Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Nana
"Je-je-je-jeng!" Ipah memamerkan sepiring kue bolu yang masih utuh. "Dari Nana. Masih anget lho," katanya dengan senyum lebar.
"Ya udah, makan aja. Kenapa harus dipamerin sih? Ngak bakal juga aku mau rebutan."
Kedua bola mata Ipah melebar menatap Collins. "Lah, enih 'kan dikirim untuk elu, Bara!" Ipah menyodorkan ke depan hidung Collins.
"Apa?" Pria itu berpikir sejenak. "Nana siapa sih?" Kedua alisnya saling bertautan.
"Itu, anaknya ibu Rogaya yang rumahnya depan rumah kita," sahut Enyak yang berbicara sambil melangkah ke dapur.
Collins berpikir keras karena ia tak begitu memperhatikan tetangga. Keterangan babelah yang membuat ia ingat siapa Nana. "Itu nyang ngasih makanan waktu elu kerja bakti waktu entuh. Inget kagak lu? Nyang bersihin got."
"Oh, dia." Ingatan Collins kembali. "Tapi kenapa kirim ke Bara? Apa dia gak salah orang?" Ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang sudah bertengger di kepala.
"Jiah ... gak tau die. Pastinya entuh cewek naksir ma elulah, opah koreah!" Ipah mencubit pipi adik angkatnya itu, gemas.
"Ck, Mpok, ah!" Untuk kesekian kalinya Collins mengerut dahi sambil menyoroti Ipah dan mengusap pipinya yang memerah.
"Ciee ...," ledek Enyak dengan senyum lebar.
"Tapi die udah ade cewek incerannye, die ... Gak bakal mau ame sih Nana," timpal Babe.
"Jadi, siape cewek incerannye, Bang?" Enyak menyentuh tangan Babe.
"Ustadzah Aida."
"Babe!" teriak Collins yang semakin dongkol saja karena Babe membocorkan rahasianya.
"Wah, bagus entuh. Enyak dukung!" Enyak mengangkat ibu jarinya.
"Aye juga tim ustadzah Aida," imbuh Ipah.
Collins yang telanjur kesal, hanya bisa menghentakkan handuk kecil itu ke bawah karena tak bisa berbuat apa-apa. Pipinya kembali memerah, tapi kali ini karena malu. Ia bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu.
"Kenape die?" tanya Enyak khawatir, melirik Babe.
"Kayaknya die pemalu." Babe berusaha meyakinkan.
"Masa?"
***
Hari telah larut, tapi tugas Collins berikutnya baru saja di mulai. Ia berjalan pelan ke arah pos ronda. Hari ini untuk pertama kalinya ia ikut ronda malam. Matanya mulai mengantuk padahal sebelumnya sudah minum kopi yang dibuat Enyak.
Di pos itu ternyata sudah ada tiga orang yang menunggu. Ia yang terakhir.
"Oh, Bara. Akhirnya datang juga," sahut Pak Bowo yang duduk sambil menutup tubuhnya dengan sarung. Memang malam itu sedikit dingin karena sore tadi hujan deras.
Collins hanya memakai tambahan jaket jeans untuk mengusir dingin. Di sana sudah ada Pak Agus dan Idan, berarti sudah lengkap. Collins duduk di bagian luar dan melihat ketiganya tengah minum kopi. "Apa kalian tidak ngantuk ya? Aku sudah minum kopi tapi masih saja ngantuk," keluhnya. Mata Collins memang tampak semakin sipit saja.
Pak Agus tertawa. "Bapak sudah tidur tadi siang, jadi bisa melek, ini."
'Terang saja dia bisa melek, lah dia punya warung sembako 24 yang dijaga bergantian dengan istrinya.' Collins merengut sebal.
"Aku mudah-mudahan lancar," sahut Pak Bowo santai.
'Dia setahuku, istrinya kerja. Dia pengangguran. Gak aneh sih.' Batin Collins lagi.
Hanya Idan yang terlihat tak peduli. Ia juga membawa sarung dan mulai berbaring di pos ronda yang sempit itu. "Aku tidur duluan ya? Nanti kalau butuh ngider, bangunin aja." Ia menutup mulutnya yang menguap dan menarik sarungnya ke atas. Sebentar kemudian terdengar suara dengkuran halus dari mulut Idan.
Collins yang masih baru, awalnya tak punya teman bicara. Ia memainkan senter di tangan dengan memutar-mutarnya dalam keadaan hidup membuat kedua bapak-bapak itu terganggu karena silau.
"Bara ...."
Pria itu menoleh dan melihat Pak Agus dan Pak Bowo menatap ke arahnya dengan wajah kaget. Collins tak tahu ada apa.
