NovelToon NovelToon
Cintaku Bersemi Di Desa

Cintaku Bersemi Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.

Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.

"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.

"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."

"Matamu, Mbak!"

Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.

Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Noda desa

Sekitar jam sembilan pagi, mobil Ikhram mulai memasuki perkampungan dengan jalan bebatuan. Dia mengemudi sangat pelan takut menganggu tidur wanita disampingnya. Ini salah Ikhram sendiri yang mengajak Rinjani pulang setelah shalat subuh.

Mobil berhenti di tepi jalan, pemiliknya bergeser mengambil sesuatu dan menutupi kaca mobil agar sinar matahari dari depan atau pun samping tidak memperngaruhi kualitas tidur Rinjani. Namun, Rinjani yang sensitif oleh gerakan di sekitar terbagun saat Ikhram di depannya.

Suara keras terdengar, kepala Ikhram membentur kaca akibat dorongan Rinjani.

"Kamu ngapain?" Memelototkan matanya.

"Silau, menganggu saya menyetir." Mengusap kepalanya yang lumayan sakit. Duduk dengan tenang dan mengemudi kembali.

Sedangkan Rinjani menyingkirkan hal yang menghalangi kaca. Membuka jendela mobil demi menikmati angin pagi dan persawahan yang belum sempat di panen.

"Kamu melihat sumur di tower yang kita lewati?" tanya Ikhram.

"Iya."

"Kamu ingat sesuatu tentang sumur itu?"

Rinjani mengeleng pelan. "Saya selalu mudah melupakan kenangan buruk."

"Jadi bagimu saya kenangan buruk?" Ikhram tampak tidak percaya.

"Memangnya saya bilang begitu? Aneh, tadi kan kita bahas sumur itu!"

Rinjani kembali membuang muka ke arah sawah, menghindari berbicara dengan Ikhram.

Tiba di depan rumah, dia turun dan mengambil tasnya. Sedangkan barang belanjaan dibantu Ikhram padahal mereka tadi bertengkar di dalam mobil.

"Terimakasih waktunya Rinjani." Ikhram tersenyum usai menutup bagasi mobil.

"Kamu menyindir saya? Tenang, ongkos mobil dan hotel akan saya bayar."

"Padahal saya serius berterimakasih padanya." Ikhram mengelengkan kepala. Membawa mobilnya memasuki pekarangan rumah.

Dia mengucapkan salam sembari membuka pintu dan ... satu pukulan mendarat di wajah manisnya.

"Kenapaki ayah?" Ikhram menyentuh wajah merahnya. Ia bingung kenapa sang ayah memukul secara tiba-tiba.

"Tegamu itu nak permalukan nama baik ayah. Padahal kemarin ayah tanya jako baik-baik kalau memang mauko sama Rinjani, ayah dan ibu bantuko lamarki."

"Apa maksudta itu ayah?"

"Liatko ini baik-baik!"

Ikhram menerima ponsel ayahnya, ia menahan napas melihat foto-fotonya bersama Rinjani saat di hotel.

Mulai di depan meja respsionis, depan kamar hotel. "Salah pahamki ayah, memang satu kamarka sama Rinjani tapi demi Allah Ikhram nda apa-apai anaknya orang."

Ikhram mengeleng, seumur hidupnya dia baru melihat ayahnya menitikkan air mata dan itu tepat di depannya. Ia berlutut. "Ikhram bersumpah ayah. Cintaka memang sama Rinjani tapi tidak ada pikirannya Ikhram buat permalukan dua keluarga."

Guru sd itu menghampiri ibunya, berjalan dengan lutut. Meraih tangan wanita paruh baya yang sejak tadi menangis di sofa.

"Bu, tidak mungkin saya nodai Rinjani. Cinta sekalika sama dia Bu, sampai tidak ada pikiranku permalukangi."

"Ibu percaya sama kamu Ikhram, tapi bagaimana sama warga kampung Nak? Hampir seluruh desa ceritaiko. Nama baiknya ayahmu, nama baiknya hj Ira ...."

"Nu tauji to bagaimana warga di kampung. Cerita satu meter bisa panjang sampai 10 meter dari mulut ke mulut Nak."

"Jangki menangis Bu." Suara Ikhram terdengar parau. Menghapus air mata ibunya sedangkan air matanya terus berjatuhan.

Baru beberapa bulan ayahnya dilantik sebagai kepala desa. Cintra ayahnya selalu baik di mata masyarakat. Dan sekarang semua hancur karena dirinya, akibat kecerobohannya.

Ikhram hendak berdiri mendengar keributan di depan rumah, tetapi tangannya digenggam erat oleh sang ibu.

"Jangko keluar Ikhram."

"Tidak Bu, haruska keluar dan selesaikan masalah ini."

"Bagaimana mau nu selesaikan hah?" Pak Irwan mencengkeram kemeja anaknya.

