar mana pun.
Catatan dari pengamatan dua minggu terakhir, dari laporan-laporan yang datang melalui perantara, dari apa yang batu pelacak tunjukkan setiap malam.
Dan di atas semua catatan itu, selembar kertas yang berbeda, lebih tua, lebih rapuh, dengan tepi yang sudah kecoklatan. Tulisan di atasnya bukan tulisan Tao Xu Ying.
Tulisan seseorang dari waktu yang jauh lebih lama.
Tao Xu Ying tidak melihat ke kertas itu. Ia sudah hafal isinya sejak lama.
Ini berjalan lebih cepat dari yang kuperkirakan.
Pikiran itu bukan keluhan. Tapi juga bukan kepuasan murni.
Lebih seperti seseorang yang sudah merencanakan suatu perjalanan dengan sangat cermat selama bertahun-tahun dan tiba-tiba menemukan bahwa medan di depannya berbeda dari semua peta yang sudah ia buat.
Bukan lebih buruk, tapi berbeda, dan perbedaan itu membutuhkan penyesuaian yang tidak ada dalam rencana awal.
Segel hampir tidak terbendung di menit kedelapan final.
Tao Xu Ying sudah merasakannya dari menara—tidak perlu batu pelacak untuk mendeteksi gelombang yang hampir keluar dari Segel Kekosongan Abadi.
Gelombang itu terasa seperti seseorang yang mengetuk pintu dari dalam dengan kepalan yang hampir menembus kayu sebelum ditarik kembali.
Hampir.
Yang menarik bukan bahwa segel hampir tidak terbendung, itu sudah dalam prediksi. Yang menarik adalah bahwa Wei Mou Sha menariknya kembali.
Dengan teknik yang tidak ada dalam catatan kultivasi mana pun yang ia ajarkan kepada para asisten laboratorium dua puluh tahun lalu.
Teknik yang terasa seperti sesuatu yang ia ingat sendiri dari dalam.
Tao Xu Ying berjalan ke meja mengambil kursi dan duduk.
Menatap kertas tua itu tanpa menyentuhnya.
Tulisan di atasnya, dalam bahasa yang sama dengan yang digunakan dalam catatan-catatan Ordo Kekosongan yang paling rahasia, tapi dengan gaya yang lebih personal, lebih seperti surat daripada instruksi, sudah ia baca ribuan kali. Tapi malam ini ia menatapnya bukan untuk membaca ulang.
Untuk mengingat.
Empat ratus tahun lalu.
Di wilayah itu, ia menemukan seseorang yang duduk di atas batu datar di tepi jurang, menghadap ke kekosongan antara alam-alam,.
Seseorang dengan rambut yang warnanya tidak bisa ia tentukan dan mata yang warnanya berganti setiap kali cahaya mengenainya.
Seseorang yang sudah duduk di sana, berdasarkan kondisi batu di bawahnya dan kondisi tubuhnya sendiri, jauh lebih lama dari yang seharusnya bisa ditahan oleh siapa pun.
"Kamu mau apa di sini?" tanya Tao Xu Ying muda, yang belum cukup bijak untuk takut pada hal-hal yang seharusnya membuatnya takut.
"Berpikir," kata sosok itu.
"Tentang apa?"
"Tentang apakah ada yang perlu dipikirkan lebih jauh."
Percakapan yang dimulai dari pertanyaan bodoh itu berlangsung selama tiga bulan. Tao Xu Ying tidak pergi, ada sesuatu dalam cara sosok itu berbicara yang membuatnya tidak bisa pergi.
Di akhir tiga bulan itu, sosok itu berkata kepadanya:
"Aku akan menghilang sebentar. Tapi tidak selamanya. Dan ketika aku kembali, mungkin tidak dalam bentuk yang kamu kenali. Maukah kamu memastikan bahwa ketika itu terjadi, ada yang membantu proses itu berjalan dengan benar?"
"Menghilang ke mana?"
"Ke dalam."
Tao Xu Ying tidak mengerti sepenuhnya waktu itu. Tapi ia mengatakan 'ya'.
Dan ia sudah menepati kata 'ya' itu selama empat ratus tahun.
Tao Xu Ying menarik napas panjang dan mengalihkan pandangannya dari kertas tua itu.
Empat ratus tahun adalah waktu yang cukup lama untuk belajar bahwa rencana terbaik sekalipun tidak pernah sepenuhnya cocok dengan kenyataan. Variabel yang tidak terprediksi selalu ada, kadang kecil, kadang besar.
Xue Han Ye adalah variabel yang tidak ia antisipasi.
Bukan keberadaan Xue Han Ye sendiri, ia tahu ada pihak lain yang juga memantau Wei Mou Sha sejak lama. Tapi keputusan untuk melakukan kontak langsung, menyampaikan pesan dan memberikan giok pelacak di waktu yang berbarengan dengan segel mulai menunjukkan tanda-tanda berarti.
Mereka bergerak lebih awal dari yang kusepakati, pikir Tao Xu Ying. Artinya aku juga perlu bergerak lebih awal.
Ia mengambil selembar kertas kosong dan menulis.
Fase awal konfirmasi selesai. Segel aktif tingkat tiga dari tujuh.
Sesuatu teridentifikasi: kultivasi jiwa eksternal, api tingkat tinggi.
Variabel tidak terduga: kontak dari pihak ketiga, giok pelacak berpindah.
Keputusan: percepat jadwal kontak langsung. Bukan sekarang. Tapi tidak lama.
Ia meletakkan kertas itu di atas batu pelacak yang padam.
Kemudian mengambil sesuatu dari dalam bajunya, bukan batu kecil seperti pelacak, tapi sepotong kain dengan sulaman yang sudah memudar. Polanya sama dengan pola di giok yang diberikan Xue Han Ye kepada Wei Mou Sha.
Pola yang sama.
Tao Xu Ying menatap kain itu lama.
Jam tiga malam saat Tao Xu Ying akhirnya meninggalkan jendela dan duduk di satu-satunya kursi di ruangan itu.
Ia menutup matanya. Untuk meditasi yang berbeda dari yang dilakukan kebanyakan kultivator. Bukan mengumpulkan qi atau memperkuat inti kultivasi. Lebih seperti mendengarkan.
Sampai sinyal dari batu pelacaknya mulai menunjukkan fluktuasi yang lebih kompleks dari sebelumnya. Sampai segel mulai menunjukkan retakan. Sampai Wei Mou Sha, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun yang Tao Xu Ying sudah memantaunya dari jauh.
Di bawah menara, Kota Wanhua mulai ramai.
Suara-suara pagi yang sudah familiar, pedagang yang membuka lapak dan para kultivator yang memulai latihan.
Kehidupan yang terus berjalan.
Tao Xu Ying mendengarkan suara-suara itu dari balik jendela yang belum ia buka, dengan ekspresi yang tidak bisa dilihat siapa pun karena kabut masih mengikutinya bahkan saat sendirian.
Empat ratus tahun.
Dan akhirnya, untuk pertama kalinya, sesuatu yang ia jaga mulai bergerak ke arah yang benar.
"Sabar sedikit lagi," katanya pelan, kepada ruangan kosong, kepada kertas tua di meja, kepada sesuatu yang tidak ada di ruangan itu tapi yang selalu terasa seperti ada.
Waktunya hampir tiba.