NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat semua akan terungkap

“Satu minggu lagi, ulang tahun perusahaan.”

Suara Nico terdengar penuh wibawa saat menyampaikan hal itu. Tatapannya menyapu satu per satu anggota keluarganya yang duduk di meja makan, memastikan setiap kata yang ia ucapkan didengar dengan jelas.

“Ulang tahun kali ini akan berbeda dari biasanya.”

Nathan menatap ayahnya dengan intens, alisnya sedikit terangkat.

“Berbeda dari biasanya?”

Nico mengangguk pelan, ekspresinya tenang namun tegas. “Ulang tahun ke-50 ini, harus benar-benar berbeda.”

“Memangnya apa bedanya, Dad?” tanya Naura, rasa penasaran jelas terdengar dalam suaranya.

Nico menarik napas sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.

“Di dalam buku waris Opa kalian, ada satu pesan,” ucapnya perlahan. “Jika perusahaan ini masih berkembang hingga 50 tahun, maka seluruh keluarga yang tidak mampu, sekolah-sekolah yang kurang layak, serta puskesmas di pelosok Eldoria City akan mendapatkan bantuan dari Pramudya Corp.”

Suasana meja makan seketika berubah hening. Makna dari kata-kata itu jauh lebih besar dari sekadar perayaan ulang tahun.

Naura sedikit terdiam, mencerna penjelasan itu.

Alisnya mengerut tipis.

“Jadi, ini bukan sekadar perayaan?” tanyanya pelan.

Nico menggeleng.

“Bukan,” jawabnya tegas. “Ini tanggung jawab. Nama Pramudya tidak hanya tentang bisnis, tapi juga tentang warisan nilai.”

Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi, sorot matanya berubah lebih serius.

“Berarti skalanya besar,” ucapnya. “Bukan cuma simbolis.”

“Betul,” sahut Nico. “Daddy ingin semuanya tepat sasaran. Tidak ada pencitraan kosong.”

Hening sejenak menyelimuti meja makan.

Hingga suara lembut Natasya terdengar.

“Itu memang keinginan Papa dulu,” ucapnya pelan, namun penuh makna.

Semua menoleh padanya.

Natasya tersenyum tipis, tatapannya hangat namun menyimpan ketegasan.

“Beliau selalu bilang, kekayaan yang tidak dibagi hanya akan jadi angka tanpa arti.”

Nathan menatap ibunya sekilas, lalu kembali pada Nico.

“Data penerima sudah ada?” tanyanya langsung ke inti.

“Sebagian sudah,” jawab Nico. “Tapi Daddy ingin kalian turun langsung memastikan.”

Naura mengangkat alis.

“Kita?”

“Iya,” sahut Nico. “Nathan pegang sektor distribusi dana dan kerja sama. Naura, kamu urus validasi lapangan dan kebutuhan utama mereka.”

Naura terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Baik.”

Natasya kembali angkat bicara, kali ini nadanya sedikit lebih tegas.

“Pastikan ini benar-benar sampai ke mereka yang membutuhkan,” ucapnya. “Jangan sampai ada yang memanfaatkan momen ini untuk kepentingan pribadi.”

Nathan tersenyum tipis.

“Tenang, Mom. Aku yang pegang.”

Nico mengangguk puas.

“Itu yang Daddy harapkan.”

Ia lalu menyapu pandangan ke seluruh anggota keluarga.

“Satu minggu lagi bukan cuma ulang tahun perusahaan.”

Suaranya menurun, lebih dalam.

“Tapi juga menjadi bukti bahwa penilaian masyarakat terhadap Pramudya Corp selama ini tidak pernah salah.”

“Lalu, untuk acara seperti biasanya, bagaimana, Dad? Akan tetap dirayakan atau kita fokus pada penyumbangan ini kepada masyarakat?” tanya Naura, suaranya terdengar serius.

Nico menatap putrinya sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Acara sebelumnya tetap sama, Nau. Itu sudah menjadi hal wajib yang setiap tahun. Kita akan tetap merayakannya seperti biasa di perusahaan,” jawabnya tenang.

