Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Saat kulit mereka bersentuhan, sebuah sensasi aneh dan hangat menjalar cepat hingga ke seluruh tubuh Aira. Seperti listrik kecil yang menyengat manis.
“Cocok,” gumam Elvano pelan, matanya menatap jari Aira yang kini melingkar sempurna dengan perhiasan yang mahal itu. Lalu ia menatap wajah Aira dalam-dalam. “Sempurna.”
Dan saat itulah, dari arah belakang, tepat di samping Ibu, terdengar suara Dinda yang tidak bisa menahan diri lagi. Gadis itu berteriak heboh,
“Cieee… romantis banget! Awas ya Mas Elvano! Cincin itu bukti ikatan! Kalau lo berani nyakitin sahabat gue sedikit aja, gue cabut cincinnya terus gue lempar ke laut yang dalam! Ingat kata gue… HATI-HATI JANDA MUDA!”
Semua orang di ruangan itu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan heboh dan polos Dinda. Suasana yang tadinya kaku dan formal menjadi sangat cair dan lucu. Bahkan Nyonya Praditya pun tertawa geli dan menutup mulutnya.
“Lucu sekali sahabatmu ini, Ra,” komentar Ibu Elvano sambil tersenyum lebar. “Asik dan berani.”
Elvano menatap tajam ke arah Dinda dengan tatapan ‘mengancam’ lucu, lalu bergumam dalam hati, “Cewek ini… mulutnya memang tidak ada remnya. Tapi tenang saja, status istri gue tidak akan pernah berubah selama gue masih menginginkannya. Janda itu urusan nanti, dan gue pastikan itu tidak akan terjadi.”
*****
Waktu berlalu begitu cepat. Matahari mulai condong ke barat, dan tibalah saat yang paling menentukan, saat yang paling sakral dalam hidup mereka. Prosesi Akad Nikah.
Awalnya akad nikah akan segera dilaksanakan langsung setelah acara lamaran selesai, tapi berhubung Aira waktu itu katanya sedang tidak enak badan, maka kedua belah pihak memutuskan untuk mengundurnya kembali agar kedua calon mempelai beristirahat dengan cukup sebelum acara akad digelar.
Semua tamu dan keluarga sudah duduk rapi sesuai tempatnya. Suasana berubah total menjadi sangat hening, khidmat, dan penuh doa. Penghulu yang disiapkan oleh keluarga Praditya berdiri di depan, memimpin acara dengan lantang, jelas, dan tegas.
Aira duduk di balik tirai tipis yang memisahkan dirinya dengan Elvano. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tangannya sedingin es. Dinda yang duduk tepat di sebelahnya memegang tangan Aira kuat-kuat, memberikan kekuatan. Mata Dinda pun sudah berkaca-kaca, kali ini ia tidak heboh sama sekali.
“Ra… tarik napas panjang… hembuskan pelan… ini saatnya. Lo pasti bisa. Lo kuat,” bisik Dinda lembut, suaranya bergetar menahan tangis haru.
Di sisi lain tirai, Elvano sudah siap berdiri di hadapan penghulu. Wajahnya tampak sangat serius, penuh tanggung jawab dan ketegasan. Tidak ada lagi senyum, tidak ada lagi sikap dingin yang berlebihan. Hanya ada seorang pria yang siap memikul amanah besar.
“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.” jawab semua hadirin serempak.
“Yang saya hormati para saksi, dan keluarga yang berbahagia. Adapun maksud dan tujuan kami berkumpul di sini adalah untuk melangsungkan upacara pernikahan, mengikrarkan janji setia antara saudara kami Elvano Praditya dengan Aira Maharani.”
Penghulu pun menatap Elvano tajam, memastikan keseriusan pria muda itu.
“Elvano Praditya bin Darmo Praditya. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Aira Maharani binti Darmawan, dengan mahar berupa uang tunai sejumlah yang disepakati, serta barang-barang perhiasan tersebut, dibayar tunai."
Hening total. Seluruh mata tertuju tepat pada pria tampan itu. Suasana mencekam namun indah.
