Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suasana di kamar pengantin terasa kaku. Meskipun ruangan itu luas dan mewah, udaranya terasa sesak oleh kebohongan dan ketidakpedulian dari keduanya.
Arga duduk santai di tepi ranjang, kemeja putihnya sudah terbuka beberapa kancing bagian atas. Wajahnya yang tampan sama sekali tak menunjukkan rasa gugup selayaknya pengantin baru. Namun, yang membuatnya kaget ketika membuka ponsel panggilan dari kekasihnya hingga tiga kali tak terjawab.
"Jangan-jangan Nadine tahu kalau gue menikah lagi, duh!" Gumam Arga, cemas.
Kartini yang mendengar gumaman Arga hatinya terasa perih. Bukan karena cemburu, tapi kenapa ia harus menikah dengan Bos nya itu? Kartini menatap jari-jari Arga yang menekan layar ponsel, dan tak lama kemudian terdengar suara wanita yang dicintai.
"Halo, Sayang..." ucap Arga lembut.
Kartini yang hanya berdiri dalam kebingungan entah mau apa di kamar itu, kaget ketika sikap Arga berubah total. Nada dingin dan datar yang ia berikan kepadanya berubah manis dan manja ketika ditunjukkan kepada lawan jenis selain dirinya.
"Hallo... kamu di mana?"
"Iya, ini lagi di apartemen. Capek banget sih hari ini, banyak banget kerjaan," bohong Arga dengan lancar. Matanya melirik tajam ke arah Kartini yang duduk diam di sofa, memberi kode agar wanita itu jangan bersuara.
Kartini mematung. Tangannya mencengkeram gaun pengantin yang masih melekat di badan. Dadanya sesak mendengar kebohongan Arga. Arga mengatakan jika saat ini di rumah sendirian, bahkan tidak mengakui jika baru saja menikah. Namun, Kartini segera sadar bahwa yang Arga lakukan sudah benar, karena dia pun akan melakukan hal yang sama terhadap Teguh.
"Sayang... nelpon sampai beberapa kali? Kangen ya?" Arga tertawa bahagia tidak menganggap ada wanita yang baru saja ia nikahi.
"Kamu akhir-akhir ini sepertinya menjauh dari aku Ar, jangan-jangan kamu ada wanita lain."
"Itu hanya perasaan kamu saja sayang... bukankah sudah aku katakan jika aku sedang sibuk. Percayalah cintaku hanya untukmu."
Arga melirik Kartini yang tampak menjadi satpam, ia segera berdiri berjalan menjauh sedikit, tapi suaranya masih jelas terdengar.
"Terus kapan kita bisa jalan Arga?"
"Aku janji, minggu depan kita jalan-jalan Sayang..." Lagi-lagi Arga berdalih fokus mengurus proyek dan minta Nadine untuk bersabar. Arga benar-benar menutupi rahasia besar ini dan berharap Nadine berpikir bahwa ia masih pria bebas.
"Udah ya, Sayang. Aku mau tidur nih, mata udah berat banget. Kiss... muah... muah."
Arga menutup telepon dengan perasaan lega, seolah tidak ada beban sama sekali. Ia memutar tubuhnya, menatap Kartini yang masih terdiam mematung di sudut ruangan. Wajahnya kembali berubah menjadi datar dan dingin.
"Kamu mau diam di situ terus?" Tanya Arga sembari membuka baju pengantin.
"Baik Bos, saya tidur di kamar Kakek saja," Kartini hendak meninggalkan tempat itu tapi baru dua langkah, Arga mencekal pergelangan tangannya.
"Kamu mau kakek curiga?" Arga menatapnya tajam.
"Ya sudah... saya mau ambil baju ganti dulu," Kartini hendak turun ke lantai satu, tapi lagi-lagi Arga menghalangi.
"Bos ini maunya apa sih?!" Tandas Kartini merasa yang ia lakukan serba salah. Padahal ingin segera ganti baju longgar, gaun pengantin yang pas di badan itu rasanya menyiksanya.
"Buka lemari itu," Arga menunjuk lemari, tapi bukan lemari besar yang berdiri megah di kamar itu, melainkan beberapa laci yang menyatu dengan tempat tidur kayu jati dengan harga mahal.
Dengan pikiran bingung siapa yang memindahkan bajunya ke lemari itu, Kartini membungkuk dengan susah payah karena kain yang dia pakai menghalangi pergerakannya. Betapa kaget nya Kartini ketika baju berbagai model dilipat rapi di lemari yang bentuknya seperti laci itu.
"Ini baju siapa, Bos? Saya tidak mau memakai baju kekasihmu," ujar Kartini menatap Arga yang masih duduk tenang, ia pikir baju tersebut milik Nadine.
"Baju itu untuk kamu," Jawab Arga tanpa menoleh ke arah Kartini.