Ia kemudian menoleh ke arah istrinya.

“Untuk urusan dekorasi dan lainnya, Mommy yang ambil alih.”

Natasya mengangguk lembut. “Iya, Dad. Mommy yang akan mengurus semuanya,” balasnya dengan tenang.

“Dad?”

Nico kembali menoleh pada Naura.

“Ada apa, Nau?”

Naura sedikit menjeda, lalu bertanya dengan nada yang lebih hati-hati.

“Mahendra Group kita undang?”

Nico tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar undangan biasa.

Beberapa detik berlalu.

“Iya.”

Jawaban Nico singkat.

Namun cukup membuat suasana meja makan berubah tipis.

“Semua orang akan hadir,” lanjutnya tenang. “Investor, media, relasi bisnis…”

Tatapannya sedikit berubah.

Lebih dalam.

“Dan Mahendra Group akan jadi salah satu yang menyaksikan.”

Setelah makan malam selesai, semua kembali ke kamar masing-masing. Suasana rumah perlahan menjadi lebih tenang.

Nathan yang baru saja hendak memasuki kamarnya menghentikan langkah saat suara Nico memanggilnya dari belakang.

“Iya, Dad?”

“Ikut Daddy ke ruangan pribadi Daddy.”

Tanpa menunggu jawaban, Nico langsung berbalik dan berjalan lebih dulu.

Nathan menatap punggung ayahnya sejenak. Tidak biasa Daddy mengajaknya ke ruangan pribadi seperti ini.

Tanpa banyak bertanya, ia mulai melangkah, mengikuti.

Sesampainya di depan pintu ruangan pribadi Nico, Nathan membuka pintu dengan pelan.

Di dalam, Nico sudah berdiri, membaca sebuah berkas dengan ekspresi serius.

“Duduk,” ucap Nico tanpa menoleh.

Nathan mengangguk patuh, lalu duduk di sofa yang tersedia.

“Ada berita apa, Dad?” tanyanya, mencoba menebak arah pembicaraan.

Nico tidak langsung menjawab. Ia menutup berkas di tangannya, lalu berjalan mendekat. Dengan tenang, ia duduk di hadapan Nathan dan menyerahkan sebuah map tipis.

Nathan langsung mengambilnya. Ia membuka map tersebut, lalu membaca isinya dengan saksama.

Beberapa detik berlalu…

“99% positif," ucapnya pelan, nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.

Nathan mengangkat wajahnya, menatap ayahnya.

“Jadi…”

Nico mengangguk pelan. “Om Xander sudah mengetahuinya.”

Nathan ikut mengangguk, meski masih tampak terkejut. Tatapannya kembali jatuh pada lembaran kertas di tangannya.

“Dad, aku benar-benar nggak nyangka semua ini,” ucapnya lirih.

“Daddy juga sama, Nat,” balas Nico. “Saat pertama kali bertemu dengannya, Daddy sudah punya firasat kuat. Dia sangat mirip Xander waktu muda.”

Nathan terdiam sejenak, mencerna semuanya.

“Pasti Tante Xavira akan sangat senang kalau tahu,” ucapnya pelan.

Nico mengangguk, membenarkan.

“Kapan mereka ketemu?” tanya Nathan lagi.

“Daddy sedang atur jadwalnya sekarang. Tapi sebisa mungkin, secepatnya,” jawab Nico.

Nathan mengangguk tipis, lalu kembali berpikir.

“Apa ini ada hubungannya dengan ulang tahun perusahaan?”

Nico tidak langsung menjawab.

Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan ke arah jendela besar. Tatapannya menembus kaca, memandang gelapnya malam di luar sana.

Beberapa detik ia terdiam.

“Itu salah satu tujuannya.”

1
Hendra Yana
kehidupan sesungguhnya baru di mulai
Hendra Yana
sedihhh banget plus bahagia
Hendra Yana
lanjut
Adrianus Eleuwarin
mantaf thor hari ini banyak up nya 👍👍👍💪💪💪
Hendra Yana
lanjut
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!