Aira menahan napasnya, kakinya terasa lemas seolah tak bertulang. Dinda bahkan sampai memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Aira dan berdoa dalam hati.
Dengan suara yang tegas, lantang, dan penuh dengan keyakinan dan ketegasan yang tak tergoyahkan, Elvano mengucapkan kalimat sakral itu,
“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA AIRA MAHARANI BINTI DARMAWAN, DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT, TUNAI!”
SAH!!
Seruan para saksi bergema keras dan lantang di seluruh ruangan, memecah keheningan yang mencekam tadi.
“SAH!! SAH!! SAH!!”
Air mata kebahagiaan langsung menetes dari mata para orang tua. Suasana menjadi sangat haru dan penuh doa.
“ALHAMDULILLAH!!” seru semua orang bersamaan dengan hati yang penuh dengan rasa syukur.
Dinda yang ada di balik tirai langsung melompat kegirangan, ia memeluk Aira erat-erat sambil menangis bahagia, tidak bisa menahan emosinya lagi.
“YEAY!! SAH!! SAH!! SELAMAT YA SAYANG!! AKHIRNYA LO JADI NYONYA PRADITYA RESMI!! Gak ada yang bisa ngelawan lagi sekarang!”
Aira pun menangis haru, air matanya mengalir deras membasahi pipi, ia membalas pelukan sahabatnya itu dengan sangat erat. Rasanya campur aduk antara takut, haru, dan lega.
“Makasih ya Din… makasih banyak udah ada di sini sama Aira…” isak Aira pelan.
“Tapi inget ya Ra!!” Dinda melepaskan pelukannya sedikit, lalu mengusap air mata di pipi Aira dengan kasar namun lembut, wajahnya kembali menampilkan ekspresi serius khasnya sambil tersenyum lebar. “HATI-HATI JANDA MUDA! JAGA SUAMI BAIK-BAIK! JADI ISTRI YANG SHOLEHAH! JAGA HATI LO! LOVE YOU SELAMANYA!”
Acara pun berlanjut. Tirai pemisah dibuka, memperlihatkan pasangan suami istri yang baru saja sah.
Elvano berdiri dengan tegap, lalu ia berjalan mendekati Aira yang masih duduk dengan wajah yang basah oleh air mata. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat kepada istrinya yang baru saja sah itu.
“Ayo… Istriku.”
Panggilan singkat namun sangat berat maknanya itu membuat jantung Aira bergetar hebat. Hanya dua kata, tapi terdengar sangat romantis dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Dengan tangan yang masih gemetar, Aira perlahan menerima tangan hangat Elvano.
Elvano menggenggam tangan itu erat-erat, tidak melepaskannya sedikitpun. Ia menatap wajah Aira dalam-dalam, matanya menelusuri setiap detail wajah istrinya itu seolah ingin menghafalnya.
“Terima kasih sudah menerima aku, Aira. Mulai detik ini, kamu tanggung jawabku.” ucapnya pelan namun tegas.
Aira menunduk malu, pipinya memerah padam. “Sama-sama, Mas…” jawabnya lirih.
Nyonya Praditya yang melihat pemandangan manis itu langsung datang dan memeluk keduanya secara bergantian, wajahnya berseri-seri sangat bahagia.
“Alhamdulillah. Akhirnya Mama punya menantu yang cantik dan baik hati. Semoga kalian selalu bahagia ya, anak-anak mama. Semoga rumah tangganya langgeng sampai tua, sampai maut memisahkan.”
“Aamiin…” jawab Aira dan Elvano serempak.
Di sudut ruangan, Raka yang berdiri sambil memegang gelas minuman menepuk bahu Elvano pelan saat ada kesempatan.
“Selamat ya Bro. Lo resmi jadi orang yang beristri sekarang. Gak bisa main-main lagi nih statusnya. Jangan galak-galak terus dong sama istrinya, nanti es batunya keriting.” ledek Raka santai.
Elvano hanya tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang ia tampilkan. Ia lalu menatap tangan mereka yang saling menggenggam itu, cincin berlian itu berkilau indah di jari Aira.
“Insyaallah… ini awal yang baru. Dan gue akan jalani dengan baik.” jawabnya tenang.