Ikhram tidak mengidahkan peringatan ayahnya, tetap membuka pintu dan menyaksikan amukan beberapa warga. Ada pula warga yang berada di tengah-tengah, mencegah terjadinya main hakim sendiri.

Di seberang jalan, Rinjani ikut keluar rumah karena penasaran dengan keributan apalagi dia melihat Ikhram dicekam warga. Dia berjalan mendekat dan akhirnya warga berbalik marah padanya.

Memaki bahwa dia adalah wanita penggoda dari kota. Menodai desa dengan melakukan hal tidak senonoh bersama anak pak kades.

Beruntungnya Rinjani tidak mengerti setiap makian yang warga lontarkan. Hanya saja, eskpresi wajah, dan serangan fisik membuat dirinya membeku.

Dia terduduk karena dorongan ibu-ibu yang sangat bersemangat menjatuhkan harga diri kepala desa juga hj Ira.

"Memangnya saya salah apa sampai kalian seperti ini!" bentak Rinjani.

Alih-alih menerima serangan, wanita itu berdiri dan mendorong ibu-ibu yang sejak tadi terus menyebut nama neneknya dengan ekpresi menyebalkan.

"Ada apa dengan nenek saya sampai menyebut-nyebut dirinya hah?" Rinjani melotot, kedua tangannya ia posisikan pada pinggang. "Dasar kampung, suka mengurusi hidup orang lain!"

"Rinjani."

Suara tenang itu mengintrupsi, pemiliknya mendekat sambil mengelengkan kepala. Mengkode agar Rinjani tidak membuat suasana semakin panas.

"Apa yang terjadi, kenapa mereka mengamuk seperti zombi kelaparan?"

"Foto saat kita berada di hotel tersebar di desa ini."

"Apa?" Bukannya tenang, emosi Rinjani semakin memuncak. Mendorong Ikhram agar menyingkir dari hadapannya.

"Lalu kenapa dengan foto itu? Tidur di kamar yang sama bukan berarti berbuat maksiat. Dasar kampung, pikiran kotor sudah memenuhi pikirannya tanpa harus mencari kebenaran lebih dulu!"

"Rinjani berhenti!" pinta Ikhram masih tenang. Kemarahan warga tidak akan mereda jika dilawan.

"Turunkan kepala desa!"

"Usir dua keluarga terpandang itu!"

Seruan masih saja terdengar lantang dan semakin mengundang desa tetangga.

"Mereka akan menikah tanpa resepsi sebagai hukuman!"

Rinjani dan Ikhram menatap tidak percaya pada pria tidak jauh darinya.

.

.

.

Hais, siapa sih yang nyebarin fotonya?

1
Teh Yen
nah loh mel selain tidak setia atasan mulutmu Tidka d jaga pula hihii 😁 Suami yah Mel suami atasanmu itu bukan sepupunya ingat itu
Teh Yen
kan kan Jani jd bodoh Karena adrian.yg terus gangguin dia huuh untung aj kmr zira nyelamatin kamu Jani huft
Teh Yen
kenapa kamu berpikir pendek Jani huuh 😤 sebenarnya apa yg membuat kamu putus asa apakah ancaman Adrian
Maria Kibtiyah
lanjut
sryharty
hayooo semangat para calon nenek dan kakek,,
sryharty
setia banget ko yah
Rista Awwalina
lah..pintar tp polos 🤣
sryharty
Aisssss janiiii
sryharty
ya Allah yg sabar ya ka,,padahal ceritanya bagus
jangan end di tengah jalan ya ka,,,

noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
Rohmi Yatun
semangat thor.. ceritanya bagus kok..
lanjut sampe end ya thor🙏
Rohmi Yatun: siaappp👍
total 2 replies
Maria Kibtiyah
akhirnya si jani sadar juga
sryharty
ayo iklan tanyakan dulu Jani hamil berapa Minggu
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
Teh Yen
ikram.pasti datang terlepas dari perkataan Jani kemarin padanya ,,,.kamu Tidka sendiri Jani andai kamuu cerita kegelisahan mu pada ikram suamimu semuanya pasti akan baik baik saja
Teh Yen
Jani kenapaki.jahat.kali.sama Ikram hmmm???
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: Cie udah mulai ngerti bahasa makassar😅
total 1 replies
Arsyad Algifari.
ga mau komen karena Jani dan iklan berpisah 😪😪😪
sryharty
pasti datang wong iklan wes kecintaan banget sama jani🤭🤣
sryharty
coba cek darah hamilnya udah berapa Minggu,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
Maria Kibtiyah
hadehhh ruwet bgt hidup si jani mangkanya jngn dp duluan
Rista Awwalina
brati bukan cinta sejati, ikhlaskan saja.
sryharty
udah ikram biarkan Jani sama keputisannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!