"Benarkah?" Kartini berbinar-binar karena tidak menyangka, di balik dingin dan angkuhnya Arga ternyata perhatian.
"Jangan gr, baju itu bagian dari kompensasi," Arga bangkit dari duduknya.
Wajah Kartini berubah cemberut karena ia pikir Arga membelikan baju untuknya karena rasa tanggung jawab. Tetapi itu tidak lama ia pikirkan, karena tidak mau berharap banyak pada Arga, mengingat pernikahan ini hanya sandiwara.
Setelah memilih baju piama yang nyaman, Kartini berdiri hendak ke kamar mandi. "Eh, eh. Jangan buka baju di situ..." Kartini menutup wajahnya dengan baju baru yang ia pegang ketika tidak sengaja menatap dada bidang pria itu.
"Kamu melihat tubuh saya tidak ada dalam perjanjian bukan?" Arga menatap Kartini dengan mata menyipit.
"Nggak tahulah Bos, saya mau mandi," Kartini tidak mau berdebat lagi, kemudian membuka pintu kamar mandi. Hingga beberapa menit Kartini keluar sudah ganti baju piama. Entah siapa yang memilih baju tersebut, tapi nyaman dia pakai dan ukurannya pun pas.
Kartini menatap Arga yang sudah terlentang di tempat tidur, bosnya itu matanya terpejam. Entah benar-benar sudah tidur atau hanya pura-pura, Kartini masa bodoh. Pakaiannya pun sudah ganti, entah mandi atau belum, Kartini tidak mau tahu karena ada yang lebih menyita perhatiannya. Baju pengantin Arga berserakan di lantai kamar, Kartini pungut pakaian tersebut berikut miliknya lalu membawanya keluar kamar meletakkan ke dalam mesin cuci.
Sebelum kembali ke kamar, Kartini membuka pintu kamar kakek perlahan-lahan. Kakek tidur dengan pulas sementara tempat tidur yang biasanya ia pakai di tempati oleh Mbak Milah salah satu art di rumah itu. Kartini merasa tenang karena kakek sudah ada yang menemani lalu menutup pintu kembali.
Dalam kesunyian malam, Kartini masuk ke dalam gudang ambil karpet memanggulnya ke kamar Arga.
Kartini menatap wajah Arga, kali ini sudah benar-benar nyenyak di atas kasur king size yang empuk, selimut tebal menutupi tubuhnya. Arga benar-benar menikmati kenyamanan tidurnya mungkin benar lelah seperti yang dia katakan kepada Nadine.
Kartini mematikan lampu utama dan menyisakan lampu redup di meja sudut tempat tidur. Dia lantas tidur di lantai beralaskan karpet tebal di samping tempat tidur memeluk guling. Tubuhnya yang berisi membuatnya terlihat pasrah dan nyaman di sana. Ia memilih tidur di lantai demi menjaga jarak, sekaligus menghormati perjanjian kontrak mereka agar tidak saling mengganggu.
Namun, siapa sangka? Begitu mata Kartini terpejam dan ia mulai terlelap, suasana hening itu perlahan berubah.
Hrrr... Hrrr... Hrrr...
Suara dengkuran halus mulai terdengar. Awalnya pelan, lama-kelamaan semakin keras dan berirama. Kartini ternyata memiliki suara ngorok yang cukup lantang karena postur tubuhnya, membuat suasana kamar yang tadinya sunyi menjadi hidup.
Suara itu terus menggema, menembus ketenangan Arga.
Awalnya Arga masih bisa bertahan, mengira itu hanya suara angin dari luar. Tapi semakin lama, suara "hrrr... hrrr" itu semakin jelas dan konsisten, seolah ada mesin diesel kecil yang menyala di dekatnya.
Arga mengerutkan kening di dalam tidurnya. Ia menggeliat gelisah, membalikkan badannya ke sisi kiri, lalu ke kanan, mencoba menutup telinga dengan bantal. Namun usaha itu sia-sia. Suara ngorok Kartini semakin kencang dan bertenaga, benar-benar mengganggu ketenangan Arga.
"Sialan..." gerutu Arga pelan dengan mata masih terpejam. Ia akhirnya membuka matanya dengan kesal.
Pandangannya menyorot ke arah lantai. Di sana, terlihat jelas punggung lebar Kartini yang terlihat tenang dan damai dalam tidurnya, seolah-olah itu adalah kasur termahal di dunia, sementara suaranya terus saja bertalu-talu memecah keheningan malam.
Arga menghela napas panjang, menepuk jidatnya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa istri kontrak-nya ini punya senjata mematikan seperti ini. Malam ini sepertinya akan menjadi malam terpanjang dan paling berisik dalam hidupnya.
Buk!
"Hoe! Berisik, Woe!" Arga berteriak melempar bantal mengenai punggung Kartini.
"Gempaa... Gempaaa..." Kartini seketika bangun melompat ke tempat tidur memeluk tubuh Arga.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