Dan di tengah keramaian, di tengah ucapan selamat dan tawa bahagia itu, satu kalimat khas Dinda seolah terus terdengar bergema di telinga Aira, seperti mantra yang tak lekang oleh waktu,
“Hati-hati janda muda ya Ra!! Hati-hati janda muda!!”
Membuat Aira tertawa sambil menangis, menyadari sepenuhnya bahwa hidupnya kini telah berubah total. Ia bukan lagi Aira Maharani yang sederhana, ia adalah istri sah dari Elvano Praditya. Miliknya seutuhnya.
*****
"ELVANO CUMA MILIKKU!"
Amarah yang Meledak
Suasana di sebuah apartemen mewah yang terletak di lantai tertinggi gedung pencakar langit di pusat kota terasa begitu mencekam, dingin, dan penuh dengan aura kemarahan yang sangat pekat. Suara benda-benda mahal yang dilempar dan hancur berkeping-keping terdengar bergantian, memecah keheningan malam, disertai teriakan marah yang sangat nyaring dan melengking, menusuk telinga siapa saja yang mendengarnya.
“AAAAARRGGHH!! BERISIK!! SEMUA INI BERISIK!! BOHONG!! SEMUA INI PASTI BOHONG!!”
Natasha, wanita cantik dengan tubuh proporsional sempurna dan wajah yang selalu terlihat sempurna bagaikan boneka, kini tampak seperti orang yang benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Matanya memancarkan api amarah yang begitu besar.
Dengan gerakan yang kasar dan penuh dengan emosi, ia melempar sebuah vas bunga kristal impor yang harganya sangat mahal ke dinding hingga hancur lebur berkeping-keping. Kepingan-kepingan kaca itu bertebaran di lantai marmer yang mengkilap, melambangkan hati Natasha yang saat ini sedang hancur lebur tak bersisa.
Belum puas, ia menendang meja kecil di depannya dengan keras hingga benda itu terbalik dan isinya berhamburan keluar. Napasnya terengah-engah, wajahnya memerah padam, matanya melotot penuh dengan kebencian dan kekecewaan yang mendalam, persis seperti seekor harimau yang terluka dan sangat marah karena mangsanya direbut.
Di tangannya yang gemetar hebat, ia menggenggam erat sebuah ponsel. Layarnya menyala terang, menampilkan sebuah foto dan berita yang baru saja viral di media sosial dan menjadi buah bibir di seluruh kalangan elit ibu kota.
Foto itu memperlihatkan Elvano Praditya, pria yang selama ini ia anggap sebagai miliknya semata, pria yang ia idamkan, pria yang ia cintai dengan segala cara, sedang berdiri berdampingan dengan seorang gadis yang terlihat begitu sederhana namun sangat cantik dan anggun.
Mereka sedang berpegangan tangan dengan erat, mengenakan pakaian serasi yang indah, dan wajah mereka terlihat begitu bahagia. Di bawah foto itu tertulis caption besar dan tegas yang seolah menorehkan luka pedih di hati Natasha:
SELAMAT! ELVANO PRADITYA RESMI MENIKAH DENGAN AIRA MAHARANI!
“BODOH!! BODOH BANGET!! SEMUA INI TIPU DAYA!!” teriak Natasha lagi, suaranya pecah penuh keputusasaan. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat hingga terasa sakit, seolah ingin mencabutnya sampai ke akar-akarnya. “Gak mungkin! Gak mungkin El nikah! Dia udah janji sama aku! Dia bilang dia cuma main-main sama cewek lain! Dia bilang dia gak akan pernah serius sama siapapun kecuali aku! Dia gak mungkin nikahin cewek kampungan, cewek gak berguna kayak gitu! GAK MUNGKIN!”
Di sudut ruangan yang agak gelap, asisten pribadinya yang bernama Sita hanya bisa menunduk takut, tubuhnya gemetar hebat melihat amukan bosnya yang sudah di luar batas kewajaran. Ia berani mati mengganggu, tapi di sisi lain ia juga sangat khawatir kalau Natasha semakin mengamuk dan melukai dirinya sendiri atau melakukan hal-hal nekat lainnya.
