Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Senja mulai turun di kota, menyelimuti kampus dengan cahaya lembut keemasan. Alya duduk di bangku taman, memeriksa catatan kuliah sambil menunggu Arka. Hatinya terasa campur aduk senang, gugup, dan sedikit cemas. Ia tahu, hari ini Arka ingin berbicara tentang hal yang lebih pribadi, bukan hanya tugas atau kuliah.
Arka datang dari arah lorong kampus, langkahnya tenang. Begitu melihat Alya, senyumnya samar namun hangat.
“Alya, kau sudah menunggu lama?” tanyanya sambil duduk di sebelah Alya.
“Tidak, Pak. Aku baru beberapa menit menunggu,” jawab Alya sambil tersenyum malu.
Arka mengangguk, menatap Alya. Ada kesan serius namun lembut dalam tatapannya. “Hari ini aku ingin kita bicara… soal bagaimana kita melangkah perlahan dalam hubungan ini. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu, dan apa yang kau harapkan dari semuanya.”
Alya menelan ludah. Ia tahu ini saat yang penting untuk jujur pada dirinya sendiri dan pada Arka. “Pak… aku merasa nyaman saat bersama Bapak, tapi aku juga masih ragu kadang. Aku ingin memahami perasaan ini, dan aku ingin kita saling terbuka,” ucapnya pelan.
Arka tersenyum tipis, menepuk bahu Alya perlahan. “Itu wajar, Alya. Aku juga belajar memahami perasaanmu. Aku ingin kita saling perlahan-lahan, tanpa terburu-buru. Setiap perhatian yang kuberikan… bukan karena kewajiban, tapi karena aku ingin kau merasa aman dan dihargai.”
Mereka duduk di taman, menikmati suasana sore yang hangat. Angin sepoi-sepoi membuat daun-daun bergoyang pelan, menambah ketenangan suasana. Percakapan mereka mulai ringan, dari cerita kuliah Alya, kebiasaan lucu Arka, hingga rencana liburan pendek yang mungkin bisa mereka lakukan setelah ujian semester.
“Pak… kalau kita punya waktu libur, aku ingin pergi ke perpustakaan kota atau taman yang ada di pinggir sungai,” kata Alya sambil tersenyum.
Arka menatapnya, sedikit tersenyum. “Kedengarannya menyenangkan. Aku senang kalau kau nyaman dengan hal-hal sederhana seperti itu. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu di tempat yang membuatmu tenang.”
Suasana itu membuat Alya merasa hangat. Ia menyadari bahwa meski awalnya hubungan ini terasa dipaksakan, perhatian kecil Arka membuat hatinya perlahan menerima dan nyaman.
###
Beberapa hari kemudian, orang tua Alya mengundang Arka untuk makan malam di rumah mereka. Ini menjadi kesempatan bagi keluarga untuk lebih mengenal Arka, sekaligus membicarakan masa depan secara ringan.
“Alya, Nak… aku senang melihatmu mulai nyaman dengan Arka. Ini penting agar hubungan kalian berjalan baik,” kata ibu Alya sambil tersenyum.
Bapak Alya menatap Arka serius tapi lembut. “Pak Arka, kami ingin memastikan kau benar-benar memahami tanggung jawab ini. Kami tahu hubungan ini awalnya perjodohan, tapi yang penting adalah kejujuran dan saling pengertian.”
Arka menunduk sebentar, lalu menatap bapak Alya. “Pak, saya menyadari tanggung jawab ini. Aku ingin Alya merasa aman, dihargai, dan dihormati setiap saat. Aku ingin setiap perhatian yang kuberikan bukan sekadar kewajiban, tapi tulus dari hati.”
Makan malam berlangsung hangat. Percakapan ringan mengalir, dari pengalaman masa kecil Alya, kebiasaan Arka, hingga cerita lucu di kampus. Alya merasa nyaman, hatinya mulai menerima bahwa kedekatan ini bisa tumbuh menjadi sesuatu yang tulus dan membahagiakan.
setelah makan malam, Alya dan Arka duduk di teras rumah Alya. Mereka duduk berdekatan, tapi tetap sopan.
“Pak… aku merasa lebih nyaman sekarang. Aku ingin belajar memahami Bapak lebih dalam, perlahan,” kata Alya sambil menatap ke langit senja.
“Aku senang mendengar itu, Alya. Aku juga merasa setiap langkah yang kita ambil perlahan membuat semuanya terasa lebih ringan. Kita akan terus belajar memahami satu sama lain,” jawab Arka dengan lembut.
##
Hari demi hari, kedekatan mereka makin terlihat. Setiap percakapan, tawa, dan perhatian kecil yang mereka bagi membuat hubungan ini perlahan menjadi lebih tulus. Alya mulai menyadari bahwa meski awalnya dipaksakan, cinta bisa tumbuh dari pengertian dan perhatian yang tulus.
Malam itu, sebelum berpisah, Alya menatap Arka dan tersenyum. “Pak… terima kasih sudah sabar dan selalu membuatku merasa dihargai.”
Arka menatapnya dengan mata lembut, lalu menjawab “Alya, aku juga berterima kasih. Karena dengan kau perlahan membuka hati, aku bisa belajar mencintaimu dengan benar.”
Kedua hati mulai merasakan hangatnya perhatian dan pengertian, fondasi kecil yang akan menuntun mereka menuju kebahagiaan perlahan tapi pasti.
maaf lancang🙏🙏🙏