"Jangan mainin lampu. Silau, Bara." Terang Pak Bowo.
Collins seketika sadar. "Eh, maaf." Ia segera mematikan senter.
"Udah, kamu keliling gih, sama Idan." Pria itu membangunkan Idan.
"Apa? Aku baru tidur ...," protes Idan. Ia berusaha membuka matanya yang mengantuk.
"Udah, kamu keliling gih, sama Bara. Daripada kamu tidur di pos ronda. Mana ada orang ngeronda, kamu tidur."
Dengan berat hati, Idan bangun. Sempat menguap sambil meregangkan kedua tangan, akhirnya ia keluar mengikuti Bara. Ia menyatukan sarungnya di bahu.
"Kita ke mana nih?" Collins menoleh.
"Ya lewatin RT kita aja."
"Tapi aku gak tau daerahnya dari mana ke mana," sahut Collins lagi.
"Mmh, ikuti aku aja."
Collins mengikuti pemuda itu. Idan walau wajahnya sedikit berantakan tapi ia tengah kuliah S2 di sebuah universitas swasta. Ya, Idan berasal dari keluarga mampu. Keluarganya paling kaya di RT itu. "Bar, lo suka sama Nana?"
Pertanyaan itu membuat Collins terkejut. Ia ingat, Idan pernah menggoda Nana. "Kamu suka Nana ya? Kejar aja," jawabnya ringan.
"Yang bener nih?"
Collins kembali menoleh pada pria yang memang wajahnya biasa saja. Tidak jelek tetapi juga bukan golongan pria tampan. Walau terlihat bercanda, sepertinya Idan suka pada Nana.
"Aku serius! Aku udah suka sama orang lain."
"Oya? Bagus deh!" Idan kemudian mengajak Collins berkeliling. Dua kali putaran kemudian mereka kembali.
****
"Bang, aku udah gajian," sahut Aida dengan senyum lebar saat naik motor Collins untuk pulang.
"Syukurlah."
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah." Collins meniru.
"Aku udah pisahin untuk Abang, nanti aku kasih."
Motor pun bergerak ke jalan. Setelah beberapa waktu, motor sampai di depan pagar rumah Aida. Wanita itu turun. Ia kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan amplop yang sedikit tebal. "Ini untuk Abang."
"Terima kasih." Collins mengambilnya.
"Eh, Abang tahu gak di mana ada tukang jahit dekat sini?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Collins bingung. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. "Aku tidak tahu, Mbak. Maaf."
"Oh, ya. Gak papa." Wajah wanita itu terlihat sedikit kecewa.
Namun, seketika Collins teringat Ipah. "Eh, tapi Mpokku lagi belajar jahit, Mbak. Apa Mbak mau coba?"
"Apa?" Aida terdiam sejenak.
"Eh, dia berniat mau jadi penjahit. Mungkin bisa murah karena Mbak pelanggan pertamanya." Dalam hati, Collins bertanya-tanya apa langkahnya sudah benar karena ia belum pernah melihat hasil jahitan Ipah sama sekali. Ia memang pernah beberapa kali melihat Ipah menjahit di malam hari tapi ia tak pernah memperhatikan hasil jahitannya. "Eh, lupakan saja ...."
"Aku tidak tahu Abang punya kakak perempuan," ujar Aida pelan.
"Oh, sebenarnya sepupu. Aku numpang di rumahnya."
"Oh, begitu."
"Ya sudah. Aku pulang ya." Collins bersiap-siap menyalakan mesin motornya.
"Eh, apa dia ada di rumah?"
"Apa?" Collins kembali menoleh. "Kamu beneran mau jahit sama dia?" Tak percaya. "Dia ada sih, di rumah. Lagi gak kursus."
"Ya sudah. Aku ambil dulu bahannya." Aida berbalik dan membuka pagar.
Sejurus kemudian, mereka sampai di rumah Collins. Pria itu membuka pagar rumah dan mendorong motornya masuk. Aida yang telah turun, mengikutinya dari belakang.
"Sebentar ya, aku panggil dulu." Collins bergegas masuk. Ia mendatangi Ipah yang tengah menjahit di ruang tengah. "Mpok ... ada yang minta dijahitin bisa gak, Mpok?" tanyanya hati-hati.
"Ape? Bisa sih, tapi Mpok belum buka jahitan. Emang siape?" Wanita itu menengok ke pintu depan yang terbuka.
"Eh, Mbak Aida," sahut Collins dengan suara rendah lalu berdehem sebentar. Ia mengetukkan jemarinya di meja mesin jahit sambil menunduk. Collins sedikit malu mengatakannya.
Bersambung ....