“Na… Natasha… Non… tenang dulu ya… tolong tenang dulu… jangan seperti ini, bahaya…” bisik Sita pelan, suaranya hampir tak terdengar karena gemetar.
“DIAM KAMU!!” Natasha menoleh tajam seketika, menatap asistennya itu dengan tatapan yang membunuh yang sangat mengerikan. Mata tajamnya seolah ingin melahap Sita hidup-hidup. “Kamu senang ya melihat aku hancur begini?! Hah?! Kamu juga setuju kan kalau Elvano nikah sama cewek tidak jelas itu?! Kamu juga berpihak sama mereka kan?! Jawab!!”
“Bukan begitu Non… bukan sama sekali…” Sita mundur selangkah ketakutan, matanya berkaca-kaca menahan tangis. “Saya cuma khawatir sama kesehatan Non Natasha. Non jangan marah-marah terus, nanti sakit lho, nanti kecantikan Non hilang karena marah terus…”
“SAKIT?!” Natasha tertawa sinis, tawanya terdengar sangat menyeramkan, hambar, dan penuh kepahitan yang mendalam. “Yang sakit itu bukan badan aku! Yang sakit itu hati aku!! Hati aku hancur berkeping-keping! Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?! Setelah semua yang kita lalui bersama?! Setelah aku selalu ada buat dia di saat susah maupun senang?! Dia berani-beraninya nikah di belakang aku?! Dia berani ngambil hati dia dari aku?! Dia tega banget sama aku!!”
Natasha kembali menatap layar ponsel itu dengan mata yang memancarkan rasa iri dan dengki yang luar biasa. Matanya menatap tajam ke arah wajah gadis bernama Aira di foto itu.
Wajah gadis itu terlihat begitu lembut, begitu tulus, polos, dan memancarkan aura kebahagiaan yang begitu nyata. Hal itulah yang membuat rasa iri dan benci di hati Natasha membara semakin besar, membakar seluruh rasionalitasnya hingga habis tak bersisa.
“Siapa sih cewek itu?!” geram Natasha dengan nada rendah yang mengintimidasi, jarinya menunjuk layar ponsel dengan kasar seolah ingin menyobek wajah orang di dalam foto itu. “Aira Maharani? Apaan tuh nama kampungan banget! Kedengarannya kayak nama orang desa! Dari kampung mana dia datang?! Berani-beraninya dia rebut Elvano dari aku!! Berani-beraninya dia jadi Nyonya Praditya!!”
“Katanya… katanya dia gadis biasa, Non…” jawab Sita terbata-bata, berusaha menjawab sebaik mungkin agar tidak memancing amarah lagi. “Keluarganya sederhana sekali, Non. Gak setenar dan sekaya keluarga Non. Tapi… tapi pernikahannya sah, Non. Sudah tercatat resmi di negara. Keluarga Praditya juga yang mengurus semuanya dengan sangat megah dan resmi.”
“GAK PEDULI!! AKU GAK PEDULI!!” teriak Natasha, ia melempar ponsel itu dengan keras ke arah sofa empuk, meski tidak hancur, tapi suaranya yang membentak membuat dinding apartemen itu seakan ikut bergetar hebat. “Selama aku masih hidup, selama aku masih bernapas, gak ada yang berhak punya Elvano! Dia itu milikku! Cuma milikku dan milikku seorang! Kami sudah bersama bertahun-tahun! Kami pasangan yang paling serasi! Kami ditakdirkan Tuhan untuk bersama selamanya! Cewek itu cuma angin lalu! Cuma pelarian sementara! Itu pasti karena paksaan orang tuanya! Pasti El dipaksa! Pasti El lagi bingung dan butuh hiburan! Itu gak akan bertahan lama!”
Natasha berjalan mondar-mandir dengan langkah lebar dan cepat di ruang tamu yang luas itu, wajahnya dipenuhi aura jahat, dendam, dan rencana-rencana jahat yang mulai bermunculan di kepalanya. Ia tidak bisa, tidak mau, dan tidak akan pernah bisa menerima kenyataan pahit ini. Tidak bisa sama sekali.